January 9, 2026
Environment Issues People We Love Technology

Menciptakan Pilihan untuk Merawat Bumi: Cerita Tania, Perempuan di Dunia Teknologi

Tania percaya, bangunan tak hanya berdiri indah, tapi juga ramah lingkungan.

  • January 8, 2026
  • 5 min read
  • 450 Views
Menciptakan Pilihan untuk Merawat Bumi: Cerita Tania, Perempuan di Dunia Teknologi

Semangat untuk menjaga lingkungan tak melulu datang dari sebuah peristiwa besar. Bagi Tania, 26, seorang pengusaha muda yang kini menetap di Bali, dorongan itu justru muncul sejak ia kecil dan terus terpupuk hingga dewasa.

Saat usianya tujuh tahun, Tania bilang berkegiatan di luar rumah adalah aktivitas favoritnya. Ia ingin alam yang selama ini telah memberinya banyak memori terus terjaga dan juga lestari.   

Beranjak dewasa, keinginan Tania menjaga lingkungan kian besar terutama saat ia memilih jurusan arsitektur di sebuah kampus di Bandung, Jawa Barat. Ia sadar kita butuh bangunan yang lebih ramah pada alam.

“Makin ke sini kita sadar alam itu sudah semakin tergantikan sama bangunan. Sebagai arsitek, dan karena sering mendesain bangunan, aku mencoba untuk menggabungkan, gimana kalau arsitektur sebuah bangunan itu bisa jadi sumber energi terbarukan juga,” kata Tania. 

Baca juga: Membuka Pintu, Menenun Harapan: Perjalanan Luna sebagai Transpuan di Dunia Kerja

Mengubah Kaca yang Pasif jadi Sumber Energi

Solusi yang Tania pilih datang dari sesuatu yang selama ini dianggap biasa: kaca.

Alih-alih melihatnya sebagai sekadar dinding transparan, ia mengubah kaca menjadi sumber energi—dan alat dekarbonisasi.

Keputusan itu bukan tanpa dasar. Laporan World Green Building Council 2023–2024 mencatat, bangunan menyumbang sekitar 40 persen emisi karbon global. Angka itu datang dari dua arah: aktivitas harian seperti pendingin ruangan, serta proses pembangunan itu sendiri. Gedung perkantoran modern, dengan kaca sebagai wajah utama, menjadi salah satu penyumbang terbesar.

Masalahnya sederhana tapi berdampak panjang. Kaca konvensional tak mampu menahan panas matahari. Suhu ruangan naik. Pendingin ruangan bekerja lebih keras. Konsumsi energi melonjak. Emisi pun ikut bertambah.

“Material kaca yang tidak ramah lingkungan bisa memperparah semuanya,” kata Tania.

Dari situ, ia dan tim Pristinz mulai merancang ulang cara kita memandang bangunan modern. Bagi Tania, kaca tak lagi hanya soal estetika. Ia harus berfungsi. Ia harus bertanggung jawab.

Ada dua arah yang ia tempuh. Pertama, menekan konsumsi energi lewat material kaca yang lebih cerdas. Kedua, memanfaatkan kaca sebagai sumber energi listrik.

Untuk pengurangan energi, Pristinz mengembangkan dua desain: Anti-Thermal Glass dan Sunshield Film. Keduanya dirancang untuk menahan panas agar tidak masuk ke dalam ruangan.

Hasilnya terasa langsung. Anti-Thermal Glass mampu menurunkan suhu ruangan hingga empat sampai sembilan derajat Celsius. Secara keseluruhan, penggunaan kaca jenis ini dapat menekan konsumsi energi pendingin ruangan hingga 18 persen.

Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Bagi Tania, ia adalah bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari hal yang selama ini kita pandang sebagai dinding biasa.

Dan dari kaca itu, ia melihat kemungkinan. Bukan hanya untuk membangun gedung—tetapi juga masa depan yang lebih dingin, lebih hemat, dan lebih manusiawi.

Salah satu produk Anti-Thermal Glass (Sumber: Dokumentasi Pristinz)

Di lain sisi, pemanfaatan energi lewat desain kaca bernama Solar Window (BIPV) bisa dilakukan dengan menerima energi listrik yang didapat dari serapan panas pada permukaan kaca. Tania bilang, desain kaca satu 13 kali  lebih banyak menghasilkan energi, dibandingkan dengan panel surya atap pada gedung berlantai 50.

Baca juga: Dari Kompos ke Komunitas: Perempuan Petani Kota Menanam Harapan di Tengah Beton

Bertahan di Ruang yang Tidak Dirancang untuk Perempuan

Tania datang ke dunia dekarbonisasi dengan semangat besar. Tapi ia segera tahu: semangat saja tidak cukup.

Dalam sebuah forum teknologi energi terbarukan, ia duduk sebagai satu-satunya perempuan. Juga yang paling muda. Ruangan penuh jas gelap, suara berat, dan bahasa teknis yang terasa seperti pagar tak kasatmata.

“Aku kaget. Ternyata aku sendirian,” kata Tania.

Saat itu, ia baru menjejakkan kaki di dunia science, technology, engineering, and mathematics—STEM. Dari sana ia mulai menyadari, kesenjangan bukan sekadar istilah. Ia nyata, terasa, menempel di cara orang memandang, bertanya, bahkan meragukan.

Bukan hanya karena ia perempuan. Tapi, karena ia perempuan muda.

“Awal-awal aku ngembangin ini tuh aku kaget karena aku satu-satunya perempuan dan orang muda di sana. Jelas itu membuat aku berpikir bahwa ‘oke, kesenjangannya jelas’ gitu ya. Ada skeptisisme juga di situ,” kata Tania.

Pengalaman itu bukan cerita tunggal. Riset Pew Research Center 2017 mencatat perempuan di bidang STEM lebih sering mengalami diskriminasi dibanding laki-laki. Jumlah mereka pun jauh lebih sedikit. Data itu memberi nama pada apa yang selama ini hanya ia rasakan.

Baca juga: Saya Ngobrol dengan Edo, Bapak-bapak Depok yang Sulap Sampah Popok jadi Pot

Namun Tania tidak memilih pergi.

Ia memilih mengubah arah. Di Pristinz, tim yang ia bangun justru didominasi perempuan. Baginya, representasi bukan sekadar simbol, melainkan cara agar perempuan lain tidak lagi merasa menjadi tamu di rumah orang lain.

Ia juga mencari mentor sebagai pegangan. Empat hingga lima orang yang lebih dulu menempuh jalan yang sama. Tempat bertanya tanpa takut terdengar bodoh. Tempat ragu tanpa harus menjelaskan diri terlalu panjang.

“Aku jadi coba cari jalan keluar dengan itu ya, mencari support system dari rekan-rekan di bidang yang sama. Meskipun memang aku memposisikan diri sebagai orang yang mau belajar, tapi ini works. Aku jadi bisa diskusi apapun dengan mereka yang udah jauh lebih senior di bidangnya,” tutup Tania. 

Di ruang yang tak pernah benar-benar dirancang untuknya, Tania belajar satu hal: bertahan bukan sekadar soal kuat. Kadang, ia tentang menciptakan ruang baru—agar yang datang setelahnya tak perlu merasa sendirian.

About Author

Syifa Maulida

Syifa adalah lulusan Psikologi dan Kajian Gender UI yang punya ketertarikan pada isu gender dan kesehatan mental. Suka ngopi terutama iced coffee latte (tanpa gula).