April 07, 2020
Catur Rini: Penyintas Kanker Payudara yang Jadi Pahlawan Hidroponik

Penyakit kanker payudara tidak membuat Catur Rini menyerah, ia juga merintis kelompok tani perkotaan dengan lebih dari 2.000 anggota.

by Siti Parhani, Reporter
Wo/Men We Love
Share:

Saat menerima diagnosis kanker payudara pada 2013, Catur Rini Cahyadiningsih merasa dunianya berakhir saat itu. Tapi ia tak lama terpuruk.

Di tengah proses terapi dan pengobatannya, Catur, yang dulu bekerja di perusahaan furnitur dapur itu, ia tidak ingin beristirahat total meskipun tidak lagi bisa sibuk dengan segudang pekerjaan. Ia kemudian mencari kegiatan yang lebih bermanfaat bagi dirinya dan keluarga.

Catur, yang saat itu dituntut untuk menjalani hidup sehat, melihat kebanyakan sayuran di Indonesia masih menggunakan bahan kimia seperti pestisida dalam proses penanamannya. Untuk meminimalisasi masuknya bahan kimia berbahaya ke dalam tubuhnya, Catur kemudian berpikir untuk menanam sendiri makanan yang ia dan keluarganya konsumsi.

“Dengan menanam sayuran sendiri, saya bisa memastikan kandungan nutrisi yang ada dalam makanan saya dan keluarga aman,” ujar perempuan kelahiran Salatiga, 53 tahun lalu itu, kepada Magdalene (4/3).

Sebagai warga perkotaan, ia menghadapi kendala utama soal lahan, yang kemudian membuatnya memutuskan untuk bercocok tanam dengan teknik hidroponik. Tak disangka, konsistensinya mewujudkan pangan keluarga yang lebih sehat, ternyata membuat banyak orang tertarik. Berbekal ilmu yang sempat ia dapatkan saat masih berkuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), serta pembelajaran di internet, Catur tidak hanya berhasil memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tapi juga berhasil membuat komunitas hidroponik Bekasi bernama Omah Tani. Anggota komunitas ini sekarang sudah mencapai 2.100 orang.

Dedikasinya mengenalkan hidroponik lewat komunitas Omah Tani kemudian mengantarnya meraih penghargaan Female Food Hero dari organisasi internasional yang berfokus pada pemberdayaan pangan perempuan, Oxfam Indonesia.

“Saya adalah pejuang pangan yang diakui oleh Oxfam tahun 2016. Mengawali semua ini sebagai pejuang pangan perempuan dari rumah,” ujar Catur.

Baca juga: 5 Cara Bantu Selesaikan Masalah Krisis Iklim dari Rumah

Orang kota ingin instan

Bagi mereka yang tinggal di daerah urban perkotaan namun berharap bisa bercocok tanam, hidroponik memang menjadi salah satu pilihan tepat. Hidroponik sendiri merupakan suatu metode budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah, tetapi memanfaatkan unsur-unsur nutrisi yang diperlukan oleh tanaman.

Dalam memulai kampanyenya tentang pemenuhan kebutuhan pangan keluarga lewat hidroponik, Catur mengatakan, salah satu tantangan terbesar lain adalah pemikiran orang-orang di perkotaan yang terbiasa mendapatkan sesuatu dengan mudah dan instan. Hal itu membuat kesadaran akan produksi pangan yang lebih ramah lingkungan masih sangat kurang, ujarnya.

“Pikirannya ingin selalu yang instan, ngapain saya capek-capek nanem kangkung, misalnya, tinggal beli lebih murah,” kata Catur, yang sekarang telah sembuh dari penyakit kankernya.

Baca juga: Dokumenter ‘Semesta’ Soroti Para Perempuan Penjaga Alam

“Memang tidak mudah untuk membuat orang-orang lebih sadar isu lingkungan. Malah ada yang mau membeli saja dari saya sayurnya, kalau nanem lama katanya,” ia menambahkan, sambil tertawa.

Catur memakai media sosial untuk mendorong kampanye bertanam hidroponik ini, mengunggah foto ragam tanaman yang ia panen ke akun Facebook dan Instagram. Dari sana, banyak orang yang kemudian antusias untuk bercocok tanam dan meminta Catur untuk mengajari mereka teknik hidroponik.  

Antusiasme publik ini kemudian mendorong Catur untuk membuka kelas untuk umum. Memanfaatkan rukonya yang sudah tidak terpakai, Catur membuka kelas pertama pada 2013 dengan peserta 22 orang.

“Melihat antusiasme orang untuk belajar dan mulai berbagi ke orang lain itu merupakan sesuatu yang tidak diduga. Saya tidak punya rencana ke arah sana, hanya menanam untuk kebutuhan pangan keluarga,” ujarnya.

Bagi Catur, tujuan utamanya mendirikan komunitas Omah Tani menyasar pada kedaulatan pangan keluarga. Ia ingin setiap keluarga mampu memproduksi makanan sehatnya sendiri tanpa harus punya lahan yang luas.

Jangan hanya aspek bisnis

Hingga saat ini terhitung sudah sekitar 50 kelas yang Catur adakan. Pesertanya beragam, mulai dari anak sekolah, anak muda yang peduli lingkungan, dan istri-istri anggota parlemen, sampai komunitas perempuan dan komunitas keagamaan.

“Isu ketahanan pangan itu kan dimulai dari apa yang kita konsumsi, lebih baik kalau kita bisa menanam kebutuhan pangan kita sendiri, dan itu tidak terbatas oleh umur maupun kalangan,” ujar ibu dua anak itu.

Tapi ia tidak nyaman saat banyak orang yang langsung bertanya soal keuntungan dari bisnis hidroponik. Pikiran yang hanya terfokus pada aspek bisnis ini membuat Catur sedikit kesal.

“Ya yang penting orang mau bertanam hidroponik. Kalau saya memang sasarannya pada keluarga sebetulnya, bukan pada bisnisnya. Tapi kalau mau berdiskusi dengan saya terkait aspek bisnisnya, saya bilang, ya boleh,” ujar Catur.

Baca juga: Peran Perempuan Vital dalam Restorasi Lahan Gambut

Bagi Catur, tujuan utamanya mendirikan komunitas Omah Tani menyasar pada kedaulatan pangan keluarga. Ia ingin setiap keluarga mampu memproduksi makanan sehatnya sendiri tanpa harus punya lahan yang luas.

Langkah selanjutnya bagi Catur adalah pengolahan limbah dan sampah rumah tangga menjadi pupuk organik. Ia berharap pengolahan sampah di rumah bisa mengurangi volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Kita bisa buat dari kaleng cat 20 kilogram untuk mengurangi sampah. Belum lagi kalau sampah yang plastik bisa kita pilah, itu pasti akan mengurangi sampah di TPA,” ujarnya.

Permasalahan kedaulatan pangan acapkali diasosiasikan dengan hal-hal rumit dan problematik, padahal kenyataannya permasalahan itu bisa dimulai dari level keluarga terlebih dahulu dengan jalan memproduksi sendiri kebutuhan pangan keluarga.

“Buktinya saya mulai dari rumah bisa bikin perubahan bagi orang lain,” kata Catur.

Siti Parhani merupakan reporter Magdalene. Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.