Women Lead
November 08, 2021

9 Hal yang Pengaruhi Perempuan untuk Deteksi Awal Kanker Payudara

Keterlambatan pemeriksaan dan diagnosis memperkecil kemungkinan perempuan pengidap kanker payudara untuk selamat.

by Triana Kesuma Dewi
Lifestyle // Health and Beauty
Share:

Kanker payudara menjadi jenis kanker yang paling banyak diidap masyarakat di Indonesia. Hal ini menyumbang sekitar 11 persen kematian penduduk akibat kanker.

Seperti kebanyakan di negara berkembang lainnya, hasil perawatan medis pada pasien kanker payudara kurang menggembirakan. Banyak kasus berakhir dengan kematian karena diagnosis dan pengobatannya terlambat.

Sebuah riset di rumah sakit kanker di Jakarta dengan data kasus kanker pada 1998-2002 menyimpulkan, sebagian besar (60-70 persen) penderita kanker payudara mendatangi layanan kesehatan ketika telah berada pada stadium lanjut dan terindikasi sel kanker telah menyebar pada organ tubuh lain.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi keputusan perempuan datang lebih cepat atau lambat ke layanan kesehatan. Riset kualitatif kami dengan sampel 23 penyintas kanker payudara di Surabaya menunjukkan ada sembilan faktor yang mempengaruhi keputusan mereka untuk mendatangi atau tidak mendatangi layanan kesehatan lebih awal. Salah satunya, tingginya pendidikan perempuan tidak menjamin bahwa mereka memiliki pengetahuan yang memadai terkait kanker payudara.

Tiga Bulan yang Menentukan

Riset kami mengeksplorasi variabel apa saja yang mempengaruhi keputusan responden untuk mendatangi layanan kesehatan lebih awal untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan medis. Interval tiga bulan antara waktu pertama kali muncul gejala kanker payudara dan waktu konsultasi medis pertama kali disebut presentasi awal, dan merupakan masa krusial.

Penelitian sebelumnya mengindikasikan bahwa konsultasi medis lebih dari tiga bulan setelah pertama kali gejala kanker payudara muncul berhubungan dengan rendahnya usia harapan hidup. Beberapa studi sebelumnya mencatat bahwa variabel demografis, psikososial, dan budaya terkait dengan presentasi awal kanker payudara.

Riset kami merujuk Theory of Planned Behavior (TPB) untuk memahami pengaruh variabel psikososial terhadap perilaku presentasi awal. Presentasi awal meliputi deteksi dini melalui Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) dan melakukan pemeriksaan medis ketika mengalami gejala kanker payudara.

Menurut konsep TPB, faktor yang berpengaruh secara langsung terhadap suatu perilaku sehat adalah niat untuk melakukan perilaku sehat tersebut. Niat dibentuk oleh sikap terhadap perilaku (positif atau negatif), norma subjektif (persepsi orang-orang terdekat), serta persepsi kontrol perilaku yang dimiliki (mudah atau sulit).

Mayoritas responden dalam riset ini adalah perempuan yang telah menikah (82,6 persen), lulusan perguruan tinggi (69,56 persen), bekerja sebagai pegawai swasta (56,52 persen) dan memiliki status sosial ekonomi yang cukup tinggi dengan pendapatan per bulan di atas Rp 10 juta (56,52 persen).

Kebanyakan partisipan didiagnosis dengan kanker payudara stadium I dan II (69,56 persen), tidak memiliki riwayat keluarga dengan kanker (78,26 persen), dan memiliki asuransi kesehatan (52,17 persen).

Sebagian besar responden menunjukkan adanya gejala sebelum mendapatkan diagnosis dengan kanker payudara. Hanya dua responden yang tidak menunjukkan gejala tapi melakukan mamografi dan didiagnosis mengidap kanker payudara berdasarkan hasil mamografi tersebut.

Sembilan faktor yang mempengaruhi perilaku perilaku deteksi dini kanker payudara dapat dipilah jadi dua kelompok besar: Faktor internal dan eksternal.

Faktor Internal

  1. Pengetahuan terkait kanker payudara

Beberapa responden menunjukkan pemahaman yang terbatas terkait kanker payudara: gejala, keparahan, stadium, faktor risiko, perawatan medis dan alur perawatan kanker payudara.

Rendahnya pengetahuan ini berdampak pada kurangnya kesadaran bahwa mereka rentan menderita kanker payudara, serta seberapa parah penyakit ini dapat terjadi. Hal ini pada akhirnya berdampak negatif terhadap presentasi awal kanker payudara.

Memperhatikan bahwa sebagian besar responden memiliki latar belakang pendidikan yang cukup tinggi tapi kurang memiliki pengetahuan yang memadai tentang kanker payudara, maka muncul dugaan pada populasi dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah kemungkinan pengetahuan terhadap kanker payudara akan semakin rendah pula.

  1. Persepsi kontrol perilaku

Responden mengindikasikan bahwa sebelum didiagnosis dengan kanker payudara, mereka yakin mampu melakukan SADARI dan pergi ke dokter ketika menemukan sesuatu yang tidak normal pada payudara mereka. Hal tersebut merupakan faktor yang dapat mendorong munculnya presentasi awal.

Walau demikian, beberapa responden mengindikasikan bahwa mereka tidak tahu harus pergi ke mana. Apakah pergi ke puskesmas, dokter umum, atau dokter spesialis tertentu. Atau apa yang harus mereka lakukan ketika menemukan gejala kanker payudara.

Baca juga: Catur Rini: Penyintas Kanker Payudara yang Jadi Pahlawan Hidroponik

  1. Riwayat kesehatan sebelumnya dan persepsi risiko

Perempuan yang memiliki riwayat sakit, baik terkait dengan payudara maupun tidak, memiliki kesadaran yang lebih tinggi atas abnormalitas yang terjadi pada payudara mereka.

Pada responden yang memiliki persepsi bahwa ia memiliki risiko yang lebih besar untuk menderita kanker payudara, maka kecenderungan untuk melakukan pemeriksaan medis lebih awal pun meningkat.

Hanya tiga responden yang melaporkan bahwa sebelum didiagnosis dengan kanker payudara, mereka merasa tidak berisiko karena tidak memiliki faktor genetika.

  1. Sikap dan kepercayaan

Sebagian besar responden memperlihatkan sikap yang positif terhadap konsultasi medis dan SADARI, yang mendorong mereka untuk menunjukkan presentasi kanker payudara secara awal.

Beberapa kepercayaan negatif tentang kanker payudara juga diungkapkan oleh responden. Misalnya, kanker payudara sangat menakutkan dan mematikan, tabu untuk dibicarakan, seseorang sebaiknya tidak berpikir mengenai suatu penyakit tertentu supaya tidak terjangkit penyakit tersebut. Ada juga kepercayaan lainnya seperti kanker payudara adalah kutukan atau hukuman, dan secara umum masyarakat berpikir bahwa risiko mereka untuk menderita kanker payudara cukup rendah.

Kombinasi sikap terhadap kanker payudara yang negatif, kepercayaan tradisional yang tidak relevan, dan rendahnya pengetahuan terkait gejala dan faktor risiko kanker payudara bisa jadi membuat sebagian perempuan berpikir kanker payudara merupakan penyakit yang serius, namun sulit disembuhkan, yang menambahkan risiko untuk tidak melakukan presentasi dini.

Faktor Eksternal

  1. Norma subjektif

Mayoritas responden mengindikasikan bahwa individu yang mereka anggap dekat dan penting (misal: suami, orang tua, teman dekat, anak) mendorong mereka untuk mengikuti pemeriksaan medis ketika ia menemukan gejala kanker. Hal ini juga berpengaruh terhadap perilaku deteksi dini kanker payudara.

Jika responden mempersepsikan bahwa lingkungan sosial mereka melakukan praktik deteksi dini kanker payudara (misal SADARI), maka mereka cenderung akan melakukan hal tersebut. Berlaku pula sebaliknya.

  1. Memiliki prioritas lain

Responden mengisyaratkan bahwa presentasi dini sangat terkait dengan kegiatan rutin sehari-hari mereka. Ketika mereka memiliki prioritas lain, seperti pengasuhan anak, pekerjaan atau kesibukan keluarga, maka hal tersebut berpeluang untuk menunda perilaku SADARI atau pergi ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan medis.

  1. Dukungan instrumental

Responden penelitian menyebutkan bahwa ketika mereka mendapatkan bantuan dari orang lain, misalnya membuatkan janji atau menemani pergi ke dokter, maka presentasi awal memiliki peluang besar untuk terjadi.

Tempat kerja juga dapat memfasilitasi tersedianya dukungan instrumental. Misalnya, salah seorang responden menjelaskan bahwa ia melakukan pemeriksaan payudara karena tempat ia bekerja menyediakan fasilitas pemeriksaan payudara oleh tenaga medis di kantor.

Baca juga: Pandemi Hambat Program Penapisan Kanker Serviks di Indonesia

  1. Faktor penyedia layanan kesehatan

Menurut beberapa responden, ketika mereka merasa bahwa layanan kesehatan dapat dengan mudah dijangkau, misalnya jarak dekat atau transportasi mudah diakses, atau kemudahan dalam membuat jadwal kunjungan, maka kecenderungan periksa lebih awal akan meningkat.

Selain itu, responden melaporkan bahwa keputusan untuk memeriksakan diri ketika merasakan gejala yang muncul juga dipengaruhi oleh status penyedia layanan kesehatan, yang membuat mereka merasa nyaman dan aman. Misalnya, sudah kenal dengan dokter yang memeriksa, dokternya perempuan, atau dokter yang sudah terkenal memiliki reputasi dan kompetensi yang baik.

  1. Isu finansial

Mayoritas responden dalam penelitian ini memiliki status sosial ekonomi yang cukup baik, akibatnya isu finansial tidak menjadi hambatan pada upaya presentasi awal.

Dengan melihat latar belakang status sosial ekonomi responden, temuan ini tidak dapat digeneralisasikan pada populasi yang lebih luas. Misalnya, pada populasi dengan status sosial ekonomi menengah ke bawah.

Lain hal, temuan ini mengindikasikan bahwa presentasi awal dan pengobatan medis kanker payudara kebanyakan hanya mampu diakses atau dijangkau oleh pasien dengan status sosial ekonomi yang tinggi.

Rekomendasi

Kami merekomendasikan agar kegiatan promosi kesehatan kanker payudara sebaiknya tidak hanya menyampaikan informasi terkait kanker payudara dan gejalanya. Perlu juga upaya untuk meningkatkan persepsi risiko terhadap kanker payudara, dan meningkatkan keterampilan untuk mengenali anatomi payudara normal dan tidak normal.

Edukasi tidak hanya diberikan pada perempuan tapi juga melibatkan lingkungan sosial seperti suami dan atau keluarga menjadi penting untuk dilibatkan.

Hasil penelitian juga mengindikasikan pentingnya layanan kesehatan yang mudah diakses dengan biaya terjangkau, khususnya bagi masyarakat pada kelompok sosial ekonomi menengah ke bawah atau hidup jauh dari pusat kota, untuk meningkatkan presentasi dini.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Triana Kesuma Dewi adalah pengajar dan peneliti di Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga.