Women Lead
April 24, 2021

4 Film untuk Merayakan Hari Visibilitas Lesbian 2021

Empat film bertema hubungan lesbian ini mendobrak stereotip umum dalam film soal perempuan lesbian yang pasif dan nelangsa.

by Teja Janabijana
Culture // Screen Raves
Rekomendasi film-film lesbian
Share:

Tanggal 26 April diperingati sebagai Hari Visibilitas Lesbian Sedunia. Meski tercatat dirayakan sejak 1982, hari ini mulai mendapat perhatian luas baru sejak awal abad 21. Hari ini mengingatkan kita bahwa lesbian adalah bagian dari masyarakat, dan para lesbian tidak perlu takut bersembunyi. Yang terpenting pula, ini adalah peluang untuk mendobrak stereotip-stereotip umum tentang apa artinya menjadi lesbian.

Sementara menanti hadirnya karya-karya sutradara kita yang lebih sensitif gender dan ramah bagi LGBTQ+ di tahun 2021 ini, bolehlah kita saksikan dan timbang empat film mancanegara berikut ini dalam merayakan hari visibilitas lesbian.

Keempat film tentang lesbian ini punya latar belakang tempat dan waktu yang berbeda (masa kini, abad ke-19, masa Perang Dunia II), dan para tokoh mereka menghadapi situasi yang tidak sama. Meski begitu, keempat film ini memberikan gambaran hubungan asrama tokoh lesbian yang ada sebagai sesuatu yang indah, istimewa, dan tak kenal sekat. 

  1. Ride or Die (Kanojo)

Diadaptasi dari manga Jepang karya Nakamura Ching, film drama lesbian besutan sutradara Hiroki Ryuichi ini mengangkat kisah hubungan asrama antara Rei (Mizuhara Kiko) dengan Nanae (Sato Honami). Meski mereka sudah tidak bertemu lagi selepas SMA sepuluh tahun lalu, Rei bersedia bertemu kembali dengan Nanae yang sudah menikah.

Alih-alih nostalgia melepas rindu, Nanae membuka tabir perkawinannya. Ia adalah korban KDRT dan suaminya sering memukul dirinya. Melihat Nanae terimpit dalam perkawinan yang begitu toksik, Rei berencana membebaskan perempuan yang dikasihinya itu. Apa yang dilakukan Rei sungguh tak terbayangkan sebelumnya, bahkan oleh dirinya sendiri, yaitu membunuh suami Nanae.

Selepas itu, Rei dan Nanae melarikan diri. Di dalam perjalanan ke berbagai kota kecil itu, mereka mulai menemukan diri mereka dan juga perasaan mereka satu sama lain. Mereka menyadari bahwa mereka tidak punya banyak waktu dan tidak akan bisa bersama-sama selamanya seperti yang mereka harapkan.

Berbeda dari stereotip umum yang menggambarkan lesbian sebagai pasif, film ini menggambarkan dinamika kehidupan lesbian yang aktif, yang berani mengambil keputusan sendiri, sekalipun terlihat brutal. Baik Rei dan Nanae menyadari bahwa mereka bisa mengandalkan satu sama lain, meski situasi tidak mudah bagi keduanya. Apalagi, status hubungan mereka sebagai lesbian yang belum sepenuhnya diterima masyarakat.

  1. Two of Us (Deux)

Nina Dorn (Barbara Sukowa) dan Madeleine (Martine Chevallier) adalah dua perempuan paruh baya yang tinggal berseberangan sebagai tetangga apartemen. Keduanya menjalin hubungan asmara selama bertahun-tahun. Meski begitu, Madeleine tidak pernah memberitahukan hubungan mereka tersebut kepada kedua anaknya (yang sudah dewasa dan berkeluarga).

Nina dan Madeleine berencana untuk hidup menghabiskan masa tua mereka bersama-sama dengan pindah ke Roma. Karena itu, Nina mendesak Madeleine untuk mengabarkan hal tersebut kepada anak-anaknya.

Namun, tragedi datang. Madeleine terkena stroke dan mesti dirawat di rumah sakit. Nina merasa frustrasi karena tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah Madeleine kembali ke flatnya dengan seorang perawat, Nina selalu datang mengunjunginya setiap hari. Apa yang dilakukannya justru menimbulkan masalah bagi keluarga dan perawat Madeleine, yang tentu saja tidak mengetahui apa-apa tentang hubungan mereka selama ini. Nina sendiri merasa yakin bahwa Madeleine hanya bisa sembuh bila dirinya ada di sampingnya selalu.

Kekuatan utama film karya sutradara Filippo Meneghetti ini adalah gambaran tentang pasangan lesbian paruh baya yang begitu nyata, sesuatu yang jarang muncul di dunia visual kita. Hubungan mereka juga sama rumitnya dengan hubungan asmara lainnya, dan tidak selamanya datar, berbeda dari stereotip umum yang cenderung menyederhanakan hubungan lesbian. 

  1. The World to Come

Abigail (Katherine Waterston) dan suaminya, Dyer, adalah petani biasa yang hidup di Schoharie, negara bagian New York, pada pertengahan abad ke-19. Dikisahkan, putri mereka baru saja meninggal dunia dan mereka masih berduka.

Tak lama berselang, Tallie (Vanessa Kirby) dan suami, Finney, menjadi tetangga baru mereka. Abigail dan Tallie langsung akrab dan merasa saling mengasihi satu sama lain, bahkan mengakui persoalan-persoalan di dalam rumah tangga mereka.

Kedekatan mereka justru semakin memancing kecurigaan dan kecemburuan suami masing-masing. Terlebih, Finney terlihat agresif dan Tallie menjadi korban KDRT. Curiga akan perilaku Finney, Abigail khawatir akan keselamatan Tallie. Sayangnya, dirinya tidak sanggup berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Tallie.

Serupa film-film lain yang mengambil latar abad ke-19 seperti Portrait of a Lady on Fire (2019) dan Ammonite (2020), film ini memberikan gambaran hubungan dua perempuan yang dianggap terlarang pada masa itu dan menghadapi kendala pandangan masyarakat yang masih patriarkal.

Film ini memberikan gambaran hubungan lesbian yang dinamis atas dasar pilihan kedua tokoh, yang berbeda dari stereotip umum yang seringnya menggambarkan lesbian sebagai perempuan yang tidak punya pilihan hidup. Film tentang lesbian karya sutradara Mona Fastvold ini memenangkan penghargaan Queer Lion di Festival Film Venice 2020 lalu. 

  1. The Affair (The Glass Room)

Film Ceko yang digarap sutradara Julius Sevcik ini menampilkan kisah pertemanan dan asmara antara Liesel Landauer (Hanna Alstrom) dengan Hana (Carice Van Houten) pada masa Perang Dunia II. Liesel bersuamikan Viktor, seorang pengusaha kaya, dan mereka memiliki rumah mewah nan modern. Dari luar, perkawinan mereka tampak harmonis, apalagi mereka telah memiliki dua orang anak. Tetapi sesungguhnya, Viktor menjalin hubungan asmara dengan pengasuh anak mereka, Kata.

Meski mengetahui hubungan tersebut, Liesel tidak bisa berbuat banyak. Terlebih, suasana Ceko makin mencekam akibat serbuan tentara Nazi. Bersama anak-anak, mereka melarikan diri ke Swiss. Secara terpisah, Liesel berkorespondensi dengan Hana dan keduanya semakin akrab.

Film ini memberikan gambaran akan kekuatan karakter kedua tokoh utama, Liesel dan Hana, dalam menghadapi situasi politik yang berada di luar kuasa mereka. Keduanya memang berasal dari keluarga berada dan boleh dikata, beruntung bisa hidup aman pada masa sulit tersebut. Tetapi, itu semua tetap tidak menjadikan hubungan asmara mereka berjalan mudah.

Film ini diangkat dari novel The Glass Room karya Simon Mawer yang bercerita tentang rumah mewah nan modern di Brno (Ceko) yang menjadi latar film, yang didaulat sebagai contoh mutakhir arsitektur modern di Ceko. 

Ilustrasi oleh Karina Tungari 

Teja Janabijana menulis karena bosan bengong menjaga toko ATK orang tuanya yang sepi total akibat pandemi. Minder dengan para SJW karena isi medsosnya cuman astrologi.