Women Lead
July 07, 2021

Kesehatan Mental dan Naik-Turun Hidup Jadi Idola K-Pop

Idola K-Pop rentan mengalami gangguan kesehatan mental karena menerima tuntutan yang ekstrem dari industri maupun penggemar.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Culture // Korean Wave
BlackPink_Kpop_Girlband_KarinaTungari
Share:

Setahun silam, Jae, pemain gitar dari band Korea Selatan, Day6 menyangka dirinya mengalami serangan jantung. Saat itu, ia baru saja menyelesaikan syuting untuk video musik Truman. Dalam perjalanan pulang, Jae merasakan jantungnya berdebar kencang, tubuhnya menjadi kaku, dan kesulitan bernapas di dalam taksi. Dengan perlahan, Jae meminta untuk dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan mengalami serangan panik oleh dokter. 

“(Saat itu) saya mengira akan mati,” ujar Jae, seperti dikutip dari Allure.

Jae yang bernama asli Park Jae-hyung mengatakan, sebelum peristiwa itu, ia sering mengalami serangan kecemasan ringan dan mengalami apnea tidur, gangguan yang menyebabkan pernapasan seseorang berhenti beberapa kali saat terlelap. Namun, Jae mengacuhkan gangguan tersebut dan memilih untuk menenggelamkan diri pada pekerjaan, sampai akhirnya ia dibuat ‘sadar’ untuk memperhatikan kesehatan mentalnya dengan serangan panik yang dialaminya.

Day6- Sumber foto: Wikicommonimages-Shuohyun
Band Day6 - Sumber foto: Wikicommonimages-Shuohyun

Laki-laki berusia 28 tahun itu merupakan satu dari segelintir idola K-pop yang tersandung isu kesehatan mental. Sebelumnya, Haseul, anggota grup idola Loona dan Kim Jiho dari Oh My Girl absen dari aktivitas grup karena mengalami gangguan kecemasan. Selain itu, Taeyeon dari grup idola generasi kedua, Girls’ Generation, juga mengungkapkan sedang melawan depresi dan tengah dalam pengobatan.

Meskipun begitu, isu kesehatan mental tidak hanya menjadi masalah yang dihadapi idola di industri K-pop, tetapi juga idola dari Jepang. Miki Nishino, mantan anggota grup AKB48 mengatakan, banyak idola perempuan yang merasa tertekan secara mental maupun emosional. Mereka memang tidak secara terang-terangan mengatakan hal itu di depan publik, tetapi menunjukkannya lewat status di aplikasi perpesanan pribadi mereka, ujar Nishino dilansir dari Japan Today.

“Mereka (idola) akan menulis ‘jika saya maju terus, saya bisa melihat keadaan akan membaik’ atau menggunakan foto profil warna hitam. Dari hal itu, mereka berharap seseorang akan menolong mereka, tetapi menurut saya lebih baik jika (mereka) mengatakan yang sejujurnya,” kata Nishino.

Isu kesehatan mental yang dihadapi idola kerap menjadi sorotan media maupun penggemarnya. Namun, di Korea Selatan maupun Jepang, pembicaraan kesehatan mental masih dikelilingi stigma dan dicap tabu. Oleh karena itu, kasus kematian atau bunuh diri karena gangguan kesehatan mental, kesepian, dan isolasi tetap menjadi masalah di kedua negara itu.

Dahulu Jae juga menganggap gangguan kesehatan mental sebagai tanda kelemahan dan bukti seseorang tidak mendorong dirinya semaksimal mungkin.

“Saya kemudian sadar, tidak semua orang bisa seperti itu, termasuk saya,” ujarnya.

Tekanan untuk Menjadi ‘Sempurna’

Sebelum debut menjadi ‘idola sempurna’--berperilaku baik, memiliki kemampuan artistik yang menonjol, dan memiliki fisik yang menarik--mereka dilatih dalam jangka waktu panjang atau  memakan waktu sampai bertahun-tahun. Setiap bulan, calon idola atau trainee, umumnya berusia 12 tahun sampai remaja, harus dievaluasi oleh eksekutif agensi apakah mereka memiliki kemampuan untuk menjadi idola impian.

Kang Daniel, idola jebolan ajang pencarian bakat Produce 101 mengatakan, sebagai trainee ia harus latihan sampai pukul tiga subuh dan kembali beraktivitas pukul lima pagi. Hal tersebut tidak dirasakan Kang saja, tetapi sudah menjadi keseharian semua orang yang ingin menjadi idola. Selain itu, juga fakta yang sudah tidak rahasia lagi bagi penggemar, semua idola harus menjalani proses ‘pemilihan’ ketat.

Baca juga: BTS dan Bagaimana Idola Membantu Kesehatan Mental

Akibatnya, jadwal latihan tanpa waktu istirahat yang cukup, ekspektasi tinggi dari eksekutif, dan persaingan antar-trainee menjadi tekanan yang terus dirasakan dan terus berlanjut ketika berhasil debut sebagai idola. Ada standar mencekik untuk berpenampilan dan berperilaku tertentu yang diberikan agensi. Selain itu, mereka juga dihadapkan dengan kontrak kerja yang menghalangi kebebasan atau disebut slave contract.  

Di hadapan publik, para idola juga harus ‘memikat’ masyarakat dengan kecantikan sesuai dengan standar, yaitu memiliki kulit putih dan bertubuh ramping. Jika mereka tidak memenuhi standar tersebut, khususnya perempuan, idola akan menerima hujatan dari publik. Karenanya, ada idola melakukan diet ekstrem agar bisa memuaskan keinginan audiens tersebut.

Kang Daniel - Sumber foto: Wikicommonimages- Apeachdude

Buntutnya tak main-main, idola bisa mengalami gangguan makan atau eating disorder, seperti penyanyi IU. Pada acara televisi Healing Camp, Aren’t You Happy 2014 lalu, IU mengalami bulimia dan akan makan berlebihan jika sedang merasa cemas. Perempuan berusia 28 tahun itu juga mengingat ada masa dia hanya bisa tidur, makan, dan kemudian memuntahkan isi perutnya. Rasa cemas dan stres yang dialaminya juga dipicu oleh komentar ‘kok gendutan’ yang berkonotasi negatif dari publik.

Tuntutan untuk memiliki ‘tubuh indah’ yang diidamkan oleh semua orang itu mengakar sejak mereka masih menjadi trainee. Stella Kim, mantan trainee di SM Entertainment mengatakan, akan dilakukan penimbangan berat badan dan bagi mereka yang mengalami kenaikan akan dicecar secara umum.

Baca juga: BTS dan Bagaimana Idola Membantu Kesehatan Mental

‘Cyberbullying’ dan Komentar Seksis

Tidak bisa dimungkiri, idola laki-laki dan perempuan menghadapi tekanan yang sama dari segala arah. Meskipun begitu, hanya idola perempuan yang menghadapi kritik maupun komentar dengan balutan seksisme dari publik, terutama jika mereka tidak berperilaku sesuai dengan kekangan nilai masyarakat patriarkis.

Idola perempuan dikotakkan menjadi satu dimensi. Mereka harus imut, lugu atau polos, tetapi di saat bersamaan harus menjadi seksi, bukan untuk diri mereka sendiri, tetapi untuk diobjektifikasi publik dengan teropong male gaze. Jika mereka menantang kekangan itu, maka akan menerima kritikan dan komentar tajam atau perundungan di media sosial.

Sulli, mantan anggota grup idola f(x) menjadi idola yang mendobrak kekangan itu. Ia tidak takut menjadi dirinya sendiri, secara terbuka membicarakan isu kesehatan mental dan seksualitas yang ditabukan, serta menunjukkan dirinya sebagai feminis di tengah masyarakat misoginis.

Perempuan dengan nama asli Choi Jin-ri itu memecah gelembung idola perempuan sebagai ‘boneka’ yang bisa diatur ini atau itu sesuka hati dan melupakan mereka adalah manusia biasa. Namun, komentar seksis, perundungan daring, dan depresi menjadi penyebab ia bunuh diri pada 2019.

Mengikuti peristiwa itu, di tahun yang sama pembuat hukum Korea Selatan mengajukan wacana ‘Undang-undang Sulli’ atau ‘Sulli Act’ untuk melawan perundungan dan komentar jahat secara online. Sayangnya, rancangan tersebut belum bisa disahkan tahun lalu dalam Majelis Nasional Ke-20 Korea Selatan.

Meskipun komentar kejam atau seksis kepada idola perempuan sudah dikecam penggemar K-pop, masih banyak oknum yang melakukan hal itu di dunia maya. Idola perempuan masih menjadi korban ujaran kebencian hanya karena berpacaran, diberi komentar bernada slut shaming, dan dihujat habis-habisan hanya karena membaca novel sarat feminisme, seperti Irene dari Red Velvet.

