Women Lead
February 17, 2021

‘Framing Britney Spears’: Eksploitasi oleh Orang Tua dan Kesehatan Mental

Dokumenter ‘Framing Britney Spears’ menggambarkan betapa tertekannya hidup penyanyi ternama itu dalam kuasa penuh ayahnya.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle
Share:

Tagar #FreeBritney sempat viral tahun 2020, disebarkan oleh para penggemar penyanyi Britney Spears lewat gerakan bernama sama. Gerakan #FreeBritney ini dipicu kecurigaan terhadap hidup Britney yang terkekang dan tertekan dalam perwalian legal (conservatorship) oleh ayahnya, Jamie Spears, yang telah berlangsung selama 12 tahun, yang akhirnya diangkat dalam film dokumenter Framing Britney Spears.

Film dokumenter Framing Britney Spears garapan The New York Times yang diluncurkan 5 Februari lalu. Film berdurasi 74 menit jam yang didistribusikan melalui Hulu dan FX ini memuat berbagai opini orang-orang, mulai dari yang pernah bekerja dengan pelantun “Baby One More Time” tersebut, videografer yang pernah mengambil gambarnya, pengacara, hingga para penggagas #FreeBritney.

Berbagai pihak, mulai dari orang-orang awam penggemar Britney sampai selebritas mengungkapkan simpati mereka terhadap sang penyanyi. Dalam Framing Britney Spears ditunjukkan gambar orang-orang yang mendukung Britney mendapat kebebasan penuh atas hidupnya tanpa bayang-bayang Jamie, serta sebuah cuplikan pendapat Paris Hilton, teman Britney, mengenai beratnya hidup dalam kekangan orang lain.

Kenapa Bisa Sampai Ada Conservatorship untuk Britney?

Dalam hukum di Amerika Serikat, conservatorship adalah bentuk perlindungan dan perwalian atas seseorang yang dianggap tidak memiliki kemampuan untuk memutuskan berbagai hal dalam hidupnya. Hal ini lazimnya diberlakukan pada orang-orang lanjut usia yang punya keterbatasan kemampuan fisik atau mental. Karena itu, banyak yang heran mengapa seorang Britney, yang notabene masih di usia produktif dan dipandang mampu mengambil berbagai keputusan secara mandiri, sampai harus berada dalam conservatorship.

Pemberlakuan conservatorship dengan Britney sebagai conservatee dan Jamie sebagai conservator diterapkan sejak 2008 oleh pengadilan. Hal ini tidak lepas dari rekam jejak Britney sebagai seorang pesohor yang banyak melewati masa-masa kelam.

Dalam Framing Britney Spears, para pemberi testimoni menceritakan bagaimana seorang gadis dari kota kecil menghadapi badai besar dalam hidupnya setelah dikenal publik luas. Salah satu konsekuensi hidup Britney sebagai selebritas papan atas adalah kehadiran paparazzi yang seolah tidak pernah berhenti mencari cerita dan gambar dirinya, dan kemudian keluarganya setelah ia menikah. Ini salah satu dari banyaknya hal yang sangat membuat Britney depresi.

Hal lain yang berkontribusi membuatnya demikian adalah komentar-komentar jahat publik, mulai dari cap bad girl yang memberi pengaruh buruk bagi penggemarnya , khususnya remaja putri lantaran performanya yang dianggap terlalu seksual, sampai tudingan sebagai ibu yang buruk. Ia juga harus menghadapi media yang memotretnya secara negatif setelah putus dari Justin Timberlake—dituduh berselingkuh dan dicap perempuan murahan karena awalnya bilang mau mempertahankan keperawanan sampai menikah, tetapi Justin mengakui mereka pernah bercinta saat pacaran.

Di samping itu, Britney juga mengemban beban psikis yang sangat berat setelah ia bercerai dengan Kevin Federline dan kehilangan hak asuh atas kedua anaknya, Sean dan Jayden. Bahkan, Britney sampai sempat tidak boleh sama sekali mengunjungi dan melihat anak-anaknya tersebut.

Baca juga: Tak Semua Orang Tua Mulia: Relasi Anak-anak dengan Orang Tua Toksik

Tekanan-tekanan semacam itu kemudian meledak menjadi beberapa aksi yang malah makin membuat media menyoroti dan merepresentasikannya dengan buruk. Britney mencukur habis kepalanya dan insiden serangan terhadap mobil paparazzi dengan payung adalah beberapa momen yang ditangkap dan dibesar-besarkan media, sehingga reputasi artis yang pernah tergabung dalam Mickey Mouse Club tersebut tercemar.

Britney pada akhirnya harus menjalani perawatan medis karena masalah kesehatan mental yang ia derita. Dari situ, Jamie, yang sebenarnya tidak punya peran besar dalam hidup Britney sejak ia kecil, masuk dalam hidup putrinya dan secara legal mendapat kuasa atas keputusan finansial, masalah kesehatan, dan karier Britney dengan anggapan kondisi Britney tidak stabil. Dalam keseharian, Jamie bahkan berhak mengatur siapa yang boleh mengunjungi Britney dan menerapkan penjagaan ketat selama 24 jam untuk putrinya itu.

Pada tahun-tahun pertama conservatorship diterapkan, tidak banyak publik yang menangkap bahwa Britney tidak baik-baik saja. Britney pun tidak tampak bermasalah di permukaan, apalagi setelah ia kembali tampil di berbagai panggung dan acara.

