November 12, 2020

Percaya ‘Sisterhood’ Tapi Sinis pada Sesama Perempuan

Arti sisterhood dipertanyakan saat perempuan masih sinis pada sesama dan melakukan perundungan.

by Purnama Ayu Rizky
Lifestyle
Share:

Saya sudah lama tak percaya dengan mantra ala sisterhood bahwa perempuan selalu mendukung perempuan lain. Pun, bahwa perempuan takkan menghina, julid, nyinyir, merisak perempuan lain di dunia nyata maupun jagat maya. Buat saya, mau perempuan atau lelaki, dua-duanya rentan menjadi pelaku “kejahatan” tersebut. Kenapa saya sampai pada kesimpulan itu? Begini ceritanya.

Belum lama ini saya terpana melihat tubuh berotot dan dipenuhi tato bunga dari pengacara muda Alice Stephenson. Perempuan Amerika itu tenar karena menjadi orang tua tunggal di usia belasan, mendirikan firma hukum sendiri kendati diremehkan semua orang termasuk orang tua, dan bodo amat dengan aturan soal kepatutan sosial bahwa perempuan mestinya tidak bertato, berotot, dan bekerja malam hari.

Sebagaimana warganet Indonesia, dengan semangat jihad, saya langsung menyatroni akun pribadi @alice_e_stephenson di Instagram termasuk membaca komentar orang atas semua sepak terjangnya. Saya tak menemukan komentar bersentimen negatif di sana. Namun lain soal ketika saya mengunjungi kolom komentar akun Instagram artis peran Pevita Pearce ketika dia pamer foto berototnya. Selain komentar melecehkan dari para lelaki, bertebaran pula julidan perempuan soal tubuh Pevita. Menurut mereka, perempuan mestinya tak perlu berotot biar lelaki berani deketin.

Pevita jelas bukan satu-satunya artis perempuan yang menghadapi warganet perempuan yang nyinyir. Jangankan artis, orang biasa, ibu rumah tangga, ibu yang bekerja, perempuan lajang, orang yang—kenal baik saja enggak—pun bisa saja jadi objek julid di media sosial. Julid atau sinisme sebenarnya insting purba perempuan, tapi bukan berarti itu harus dirawat atau dikekalkan. Apalagi kalau kamu mendaku diri sebagai penjunjung sisterhood to the max sampai mati. Ya, akhirnya kebiasaan julid-mu terhadap perempuan lain di sini jadi enggak relevan dan kontraproduktif dengan semangat dan arti sisterhood.

Baca juga: Tak Ada yang Aneh dari Perempuan Mendukung Perempuan Lain

Sisterhood = iman feminisme

Menurut Oxford English Dictionary, nyinyir, julid, atau sinisme artinya "tidak percaya pada ketulusan manusia", skeptis terhadap kebaikan, sering mengejek, atau menyindir. Sementara, sisterhood artinya hubungan erat sesama perempuan yang berbagi ide dan tujuan serupa. Memang tujuan di sini apa sih?

Kalau di Indonesia, tujuan perempuan sudah barang tentu enggak jauh-jauh dari meruntuhkan stigma, melawan patriarki, sekaligus mengajak perempuan untuk sadar, minimal hak-hak dasarnya sebagai manusia, bukan sebagai liyan. Sementara mengamini Robin Morgan, editor Sisterhood is Powerful (1970), sisterhood selalu mengacu pada kesamaan perempuan dan kemampuan mereka untuk bersatu di sekitar kondisi penindasan yang serupa.

Sisterhood tentu saja seperti iman pada feminisme, ia tak bisa jadi kesadaran sendiri, tapi harus berwujud kesadaran kolektif. Sisterhood yang memperjuangkan agenda besar termasuk menjungkalkan patriarki yang berakar lama, mestinya harus disertai semangat untuk saling mengingatkan diri sendiri dan sesama, menghargai, dan memberi dukungan tanpa pandang bulu. Dari sini saja sudah kelihatan, bersikap sinis terhadap perempuan tak berbanding lurus dengan sisterhood sama sekali. Seperti Jaka Sembung, ya enggak nyambung.

Lalu kenapa hal semacam ini bisa terjadi? Sebagai perempuan yang juga sekian lama jadi bulan-bulanan objek nyinyir, baik senyap atau terang-terangan di media sosial, saya jadi terobsesi untuk mencari tahu musababnya.

Dalam kasus saya, sebenarnya agak fatal, karena perempuan yang dimaksud tak benar-benar saya kenal, cuma tahu namanya dari akun-akun berita gosip. Tapi hampir tiap hari ia nyinyir dan mengungkit semua keburukan saya, merendahkan, tak peduli itu fakta atau dongeng, tak peduli itu cerita sudah diverifikasi atau belum, melakukan perundungan online pada perempuan, body shaming, dan hal-hal buruk lainnya. Bahkan, ia sengaja membuat akun khusus yang berisi kata-kata merendahkan, untuk saya. Spesial.

Baca juga: Tak Ada yang Aneh dari Perempuan Mendukung Perempuan Lain

Sebenarnya saya atau teman-teman perempuan terdekat yang tahu cerita ini, tak terlalu ambil pusing, bahkan mencoba berjarak. Sebab, saya yakin ini adalah cerita jamak, dan banyak perempuan yang juga mengalami, setidaknya sekali dalam hidupnya. Saya hanya kasihan padanya dalam konteks sebagai sesama perempuan. Di satu sisi menahbiskan diri sebagai feminis, anti-misoginis-misoginis-club, menolak online shaming, dan mengaku peduli dengan kesehatan mental. Namun di sisi lain, ia justru menjadi sponsor utama yang mendorong korbannya—jika tak punya ketahanan kuat—bisa terjerembap dalam masalah mental serius termasuk depresi.

Sinis bisa positif

Saya tahu, sinisme tak melulu buruk. Beberapa cerita besar lahir dari mereka yang tak berhenti sinis saban harinya. Sinisme merupakan sumber kehidupan komedi satir tokoh-tokoh seperti Ian Hislop, Mark Steel, dan Jeremy Hardy. Tokoh-tokoh fiksi yang hebat seperti Malcolm Tucker pun lahir dari sinisme tentang politik. Jika Bob Woodward dan Carl Bernstein menolak sinis dan lebih percaya pada ketulusan manusia, mereka tidak akan pernah membongkar skandal Watergate lewat praktik jurnalisme investigasinya.

Namun, sinisme yang ditunjukkan perempuan itu adalah jenis sinisme fatalistis—meminjam istilah Julian Baggini, jurnalis cum filsuf Inggris. Maksudnya, para juliders itu yakin, tak ada yang bisa diperbaiki dari siapa saja objek kritik dan hinaan mereka. Padahal, seperti halnya dunia yang selalu berubah, orang pun bisa berubah.

Nanaia Mahuta, perempuan Suku Maori pertama dalam sejarah Selandia Baru bisa ditunjuk jadi Menteri Luar Negeri. McD, jejaring bisnis raksasa paling populer di Indonesia bisa berubah menjadi lebih peduli dengan mempopulerkan kampanye “boleh membeli makanan dari pebisnis makanan kelas gurem”. Perempuan di Amerika dan Eropa bisa jadi pemimpin dunia, setelah sebelumnya membayangkan mereka punya hak suara saja rasa-rasanya tak mungkin di Bumi yang sangat male gaze.

Baca juga: Serial ‘Valeria’: Krisis Penulis dan Arti ‘Sisterhood’

Lantas, bagaimana perempuan itu masih berpikir, semua hal di dunia ini stagnan, tak fungsional, status quo, tak bergeser. Apa pun dosanya, aibnya, perjuangannya baik dan buruk, menyindir dan sinis terhadap perempuan lain rasa-rasanya sudah tak relevan lagi di masa kiwari.

Selain rentan memicu depresi dari korban, mereka yang di satu waktu marah pada penindasan perempuan, tapi di saat bersamaan menjadi pelaku penindasan atas sesama, justru turut menyumbang alasan kenapa kelompok feminis kerap mendapat stigma punya standar ganda.

Kenapa marah harus pada satu pihak, jika yang bersalah adalah dua pihak? It takes two to tango. Kenapa mendaku diri mengamini sisterhood jika masih ajek menghina perempuan lainnya. Bahkan sekalipun ia adalah pelacur atau manusia paling berdosa, perempuan tak layak mendapat penghakiman dari sesamanya, apalagi dengan diksi yang sangat seksis dan merendahkan. Tak pernah ada yang tahu, bahkan untuk sekadar berdiri saja, beberapa di antaranya harus susah payah. Apalagi ditambah dengan pelbagai sinisme yang terlontar dari mereka yang mestinya di garda depan memberi dukungan.

Meskipun dalam beberapa soal, ada beberapa pelaku yang memang menjalankan coping mechanism dari insekuritas dan ketidaknyamanan hidup dengan menurunkan nilai orang dan nyinyir tanpa henti, tapi percayalah itu tak akan membuat nilai dirimu otomatis jadi lebih baik. Pun, rasa-rasanya jika terjadi perbedaan pandangan hidup, semisal Pevita Pearce nyaman dengan ototnya, Alice Stephenson enjoy jadi orang tua tunggal dan bertato, perempuan lain suka bercadar, sisanya memakai tanktop, tinggal bersama pasangan, memilih tak menikah, atau tak punya anak sampai tua, sebagai perempuan kita tak perlu memaksakan nilai-nilai ideal kita.

Apalagi jika tujuannya hanya demi membuat mereka makin kerdil dan tercerabut dari identitas dan pilihan hidupnya sendiri. Tapi sampai kamu, para juliders sadar soal ini, sebaiknya tak perlu ngaku-ngaku percaya sisterhood.

Purnama Ayu Rizky adalah mahasiswa Pascasarjana Politik UI cum penulis Remotivi. Tertarik dengan isu-isu perempuan, media, dan politik.