May 20, 2020
Jangan Sulit Minta Maaf, Efeknya Dahsyat!

Minta maaf itu sulit bagi sebagian orang, tapi bisa memperbaiki hubungan serta mengembalikan martabat dan kehormatan kedua belah pihak.

by Julia Suryakusuma
Lifestyle
Share:

Pada hari raya Idul Fitri, secara massal kita bermaaf-maafan. Kebiasaan ini acap kali sekadar basa-basi, ritual yang nyaris hampa, atau bahkan bisa dikatakan semacam “komodifikasi”. Padahal sebenarnya permintaan maaf yang tulus dari sanubari bisa memiliki makna yang transformatif, memulihkan harga diri, memulihkan, dan bahkan mengubah hidup.

Kalau kita dididik dengan baik, mestinya dari kecil kita diajarkan untuk minta maaf bila menyakiti orang lain. Tapi kalau  sudah dewasa, mengapa kok suka susah sekali bahkan ketika jelas-jelas bersalah?

Kalau kita tidak sengaja menginjak kaki seseorang yang kita tidak kenal, secara refleks kita akan mengatakan, “Maaf!”  Enggak masalah, kan? Tapi kalau dengan sahabat atau anggota keluarga, kok suka seret ya? Hal ini juga berlaku bagi instansi publik, misalnya rumah sakit yang malpraktik, perusahaan yang mengeluarkan produk yang ternyata cacat atau membahayakan, atau lembaga negara yang melanggar hak asasi manusia.

Yang akan saya bahas di sini yang pribadi saja, soal meminta maaf yang sifatnya lembaga, itu urusannya lain lagi meski terdapat faktor-faktor serupa.

Love means never having to say you’re sorry”. Itu menurut tokoh Jenny (Ali McGraw) di dalam film beken tahun 1970, Love Story, kepada suaminya Oliver (Ryan O’Neal) ketika ia sekarat karena leukemia. Wah, itu asumsi berbahaya! Mentang-mentang dicintai, tidak perlu minta maaf, karena merasa pasti akan dimaklumi dan dengan sendirinya dimaafkan. Celaka saja kalau kita menggunakan dalih itu, pasti akan banyak kehilangan teman dan hubungan dengan anggota keluarga juga bisa rusak, atau minimal runyam.

Baca juga: Mo(ns)ther

Namun hal itu sering terjadi. Ada kasus seorang laki-laki dewasa yang bertahun-tahun menggunakan ibunya sebagai pelampiasan untuk menyalurkan rasa frustrasi dan stresnya akibat berbagai tekanan di dalam hidupnya. Ia sering bersikap kasar terhadap ibunya, bahkan kadang merendahkannya atau sebaliknya mengabaikannya. Ia yakin ibunya mencintainya, pasti akan memaklumi, memaafkannya dan selalu menerimanya. Memang benar, karena cintanya kepada anaknya, dan untuk menghindari konflik, ibunya menelan saja perlakuan anaknya. Tapi tidak berarti bahwa si ibu hatinya tidak tersayat-sayat.

Mungkin dengan bertambahnya usia, si anak lama-lama sadar bahwa ia bersalah, tapi tidak memiliki nyali untuk minta maaf kepada ibunya, juga karena rasa gengsinya yang terlalu besar. Tanpa disadari, selain menabung dosa, si anak ini juga menabung energi negatif yang bisa menjadi racun dan penyakit yang dapat muncul seperti sakit jantung, stroke, atau kanker.  Ngeri, kan? Kalau saja ia berani meminta maaf kepada ibunya, hal itu akan memberikan katarsis dan kelegaan yang luar biasa, seperti pecahnya bisul besar yang penuh nanah. Memang sakit awalnya, belum lagi malunya, tapi hanya dengan cara itu kesembuhan dan pemulihan jati diri bisa diperoleh.

Butuh kerendahan hati

Ada juga yang minta maaf karena terpaksa, akibat tekanan sosial, misalnya. “Iya, deh, saya minta maaf kalau kamu tersinggung dan menuntut saya minta maaf.” Yaaah, di mana keikhlasannya? Minta maaf seperti itu tidak sah sama sekali!

Kalau lebih banyak orang bisa meminta maaf dengan tulus, dunia akan lebih damai, masyarakat lebih adil, hubungan antar pribadi maupun mungkin antar negara akan lebih baik.

Permintaan maaf yang tulus sifatnya harus jelas dan spesifik, juga dengan tawaran untuk memberikan kompensasi. Misalnya kalau kesalahannya merusak barang, ya barangnya diganti. Kalau kesalahannya memperkosa seseorang dan membuatnya hamil, atau menabrak mati seseorang karena mengemudikan mobil secara sembrono, wah, itu lebih sulit kompensasinya. Tapi yang jelas, penyesalan yang dalam, permintaan maaf secara tulus dan janji tidak akan melakukan kesalahan yang sama akan membantu. Meski demikian, bagi korban, mungkin tidak akan pernah sepenuhnya pulih dari trauma kejadian tersebut.

Bisa juga ada kasus seperti ini. Si A berbuat kesalahan terhadap B. Meski A sudah meminta maaf, B bereaksi dengan marah yang berlebihan, mungkin karena ada hal lain yang membuatnya stres. Pasti di antara kita pernah ada yang mengalami hal itu kan? Kalau memang pada dasarnya B emosional dan suka merasa benar sendiri, maka kecenderungan overacting itu semakin mungkin. Dalam situasi seperti ini, kesalahan beralih ke B, dan B lah yang harus minta maaf kepada A—kalau B mampu melakukan introspeksi dan menekan gengsinya tentunya.

“Enggak sengaja kok!” Kadang ada yang berdalih seperti itu untuk menghindari minta maaf dan tanggung jawab. Lah, sama orang yang kita tidak kenal saja, kita akan minta maaf kalau tidak sengaja menyenggolnya, masa sama orang yang dekat dengan kita tidak mau?

Minta maaf itu sulit karena  membutuhkan bukan hanya kerendahan hati, tapi juga keberanian dan rasa percaya diri. Ini berarti mampu melakukan introspeksi dan mengendalikan ego. Jadi memang tidak selalu mudah minta maaf itu, tapi kalau bisa, dengan tulus, worth it banget lho! Selain memperbaiki hubungan, bisa mengembalikan martabat dan kehormatan seseorang, baik bagi yang meminta maupun yang memberi maaf.

Baca juga: Warisan Ayah: Memutus Rantai KDRT

Sebenarnya kemampuan kita mengaku salah itu cermin karakter. Pribadi kuat dan memiliki rasa percaya diri yang sehat akan lebih mudah meminta maaf daripada seseorang yang insecure atau rendah diri. Sumber insecurity bisa muncul dari berbagai faktor: Kurang pede karena latar belakang keluarga atau sosial-ekonomi di masa lalu, atau akibat ketakutan, kecemasan atau kegelisahan yang dipicu  kondisi tertentu. Tapi  kita jangan terjebak di masa lalu, dong, bagaimana bisa berkembang kalau enggak bisa move on?

Permintaan maaf itu belum tentu permohonan pengampunan (forgiveness), melainkan kesempatan membuka dialog, dan memberi kesempatan kepada si peminta maaf untuk mengambil tanggung jawab. Kalau kesalahan itu dibuat di masa lalu, kadang orang bersikap, “Sudahlah, jangan membangunkan macan tidur”. Sakit hati di masa lalu itu tidak menguap begitu saja, bisa terus menjadi duri dalam daging. Memang awalnya rikuh minta maaf, namun ketulusan bisa mendatangkan kelegaan, hubungan yang lebih dekat, dan awal kesembuhan batin.

Semua orang pernah berbuat kesalahan, namun tidak semua orang meminta maaf. Memang seperti kata Elton John, “Sorry seems to be the hardest word”. Tapi kalau lebih banyak orang bisa meminta maaf dengan tulus, dunia akan lebih damai, masyarakat lebih adil, hubungan antar pribadi maupun mungkin antar negara juga akan lebih baik, dan kita semua akan lebih sehat, lahir dan batin.

Maka mulai saat ini, jangan ragu untuk minta maaf, Anda bisa takjub dengan “the magic of maaf”!

Julia Suryakusuma lahir di New Delhi, India, dan sempat tinggal di banyak negara di Eropa. Ia telah menulis tentang banyak isu, termasuk kesetaraan gender, keadilan sosial, kebangkitan Islam, dan control negara. Buku-bukunya termasuk “Sex, Power and Nation” (2004), “Agama, Seks, dan Kekuasaan” (2012), dan “Julia's Jihad” (2013), kumpulan kolom berbahasa Inggris yang diterbitkan antara 2006 dan 2013.