September 05, 2019
‘Invisible Women’: Data Laki-laki yang Utama, Perempuan Nanti Saja

Sebuah buku membahas bagaimana data mengenai perempuan bukan hanya bias, namun tidak dipakai dan hanya dikumpulkan.

by Ferzya Farhan
Culture
Share:

Dalam revolusi industri 4.0 kini, data merupakan sumber daya paling berharga. Ia menjadi rujukan dalam pengambilan keputusan. Namun bagaimana jika data kerap kali hanya berpihak pada laki-laki? Caroline Criado-Perez dengan lugas mengungkapkan apa akibat yang terjadi saat terdapat bias dalam data.

Sebelumnya, Chief Operating Officer Facebook Sheryl Sandberg, dalam bukunya berjudul Lean In, telah mengungkapkan bagaimana kesenjangan gender masih kerap terjadi, bahkan di perusahaan yang mengutamakan data sebagai landasan keputusan. Kita sudah tidak terkejut apabila pada faktanya, gaji perempuan lebih rendah dari laki-laki dengan posisi jabatan yang setara. Kali ini, sebagai seorang jurnalis, Criado-Perez berusaha mendekatkan pembaca dengan fakta kesenjangan jenis kelamin dan gender dalam kehidupan sehari-hari yang sering ditemui.

Perempuan asal Brazil ini memulai buku Invisible Women dengan menarik pikiran pembaca pada peradaban masa lalu. Ia bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang menggambar simbol-simbol atau menulis manuskrip dalam gua. Jika laki-laki sebagai pemburu menghabiskan waktu di luar tempat tinggal dan perempuan sebagai pengolah berada di dalam gua, maka apa yang dilakukan oleh perempuan saat ia tidak mengolah hasil buruan?

Sejak awal, Criado-Perez telah mengajak pembaca untuk berpikir. Demi kemudahan berpikir, ia membagi struktur buku ini menjadi enam bagian: kehidupan sehari-hari, tempat kerja, desain, pergi ke dokter, kehidupan publik, dan permasalahan.

Bagian pertama dimulai dengan memberikan contoh paling sederhana bagaimana bias data kerap ditemui: penyediaan jumlah toilet yang sama antara laki-laki dan perempuan. Faktanya, perempuan menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengantre di toilet dibandingkan laki-laki. Ya, kita semua tahu itu. Namun hal itu bukan karena perempuan kerap berdandan atau bercakap-cakap saat di toilet.

Sebab yang paling sederhana adalah, perempuan membutuhkan waktu untuk membuka celana atau roknya, alih-alih hanya menurunkan ritsleting. Perempuan juga membutuhkan waktu yang lebih lama di toilet saat menstruasi, dan sering kali menjadi pendamping anak-anak atau orang tua ke toilet). Seharusnya hal ini dipertimbangkan sebelum membangun fasilitas toilet.

Setelah mengungkapkan kejadian sehari-hari, pada bagian kedua, co-founder Women’s Room ini mengulas kesenjangan yang kerap terjadi di dunia kerja. Lalu bagian ketiga membahas desain produk. Contoh-contoh yang ia sebutkan pada bagian ini sangat relevan dengan kondisi kita di Indonesia.

Dalam bab 8 yang bertajuk “One-size-fits-men”, ia mempertanyakan keputusan Apple dalam desain iPhone pasca versi 6. Bagaimana bisa, perusahaan sebesar Apple, yang memiliki data bahwa pengguna iPhone didominasi oleh perempuan, memutuskan untuk mendesain telepon genggam dengan ukuran 5,5 inci, sama dengan perusahaan telepon genggam lainnya?

Ukuran itu tidak akan bisa digenggam oleh satu tangan perempuan dengan nyaman atau bahkan masuk dalam kantong pakaiannya (yang sering kali tidak ada). Rasanya tidak adil jika perempuan harus membayar jumlah yang sama dengan laki-laki untuk membeli suatu produk, padahal data terkait perempuan diabaikan.

