January 07, 2020
Ibu Selalu (Tidak) Sempurna, Sama Seperti Ayah

Ibu tidak mesti sempurna dan tidak akan pernah sempurna, maka berhentilah membebankan semuanya hanya kepadanya.

by Dinara
Issues
Share:

“Tuhan ada di surga. Tuhan adalah ayah dan Tuhan tidak menampakkan dirinya sama sekali (untuk anaknya). Kamu harus sempurna, dan Charlie boleh sama sekali jauh dari kesempurnaan dan itu tidak masalah. Kamu akan selalu dibebani dengan standar yang jauh berbeda, jauh lebih tinggi.” (Nora Fanshaw, A Marriage Story)

Semalam saya terbangun dan tidak bisa melanjutkan tidur. Hal yang saya lakukan setelahnya adalah membuka Netflix guna mencari film yang mungkin cukup bagus untuk ditonton. Pilihan saya jatuh pada A Marriage Story, yang tengah hangat menjadi topik perbincangan di kalangan perempuan, khususnya para istri dan ibu. Sebenarnya, saya menghindari menontonnya karena belum berhasil melepaskan diri dari tamparan Kim Jiyoung: Born in 1982 yang meninggalkan kesan sangat mendalam. Film yang sama-sama bicara tentang pernikahan dan kewajiban tidak masuk akal yang dibebankan pada perempuan.

Mayoritas penonton terfokus pada pahitnya perceraian yang dialami Nicole dan Charlie dan luka yang dialami Henry, si anak, akibat perceraian orang tuanya. Atau mungkin para penonton sibuk mencari-cari alasan sah yang mendorong Nicole meminta cerai. Nicole tidak pernah menyebutkan secara lugas dan gamblang mengapa ia meminta cerai. Charlie pun tidak terlihat sebagai seorang suami yang buruk. Namun ada hal lain yang mengusik saya, yakni kalimat Nora, pengacara Nicole, yang kutipannya telah tertulis di atas.

Kita pasti familier dengan situasi yang membuat kita sering memanggil ibu sebagai bala pertolongan. Lupa meletakkan kaos kaki? Panggil ibu. Tidak bisa mengenakan dasi? Minta ibu. Kesulitan mengerjakan PR Matematika? Tanya ibu. Sampai-sampai muncul humor, jika kamu bertanya pada ayahmu di mana kamu meletakkan gunting kuku, dia akan menjawabnya dengan kalimat sederhana, “Tanyakan pada ibumu.” Pada masanya, saya tertawa kemudian menyadari bahwa itu juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari saya. Kawan di sebelah ikut mengangguk-angguk dan berkata, “Iya bener banget! Aku juga begitu!”

Baca juga: Menjadi Ibu yang (Tidak) Sempurna

Beberapa tahun kemudian, hal yang serupa disampaikan kembali, tapi bukan sebagai humor. Para motivator mulai menggunakan hal ini sebagai alat untuk membangkitkan perasaan sayang dan bersalah dari seorang anak pada ibunya. Mereka mengingatkan bahwa banyak sekali jasa ibu yang sering dilupakan oleh anak-anaknya, termasuk hal sesepele menemukan kaos kaki, dasi, atau gunting kuku. Romantisasi peran ibu ini sukses membuat siapa pun menangis tersedu-sedu.

Hal yang sama diromantisasi kembali untuk audiens yang merupakan para perempuan (yang tengah menuju) dewasa dan (diasumsikan) akan menjadi ibu dengan format dan tujuan yang berbeda. “Menjadi ibu adalah menjadi pahlawan super. Bayangkan saja, anakmu akan selalu meminta bantuanmu. Nanti kalau anaknya sudah berkeluarga kemudian punya cucu, ibu juga yang membantu mengasuh. Bukan ayah yang ditanya. Karena ayah tidak punya kemampuan itu. Luar biasa bukan?”.

