January 26, 2026
Culture Issues Politics & Society

Pertanyaan ‘Kalcer’: Memang Boleh Turun Aksi Cuma untuk Nonton Musisi?

Peringatan Aksi Kamisan ke-19 tahun lalu dipadati peserta yang ikut demi menonton penampilan musisi. Apa kata Hindia hingga Sukatani tentang ini?

  • January 26, 2026
  • 4 min read
  • 65 Views
Pertanyaan ‘Kalcer’: Memang Boleh Turun Aksi Cuma untuk Nonton Musisi?

Ratusan pasang mata memandang Baskara Putra, yang lebih dikenal sebagai Hindia, saat ia berdiri memberi refleksi di peringatan 19 tahun Aksi Kamisan. Sebelum bicara, ia mengaku khawatir ucapannya akan membosankan. Sebab, ia merasa bukan orang paling pintar, juga tidak mengikuti seluruh detail kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Indonesia. 

Namun, peserta tetap mendengarkan dengan saksama. Baskara lantas menceritakan latar belakang lagu anak itu belum pulang dan (kamis). Menjelang Pemilu 2024, vokalis .feast itu menemukan konten Aksi Kamisan di TikTok dan membaca kolom komentarnya. 

Salah satu komentar menyebut Aksi Kamisan sebagai isu lima tahunan. Komentar itu membuatnya sakit hati. Setelah ditelusuri, akun yang sama ternyata juga penggemar .feast, band yang dikenal dengan lagu-lagu kritis terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang. 

Kayak poinnya apa? Koherensi serendah apa, sampai lo bisa kayak, ‘oh gue Kelelawar Bang, gue pakai baju .feast’, tapi komentar kayak gitu waktu ngeliat teman-teman ada di depan Istana setiap hari Kamis?” kata Hindia. 

Di momen itu, ia menyadari satu hal. Jika pendengar mudanya sulit menerima penjelasan dengan analogi rumit atau bahasa berbunga-bunga, mungkin isu ini tetap bisa dibicarakan dengan cara yang lebih langsung. 

“Sekalian aja gue yang minta Bu Sumarsih yang cerita langsung di albumnya. Dan itu yang saya lakukan beberapa waktu lalu,” ujarnya, merujuk pada lagu (kamis) di album doves on blank canvas

Baca juga: ‘Dynamite Kiss’: Drama Klise dan Ciuman yang Mengubah Hidup 

Musik sebagai Pintu Masuk Ingatan 

Bagi Baskara, kejahatan dan kezaliman bisa terulang ketika cerita masa lalu dilupakan. Seniman, termasuk musisi, baginya adalah storyteller yang berperan menjaga ingatan agar kekerasan yang sama tidak berulang. Keberpihakan, menurutnya, bisa dan sah dilakukan di ruang budaya populer. 

“Untuk teman-teman semua di luar sana, mungkin yang mendengarkan, yang bergerak di ruang-ruang budaya populer, jangan pernah mikir keberpihakan itu tidak bisa dilakukan. Itu selalu bisa dilakukan selama kita mau melakukan keberpihakan tersebut,” tutupnya. 

Sebelum refleksi Hindia, suasana Aksi Kamisan digerakkan oleh penampilan Sukatani. Dengan irama punk jalanan bercampur elektronik, mereka membakar semangat massa. Lirik Semakin Tua, Semakin Punk dan Gelap Gempita diteriakkan bersama penonton yang larut dalam energi panggung. 

Di sela pergantian lagu, gitaris Sukatani, Cipoy, mengingatkan peserta agar tidak berhenti pada musik semata. 

“Maksudnya setelah kita datang, jangan cuma menikmati musik, tapi juga menyerap yang diberikan oleh teman-teman, orasi, poster-poster. Itu juga perlu kita serap informasinya untuk kita pelajari lah apa yang sebenarnya terjadi,” ujarnya kepada Magdalene

Meski begitu, Cipoy tak menampik peran musik sebagai pemantik massa. “Karena musik bisa jadi pemantik massa untuk datang,” katanya. 

Ia mengaku Sukatani tidak dibentuk untuk mengampanyekan isu politik. Duo ini awalnya hadir untuk berbagi cerita dan keresahan. Namun, hidup tidak bisa dilepaskan dari politik. 

Baca juga: ‘Mens Rea’: Fakta Lama dan Kepanikan Moral yang Enggak Perlu 

“Karena sikap politik juga yang nentuin kebijakan, yang akhirnya nentuin berapa harga beras, yang akhirnya nentuin bagaimana kita bisa tidur nyenyak, bagaimana kita bisa makan,” ujarnya. 

Aksi kemudian ditutup oleh The Brandals. Lagu-lagu rock mereka yang bernuansa old school tapi tetap relevan mengisi udara Aksi Kamisan sore itu. Awas Polizei menggema, mungkin juga sampai ke telinga aparat yang berjaga. 

Usai tampil, Magdalene berbincang dengan vokalis The Brandals, Eka Anash. Ia menekankan pentingnya pelaku budaya populer melek politik dan berpihak pada kelompok yang dipinggirkan. Basis penggemar yang besar, menurut Eka, memungkinkan musisi membentuk kompas moral baru. 

“Baskara misalnya, jutaan gue yakin, if not thousands, dia ngomong A, pasti diikutin. Jadi kompas moralnya ke mereka. Kalau enggak dipergunain sayang banget. Mubazir kalau kata Islam,” ujarnya. 

Ia mengaku sangat menghargai musisi yang menggunakan panggung dan suaranya secara bertanggung jawab. Bagi Eka, musik adalah pintu masuk paling ramah bagi mereka yang belum akrab dengan politik. 

Pengalaman itu ia lihat langsung. Seusai tampil, seorang siswa berseragam putih abu-abu menghampirinya. Anak itu baru mengenal The Brandals dan menyukai lagu Awas Polizei

“Enggak bisa tiba-tiba ngarepin dateng langsung ngerti. Mungkin dateng ke sini cuma mau lihat musik, tapi terekspos dengan konteks refleksi atau orasi, akhirnya jadi tahu,” kata Eka. 

Ia sendiri mengalami proses serupa saat remaja. Lagu-lagu Iwan Fals dan Slank membawanya perlahan memahami isu sosial-politik. 

Baca juga: Bagaimana Media Jadi Sponsor Kekerasan: Pelajaran Penting Usai Baca ‘Broken Strings’ 

Gue SMA bocah, mana ngerti sih. Tapi gue denger lagunya Iwan Fals, lagu Slank dulu, oh ternyata lagunya tentang ini, tentang Sugali, tentang buruh. Konteksnya pelan-pelan dapet,” ujarnya. 

Melihat Aksi Kamisan kini dipenuhi anak muda, Eka optimis. Ia tidak menaruh harapan besar pada rezim untuk berubah. Namun, anak-anak muda yang datang ke Aksi Kamisan hari ini, suatu saat akan mengambil peran di masyarakat. 

“Mungkin perubahan enggak bisa langsung diukur. Tapi setidaknya dari tangan-tangan mereka akan lahir band-band baru, influencer baru, aktivis-aktivis baru, yang ngerti konteks dan bisa bersuara lebih pintar dari kita, dan bisa bertahan lebih lama,” pungkasnya. 

About Author

Andrei Wilmar

Andrei Wilmar bermimpi buat jadi wartawan desk metropolitan.