Namun semakin lama, publik mulai mencium ada yang tidak beres dengan Britney selama dalam conservatorship tersebut. Hingga akhirnya pada Agustus 2020, Britney mengindikasikan secara publik bahwa ia tidak mau Jamie menjadi conservator-nya dan informasi bahwa ia tidak mau naik panggung lagi selama Jamie memegang peran itu pun sempat tersebar. Hingga saat ini, proses pengadilan terkait kasus conservatorship Britney masih terus berlangsung dan banyak penggemar yang berharap ia sepenuhnya bebas dari peran ayahnya.

Membaca Pesan Tersembunyi Britney

Tidak gampang untuk mendapat pengakuan langsung dari Britney sepanjang ia berada dalam conservatorship. Ada yang menganggap perempuan itu takut akan Jamie sehingga kesalahan bicara yang dilakukannya bisa saja berimplikasi makin buruk terhadap nasibnya kelak.

Akhirnya, sejumlah orang pun berusaha mencari informasi dari sumber satu-satunya yang berasal dari Britney: Akun Instagram resminya. Dalam akun tersebut, Britney mengunggah banyak bagian dari aktivitasnya, sesuatu yang mungkin berdekade-dekade lalu tidak mungkin ada karena gambaran seorang artis hanya disetir media.

Para penggemar kemudian berusaha mengartikan tiap unggahan, seperti yang dilakukan beberapa perempuan penggagas podcast Britney’s Gram. Contohnya, mereka berusaha menangkap arti caption “There’s always a way out” yang suatu kali pernah Britney tulis dan mereka curiga, kondisi Britney memburuk di bawah kuasa ayahnya.

Dalam berbagai unggahan Britney lainnya pun, entah itu yang sebenarnya terkesan netral atau positif, masih banyak orang yang menanyakan keadaannya. Salah satunya adalah komentar “Britney are you okay? Wear black in Ur next post if u aren't” untuk satu unggahan swafoto Britney.

Lain waktu saat Britney mengunggah teks “Honestly as long as you’re happy, who the hell cares”, ada warganet yang berkomentar, “Are you happy?” atau “Don’t feel like Britney wrote this caption, it doesn’t sound like something that would come out of her mouth”.

Sepertinya para penggemar overthinking, atau terlalu dibawa serius. Tapi ternyata mereka benar, ada yang tidak baik-baik saja dari kehidupan Britney.

Baca juga: Jerat Orang Tua Toksik dan Sulitnya Anak Menentukan Nasib Sendiri

Apa yang Bisa Ditangkap dari Film Dokumenter Framing Britney Spears dan Gerakan #FreeBritney

Gerakan #FreeBritney ini menunjukkan bahwa aktivisme digital ternyata memang memiliki kekuatan tersendiri untuk menaikkan kesadaran atas suatu isu. Awalnya, hanya 10-15 orang yang benar-benar bersuara dan turun ke jalan untuk mengangkat masalah Britney. Namun akhirnya, keunggulan teknologi digital memungkinkan aktivisme ini meluas dan menjadi sorotan lebih banyak media dan di lebih banyak tempat.

Selain itu, dari kasus Britney ini kita dapat memahami bahwa orang tua tidak selalu tahu yang terbaik untuk anaknya. Atas nama kesehatan sang anak yang belum mumpuni, orang tua jadi merasa punya kuasa untuk mengontrol hidupnya. Sejak kecil dia diatur, dan sampai menjadi ibu pun dia tidak mendapatkan kebebasan. Beberapa kali Britney berusaha mengungkapkan perasaannya itu. Sayangnya, seperti salah satu kutipan Britney dalam dokumenter tadi, “They hear me but they are not really listening”.

Kasus ini juga menyiratkan bagaimana orang-orang sekarang ini semakin sadar akan isu kesehatan mental. Dulu, pada masa Britney depresi hingga membotaki dirinya, tidak ada media yang secara khusus menyoroti masalah kesehatan mentalnya dan berusaha berempati kepadanya. Dia dianggap hanya mencari sensasi. Sekarang ini situasi berbalik. Banyak publik mulai simpati kepadanya dan berpikir ulang apakah narasi buruk yang dulu media keluarkan itu memang demikian adanya.

Selain itu, kasus ini pun menunjukkan kepada kita bahwa tidak mudah bagi orang dalam situasi ditekan oleh suatu pihak (kalau tidak disebut kekerasan) untuk berbicara, apalagi pihak tersebut merupakan keluarganya. Dia bisa saja tidak dipercaya, atau lebih buruknya lagi, pilihannya untuk buka suara malah mendatangkan konsekuensi lebih buruk lagi. Dalam kasus Britney, entah dia akan kesulitan punya akses ke anak-anaknya karena selama dalam conservatorship, ia dapat sedikit keleluasaan untuk itu, atau konsekuensi lain.

Selain itu, berusaha untuk bicara jujur, di depan pengadilan atau publik, itu sangat menguras energi dan emosi. Dalam setiap kegagalan untuk dapat keadilan yang dalam kasus Britney berupa kebebasan, akan ada satu pukulan tersendiri yang tidak jarang membuat seseorang putus asa.  Karenanya, dukungan dari banyak pihak di sekitar atau yang tidak dikenal akan bermakna sekali bagi mereka yang terjebak dalam situasi mengekang.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop