January 13, 2020
Janda di Bawah Bayang-bayang Ibu

Janda dianggap sebagai antitesis dari ibu yang ideal.

by Monika Winarnita, Nicholas Herriman, dan Petra Mahy
Issues // Politics and Society
Share:

Janda” adalah istilah yang mencakup perempuan yang ditinggal mati oleh pasangannya atau yang bercerai. Karena tidak lagi berada dalam pernikahan heteroseksual dan tidak memiliki pasangan laki-laki, janda telah kehilangan status ibu yang dihormati dan dianggap terbuka untuk berhubungan intim dengan lelaki lain. Dengan kata lain, janda adalah antitesis dari ibu yang ideal.

Studi oleh kami dan peneliti lain mengenai stigmatisasi janda menemukan bahwa stereotip janda ada di jantung kehidupan perempuan di Indonesia. Sering kali stereotip tersebut menyebabkan para janda menjalani kehidupan sulit dan terpinggirkan di komunitas mereka.

Stereotip mengenai ibu berkembang terutama selama periode Orde Baru Soeharto (1966-1998) dan sesudahnya. Negara telah menumbuhkan gagasan ideal feminitas berdasarkan citra ibu: perempuan yang patuh pada sifat biologis sebagai istri dan ibu yang penuh kasih.

Ideologi gender yang eksplisit ini menekankan pernikahan heteroseksual penuh kesetiaan. Bagi perempuan, menjadi seorang istri dan ibu adalah cara untuk berkontribusi kepada masyarakat. Bekerja dan menghasilkan uang dapat diperbolehkan asal tidak mengganggu tugas utama yang disematkan pada perempuan.

Ideologi negara ini pada dasarnya disampaikan selama Hari Ibu dan Hari Kartini. Dalam literatur feminis, baik dari dalam Indonesia maupun oleh pengamat asing, citra “ibu” yang dibangun oleh negara ini dikritik. Kritik utamanya adalah bahwa kelompok-kelompok perempuan yang direstui negara seperti Dharma Wanita (organisasi istri pegawai negeri sipil) memperkuat paradigma resmi mengenai peran utama perempuan di wilayah domestik di atas peran sebagai warga negara yang setara dan mampu berkontribusi dalam arena publik.

Sementara itu, wacana resmi tidak menyampaikan citra janda. Namun, penggambarannya lazim dalam budaya populer dan hal ini mempengaruhi kehidupan nyata para janda.

Janda, terutama apabila masih muda dan menarik, dianggap tidak bermoral dan penuh berahi. Laki-laki berfantasi mengenai janda, sementara perempuan yang sudah menikah takut bahwa janda akan menggoda suami mereka. Budaya populer dan gosip dari mulut ke mulut mereproduksi citra ini, yang mengarah ke pengucilan dan stigma di kehidupan nyata.

Baca juga: Surat dari Penjara: Pura-pura Bahagia Saat Terpaksa Jadi Janda

Stereotip dan diasingkan

Penelitian etnografi kami mengeksplorasi bagaimana stereotip janda mempengaruhi identitas sosial dan pilihan mata pencaharian para janda di tiga komunitas berbeda: sebuah desa di Jawa, kota pertambangan di Kalimantan yang didominasi migran antar pulau, dan di antara orang Indonesia yang tinggal di Australia.

Tempat-tempat ini memiliki kaitan, yaitu perjalanan kehidupan yang mungkin membawa seorang perempuan menikah dan bercerai di kampung halamannya di Jawa, lalu bermigrasi ke Kalimantan untuk mencari pekerjaan, dan akhirnya bertemu dan menikah dengan seorang pekerja tambang asing dan ikut dengan suami barunya ke negara asalnya.

Sebagai seorang peneliti laki-laki di desa Jawa, Nicholas Herriman mengamati laki-laki yang mendiskusikan hasrat mereka pada janda. Para lelaki memberitahu satu sama lain tentang janda lokal dan berpikir untuk merayu mereka. Laki-laki meyakini bahwa janda berpengalaman secara seksual, kesepian, dan terbuka untuk hubungan seks, baik “gratis” atau dibayar.

Terlepas apakah janda tersebut seorang pekerja seks atau bukan, dia akan dilihat dengan anggapan yang sama. Patut dicatat, ketertarikan pada seorang ibu tidak ada dalam gosip antar lelaki ini.

Selain menjadi objek dalam gosip berahi, janda sering dikucilkan dari kegiatan sosial yang dilakukan oleh ibu-ibu yang dihormati. Namun, mereka juga terkadang merasa lega karena terbebas dari permintaan uang untuk rokok dan judi dari suami mereka terdahulu.

Beberapa janda bermigrasi untuk keluar dari stigma janda dan atau untuk mencari pilihan penghidupan yang lebih baik. Petra Mahy mewawancarai beberapa janda migran tersebut di sebuah kota pertambangan di Kalimantan. Dia menemukan bahwa stereotip itu tetap lazim bahkan dalam populasi migran multietnis di sana.

Para janda migran menceritakan bagaimana mereka perlu melindungi diri dari pendekatan oleh laki-laki, termasuk dari pemerkosaan, sambil berjuang untuk mencari nafkah. Seorang janda, misalnya, mengatakan dia menemukan lebih banyak kebebasan pribadi dan finansial setelah kematian suaminya. Namun dia selalu membawa gunting kecil untuk berjaga-jaga kalau terjadi hal yang tidak diinginkan saat bersama laki-laki.

Seorang perempuan lain, seorang janda cerai yang menjadi pekerja seks di usia dua puluhan, menggambarkan sulitnya hidup sebagai janda ketika dia dulu di Jawa. Dia tidak memiliki tempat tinggal, orang-orang akan bergosip tentang dia, dan para perempuan takut kalau suami mereka berbicara kepadanya. Paling tidak di Kalimantan, katanya, dia bisa mendapatkan uang tanpa orang tahu dan mengirimkan uang tersebut untuk menafkahi anak-anaknya.

Baca juga: Bibit-bibit Kekerasan dalam Olok-olok Status Janda

Bahkan janda yang bermigrasi ke negara lain tidak dapat membebaskan diri mereka dari stereotip tersebut. Monika Winarnita melakukan penelitian di kalangan perempuan migran Indonesia di Australia. Para perempuan ini membentuk kelompok tari budaya Indonesia.

Beberapa penari, sebelumnya janda, telah menikah kembali dengan laki-laki Australia kulit putih, masuk ke kehidupan yang aman secara finansial dengan suami mereka di Australia.

Namun mantan janda ini tampaknya tidak mendapat hak atas status sosial tinggi seperti yang didapat istri pejabat konsuler dan ibu lainnya yang sangat dihormati. Tentu ini disebabkan sebagian karena kesombongan sosial. Tapi hal tersebut juga mencerminkan stereotip negatif tentang masa lalu mereka dan pandangan miring tentang bagaimana para mantan janda ini bertemu dengan suami kulit putih mereka.

Di ketiga lokasi, janda diasingkan dari berbagai kegiatan sosial utama, dan ini adalah salah satu alasan mengapa rumah tangga mereka termasuk di antara yang termiskin.

Sarana untuk perubahan

Secara keseluruhan, penelitian kami menunjukkan bahwa stereotip janda melekat ke kehidupan perempuan Indonesia yang menyandang status ini. Mereka sering dikejar oleh laki-laki dengan anggapan bahwa mereka terbuka untuk hubungan seksual. Beberapa janda berupaya menjaga reputasi mereka dengan menghadirkan citra yang baik, sambil berusaha memenuhi kebutuhan.

Meski harus diakui bahwa mengubah stereotip budaya yang mengakar itu sulit, bagi kami tampaknya hari-hari nasional seperti Hari Ibu memberikan kesempatan bagi para pemimpin Indonesia, organisasi masyarakat sipil, dan pembuat kebijakan untuk secara eksplisit mengakui kesulitan yang dihadapi oleh janda dan perempuan-perempuan lain yang hidup dalam kehidupan yang tidak menentu dan terpinggirkan di komunitas mereka.

Cara pandang alternatif dapat muncul seperti yang terjadi pada 2017 ketika siswa berdemonstrasi pada Hari Ibu menuntut pengakuan akan kesulitan yang dihadapi oleh para janda.

Kehidupan janda lebih dari sekadar stigma, rasa malu, dan kesempatan yang diidentifikasikan di sini, seperti halnya kehidupan menjadi perempuan Indonesia lebih daripada sekadar menjadi ibu. Jadi mungkin sekarang saatnya untuk merefleksikan dan merangkul berbagai jenis identitas perempuan.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Monika Winarnita adalah dosen di Indonesian Studies, School of Humanities and Social Sciences, Deakin University, Australia. Nicholas Herriman adalah dosen senior Antropologi di La Trobe University, Australia. Petra Mahy adalah dosen senior di Department of Business Law and Taxation, Monash University, Australia.