Baca juga: 6 Hambatan Bagi Perempuan Wirausaha di Indonesia

Bagian keempat mengulas fenomena yang berkaitan dengan kesehatan. Ia menceritakan bagaimana petugas medis berpeluang memberi obat yang tidak tepat kepada pasiennya karena pada proses pembuatan tidak mempertimbangkan faktor jenis kelamin. Hal ini disebabkan oleh begitu banyaknya uji coba obat yang hanya mempertimbangkan hormon laki-laki sebagai data default. Sebagai contoh, enam dari 10 perempuan pengguna acetaminophen (dikenal juga sebagai paracetamol) mengalami penurunan kemampuan metabolisme tubuh, berbeda dari laki-laki yang tidak ada sama sekali. Namun faktanya, berapa dari kita yang mendapat resep ini?

Criado-Perez melanjutkan bagian kelima dengan membahas data-data yang bersinggungan dengan kehidupan publik, seperti kebijakan anggaran yang tidak menggunakan analisis gender, dan mempertanyakan mengapa sangat sedikit gambar perempuan di lembar uang yang kita gunakan.

Ia mengakhiri buku ini dengan berharap bahwa bias data ini bisa diredam. Sejalan dengan itu dengan itu, perempuan lulusan Oxford University dan London School of Economics ini menyatakan pentingnya menanyakan kembali pada perempuan, data apa saja yang belum terpenuhi, lalu mengumpulkannya untuk memperbaiki keadaan.

Berbicara mengenai data, saya teringat fakta mengenai rapor merah angka kematian ibu. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2002 menunjukkan bahwa angka kematian ibu mencapai 307 kematian dalam setiap 100.000 kelahiran. Dalam data terbaru pada tahun 2015, angka ini hanya turun dua poin menjadi 305 kematian.

Hal ini membuat saya bertanya-tanya, apakah data ini tidak cukup menggugah bagi para pengambil kebijakan untuk melakukan tindakan? Mengapa setelah lebih dari satu dekade angka tersebut tidak dapat diturunkan secara signifikan? Padahal menurut laporan Korn Ferry Diversity Scorecard (2016) dari Singapura, sektor kesehatan di Indonesia memiliki jumlah direksi perempuan terbanyak dibanding negara-negara Asia-Pasifik lainnya.

Kasus lainnya terlihat dari studi ValueChampion (2019), juga dari lembaga di Singapura, yang menunjukkan bahwa Indonesia menempati posisi ke-2 di Asia Pasifik sebagai negara yang tidak aman maupun ramah bagi perempuan. Namun apakah ada tindakan konkret yang diambil oleh pemerintah terkait hal ini? Sungguh mengkhawatirkan.

Data yang berkaitan dengan perempuan seharusnya dapat membantu pemerintah membuat keputusan. Faktanya, jika tidak diabaikan, data-data tersebut hanyalah untuk dikumpulkan.

Usai membaca buku ini, saya memetik dua pertanyaan besar: 1) Di mana peran laki-laki?; 2) Apa yang dilakukan oleh elite perempuan?

Jika laki-laki merupakan pelaku dalam suatu masalah, maka jelas mereka juga bagian dari solusi. Jika perempuan semakin banyak berada dalam jajaran pengambil keputusan, maka tentu perspektif mereka harus diperhitungkan. Perempuan akan tetap menjadi “tak terlihat”, sebanyak apa pun data yang telah terkumpul. Tetapi akan “terlihat” jika ada perubahan pola pikir, sikap, dan perilaku. Hanya dengan keberanian untuk mengubah pola pikir, data terkait perempuan dapat terkumpul dan ditindaklanjuti.

Judul              : Invisible Women: Exposing Data Bias in a World Designed for Men
Penulis           : Caroline Criado Perez
Penerbit         : Vintage Digital (e-book), Chatto & Windus (UK)
Tahun terbit    : 2019
Tebal              : 406 halaman
ISBN               : 978-1784741723

Ferzya Farhan adalah peneliti Centre for Innovation Policy and Governance. Berkutat pada isu pembangunan inklusif dan produksi pengetahuan lokal untuk inovasi kebijakan.