November 29, 2019
‘Frozen 2’ Baik Dikonsumsi Anak Laki-laki

‘Frozen 2’ perlu ditonton anak laki-laki karena memperlihatkan konsep maskulinitas yang berbeda.

by Patresia Kirnandita
Culture // Screen Raves
Frozen 2
Share:

Kisah para putri jadi dagangan klasik film-film Disney sejak berdekade-dekade. Namun, beberapa tahun belakangan, pesan yang disampaikan dalam film-film semacam itu bergeser. Putri dan ratu tetap jadi tokoh sentral, tetapi mereka tidak lagi digambarkan tidak berdaya dan selalu berharap uluran tangan laki-laki biar selamat. Frozen adalah salah satunya.

Magdalene pernah membahas bagaimana film tersebut termasuk salah satu film yang apik ditonton anak perempuan.  Sejumlah bagian dalam film itu tidak tipikal, mulai dari Elsa yang tidak berkutat pada romansa, keberanian sang Ratu mendobrak pakem dari ayahnya, sampai cerita penyelamatan yang tidak bergantung pada ciuman laki-laki untuk si tokoh utama.

Frozen 2 yang sedang ditayangkan juga muncul dengan formula yang sama, dengan satu nilai tambah: tak cuma buat anak perempuan, film ini juga baik dikonsumsi anak laki-laki.

Bocah laki-laki umumnya disuguhi film-film bertema pahlawan super, robot, atau mobil. Kekuatan, ketegaran, dominasi laki-laki, sosok yang logis, adalah nilai-nilai yang ditunjukkan dalam film-film macam itu, yang membangun konsep maskulinitas ideal. Alhasil, ketika anak laki-laki tumbuh dewasa dan tidak punya atau kekurangan salah satu dari hal itu, maka ia dipandang kurang maskulin.

Pandangan bahwa laki-laki tidak boleh lemah, emosional, dan mesti dominan dipompa pula lewat bermacam cara selain melalui budaya populer. Di rumah, di sekolah, di tempat kerja, dalam pergaulan sehari-hari, ada saja ungkapan, ajaran, dan tindakan yang mendorong anak laki-laki untuk bersikap demikian. Jarang-jarang kita mendapati hal sebaliknya. Tak disangka-sangka, Frozen 2 menyuguhkan hal itu, setidaknya dalam tiga hal yang saya amati.

Baca juga: Merebut Takdir bersama Elsa, Maleficent, dan Merida

Spoiler alert

Pertama, film ini menunjukkan bahwa tidak masalah jika perempuan yang menyelamatkan laki-laki. Dikisahkan bahwa ayah Elsa dan Anna, Raja Agnarr, diselamatkan oleh ibunya, Ratu Iduna—yang berasal dari suku Northuldra di utara Eropa. Kisah penyelamatan ini dimungkinkan oleh Iduna, yang seperti halnya Elsa, memiliki kekuatan super. Satu adegan yang menempel di kepala saya, yakni saat Elsa melihat visualisasi ibunya muda menyelamatnya sang ayah, mirip-mirip posenya dengan Pieta karya Michelangelo. Kekuatan sekaligus kelembutan tersirat dari pose Iduna, sementara Agnarr terkulai tak berdaya. Dan itu tak mengapa. Tak selalu sang raja atau calon raja harus penuh daya, kuat dan sakti mandraguna.

Kedua, laki-laki yang menunjukkan kegalauannya oke-oke saja, loh. Kristoff, pacar Anna dalam Frozen, sedang bingung dan resah hendak melamar Anna. Sementara dirinya diliputi perasaan macam itu, sang pacar malah sibuk membantu kakaknya menjalankan suatu misi. Saking sibuknya, Anna sempat meninggalkan Kristoff tanpa kabar. Karena itulah, Kristoff sedih dan mengungkapnya dalam lagu “Lost in The Woods”.

Sebagian orang mungkin merasa “dangdut” atau “menye-menye” sekali laki-laki yang menunjukkan kegalauannya. Berbeda dengan sosok pangeran yang tangguh dan superior, laki-laki dalam film Frozen 2 ini digambarkan lebih emosional. Dan ini penting karena laki-laki maupun perempuan sama-sama perlu mengekspresikan dirinya. Dalam kondisi lemah, tak usahlah ragu atau malu menumpahkannya lewat beragam cara.

Merasa emosional juga tidak mesti gara-gara urusan cinta. Soal kehidupan sekolah, kuliah, atau nantinya ketika kerja, wajar-wajar saja laki-laki meruntuhkan gengsi untuk pecah, menangis, atau curhat dan mengakui dirinya lemah di depan siapa pun: sesama laki-laki atau perempuan tanpa ditodong penghakiman dari orang lain maupun dirinya sendiri.

Ketiga, Frozen 2 menambah panjang daftar film animasi dengan tokoh laki-laki yang berstatus tak setara dengan pasangannya macam Shrek, Tangled (Rapunzel), dan Aladdin. Di dunia nyata, masih banyak pandangan bahwa laki-laki harus serba lebih daripada perempuan, dari segi kemampuan, finansial, pendidikan, dan sebagainya. Laki-laki itu tulang punggung, pemimpin, mau dikemanakan muka ini kalau perempuan pasangan saya punya uang lebih banyak, status lebih tinggi, kuasa lebih besar?

Lewat Frozen, anak laki-laki bisa belajar bahwa baik-baik saja jika pasangannya kelak berstatus lebih tinggi, menjadi pencari nafkah, atau menggenggam karier lebih gemilang. Toh dalam hubungan ada istilah saling mengisi, bukan berkompetisi. Apa yang bisa dilakukan laki-laki selama perempuan mengembangkan sayapnya, itu yang perlu menjadi fokus utama ketika relasi melibatkan dua pihak dengan latar status, finansial, atau karier tak sama.

Baca juga: Putri Duyung Disney Berkulit Hitam, Kenapa Tidak?

Lebih efektif dalam mendobrak patriarki

Memang benar, Frozen dan beberapa film tentang putri lainnya mendorong sebagian anak perempuan untuk mengidentifikasikan diri dengan para putri pemberani anti-arus utama, yang tak ragu mendobrak pakem-pakem peran gender tradisional. Tetapi menurut saya, internalisasi nilai macam itu di kepala anak perempuan akan kurang ampuh untuk mengikis pola pikir patriarkal jika tidak dibarengi dengan penanaman anti-maskulinitas beracun di benak anak laki-laki.

Bila pola pemikiran anak perempuan kian berkembang menuju kepercayaan pada kesetaraan, sementara anak laki-laki masih yakin mereka patut menjadi yang terdepan dan serba lebih dibandingkan perempuan, impian untuk mendobrak peran gender tradisional akan sulit jadi nyata. Tak cuma perempuan yang akan letih saat kelak berhadapan dengan pasangan laki-lakinya, tapi juga si laki-laki.

Apa iya sepanjang hidup mesti memenuhi ekspektasi masyarakat tradisional yang sebenarnya membebani? Menerima ketangguhan seratus persen sebagai kebenaran, mengharamkan kerentanan yang ditunjukkan ke orang lain, menolak gagasan perempuan bisa berstatus lebih darinya—atau setidaknya sepadan—merupakan gumpalan-gumpalan beban serupa batu yang didorong Sisifus dalam mitologi Yunani.

Tak perlulah menunggu sampai anak beranjak remaja, bahkan dewasa, untuk membiarkannya sadar bahwa oke lho, melawan peran gender tradisional. Hal ini bisa dimulai dengan memberinya opsi sejak dini, bahwa menjadi "laki-laki tak pernah tunggal definisinya.

Istilah “laki-laki ideal” tidak perlu ada. Siapa pun bisa menjadi seperti apa pun selama ia nyaman dengan dirinya dan tak merugikan yang lainnya. Entah lewat pengajaran langsung dari orang tua, guru, maupun melalui produk budaya pop macam film animasi ini.

Anak laki-laki bisa tangguh, bisa rapuh. Bisa jadi juara, tapi tak mengapa kalau besok kalah. Saat sesuatu melukai, sah-sah saja untuk menangis tanpa bersembunyi, tanpa memendamnya lama-lama. Dan ketika perempuan, entah pasangan atau teman ada selangkah di depan, tak usahlah berpikir menyainginya kalau cuma perkara gengsi.

Ilustrasi diambil dari IMDB

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop.