September 26, 2019
Infertilitas dan Omongan tentang Momongan

Banyak sekali orang yang menggurui pasangan soal infertilitas, padahal pengetahuan mereka soal itu rendah.

by Nathalia Isabella
Lifestyle // Health and Beauty
Abortion_Pregnancy
Share:

Infertilitas atau kemandulan adalah sebuah momok yang mengerikan bagi masyarakat Indonesia. Infertilitas menjadi topik yang mengundang banyak sekali tamu dari luar untuk ikut campur, entah keluarga terdekat atau bahkan pengguna media sosial dengan nama pengguna yang asing. Pertanyaan “sudah isi?” seakan-akan membombardir padahal pertanyaan “kapan nikah?” baru saja bisa dijawab. Jawaban “belum” akan membuat  seluruh pasangan dengan anak merasa diri superior sehingga pasangan yang belum dikarunia anak terus merasa terpojokkan.

Saya belum menikah apalagi memiliki rencana punya anak. Namun isu mengenai infertilitas sudah sangat mengusik saya. Hal ini mungkin didukung dengan keseharian saya yang sedang mengikuti mata kuliah elektif “Analisis Semen” yang berfokus kepada cara menganalisis semen untuk membantu identifikasi masalah infertilitas, khususnya pada laki-laki.

Terlepas dari keseruan melakukan kegiatan di laboratorium, mata kuliah ini mengajarkan banyak sekali perspektif baru tentang infertilitas. Meskipun saya banyak bergerak di bidang kesehatan, saya sadar bahwa infertilitas tidak bisa dilepaskan dari masalah sosial.

Persepsi dan pengetahuan masyarakat Indonesia tentang infertilitas tergolong rendah. Hal ini dapat menjadi salah satu buah dari kurangnya pendidikan seksualitas komprehensif di Indonesia. Terbukti dengan banyak sekali orang berusaha menggurui pasangan infertil hanya karena mereka fertil. Lupakan saja edukasi masalah gaya hidup, nutrisi, atau sekadar ajakan untuk periksa ke dokter.

Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2019 oleh Harzif AK, et. al. di Jakarta dan Sumba menunjukkan bahwa masyarakat pada kedua daerah tersebut tidak percaya pada saran bahwa merokok, pola hidup yang buruk, dan obesitas dapat mengakibatkan infertilitas. Hal yang tidak kalah mengejutkan adalah infertilitas dianggap sebagai sesuatu yang absolut. Banyak masyarakat Indonesia tidak mengetahui bahwa infertilitas merupakan sebuah penyakit yang dapat dicari tahu penyebabnya dan diberikan pengobatan.

Tidak heran, pertanyaan basa-basi tentang “sudah isi?” jarang sekali berakhir dengan saran dari kerabat untuk melakukan pemeriksaan ke dokter. Ujung-ujungnya, pasangan infertilitas disarankan untuk ke petinggi agama atau berdoa lebih khusyuk. Pasangan dengan anak lagi-lagi merasa diri lebih beriman.

Baca juga: 5 Alat Kontrasepsi untuk Perempuan dan Efek Sampingnya

Tidak ada yang salah dengan pernyataan untuk mencari Tuhan. Bagi orang yang memiliki kepercayaan, Tuhan memang Sang Penentu Kehidupan. Kepercayaan bahwa anak adalah karunia juga merupakan suatu hal yang diimani. Saya salah satu orang yang terus percaya kepada hal tersebut. Namun, sebagai manusia bukankah kita juga harus berusaha? Ora et labora; berdoa dan bekerja. Kecintaan Tuhan akan umat-Nya juga tidak bisa semata-mata hanya diukur dengan “diberikan anak atau tidak”.  Cinta Tuhan sepertinya tidak seremeh itu.

Pada mata kuliah yang sedang saya geluti ini, saya melihat banyak sekali cara untuk mengidentifikasi infertilitas; tidak terbatas pada analisis semen saja. Terdapat pemeriksaan yang memerlukan pengaturan cahaya di mikroskop sehingga hanya membutuhkan satu klik di komputer saja. Semakin canggih teknologi, semakin hebat pula perkembangan ilmu di dunia kedokteran. Bukankah ini bisa dianggap sebagai salah satu anugerah?

Hasil analisis semen bisa menunjukkan bahwa semen yang diejakulasikan belum tentu memiliki sperma yang cukup untuk melakukan pembuahan. Hmm, tunggu dulu, mungkin masalah perbedaan semen dan sperma juga banyak yang tidak paham? Masturbasi dilakukan dengan mudah tetapi perbedaan semen dan sperma saja tidak tahu. Hal ini salah satu contoh kecil dari dampak rendahnya pengetahuan tentang seksualitas.

Sayangnya, the less we know the more confident we are. Berdasarkan Dunning-Kruger Effect, seseorang bisa memiliki kecenderungan untuk merasa diri lebih hebat dari seharusnya dan mengabaikan kelemahan diri. Salah satu penyebab terbesar dari hal ini adalah ego. Di Indonesia, pengetahuan tentang infertilitas umumnya didapatkan dari mulut ke mulut sesama orang awam. Hanya cukup dengan sudah memiliki banyak anak, seseorang yang tidak memiliki latar belakang pengetahuan tentang infertilitas sama sekali merasa bahwa mereka cukup hebat untuk menggurui pasangan tanpa anak.

Baca juga: Istri-istri dalam Belenggu Kontrasepsi

Tidak harus selalu dibungkus dengan nyinyir, perkataan halus seperti, “Sudah, enggak usah dipikirin kalau belum punya anak! Kalau mau punya anak harus bahagia,” bisa berakibat negatif. Infertilitas bukan masalah psikologis meskipun stres dapat memengaruhi fertilitas seseorang. Tidak cukup dengan bahagia saja pasangan bisa memiliki anak. Pernyataan yang terkesan halus seperti itu dapat berujung kepada pemikiran bahwa “kita tidak membutuhkan pertolongan medis.”

Hal ini menjadi sesuatu hal yang menyedihkan karena perencanaan untuk menangani infertilitas dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mengetahui penyebab infertilitas itu. Memang ada hal di luar kontrol manusia tetapi ada pula hal yang bisa diusahakan oleh manusia.

Selain itu, penanganan infertilitas tidak hanya soal fisik saja. Penanganan infertilitas juga meletakkan perhatian kepada masalah psikologis. Jika “tidak usah dipikirin” berujung pada penundaan atau penolakan untuk memeriksakan diri ke dokter, maka pasangan tersebut bisa saja mengalami stres pada usia yang lebih lanjut karena berkurangnya tingkat keberhasilan program penanganan infertilitas akibat pengaruh usia.

Masalah “pasangan infertil tidak mencari pertolongan medis” akibat ke-soktahu-an masyarakat awam juga bisa mengarah kepada perceraian. Ketidaktahuan mengenai opsi program penanganan infertilitas dapat menjadikan perceraian menjadi satu-satunya solusi. Tidak sedikit pasangan yang bercerai karena keluarga yang percaya bahwa sumber kebahagiaan utama dari sebuah keluarga adalah anak.

Tidak hanya berbicara soal kebahagiaan keluarga inti, anak juga dijadikan sumber kebahagiaan untuk orang tua pasangan yang tidak sabar menggendong cucu. Hal ini mungkin benar. Namun, bukankah sumber kebahagiaan utama adalah ketika keluarga tersebut memilih untuk bahagia, terlepas dari apa pun yang mereka miliki dan tidak miliki?

Tolok ukur kebahagiaan dalam keluarga mulai mengalami pergeseran. Cinta dan kebahagiaan yang dibangun bertahun-tahun hancur lebur hanya karena perkataan orang. Pasangan saling menyalahkan satu sama lain sebagai penyebab infertilitas tanpa pernah melakukan pemeriksaan kesuburan.

Komunitas umumnya menyalahkan perempuan. Perempuan lagi-lagi menjadi korban hanya karena dianugerahkan kemampuan untuk mengandung di dalam rahim. Padahal, tidak sedikit saya temukan hasil analisis semen pasien dengan sperma yang tidak berkualitas. Apa mau dikata?

Ah, daripada pusing saling menyalahkan, kenapa tidak sama-sama evaluasi diri sebagai pasangan yang saling mengasihi? Komunitas juga tidak perlu banyak omong tentang momongan! Penyertaan Tuhan, pertolongan medis, dan dukungan dari orang terkasih adalah kunci.

Nathalia Isabella adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran yang merasa kata adalah suara yang lebih keras berbicara, asalkan di dalamnya ada makna. Nathalia saat ini sedang sibuk mencari arti dengan hati-hati di usia 20 tahun.