Lifestyle Madge PCR

Hilangnya Keintiman dalam Hubungan, Apa yang Perlu Dilakukan?

Menjalani relasi jangka panjang bukan perkara mudah. Ada koneksi dan keintiman emosional yang berkurang. Namun, bukan berarti tidak dapat diperbaiki.

Avatar
  • March 1, 2023
  • 4 min read
  • 855 Views
Hilangnya Keintiman dalam Hubungan, Apa yang Perlu Dilakukan?

Baru-baru ini, netizen Twitter ramai membicarakan kurangnya komunikasi dalam hubungan suami istri. Pembahasannya berawal dari kontek TikTok yang dikirim netizen, ke aku mention fess (menfess). Konten tersebut berisi keluhan pengguna TikTok, tentang keadaan rumah tangganya.

Berdasarkan ceritanya, sang pengguna TikTok mengatakan tidak pernah mengobrol dengan suaminya. Hal itu dikarenakan suaminya sering bermain ponsel. Komunikasi di antara mereka hanya terjadi ketika suami memerlukan sesuatu, atau ingin berhubungan seks. Akibatnya, istri merasa tidak dihargai.

 

 

Situasi seperti dialami pengguna TikTok acap kali terjadi dalam hubungan. Obrolan hanya sebatas anak, pekerjaan, keperluan rumah tangga, rencana kegiatan, dan to-do list harian. Bukan lagi menunjukkan perhatian, mengobrol dari hati ke hati, atau bersikap ingin mengetahui satu sama lain layaknya baru menjalin kedekatan. Membuat koneksi relasi memudar.

Sebuah program di Television Hokkaido—stasiun televisi asal Jepang, pernah memotret kondisi rumah tangga serupa. Yakni dialami pasangan suami istri asal Jepang, Otou Katayama dan Yumi. Selama 20 tahun pernikahan, tidak pernah ada obrolan berarti di antara mereka. Yumi hanya menerima anggukan atau gerutuan dari suaminya, tiap kali mencoba membangun percakapan.

Ternyata, Katayama bersikap demikian lantaran cemburu, dengan perhatian yang diberikan Yumi pada anak-anaknya. Akibatnya, ia memilih bersikap dingin pada Yumi.

Mungkin Yumi dan Katayama bukanlah satu-satunya pasangan yang jarang berkomunikasi. Pertanyaannya, apakah kondisi ini wajar terjadi?

Hilangnya Keintiman Emosional dalam Hubungan

Ketika menghadapi situasi tersebut, mungkin sebagian pasangan menganggap hubungannya akan berakhir. Kemudian membandingkan dengan fase awal perkenalan, di mana setiap pihak memprioritaskan satu sama lain. Dalam tulisannya di Flourish Together, penulis Pat Love mengungkapkan faktor yang melatarbelakanginya.

Saat baru mengenal pasangan, otak seseorang dipenuhi dengan dopamin, sehingga memengaruhi perilaku. Yang kepribadiannya enggak banyak ngomong, misalnya, jadi cerewet dan ingin tahu lebih banyak tentang pasangannya. Atau yang enggak suka sentuhan fisik, justru menyukainya.

Menurut Love, jatuh cinta membuat seseorang memprioritaskan hubungannya. Namun, seiring berjalannya waktu, ketika pasangan nyaman dengan satu sama lain, perilaku akan berubah seperti semula.

Mungkin kamu familier, dengan perkataan: Kalau sudah lama menjalin relasi, sifat aslinya akan terlihat. Atau sikapnya tidak romantis lagi, seperti awal pacaran. Itulah yang dimaksud Love, dengan kembalinya perilaku sebagaimana orang yang sudah tidak jatuh cinta.

Padahal, dalam hubungan diperlukan keintiman emosional untuk memahami satu sama lain. Jenis keintiman ini dilakukan dengan membuka diri, menyampaikan perasaan, dan saling percaya. Contohnya dengan membicarakan relasi, berbagi rahasia, dan memberi tahu pasangan hal-hal penting.

Dalam wawancara bersama NBC News, konselor pernikahan Rachel Wright mengungkapkan, hilangnya keintiman emosional akan berdampak pada keintiman fisik. Akhirnya hubungan tidak bertahan lama.

“Enggak ada salahnya meluangkan waktu, energi, dan uang untuk membangun dan memelihara keintiman emosional, kalau menurutmu itu penting bagi hubungan,” tutur Wright.

Karena itu, apabila beberapa hal tersebut tidak dilakukan, relasi akan merenggang dan mempersulit hubungan. Yaitu meragukan kesetiaan dan kesal dengan pasangan, serta merasa kesepian bahkan diasingkan.

Kendati demikian, bukan berarti relasi tanpa keintiman emosional akan berakhir begitu saja. Hubungan bisa dipertahankan, tetapi pihak yang terlibat tidak merasa aman dan bahagia. Sedangkan tanpa kedua hal tersebut, relasi akan lebih rumit untuk dijalani.

Lalu, apa yang perlu dilakukan untuk mengembalikan keintiman dan koneksi dalam relasi?

Meningkatkan Keintiman Emosional

Kenyataannya, bukan perkara mudah untuk membangun koneksi maupun keintiman emosional dengan pasangan. Dalam rumah tangga Yumi dan Katayama, misalnya. Ada peran anak-anak, di balik terungkapnya alasan Katayama bersikap dingin pada sang istri. Namun, pada akhirnya pasanganlah yang perlu berusaha memperbaiki relasi mereka.

Kendati demikian, terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan. Pertama, berusaha keluar dari rutinitas sehari-hari. Di tengah kesibukan, umumnya seseorang cenderung enggan melakukan hal baru, termasuk keluar dari zona nyamannya. Sesederhana melakukan aktivitas menyenangkan bersama pasangan, atau meluangkan waktu untuk bertukar cerita. Apalagi harus berdiskusi tentang hubungan.

Padahal, penting untuk menghabiskan waktu dengan pasangan. Contohnya makan malam, menonton televisi bersama, atau melakukan kegiatan yang suka dilakukan seperti di awal hubungan.

Kedua, mengafirmasi dan memuji pasangan secara rutin. Ketika sudah menjalin relasi untuk waktu yang lama, seseorang cenderung kurang mengapresiasi nilai-nilai positif pasangan. Maka itu, ahli saraf asal New York, Sanam Hafeez menyarankan untuk membiasakan memberi pujian pada pasangan.

“Pujian bisa membantu mengingatkan, kenapa pasangan kita adalah sosok yang spesial,” ujar Hafeez. “Cukup dengan menyampaikan kalau kamu mengapresiasi tindakan yang pasangan lakukan. Atau mengatakan kamu menyayanginya.”

Ketiga, bersikap rentan untuk mengambil kepercayaan. Bukan perkara mudah untuk menunjukkan kerentanan diri pada orang lain, termasuk pasangan yang sudah menjalin relasi dalam jangka waktu panjang. Sementara dalam hubungan romantis, menunjukkan kerapuhan menjadi salah satu cara membuka diri.

Kamu bisa memulai dengan membuka salah satu aspek dalam diri. Contohnya tentang kejadian di masa lalu yang tidak dapat didiskusikan dengan orang lain. Atau mengungkapkan perasaanmu saat ini.

Dengan demikian, kamu bisa mencontohkan pasangan untuk mau bersikap rentan. Pasalnya, sulit untuk mempertahankan hubungan yang sehat dan bahagia, apabila tidak membicarakan hal-hal mendalam. Dan pada akhirnya, komunikasi adalah kunci dalam relasi, supaya hubungan yang berkomitmen bergerak searah.


Avatar
About Author

Aurelia Gracia

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *