January 21, 2020
‘Fuckboy’ adalah ‘Bad Boy 4.0’: Setuju atau Tidak?

Label ‘fuckboy’ bisa negatif, netral, atau membanggakan. Pilih yang mana?

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle
OnlineDating_recolor
Share:

“Nama fuckboy 2020: Rizky, yoga, dimas, dika, naufal, putra, arie, kevin, bimo, iqbal, dito, aldy, ical, angga, yudha, alvin, reza, zaky, fajar, reynhard, ovi rangkuti.”

Selebgram Anya Geraldine mengundang reaksi warganet selepas mengunggah teks tersebut di akun Twitter dan Instagramnya, @Anyaselalubenar, pada 12 Januari lalu. Bersama teks itu, Anya mengajak pengikutnya untuk nge-tag teman mereka yang tergolong fakboi—variasi lain penulisan fuckboy, selain fuccboi.

Twit Anya segera jadi perbincangan di berbagai media sosial, juga media-media daring. Tidak hanya karena faktor popularitas Anya, teks tersebut memancing banyak respons karena istilah fuckboy juga kerap disebut-sebut di dunia digital.

Ketik “fakboi” di Twitter dan kamu akan menemukan beragam umpatan serta cerita buruk yang mengiringi kata tersebut. Lalu coba ketik “fuckboy” di Google dan kamu akan mendapati judul-judul seperti “8 Jenis Fuckboy Beserta Rayuannya yang Ladies Harus Tau”, “How to Get Over a Bad Boy – 5 Signs You’re Dating a Fuckboy”, dan “10 Faktor Pembeda F*ckboy dan Softboy. Sama-sama Bejat sih, Tapi Sistem Operasinya Berlainan”.

Dari sini, kita bisa menangkap bahwa fuckboy berkonotasi negatif. Hal ini sejalan dengan definisi yang diutarakan penulis Nancy Jo Sales dalam artikelnya di Vanity Fair seputar kencan daring. Ia bilang, “Fuckboy adalah pemuda yang tidur dengan para perempuan tanpa bermaksud punya hubungan dengan mereka, atau bahkan meminta mereka langsung pulang setelah tidur bareng. Dia seorang playboy yang enggak punya perasaan, dan juga semacam pecundang”.

Itulah sebabnya mengapa daftar Anya, terlepas dari niat bercanda atau mendulang reaksi warganet, sudah berhasil membikin cowok tak nyaman karena asosiasi buruk yang sudah sebegitu melekatnya dalam istilah fuckboy. Segelintir orang yang namanya ada dalam daftar segera menepis asumsi Anya. Mereka seolah punya urgensi mengklarifikasi dan menjaga reputasi meskipun yang disebutkan selebgram berusia 24 tahun itu tak berdasar sama sekali.

Negatif, positif, atau membanggakan?

“Andi”, 30, mengatakan bahwa sejauh yang ia pahami, fuckboy itu cowok-cowok yang memang hobinya tidur dengan cewek tanpa terikat komitmen.

Fuckboy identik dengan perilaku manipulatif demi mendapatkan apa yang mereka inginkan,” ujar karyawan industri kreatif di Jakarta itu.

Namun sebagaimana banyak istilah lainnya, fuckboy punya makna yang cair. Kamus bahasa populer Urban Dictionary punya 954 pengertian fuckboy. Sementara dalam sebuah artikel Slate, ada yang memandang istilah fuckboy lebih dulu populer di kalangan narapidana, dan ada juga yang meyakini istilah itu melejit karena disebut-sebut dalam lagu-lagu hip-hop.

Meski sependapat dengan Andi soal fuckboy yang doyan tidur dengan perempuan, “Mirna” merasa makna fuckboy lebih netral. “Yang membuatnya negatif adalah kalo si fuckboy ini punya sikap buruk. Misalnya, maksa cewek ngirim foto telanjang dengan, atau suka ngancam, atau yang demanding banget, padahal partnernya enggak nyaman,” ujar pekerja lepas asal Tegal itu.