Selain itu, mereka juga direndahkan oleh penggemar grup idola laki-laki karena ada nilai misoginis yang terinternalisasi dalam fandom dan mengadu idola perempuan satu sama lain hanya untuk memenangkan argumen online yang remeh-temeh.

Baca juga: Jisoo BLACKPINK dan Diskriminasi Atas Kemampuan Bahasa Inggris Idola K-Pop

Idola Sulit Menjadi Dirinya

Hidup menjadi seorang idola tidak pernah lepas dari tekanan yang bisa berdampak ekstrem, seperti bunuh diri. Selain itu, keinginan industri dan publik untuk mengontrol hidupnya membuat mereka merasa sulit untuk menjadi diri sendiri. Minah dari grup idola perempuan Girls’ Day juga pernah mengaku bahwa kehilangan identitas diri yang sebenarnya karena ingin memuaskan publik.

Kim Byung-soo, psikiater dari Asan Medical Center Korea Selatan mengungkapkan, gangguan kesehatan mental, seperti depresi, yang dialami idola memang disebabkan oleh keharusan memiliki dua persona yang berbeda, dirinya sendiri dan menjadi seorang idola.

Ketika jarak persona diri sendiri dan idola semakin besar karena profesi bergantung pada ketenaran, idola akan kehilangan rasa siapa diri mereka sebenarnya dan bergantung pada identitas ‘seorang selebritas’ itu. Hal itu kemudian menjadi tekanan batin bagi mereka, ujarnya dikutip dari The Korea Herald.

Selain itu, Kim menambahkan, idola juga cenderung mengalami depresi karena terisolasi dan kesepian. Idola merasa sulit untuk membangun hubungan personal dengan orang lain karena menganggap hanya disukai sebatas fisik dan profesinya saja. Maka dari itu, ia menambahkan, mereka seolah-olah ‘terputus’ dari lingkar keluarga dan pertemanan.

Baca juga: Tanda-tanda Kita Ada di Fandom K-Pop Toksik dan Bagaimana Menyikapinya

Bagaimana Agensi Hiburan Sebaiknya Bersikap?

Saat ini industri K-pop lebih terbuka ketika membicarakan kesehatan mental idola dan agensi memberikan waktu beristirahat untuk menyembuhkan dan menenangkan diri mereka. Mina, anggota dari grup idola perempuan Twice mengalami gangguan kecemasan dan absen dari kegiatan grup pada 2019. Tahun lalu, Jeongyeon, juga dari Twice, mengambil waktu beristirahat karena alasan yang sama. Informasi itu dikabarkan oleh agensi mereka, JYP Entertainment.

Secara umum, penggemar selalu mendukung jika idola mereka mengambil absen karena isu kesehatan mental. Di saat yang bersamaan mereka juga kerap meminta agensi untuk memberi waktu istirahat pada idola favorit jika terus beraktivitas tanpa henti. Selain itu, juga meminta penanganan yang lebih tegas dan mengikuti jalur hukum jika ada komentar yang memberikan dampak negatif pada idola.

Bang Si-hyuk, CEO dari BigHit Entertainment, sekarang disebut HYBE Labels, mengatakan perusahaannya sangat mengutamakan lingkungan yang menyenangkan untuk idolanya sebagai seorang manusia. Dalam proses training untuk calon idola, perhatian untuk kesehatan mental dan kemampuan artistik juga diseimbangkan, ujarnya dikutip dari Time.

Grup idola yang dibesarkan perusahaan hiburan tersebut, BTS mengadvokasikan isu kesehatan mental dalam lagu maupun wawancara. Anggotanya RM dan Suga berharap pembicaraan terbuka tentang kesehatan mental dapat menghapus stigma yang ada di masyarakat. Taeyeon juga berpesan agar tidak menyepelekan masalah dan cerita orang-orang yang mengalami depresi maupun isu kesehatan lainnya pada penggemarnya.

Namun, upaya dari agensi atau idola yang membicarakannya secara terbuka tidak cukup dan dibutuhkan respons yang sama positifnya dari masyarakat umum maupun penggemar. Stigma tentang kesehatan mental tidak serta-merta bisa hilang dalam sehari dan dibutuhkan perubahan dari masyarakat lewat diskusi yang terbuka untuk menghapus pandangan negatif tersebut. Selain itu, budaya fandom toksik yang sering menyerang idola harus dieliminasi yang bisa dilakukan dengan usaha dari sesama anggota fandom itu sendiri.

Ilustrasi oleh Karina Tungari 

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.