March, 18 2019
Cerita Agni Membantuku Hadapi Trauma

Seorang penyintas pemerkosaan mendapat penguatan dari cerita ‘Agni’, sesama mahasiswa di Universitas Gadjah Mada.

by Hana
Issues // Politics and Society
Share:

Peringatan: Artikel ini berpotensi memicu trauma, terutama bagi penyintas kekerasan seksual.

Tumbuh besar sebagai seorang penyintas kekerasan seksual di tengah keluarga dan lingkungan yang konservatif bukanlah sebuah hal mudah. Ada begitu banyak batasan yang membuatku tidak bisa menceritakan kisahku kepada siapa pun, termasuk orang tua. Aku tidak pernah mencari bantuan atau pendampingan dalam bentuk apa pun sebelumnya. Butuh waktu setidaknya 15 tahun buatku untuk bisa bercerita kepada seorang sahabat terbaik, yang membantuku memahami kondisi diri sendiri dan menjaga kewarasan.

Sekarang, aku ingin membagikan cerita ini kepada siapa pun yang ingin membaca dan mungkin merasakan hal yang sama.

Aku adalah seorang penyintas kekerasan seksual, pemerkosaan lebih tepatnya. Pelakunya tetanggaku sendiri dan sejauh yang bisa kuingat, pemerkosaan pertama terjadi saat aku baru duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar.  Apakah saat itu aku mengerti apa itu pemerkosaan? Tentu saja tidak.  Satu-satunya hal yang aku pahami saat itu adalah bahwa aku tidak boleh melawan, menolak atau melaporkan kepada orang tuaku tentang apa pun itu yang diperlakukannya padaku.  Kalau tidak, aku bisa kena masalah, katanya. Hal ini terus berlanjut sampai kira-kira dua atau tiga tahun berikutnya.

Waktu aku duduk di kelas 6 SD, keluargaku memutuskan pindah rumah. Babak baru hidupku rasanya dimulai sejak saat itu, tidak lagi berada di lingkungan rumah yang memberiku sedikit rasa aman. Namun, keinginanku untuk pergi jauh meninggalkan rumah terus menguat sejak saat itu. Aku memilih untuk belajar di sekolah asrama saat SMA dan berhasil mendapat kesempatan untuk berkuliah di Yogyakarta.

Selama 15 tahun lebih, aku berusaha sekuat tenaga untuk melupakan masa laluku. Kukira aku berhasil, kenyataannya tidak. Saat teman-temanku mulai merasakan ketertarikan dengan orang lain, mendapatkan pacar pertama, atau bersama-sama mengidolakan seseorang, aku sibuk mengabaikan trauma yang sering kembali sesuka hati dan meyakinkan diri bahwa aku pun sama seperti mereka. Teman-temanku tersenyum malu kalau pacarannya sudah sampai pegangan tangan, sementara kepalaku sering sakit saat berusaha mengusir ingatan-ingatan menjijikkan di otakku.

Aku tidak pernah berhenti menghindar dari ingatanku sendiri. Masa SMA berhasil terlewati dengan cukup baik. Kesibukan sekolah dan kebiasaan berkhayal membuatku lupa setidaknya beberapa hal detail. Ingatan itu masih tetap kembali, mungkin tiga atau empat kali. Tapi bukan masalah besar buatku.

Masa kuliah ternyata menjadi tahap paling sulit untuk menghindar. Tinggal sendiri dan jauh dari keluarga dengan berbagai permasalahan kuliah membuatku harus memikirkan semua hal sendirian. Tanpa kusadari, semua ingatan yang aku coba lupakan selama ini ternyata menumpuk menjadi satu lingkaran hitam di belakang kepalaku sendiri.

Lingkaran hitam ini melebar setiap kali aku merasa sedih atau mendapat masalah yang sebenarnya sama sekali tidak berhubungan dengan traumaku. Nilai buruk, homesick, persoalan keorganisasian bisa jadi pemantik rasa sedih yang berkelanjutan. Hal-hal seperti ini biasanya membuatku tiba-tiba kembali melihat kilasan-kilasan singkat, seperti wajah, suara, kata-kata ancaman, atau apa pun yang berkaitan dengan pemerkosaanku. Rasanya seperti diriku yang sekarang masuk ke tubuh anak kecil yang dulu aku kenal dan hanya bisa melihat apa yang harus terjadi saat itu. Setelah itu, aku bisa menghabiskan satu malam penuh dengan menangis dan menyalahkan diri sendiri, orang tua, atau bahkan teman dan orang-orang di sekitarku yang tidak akan pernah bisa mengerti bagaimana rasanya.

Aku benci setiap kali hal ini terjadi. Aku benci saat pikiranku menggunakan trauma sebagai pembenaran atas semua masalah lain yang menimpaku. Aku terus berpikir bahwa pemerkosaan yang terjadi padaku tidak ada hubungannya dengan kesulitanku mendapatkan teman dan tidak fokus dalam kuliah. Meskipun trauma itu sering kembali, aku tetap tidak mau mencari bantuan apa pun. Aku juga secara sengaja menghindari topik-topik yang berkaitan dengan isu pelecehan dan kekerasan seksual.

Secara perlahan, pemahamanku mengenai trauma dan depresi ternyata justru bertambah dari pertemuanku dengan cerita-cerita yang tidak sengaja kutemukan. Di semester empat, aku membeli sebuah novel bekas berjudul The God of Small Things karya Arundhati Roy. Salah satu tokoh dalam cerita itu adalah seorang lelaki yang mengalami gangguan kejiwaan akibat trauma masa kecil.

Di semester enam, aku menemukan tulisan Junot Diaz berjudul The Legacy of a Childhood Trauma lewat akun Instagram The New Yorker yang awalnya kuikuti karena kegemaranku membaca komik pendek. Ada juga film berjudul All About Nina yang baru keluar 2018 lalu, yang bercerita tentang seorang komedian perempuan dengan trauma masa kecil. Cerita-cerita ini berhasil membuatku paham bahwa pengalamanku juga banyak dialami oleh banyak sekali penyintas lain di seluruh dunia dan kami sama-sama mampu bertahan.

Namun, satu momen yang bisa kusebut sebagai titik balik dari perjalanan panjangku dalam penyangkalan dan penghindaran adalah cerita “Agni”—seorang penyintas kekerasan seksual di kampus yang berani menuntut universitas untuk menegakkan peraturan yang berpihak. Agni menjadi cerita penyintas pertama yang kutemui secara langsung sedang melakukan sebuah perlawanan terhadap sistem yang tidak adil dan memungkinkan budaya pemerkosaan terus berlanjut.

Semua yang dilakukannya sama sekali baru bagiku. Agni menunjukkan sebuah pemahaman baru, bahwa penyintas bersama dengan semua orang yang peduli dengan masalah kekerasan seksual bisa melakukan sesuatu hal yang bermakna untuk mengubah keadaan. Perjuangannya untuk menciptakan sistem peraturan universitas yang berpihak merupakan salah satu langkah dari perjuangan panjang menghancurkan budaya perkosaan di tengah masyarakat kita. 

Cerita ini kutuliskan untuk menjadi bagian dari kisah-kisah di atas. Kisah penyintas yang menunjukkan perjuangan untuk terus bertahan dan melawan. Harapanku, cerita ini bisa memberikan pengalaman yang sama denganku saat membaca cerita Diaz, Nina, dan Agni.
Ilustrasi oleh Adhitya Pattisahusiwa

Hana adalah seorang mahasiswi UGM yang sedang menantikan wisuda sembari memikirkan rencana masa depan yang lebih cerah.