Women Lead
February 11, 2021

‘Fate: The Winx Saga’ Punya PR Representasi Keragaman Ras

Serial fantasi Netflix, ‘Fate: The Winx Saga’ menerima kritik pedas karena melakukan ‘whitewashing’ untuk beberapa karakternya.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Culture
Share:

Bloom (Abigail Cowen) adalah seorang peri api yang tumbuh besar di keluarga manusia dan baru mengetahui jati dirinya itu saat berusia 16 tahun. Sebuah tragedi kebakaran yang membahayakan kedua orang tuanya membuat Bloom bertemu Farah Dowling (Eva Best) kepala sekolah di Alfea, sekolah khusus para peri. Di sekolah itu pula, Bloom yang dahulu penyendiri menjalin persahabatan dengan Aisha, Stella, Musa, dan Terra. 

Selama di Alfea, Bloom frustrasi tentang siapa orang tua aslinya dan mengapa ia selalu kesulitan mengendalikan kekuatannya. Akibatnya, Bloom rela melakukan berbagai hal untuk mengatasi pergumulannya itu. Bahkan mau bekerja sama dengan sang tokoh antagonis, Beatrix (Sadie Soverall). Tidak hanya itu, Bloom juga kerap dikejar-kejar makhluk humanoid jahat yang disebut “The Burned One” dengan asal hingga tujuan yang tidak diketahui.

Secara garis besar itu adalah plot dari serial drama remaja terbaru Netflix, Fate: The Winx Saga yang dikemas singkat dalam enam episode.

Berbanding terbalik dengan kartun Winx Club di Nickelodeon yang ceria dengan warna-warna cerah, Fate mengangkat tema dark academia atau berpusat pada lingkungan pendidikan dengan sentuhan gelap karena ingin memecahkan rahasia misterius, agak murung, dan dibalut kegelisahan remaja.

Baca juga: Bangkit dari Kematian, Berantas Ketidakadilan: 7 Komik Isekai yang Wajib Dibaca

Penggemar yang menonton Winx Club saat masih anak-anak mungkin akan merasa sedikit asing dengan nuansa muram yang diambil Netflix. Namun bukan ini yang membuat Fate dikritik habis-habisan oleh publik.

Winx Club memberikan representasi keragaman ras, yang sayangnya tidak diindahkan dalam live action series yang tayang sejak 22 Januari lalu. Saat trailer Fate muncul Desember lalu, warganet mempertanyakan mengapa Musa (Elisha Applebaum), karakter dengan identitas Asia Timur, dan Flora, seorang perempuan Latin, mengalami whitewashing alias diperankan aktor-aktor kulit putih.

Ketiadaan inklusivitas dalam Fate menunjukkan masih sedikitnya kesadaran akan pentingnya representasi kelompok minoritas dalam sinema. Hadirnya ungkapan tersebut tidak menyatakan versi kartunnya terbebas dari masalah karena masih memiliki representasi buruk dalam isu positivisme tubuh.

Tokenisme Karakter dalam Film

Di lingkar persahabatan Bloom, karakter non-kulit putih yang tidak mengalami whitewashing adalah Aisha (Precious Mustapha), seorang peri air berkulit hitam. Tetapi jika ditelisik, kehadiran Aisha seolah-olah seperti tokenisme, semata-mata sebagai upaya simbolis dengan memilih satu atau dua orang dari kelompok minoritas agar tampak inklusif dan bebas dari tuduhan diskriminatif.

Baca juga: ‘The Crown’ dan Serangan terhadap Menantu Perempuan Keluarga Kerajaan Inggris

Aisha memang tidak sendiri karena ada karakter people of color (POC) lainnya, yakni Dane (Theo Graham). Tapi dibanding Aisha, perannya belum terlalu penting untuk musim ini. Selain itu, jika dibandingkan dengan ketiga kawan Bloom yang lain, hanya Aisha yang tidak memiliki isu personal maupun subplot-nya sendiri. Mungkin jika melihat dengan saksama ada keragaman ras lewat pemeran pendukung, tetapi mereka bukan tokoh yang memiliki dialog.

Solidaritas Perempuan dan Cinta Segitiga

Genre fantasi suka diidentikkan dengan maskulinitas. Trilogi legendaris Lord of The Rings (LoTR) karya J.R.R Tolkien, misalnya, didominasi karakter laki-laki. Memang ada tokoh perempuan seperti Galadriel, Arwen, dan Eowyn yang memiliki kekuatan masing-masing. Namun tidak ada dari mereka yang merupakan bagian dari fellowship pembawa cincin ke Mordor. Selain itu, jalan cerita Eowyn dan Arwen juga berpusat pada perasaan romantis mereka ke Aragorn. Dunia fantasi yang dibangun Tolkien memang sangat kompleks dan mengagungkan, tetapi sedikit menyedihkan dalam upaya representasi dan signifikansi tokoh perempuan.

Sekarang ini, sudah banyak buku, film, hingga serial yang mengangkat genre fantasi yang berfokus pada perempuan, termasuk Fate. Solidaritas antara Bloom dkk menjadi poin utama dalam versi animasi dan serial televisi. Sayangnya untuk beberapa episode awal, ada keraguan atas persahabatan mereka akibat kisah cinta segitiga antara Bloom, Stella (Hannah van der Westhuysen), dan Sky (Danny Griffin).

Baca juga: Merebut Takdir bersama Elsa, Maleficent, dan Merida

Cinta segitiga untuk memperebutkan seorang lelaki selalu menjadi jalan pintas menciptakan plot agar perempuan saling menjatuhkan. Untungnya, plot ini tidak dikembangkan, dan solidaritas antar lima sekawan itu, khususnya Bloom dan Stella, lebih diprioritaskan. Hal ini menjadi penting untuk menunjukkan representasi baik karakter perempuan di genre fantasi. Alih-alih menjatuhkan dengan alur cinta segitiga, Fate menghentikan jalan cerita heteronormatif toksik yang sudah lama dilanggengkan produk budaya populer untuk remaja.

Netflix memang suka dikritik karena serial remaja dengan perkembangan plot buruk, seperti Riverdale. Jika catatan besar yang diberikan pada Fate diindahkan oleh pembuat serial untuk musim kedua, Fate mungkin bisa bersaing lebih ketat dengan Chilling Adventure of Sabrina, juga serial remaja Netflix, yang memiliki rating tinggi di situs Rotten Tomatoes.

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.