Beberapa tahun yang lalu saya akan tersenyum sekaligus merasa bangga sebab saya akan menjadi sosok yang signifikan dalam kehidupan anak dan suami. Berperan sebagai ibu dan istri dari seseorang akan membuat saya menjadi sosok yang keren karena adanya tuntutan kesempurnaan itu. Sekarang, pandangan saya sama sekali berbeda. Jika ibu menjadi pribadi serba tahu dan serba sempurna tanpa cela, bagaimana dengan ayah? Apakah seorang ayah bebas dari tuntutan semacam itu?

Nora menggunakan dasar keyakinan masyarakat Barat terhadap Maria sebagai penyebab pertama seorang ibu mendapatkan standar ekstra tinggi atau malah mendekati sempurna. Ada sosok Maria Sang Perawan sebagai perempuan yang mengurus dan membesarkan anaknya sendirian tanpa bantuan profil ayah. Masyarakat dianggap tidak pernah mempertanyakan mengapa hal tersebut terjadi.

Berbanding terbalik dengan ibu, seorang ayah mendapatkan pemakluman bahwa ia tidak selalu serba bisa, bahwa ayah adalah orang yang irit bicara, atau bahkan ayah adalah orang yang paling berjarak dari anak-anaknya. Masyarakat menjadikan ketidaksempurnaan seorang ayah sebagai poin “karena itu ia disebut ayah”. Ketidakhadiran ayah dari keluarga pun tidak terlalu dipermasalahkan. Tidak hanya ketidakhadiran fisik, tapi absensi psikis.

Baca juga: Ibu Bekerja di Indonesia Butuh Subsidi Penitipan Anak

Dalam keseharian, kita hanya akan bersinggungan, bertanya, dan bersandar pada ibu. Ibu tahu betul sejauh mana proses tumbuh kita sebagai seorang anak, sedangkan ayah akan menjadi hakim saat kita melakukan kesalahan. Ayah boleh saja melewatkan momen minum teh bersama anaknya sembari mendengarkan cerita-cerita di sekolah, namun ibu harus ada di sana. Berapa banyak di antara kita yang cukup beruntung mendapatkan ayah yang sama hangatnya seperti ibu? Muncul pemakluman dan penerimaan secara bersama, bahwa seorang ayah boleh mengabaikan anaknya tapi tidak dengan ibunya. Sederhananya, ayah boleh tidak tahu di mana letak kaos kaki yang dilupakan oleh anaknya, tapi seorang ibu harus selalu bisa menemukannya.

Pernikahan dan mendidik anak adalah dua hal yang harus dilakukan oleh kedua belah pihak yang terlibat di dalamnya. Suami dan istri semestinya bekerja sama dengan porsi yang imbang untuk menjaga agar pernikahan tetap berjalan. Ayah dan ibu semestinya bersikap selaras bagi anak-anaknya. Tidak ada hal apa pun yang bisa dijadikan alasan  untuk tidak berlaku sama. Sebagaimana ibu harus serba bisa, ayah pun demikian. Sebagaimana ayah dimaklumi ketika melakukan kesalahan, ibu pun berhak mendapatkan pemakluman yang sama.

Acapkali, penyebab ketakutan perempuan menjadi ibu bukanlah gelar itu sendiri, melainkan tidak realistisnya tolok ukur masyarakat kita terhadap gelar itu sendiri. Tolok ukur yang mungkin saja membuat para ibu depresi bahkan saat ia hanya melakukan kesalahan kecil. Ibu tidak sempurna dan tidak akan pernah sempurna, sama seperti ayah. Maka berhentilah membebankan semuanya hanya kepadanya. Untuk para ibu, berhentilah menyalahkan diri sendiri ketika berbuat kesalahan dan jangan memaksakan dirimu untuk mengatasi semuanya sendirian, kalian memang punya batas kemampuan dan itu tidaklah salah.

Dinara atau yang akrab disapa Nara adalah perempuan kelahiran 1992. Sampai saat ini ia masih meyakini bahwa pekerjaan ideal idamannya ialah menjadi tenaga pengajar. Selain bidang pendidikan, ia juga memiliki ketertarikan terhadap isu sosial, parenting, dan psikologi. Seorang trilingual (berbahasa Indonesia dan Inggris secara aktif, dan bahasa Korea secara pasif). Hobinya adalah membaca, memasak, menulis blog, membuat kue, dan membuat buket bunga.