Perempuan berusia 29 tahun itu menambahkan, perilaku ghosting alias menghilang tanpa pesan menjadi sikap menyebalkan lain yang ia pernah temui dari fuckboy.

Baca juga: Mereka yang Mencari Seks Gratis di Tinder

Label fuckboy ternyata juga dianggap membanggakan buat sebagian kalangan. Di sebuah perbincangan di Quora, yang diawali dengan pertanyaan, “Apakah cowok-cowok tersinggung saat dibilang fuckboy?”, banyak laki-laki yang menjawab label tersebut merupakan sebentuk pujian, khususnya bagi orang yang tidak peduli pada relasi romantis. Lebih lanjut, fuckboy juga lekat dengan sifat macho.

Karena ada norma yang menganggap laki-laki harus lebih jago ngeseks dibandingkan perempuan, rekam jejak pengalaman bercinta, plus dengan siapa saja, dan bagaimana performanya di ranjang, bisa dianggap sebagai tolok ukur tingkat maskulinitas atau bahkan kriteria fuckboy.

“Mereka lebih jago bercinta daripada cowok polos karena sering ‘latihan’. Beberapa bahkan rajin olahraga cuma demi lebih tahan stamina. Tapi soal ukuran (kelamin) jelas sangat enggak menjamin (performa seksnya),” ujar Andi.

Tapi ia mengakui bahwa berdasarkan pengalaman teman-teman perempuan yang pernah berurusan dengan fuckboy, mayoritas laki-laki semacam itu punya performa biasa saja di tempat tidur, alias kebanyakan gaya saja.

Seks konsensual dan omongan warganet

Tidak semua hubungan seks dilandasi dengan perasaan yang sama antarpihak dan itu sah-sah saja. Maka ketika bertemu dengan seorang fuckboy dan si perempuan juga tidak keberatan bercinta tanpa ikatan emosional, mestinya tidak ada masalah.

“Kalau ceweknya mau-mau aja (diajak tidur), lakinya enggak bisa dibilang berengsek, dong. Yang suka jadi perkara, nih, kalau ceweknya sebenernya udah tahu kalau dia (fuckboy) enggak mau pacaran, tapi mau aja have sex sama cowok itu, terus setelahnya nuntut ini itu,” kata “Sania”, 30, seorang karyawan swasta di Jakarta.

Ia mengungkapkan bahwa pasangannya yang sekarang bisa dibilang fuckboy. Ketika baru mulai jalan dengan cowok itu, Sania tahu bahwa dia masih suka jalan dan tidur juga dengan perempuan lain. Baru ketika mereka berdua menyatakan ingin berelasi eksklusif, perilaku seks pasangannya berubah. Mereka bahkan sudah berencana menikah.

Sebagian teman Sania sempat menyatakan ketidaksukaannya kepada pacarnya itu. “Kata mereka, ngapain sih, buang-buang waktu aja. Tapi ya bodo amat,” ujarnya.

Bukan hanya Sania, Mirna pun mendapatkan keprihatinan yang sama dari temannya saat berkencan dengan laki-laki yang gemar berhubungan seks tanpa komitmen.

“Gue sih dengerin opini dia dulu. Terus, gue coba kasih pandangan alternatif dan gue pastikan juga kalau gue baik-baik aja,” ujarnya.

Tapi tidak semua orang bisa santai dengan pandangan buruk sekitarnya seputar relasi mereka dengan fuckboy. Bisa jadi ada yang malu kalau sampai ketahuan teman, apalagi dengan glorifikasi keperawanan dan stigma buat perempuan yang aktif secara seksual. Perempuan yang mengaku menjadi korban manipulasi fuckboy bahkan dapat menerima shaming dari publik.

Hal ini terjadi pada kasus pemilik akun Twitter @samyangfire, yang diserang lantaran ia disebut-sebut sebagai fuckboy yang memaksa berhubungan seks dengan salah satu partnernya. Begitu satu pengakuan keluar, cerita-cerita serupa terkait keberengsekan laki-laki ini bermunculan dari warganet. Tidak hanya pengakuan, tapi makian, tuduhan, dan body shaming terhadap @samyangfire pun bertebaran di media sosial.

Baca juga: Patah Hati Akibat ‘Ghosting’ Sungguh Melelahkan

Di tengah cacian kepada laki-laki itu, terselip sikap menyalahkan si perempuan karena mau-maunya pelukan sambil telanjang dengan @samyangfire. Ia dicap perempuan nakal dan hanya membuka pengalaman seksualnya itu karena menyesal. “…di awal si cewek juga mau dan tau bakalan berujung ewew tapi pada akhirnya gak sesuai ekspektasinya dia, ya kan?” cuit seseorang.

Di era digital, call-out merupakan bagian dari upaya mencari keadilan yang ditempuh sebagian orang. Namun, call out sebagaimana yang ditemukan dalam kasus @samyangfire bisa jadi pedang bermata dua, khususnya yang terkait isu pelecehan dan perkosaan. Di satu sisi, serangan dan shaming yang ditujukan kepada terduga pelaku dirasa lebih efektif dibandingkan harus mengurus ke polisi dan pengadilan. Tetapi di lain sisi, sikap menghujat di media sosial bisa tergolong cyberbullying.

Pada beberapa kasus, bukti bisa dibeberkan untuk menjatuhkan nama pelaku, tetapi pada kasus-kasus lainnya, fakta masih mengambang. Baik pelaku maupun korban bisa ngotot ceritanyalah yang valid. Dampaknya, pengakuan-pengakuan yang sahih justru akan diremehkan dan dibilang hanya mencari sensasi, semata-mata akibat tidak puas bercinta dengan partner seksnya.  

Sementara itu, kendati di Indonesia masih subur pandangan bahwa perempuan yang doyan ngeseks atau pernah berhubungan seks tanpa nikah artinya bukan orang baik-baik, ada pihak yang tidak masalah dilabeli fuckgirl. Lihat bio Anya di Twitter: “manusia bucin (budak cinta) tapi fakgirl, overthinking, susah tidur, paling cepet bales chat sedunia.”

Sebagaimana istilah fuckboy, fuckgirl pun bisa diklaim sebagai hal yang tidak memalukan. Mungkin pernyataan fuckgirl di bio Anya sepadan dengan lirik “Bad Girl” lantunan selebgram lain, Awkarin, “kalian semua suci, aku penuh dosa” yang sarat sindiran. Barangkali label fuckgirl yang dibawa-bawa seseorang ibarat istilah “bitch” yang diklaim ulang sebagian pihak dan dijadikan simbol kekuatan.

Apa pun interpretasinya, fenomena populernya istilah fuckboy dan serbaneka problem yang mengiringinya menyadarkan kita tentang beberapa hal. Urusan seks tidak pernah benar-benar tinggal di ranjang kedua pihak bersangkutan saja. Perkara selangkangan adalah bahan bakar utama pergunjingan dan penghakiman di media sosial dari orang-orang terhadap pihak yang sebenarnya tidak mereka kenal.

Walaupun istilah fuckboy dan fuckgirl bersifat multitafsir, pikiran dikotomis masih ada: polos dan tidak ngeseks sana sini atau gemar bercinta tanpa ikatan dan berlabel brengsek. Irisan keduanya dianggap seolah mustahil eksis. Dan terakhir, fuckboy bukan alien yang baru muncul pada masa kini. Dari zaman dulu, laki-laki model ini sudah ada di mana-mana. Tetapi kehadiran internet, media sosial, dan online dating memudahkan pencarian partner seks tanpa komitmen.

Barangkali fuckboy is the new bad boy. Sebagian membencinya, lainnya justru menggandrungi dia.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop