January 27, 2023
Magde PCR

Aku Rapuh maka Aku Ada: Satu Lagi yang Penting dari Relasi

Bersikap rapuh (emotional vulnerability) sering diasosiasikan dengan karakter lemah. Padahal, ini dapat menguatkan relasi untuk hubungan jangka panjang.

Aurelia Gracia
  • March 4, 2022
  • 6 min read
  • 154 Views
Aku Rapuh maka Aku Ada: Satu Lagi yang Penting dari Relasi

Sewaktu kecil, umumnya kita bersikap terbuka dan mudah bercerita terhadap orang lain. Namun, beranjak dewasa, seseorang cenderung menutup diri. Mereka biasanya “membangun tembok” guna menghindari kejadian berulang. Hal ini sangat dimungkinkan lantaran bersikap rentan atau vulnerable, sering diartikan lemah atau rela terluka. Karena itulah sikap rapuh tak jarang dihindari dalam hubungan romantis, agar tidak berdampak secara emosional.

Situasi ini mengingatkan saya dengan Miles Archer, karakter utama laki-laki dalam Ugly Love (2014) karya Colleen Hoover. Di novel tersebut, Archer melarang Tate Collins—perempuan yang ia sukai tapi tak dianggap lebih dari friends with benefits—menanyakan masa lalu dan mengharapkan masa depan bersamanya.

Alasannya, Archer merasa takut mencintai seseorang, setelah kehilangan bayinya dalam sebuah kecelakaan. Pun tragedi tersebut menyebabkan mantan pacar—sekaligus ibu dari anak tersebut, pergi meninggalkannya. Ia sendiri khawatir relasi romantis akan membuatnya tersakiti, atau menyakiti, apabila membuka diri pada Collins.

Perempuan yang berprofesi sebagai perawat itu merasa tidak adil. Terlepas dari ketertarikannya dan keengganannya menutup diri, Archer juga mengenal dirinya cukup dalam karena berteman dengan sang kakak, dan pernah menghabiskan Thanksgiving bersama keluarga Collins.

Baca Juga: Apa ‘Emotional Blackmail’ dan bagaimana cara mengatasinya?

Sikap yang dilakukan Archer adalah contoh penghindaran emotional vulnerability. Itu adalah kemampuan dan kemauan mengakui, sekaligus mengekspresikan emosi yang dirasakan. Sayangnya, segelintir orang sulit melakukannya karena emosi itu mencakup yang menyakitkan, seperti merasa sedih, cemas, insecure, dan malu.

Dampaknya berpengaruh pada hubungan seperti Archer dan Collins yang tidak berdasar pada keterbukaan, membuat relasinya hanya sebatas surface level. Dan salah satu pihak merasa ada tembok yang membatasi mereka.

“Relasi yang sehat membutuhkan keinginan untuk belajar membuka diri dan sharing dari hati,” jelas terapis pasangan Angela Amias kepada Women’s Health. Karena pada dasarnya, keintiman dalam hubungan membutuhkan kesediaan untuk bersikap rentan secara emosional, walaupun artinya membuka kesempatan untuk tersakiti.

Ini juga berarti terbuka terhadap pembahasan yang rumit, dan mau mendengarkan pasangan meskipun yang diutarakan memengaruhi perasaan.

Mengutip VeryWell Mind, emotional vulnerability bersifat penting dalam hubungan dan bisa menjadi kekuatan. Karena dari sini pasangan dapat menyediakan ruang untuk berkomunikasi, saling percaya, memahami dan memaafkan, mengutamakan kejujuran, serta meningkatkan empati yang diperlukan dalam hubungan jangka panjang.

Sementara jika kerentanan itu dihindari, seseorang cenderung merasa relasi yang dimiliki tidak memuaskan. Alhasil, ia akan menjauhi dan menyalahkan pasangan karena respons yang diberikan tidak sesuai ekspektasi.

Emotional Vulnerability Berbeda dengan Emotional Dumping

Dalam emotional vulnerability, seseorang dapat mengungkap dirinya atau menumpahkan perasaan terhadap pasangan, dengan menceritakan apa pun untuk membangun ikatan. Tapi, sering kali dilakukan secara cepat tanpa mempertimbangkan kondisi mental pasangan, maupun diri sendiri.

Baca Juga: Ada Kerentanan dalam Nikah Muda, Perempuan dan Anak Korban Utama

Jika itu yang terjadi, sebenarnya yang dilakukan adalah emotional dumping, karena emotional vulnerability membutuhkan waktu lebih lama untuk saling memberi dan menerima.

Melansir Psychology Today, ada beberapa ciri-ciri emotional dumping yang sebaiknya dikenali. Pertama, topik yang dibicarakan terus berubah dalam suatu waktu. Misalnya yang dikeluhkan awalnya tentang permasalahan pertemanan, lalu berganti ke relasi keluarga, kemudian membahas kesehatan mentalnya.

Kedua, biasanya topik-topik pembicaraan itu disampaikan berulang karena permasalahannya tidak benar-benar diselesaikan, walaupun ia mendengarkan dan mempertimbangkan saran pasangannya.

Ketiga, pasangan akan merasa lelah dengan pembahasan tersebut karena terlalu banyak yang disampaikan di waktu bersamaan, dan cenderung berupa kejadian buruk atau dramatis.

Sementara dalam emotional vulnerability tidak memberatkan atau melelahkan pasangan, dan diskusi yang dibangun bersifat sehat karena fokus ke satu pembicaraan dan tidak dibicarakan berulang. Juga terjadi dua arah, bukan hanya membicarakan satu pihak.

Menitikberatkan permasalahan pada satu orang justru berpotensi mengakhiri hubungan. Pasangan akan merasa terbebani, dan berperan seolah terapis yang harus menanggung cerita tersebut.

Baca Juga: Kencani ‘Serial Dater’: Ingin Perhatian, Enggan Berkomitmen

Pun menjadi rentan secara emosional bukan hanya dilakukan dengan membahas masa lalu, melainkan menceritakan hal-hal yang disukai dan bagaimana itu mengingatkan dengan masa kecil, atau membahas momen berharga dalam hidup.

Bagaimana Memulai Bersikap Rentan dalam Hubungan?

Menjadi rentan secara emosional akan lebih sulit bagi sebagian orang dan dianggap menakutkan. Umumnya, ini bergantung pada latar belakang seseorang sebagai individu, budaya, maupun ciri-ciri kepribadian yang dimiliki.

Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memvalidasi perasaan sendiri. Karena kerap kali, kita cenderung menghindar atau memilih memendam emosi dibandingkan mengakui dan merasakannya, terlebih jika menyebabkan diri kurang nyaman.

Kamu dapat memulainya dengan menuangkan pikiran dan perasaan lewat journaling, atau berkunjung ke psikolog sebagai langkah awal memahami dirimu dan pasangan.

Di saat bersamaan, kamu bisa memperhatikan orang-orang di sekitar yang tidak ragu menunjukkan kerentanan emosionalnya. Misalnya teman yang memiliki gangguan mental dan membagikan pengalamannya di media sosial, atau yang secara terbuka menunjukkan perasaannya ke sekelilingnya. Hal ini dapat membantu menciptakan keamanan dan kenyamanan untuk membuka diri.  

Setelah sadar, nyaman, dan mampu menerima perasaan sendiri, ajak pasangan untuk saling menanyakan kabar setelah beraktivitas. Menurut profesional konselor asal AS Monica Denais, ini merupakan langkah awal sebelum membagikan hal-hal besar yang cenderung dihindari.

Kepada Women’s Health ia menambahkan, cara tersebut sekaligus membangun batasan tentang seberapa banyak yang ingin dibagikan ke depannya. Artinya, kamu juga mau melibatkan pasangan dalam hidup.

Kemudian, validasi perasaan satu sama lain. Ketika membicarakan kerentanan, terkadang justru timbul konflik karena terlalu cepat membuat kesimpulan dengan memberikan saran atau bersikap defensif. Padahal yang dibutuhkan adalah didengarkan.

Dilansir HuffPost, Jonathan Robert, ahli hubungan asal Oregon, AS mengatakan, “Sering kali respons itu melupakan ketakutan atau perasaan pasangan yang terluka,” ujarnya. Maka itu, ia menyarankan validasi adalah hal utama yang perlu dilakukan sebelum mencari solusinya, sekalipun memiliki perbedaan pendapat.

Setelah itu, ungkapkan perasaan dan pikiran, karena pasangan bukan cenayang. Dengan mengomunikasikannya, kamu membantunya memahami keinginanmu dan kamu mendapatkan tanggapan atau perilaku yang sepadan.

Misalnya, dalam sehari penuh ia tidak memberikan kabar sehingga membuatmu khawatir, dan baru memberikan kabar di hari berikutnya. Alih-alih memberikan silent treatment sebagai cara meluapkan emosi, lebih baik jelaskan perasaanmu.

“Aku khawatir kamu nggak ada kabar, dan aku nggak mau itu kejadian lagi.”

Karena ada kemungkinan, ada suatu hal terjadi yang membuat pasanganmu belum siap menceritakan. Atau aktivitasnya terlalu padat sehingga tidak bisa memberikan kabar.

Terakhir, be present. Tinggalkan gawai atau barang-barang lainnya yang menjadi distraksi ketika berbicara dengan pasangan. Lalu berikan perhatian penuh terhadapnya, dan berusaha menjadi pendengar aktif.

“Cari tahu bagaimana perasaan pasangan dan penyebabnya, begitu juga dengan perasaanmu sendiri,” kata Amias.


Editor:  Aurelia Gracia
Aurelia Gracia
About Author

Aurelia Gracia

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *