Women Lead
June 10, 2021

Curhat Ghaza soal Aa Gym dan Keluh Kesah Anak-anak dengan Orang Tua Cerai

Curhat lewat Facebook seperti yang diucapkan Ghaza tentang ayah-ibunya, Aa Gym dan Teh Ninih, juga banyak ditemukan di berbagai media sosial.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle
Kasus Aa Gym dan Teh Ninih
Share:

Saat Muhammad Ghaza Al Ghazali, putra ulama Abdulah “Aa Gym” Gymnastiar dan Ninih Muthmainnah atau akrab disapa Teh Ninih, baru-baru ini curhat soal ayahnya yang katanya suka mencaci ibunya, opini warganet lantas terbagi-bagi. Ada yang mendukung Ghaza dan mengecap buruk Aa Gym, ada yang menyebut anak tersebut durhaka, bahkan Teh Ninih juga “kecipratan” cercaan warganet.

Dilansir Kumparan, Ghaza kemudian meminta maaf pada publik atas kegaduhan yang terjadi akibat ceritanya. Namun, ia juga menyatakan unek-uneknya yang lain melalui media sosial yang sama: "Anda pikir saya layak diam ketika ibu saya diperlakukan demikian? Lalu saya membiarkan ayah saya begitu saja? Anda tahu apa hasilnya? Saya dicap sombong dan durhaka. Ibu saya semakin di-bully, dibilang gak punya iman lah, gak bisa ngurus anak lah, dan masih banyak lagi," kata Ghaza.

Klasik tapi Masih Mengusik: Anak Bongkar Persoalan Rumah Tangga Orang Tua

Berita terkait keluh kesah anak di balik perceraian orang tua bukanlah hal langka. Ketika Aurel dan Azriel Hermansyah masih kanak-kanak, mereka pernah bercerita ke media bahwa ibu mereka, penyanyi Krisdayanti, telah melakukan perselingkuhan yang memicu perceraian dengan Anang Hermansyah pada 2009.

Bertahun-tahun kemudian, pada Juli 2020 lalu, Aurel yang telah dewasa mendapat pertanyaan di vlog pribadinya mengenai pengalaman serupa dengannya dulu—anak mengetahui ibunya selingkuh. Ia menanggapi dengan simpati dan berpesan pada si warganet untuk mencari tahu kebenarannya dahulu, dan setelah mendapat bukti, baru menceritakan hal tersebut ke sang ayah.

“Karena kasihan, itu parah sih. Apalagi, anaknya tahu. Itu jadinya buruk, pasti sampai kapan pun dia ingat, 'gila ya, ibuku bisa kayak gini'," ujar Aurel di vlog-nya.

Di era digital seperti sekarang, pengakuan-pengakuan anak yang orang tuanya bercerai kian mudah ditemukan. Di TikTok misalnya, sejumlah konten curahan hati anak dari keluarga “broken home” berseliweran, bahkan ada yang sampai jadi viral. Warganet yang sama sekali asing dengan si pembuat konten ramai-ramai mengekspresikan simpati. Sebagian mengutuki perceraian orang tua yang kerap dianggap menjadikan anak sebagai “korban”.

Baca juga: 5 Film yang Menunjukkan Kompleksitas Perceraian

Simalakama Perceraian, Selalu Ada yang Jadi ‘Korban’

Berbagai artikel dan riset yang memaparkan dampak negatif yang dirasakan anak alias keadaan orang tua bercerai telah jamak dipublikasikan. Anak iri saat melihat keluarga utuh teman-temannya, merasa kehilangan sosok ayah atau ibu karena harus tinggal dengan salah satunya saja, hingga trauma dan negatif dalam memandang pernikahan adalah beberapa hal yang ditemukan dari artikel dan riset tersebut.

Anak hampir selalu dianggap sebagai korban jika orang tua bercerai, sehingga banyak pasangan menikah yang sebenarnya jatuh di relasi toksik bahkan penuh kekerasan memutuskan bertahan.

“Demi anak”, itulah yang selalu ketika kita dengar bila bertanya pada kenalan dekat atau keluarga yang memilih mempertahankan pernikahannya, sepahit apa pun pengalaman mereka seiring pilihan itu. Atau ada pula yang tak mau bercerai karena buruknya stigma janda di Indonesia, diekori ekspresi penyalahan perempuan lainnya, meski perceraian terjadi bukan karena sang istri berselingkuh atau melakukan kekerasan/kesalahan.

Karena bercerai masih dianggap momok, pihak keluarga maupun pengadilan selalu menyarankan mediasi, musyawarah, atau “cara kekeluargaan” dalam menyelesaikan konflik rumah tangga yang hendak menuju cerai. Sebagian berhasil dengan cara itu, sementara lainnya seperti memasang rompi bom waktu di dadanya sendiri ketika mereka “dipaksa” untuk tetap berada dalam pernikahan toksik.

Padahal, dengan tetap bertahan dalam pernikahan tidak sehat pun, situasi bisa menjadi lebih merugikan bagi anak. Bayangkan bila mereka mesti melihat ayah-ibunya setiap hari saling memaki, dipukul, atau dipermalukan di depan orang banyak.

Tidak hanya turut menanggung malu pada tetangga sekitar atau bahan olok-olok teman (seperti kisah anak Fairuz A. Rafiq yang dirisak karena ayahnya mencela ibunya lewat YouTube), sang anak pun bisa punya persepsi buruk soal relasi cinta karena intens terpapar model relasi dan komunikasi ayah-ibunya yang tidak sehat. Tak mustahil pula bila kelak ia “menjiplak” perilaku kekerasan sebagaimana dilakukan orang tuanya kepada pasangannya kelak, atau mencari pelarian ke hal-hal tidak sehat.

Bukan cuma anak yang terdampak perceraian atau keluarga penuh konflik, tetapi juga si istri atau suami yang memaksakan mempertahankan rumah tangganya. Semua yang ada dalam keluarga itu jadi “rusak” dan bisa dibilang sebagai korban. Korban dari apa? Dari stigmatisasi orang cerai di masyarakat dan keengganan atau kegagalan satu atau kedua pihak dalam pernikahan untuk membenahi persoalan personal dan interpersonal mereka.

Apakah bila orang tua terus menerus sedih dan marah, kesehatan mental anak bisa terjaga dengan baik? Bagaimana dengan ujaran “Orang tua bahagia, anak juga bahagia”?

Situasi kian dilematis ketika berbicara soal anak ikut siapa setelah pasangan bercerai. Bagi yang sudah dewasa, mungkin mereka bisa mengambil keputusan sendiri. Tetapi berbeda dengan pasangan yang memiliki anak di bawah 18 tahun. Perkara “rebutan” anak menanti di depan mata. Sebagian orang harus berhadapan dengan kondisi tidak diizinkan menemui anaknya sekian lama, atau bahkan untuk sekadar berkomunikasi lewat telepon/chat.

Baca juga: Apa yang Saya Pelajari dari Perceraian Orang Tua

Perceraian Tak Melulu Berarti Buruk

Banyak pembaca yang barangkali tidak sepakat jika saya percaya, perceraian tak melulu buruk. Sebagian orang tua bercerai masih bisa berelasi baik dengan mantan suami/istrinya dan bekerja sama, saling mengisi dalam pengasuhan anak sementara hak asuh jatuh pada salah satu dari mereka.  Coba lihat saja segelintir cerita selebritas yang terekspos di media, seperti Deddy-Kalina, Gisella-Gading Martin, Ben-Marshanda, mereka terlihat masih bisa menjalankan pengasuhan anak dan berelasi baik-baik saja setelah bercerai. Sementara itu, mereka bisa menjalani bab baru hidupnya dengan lebih kelegaan dan mungkin juga kebahagiaan, walau sebelumnya tetap mesti melalui masa pemulihan dulu.

Bukannya saya serta merta merekomendasikan segera cerai begitu konflik rumah tangga tak kunjung berkesudahan. Tetapi kita perlu menilik sisi lain perceraian, di mana individu-individu dalam satu keluarga masih bisa “berfungsi” dengan baik sebagai orang tua maupun anak, belajar memahami ada orang atau hal di luar diri kita yang tidak bisa kita kontrol, dan mengingat bahwa perpisahan adalah suatu garansi: Entah karena keputusan manusia atau keputusan Yang di Atas, sehingga kelapangan dada perlu dilatih sedini mungkin.

Kembali ke persoalan unek-unek Ghaza tentang ayahnya, saya terka ceritanya yang diunggah di Facebook tidak akan tersebar dan mengundang cemooh atau dukungan bila perkara konflik dalam rumah tangga bisa dikendalikan lebih baik. Maksudnya, wajar seorang anak mengeluhkan soal ibunya yang diperlakukan buruk. Tetapi hal ini tidak perlu terjadi kalau dalam rumah tangga, konflik diselesaikan dengan dewasa dan penuh pengendalian diri, termasuk dalam mengeluarkan kata-kata tertentu, apalagi di depan anak.

Suami-istri yang berkonflik bisa mencari pemecahan masalah mereka di ruang privat berdua saja. Negosiasi dan kompromi mesti jadi pilar penunjang rumah tangga bila mereka berselisih paham soal sesuatu. Kalaupun perceraian tak terhindarkan, jelaskan sejujurnya bagaimana keadaan yang mendorong hal itu terjadi ke anak bila sudah dewasa, dan mencari pendekatan lain bila anak masih kecil.

Bagi saya, mau bercerai atau tidak bercerai adalah pilihan bebas masing-masing. Perkaranya lebih ke bagaimana tiap pihak bersikap di depan anak sepanjang konflik masih terjadi atau menuju perceraian maupun rujuk. Itu yang membekas di benak anak sehingga memungkinkan kasus seperti curhatan Ghaza kembali kita temukan di media.

Perilaku naming and shaming saya kira hanya akan menambah persoalan, sehingga idealnya, dialog dengan pikiran jernih dan sikap saling mendengarkan dilakukan, baik antar suami-istri maupun orang tua-anak dalam konteks permasalahan keluarga.

Ilustrasi oleh Karina Tungari 

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop