Women Lead
July 16, 2021

Feminisme Digital 4.0 dan Balada Feminis Medsos

Seluk beluk feminisme digital, feminis medsos, dan mengapa itu penting di zaman sekarang.

by Jasmine Floretta V.D
Issues
Share:

Masih ingat dengan gerakan #MeToo yang sempat jadi buah bibir di media sosial (medsos) pada 2017? Frasa “Me Too” sebenarnya sudah digunakan Tarana Burke, aktivis sosial Amerika Serikat (AS) pada awal 2006. Namun, frasa itu baru populer di Twitter lewat tagar #MeToo, setelah diinisiasi aktris Amerika Alyssa Milano. #MeToo adalah gerakan melawan kekerasan seksual yang dilakukan oleh Harvey Weinstein, produser film Amerika Serikat (AS). Alyssa cuma satu dari puluhan penyintas yang bersuara saat itu.

Tak butuh waktu lama, sampai gerakan ini menyebar ke seluruh dunia, dan digunakan penyintas kekerasan seksual untuk bersuara lantang. Bahkan, #MeToo juga membuka diskusi penting di tengah publik yang tadinya belum paham betapa gentingnya situasi kekerasan seksual yang menimpa perempuan.

Gerakan #MeToo adalah contoh bagaimana teknologi internet di era digital, membawa perubahan yang signifikan dalam membangun gerakan luring. Feminisme digital digerakkan oleh para feminis yang aktivismenya bisa dilacak secara luas di internet.

Baca juga: Siapakah yang Pantas Disebut Feminis?

Definisi Feminisme Digital

Dalam buku Kaitlynn Mendes dkk. berjudul Digital Feminist Activism: Girl and Women Fight Back Against Rape Culture (2019) disebutkan, feminisme digital didefinisikan sebagai aktivisme atau keterlibatan dengan feminisme dan ideologi feminis di internet yang terjalin dalam ekosistem media yang lebih besar. Dalam ekosistem inilah, feminisme semakin terlihat, populer, dan cenderung menguntungkan.

Seperti gelombang kedua dan ketiga, feminisme digital di gelombang keempat terus tertarik untuk menantang struktur politik, sosial, dan ekonomi yang menghasilkan ketidaksetaraan dan penindasan. Feminisme digital juga memasukkan tuntutannya seputar seksualitas, pelecehan atau kekerasan seksual di tempat kerja, hak-hak reproduksi, dan diskriminasi lainnya.

Beberapa strategi paling jamak yang mudah dikenali oleh para feminis digital adalah aktivisme tagar (hashtag activism), pengungkapan pengalaman penyintas kekerasan seksual di media sosial (spill the tea), aktivisme video, pengarsipan digital, dan aktivisme data. Para penggerak yang ujung-ujungnya kerap dilabeli sebagai feminis medsos (jika hanya berhenti di gerakan daring. Red) ini berbagi tugas, di antaranya produksi dan moderasi konten digital, pengorganisasian sukarelawan dan "sistem rota", inisiatif pelatihan luring yang terbuka untuk khalayak umum yang tertarik pada isu kesetaraan dan keadilan gender, merancang aplikasi dan situs web untuk kampanye mereka, menulis dan memperbarui pedoman media, pun mengajukan keluhan ke badan pengatur media formal.

Salah satu strategi, hashtag activism dilakukan para feminis medsos dengan menampilkan isu disertai tagar spesifik. Hashtag activism kemudian memungkinkan banyak orang dengan latar belakang beragam untuk mengakses informasi dan berinteraksi langsung secara daring dengan mencari tagar tersebut.

Contoh dari hashtag activism yang menjadi ciri khas dari feminisme digital di Indonesia misalnya tagar #SahkanRUUPKS. Tagar ini menggema di media sosial termasuk Twitter hingga hari ini. Tepatnya usai Komisi VIII DPR ingin menarik kembali RUU Pemberantasan Kekerasan Seksual (RUU PKS) dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas karena pembahasannya yang dinilai terlalu “sulit”. 

Dari pernyataan tersebut, para aktivis, feminis, dan penyintas kekerasan seksual melakukan kampanye daring secara massif dengan menggunakan tagar #SahkanRUUPKS. Tujuannya satu: Untuk mendorong pengesahan RUU yang mangkrak selama kurang lebih empat tahun. Kampanye digital ini juga dilengkapi dengan pembuatan utas yang membahas tentang pentingnya RUU PKS bagi penyintas, pembahasan RUU PKS dalam kacamata agama, hingga pembuatan video kampanye berisi fakta RUU PKS. 

Kampanye feminis medsos ini ternyata cukup menguntungkan, setidaknya RUU PKS kembali dibahas di Parlemen pekan ini. Yang paling penting, feminis medsos membuat orang-orang yang tak paham isu di media sosial jadi ikut menoleh, karena mereka telah membuat hal tak populer jadi arus utama.

Biar bagaimanapun, feminisme digital dapat lebih jauh menciptakan ruang aman bagi perempuan untuk dapat berbagi ide dan cerita mereka tanpa dibungkam oleh orang lain. Selain itu, produksi pengetahuan dalam lingkup gerakan feminisme digital bisa dibilang sangat kaya lantaran ide dan pengetahuan banyak orang dapat dibagikan hanya dalam satu sapuan jari saja. Dengan demikian, jelas bahwa feminisme digital dapat memperkuat dan memperluas jangkauan berbagai gerakan perempuan karena bergerak tanpa batas yang memudahkan penyadaran dan pergerakan sosial akar rumput untuk terwujud.

Baca juga: Menjadi Feminis yang Tak Sempurna

Tantangan Feminis Digital

Kendati menguntungkan, bukan berarti feminisme digital lahir tanpa tantangan. Dua hal yang menjadi sorotan dari tantangan feminisme digital adalah penyebaran misinformasi dan troll daring. Misinformasi  dapat dengan mudah menyebar dan direproduksi dalam hitungan detik karena siapapun dapat mengunggah informasi tanpa konsekuensi berarti. Imbasnya pada gerakan feminisme adalah devaluasi dari ideologi dan agenda yang tengah diusung.

Tantangan yang kedua adalah dengan penggunaan anonimitas, membuat troll kerap mencoba menggagalkan upaya gerakan perempuan digital ini. Tidak jarang bahkan kritik yang mereka lontarkan tidak melibatkan materi yang dibagikan oleh para feminis medsos, melainkan ditujukan untuk menyerang para feminis ini secara pribadi yang justru kembali melanggengkan kekerasan berbasis gender daring.

Kendati memiliki tantangannya sendiri, feminisme digital menawarkan kepada kita sumber daya baru untuk keterlibatan dalam sebuah gerakan perempuan tanpa batas. Seperti saya sebutkan sebelumnya, feminisme digital hadir demi meningkatkan kesadaran dan memobilisasi massa secara daring dan luring sekaligus membangun solidaritas antarperempuan. Pada akhirnya, feminisme digital kemudian menawarkan sebuah keterlibatan dalam gerakan perempuan akar rumput yang secara efektif dapat mengritisi rasisme, klasisme, homofobia, transfobia, seksualitas, dan persoalan gender lainnya. 

Jasmine Floretta V.D. adalah seorang pecinta kucing garis keras yang gemar menghabiskan waktunya membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia sedang menjalani studi S2 di Kajian Gender UI dan memiliki minat mendalam pada kajian tentang penggemar dan peran ibu.