Women Lead
July 30, 2021

Bagaimana Kamu Bisa Mati Karena Kerja Berlebihan?

Fenomena kematian setelah kerja berlebihan menunjukkan bahwa perhatian terhadap kesehatan fisik dan psikis karyawan masih kerap terabaikan.

by Dan Hasson
Lifestyle // Health and Beauty
Healing BornOut Depresi Overwork_SarahArifin
Share:

Pada 2013 di Indonesia, beredar kabar seorang pegawai perempuan di sebuah agensi periklanan meninggal setelah bekerja selama 30 jam. Hal ini pun membuat orang-orang menyoroti permasalahan kesehatan yang kerap terabaikan pada diri pekerja, sampai berujung pada hilangnya nyawa seseorang.

Fenomena meninggal setelah bekerja berlebihan menjadi hal yang tidak langka di Jepang. Hal ini dikenal dengan Karōshi dan merupakan sebuah fenomena yang pertama kali sering muncul di Barat. Sebab medis utama untuk kematian Karōshi adalah serangan jantung. Dan seringnya, individunya telah bekerja secara ekstrem dan berlebihan.

Karakter individu yang biasanya positif tiba-tiba bisa berubah. Contohnya, seorang pemuda yang  sangat ahli dalam perencanaan meninggal karena Karōshi di Swedia. Faktanya, ia meninggal di meja dapurnya di atas sebuah kalender. Ternyata kemampuan perencanaannya jauh dari kata normal; ia telah merencanakan hari-harinya hampir pada tiap menit. Pada kasus ini, sebuah kemampuan yang banyak ingin dimiliki orang telah berada pada tingkatan yang konyol.

Baca juga: Pangkas Jam Kerja Panjang untuk Hasil Lebih Optimal, Dorong Kesetaraan Gender

Seorang pemuda lain berlatih keras karena ia tahu latihan fisik bagus untuk performanya. Sebelum kematiannya, ia berlatih dua kali sehari dan memiliki dua pekerjaan - shift pagi dan malam. Agar tetap terjaga, ia mengonsumsi secara berlebihan berbagai stimulan seperti kopi, minuman energi, dan nikotin. Dalam keadaan tersebut, mungkin lebih mudah untuk dipahami bagaimana sebuah badan yang mencapai batasnya mungkin secara tiba-tiba menyerah.

Kelelahan atau Kehabisan Tenaga?

Jadi apa perbedaannya antara kelelahan dan kehabisan tenaga? Perbedaan yang paling jelas adalah seseorang yang kehabisan tenaga merasa lebih baik dan pulih setelah tidur dan istirahat. Seseorang yang kelelahan secara emosional akan kembali merasa kelelahan terlepas dari berapa lama mereka tidur, dan mereka memiliki kesulitan untuk tidur terlepas dari seberapa lelahnya mereka.

Jika kamu menawarkan seseorang yang kehabisan tenaga sebuah liburan, mereka biasanya akan senang untuk mengambilnya dan merasa lega. Walaupun mereka perlu mengambil jeda seperti ini, seseorang yang dalam jalan menuju kelelahan akan sering memiliki perasaan bahwa dunia akan berakhir jika mereka pergi.

Membawa pemahaman seperti itu ke mana-mana membuat mereka melanjutkan tindakan berlebihan mereka, terlepas dari semua tanda-tanda bahaya. Bahkan jika beberapa orang memberi perhatian kepada gejala medis dan psikologis mereka, kebanyakan tidak akan berbuat banyak agar berubah.

Stres yang Memuncak Sebabkan Gangguan Fisik dan Psikis

Reaksi dari stres, yang termasuk meningkatnya laju detak jantung dan pernapasan yang cepat, menghasilkan sebuah sensasi untuk melawan atau menyerah yang seharusnya melindungi kita. Namun, itu juga berarti bahwa kita bisa kurang fokus untuk istirahat atau berobat ketika kita merasakan sedang diburu. Kecuali tentu saja jika kamu sudah belajar bagaimana untuk mengatasi stres sebelumnya dan menggunakan pelajaran itu pada kehidupan sehari-hari.

Kata “stres” awalnya diadaptasi dari buku fisika oleh Walter Cannon dan seperti kata lainnya, tidak ada arti tunggal untuk kata ini. Stres punya beberapa arti di dalam konteks sains dan sering didiagnosis sendiri dalam kehidupan sehari-hari, tingkat keparahannya tergantung pada persepsi yang subjektif. Stres bisa berasal dari paparan eksternal dan respons internal, jadi keduanya bisa menyebabkan penyebab dan akibat stres.

Baca juga: Ini Alasan Kenapa Karyawan Bisa Alami ‘Burnout’ dan Cara Atasinya

Secara psikologis, stres adalah sebuah proses bertambahnya dorongan yang menjaga kestabilan lingkungan internal tubuh seseorang (homeostasis). Dalam bentuk perilaku, stres seharusnya membuat kita mengerahkan tenaga agar bertahan di situasi yang kita anggap mengancam. Paparan stres jangka pendek dengan waktu pemulihan yang cukup bisa berguna bagi kita, sementara paparan pada stres jangka panjang tanpa pemulihan yang cukup bisa berbahaya.

Stres jangka pendek, seperti ketika kita alami ketika olahraga biasa, meningkatkan keluarnya hormon-hormon stres seperti kortisol dan hormon-hormon anabolik seperti testosteron. Ketika stres berhenti, proses dari anabolisme dan respons untuk pemulihan bertambah. Jenis reaksi stres ini adaptif dan mungkin mempunyai beberapa manfaat bagi kesehatan.

Walaupun begitu, tanpa pemulihan yang cukup, fungsi-fungsi penyembuhan, contohnya aktivasi dari sistem parasimpatis (sering disebut juga dengan sistem rehat dan cerna) yang menyimpan tenaga dengan mengendurkan pacu jantung dan menambah pergerakan usus, akan terganggu.

Salah satu dampak buruk dari stres jangka panjang tanpa adanya pemulihan yang cukup adalah keletihan emosional, dan gejalanya bisa termasuk kelelahan fisik, kecemasan, kelelahan, sulit tidur, depresi, dan performa kerja menurun.

Sistem neuroendokrin utama yang menyalurkan respons untuk stres adalah hypothalamic-pituitary adrenal axis (HPA Axis)  bersama dengan sistem saraf simpatetis. Kortisol, bersama dengan adrenalin dan noradrenalin, adalah salah satu hormon-hormon pusat yang menerima respons untuk stres. Proses ini dimulai di bagian hypothalamus otak yang berkoordinasi dan berinteraksi dengan wilayah otak yang lain.

Akhirnya paparan stres secara berulang bisa berujung pada perubahan di bagian saraf pusat dan stres jangka panjang tanpa waktu pemulihan. Ini bisa berujung pada beberapa kerusakan fisik dan psikiatri seperti nyeri jangka panjang, gangguan pendengaran, depresi, kecemasan, dan berkurangnya daya tahan tubuh.

Namun, jika kamu menderita dari dampak buruk stres, tidaklah terlambat untuk melakukan langkah-langkah untuk penyembuhan. Semua ini termasuk mulai dari yang latihan relaksasi simpel dan aktifitas fisik sampai ke pendekatan berbasis kesadaran, terapi perilaku kognitif, dan lainnya.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Dan Hasson adalah peneliti di The Stress Research Institute at Stockholm University.