Women Lead
October 13, 2021

Jatuh Bangun Ibu Muda Rawat Anak Tanpa Bantuan Suami

Idealnya, merawat anak jadi tanggung jawab kedua orang tua. Namun, pengalaman Dinda menunjukkan, suaminya lebih sering tutup mata dan tidak sensitif.

by Aurelia Gracia, Reporter
Issues
Share:

Di sudut bar Bandung yang temaram, seorang perempuan sedang mengisap rokok sendirian. Gelas bir kedua di atas meja nyaris licin tandas. Namun, pandangannya tetap kosong, pikirannya kusut. Seraya menghela napas panjang, “Dinda”, 29, mengingat peristiwa 1,5 tahun lalu, ketika ia melihat dua garis biru di test pack dalam genggaman. Ia pun ke rumah sakit untuk memastikan, dan hasilnya benar, ia mengandung calon bayi dari pacarnya, “Adi”.

Tanpa keraguan, mereka memutuskan mempertahankan kandungan dan menikah. Perempuan yang bekerja sebagai pegawai swasta itu kemudian menyesuaikan rutinitas baru sebagai ibu muda, di usia yang baru menginjak 23 tahun.

Bangun tidur pukul empat pagi, memerah ASI, memandikan anak, menyusui, dan bersiap ke kantor jadi aktivitasnya selama 1,5 tahun pascamelahirkan. Perjuangan itu dilakukannya seorang diri, tanpa dukungan emosional dari orang-orang di sekitarnya, termasuk sang suami.

Saat melahirkan anak perempuan pada 2015 silam, tidak ada kebahagiaan terpancar dalam dirinya, seperti yang direpresentasikan adegan sinetron maupun film.

“Enggak ada perasaan haru atau menangis. Waktu itu aku malah berpikir, apa yang sudah terjadi?” ceritanya. Setelah momen tersebut, Dinda merasa kehidupannya akan semakin berat.

Tentu menjalani peran sebagai ibu muda sekaligus istri bukan perkara mudah baginya, terutama alasannya menikah lantaran hamil duluan. Namun, sebisa mungkin Dinda berusaha mengesampingkan perasaannya dan bertanggung jawab atas perbuatannya, dengan merawat bayi itu.

“Bagaimanapun situasinya, aku memilih untuk membesarkan anak ini, baik pasanganku saat itu mau bertanggung jawab atau enggak,” ujarnya dalam wawancara bersama Magdalene pada (29/8).

Harga yang harus dibayar atas keputusannya terbilang tak main-main. Ia mengalami berbagai perubahan kondisi fisik pascamelahirkan, seperti ASI yang tidak keluar, payudara mengeras, putingnya berdarah, tidak bisa buang air besar selama seminggu, sampai tidak bisa berjalan karena kakinya bengkak. Untungnya, ada mertua yang membantunya mengurus anak hingga saat ini.

Berbagai tantangan tersebut membuat Dinda kehilangan jati diri. Ia merasa hidupnya monoton karena apa pun yang dilakukan cuma untuk anaknya, sementara dirinya sendiri diabaikan.

“Rasanya hidup kok hanya untuk bertahan. Aku tanggung jawab loh atas kesalahanku, tapi kenapa malah enggak senang? Setiap hari hidupku begitu aja isinya,” tutur Dinda, mengingat mentalnya tidak stabil ketika baru berperan sebagai ibu.

Hiburannya terbatas, bahkan ia menganggap memompa ASI di kantor sebagai satu-satunya waktu untuk diri sendiri.

Di luar itu, sebagai salah satu bentuk pelariannya, Dinda memutuskan pergi ke Bandung, tempatnya tumbuh sebagai anak-anak dan remaja, untuk bertemu teman-teman. Saat itu, ia sesekali merokok dan minum bir sebagai pelepas penat.

Pada 2017 hingga 2020, ia memutuskan berhenti main media sosial, karena baginya, platform tersebut semakin memicu stres. Dari situ, ia memilih aktif ikut kelas daring untuk mempelajari berbagai hal baru. Lagi-lagi itu dilakukan sebagai pelarian.

Dangkalnya Relasi dengan Pasangan

Hubungan Dinda dan Adi berawal dari perselingkuhan, tepatnya Dinda yang menjalin long distance relationship dengan mantan pacarnya, dan bertemu Adi, teman satu divisi di perusahaan.

Mereka baru berpacaran 6 bulan, ketika Dinda telat datang bulan dan dinyatakan hamil 7 minggu.

“Waktu pacaran, hubungan kami kasual aja, kayak cinta monyet pada umumnya. Enggak serius atau kepikiran bakal menikah, pokoknya have fun, bahkan enggak pernah berantem,” terangnya. 

Selama pacaran, keduanya belum saling mengenal satu sama lain. Mereka tidak pernah menceritakan latar belakang masing-masing, maupun membicarakan ekspektasi dalam hidup. Dinda mengaku menyukai Adi karena laki-laki itu mau mengerjakan pekerjaan domestik.

Setelah melahirkan, Dinda baru menyadari adanya perbedaan prinsip dan nilai-nilai pribadi dengan Adi dan keduanya tidak mau mendengarkan satu sama lain. 

Adi mendambakan sosok istri salihah: berjilbab dan rajin salat lima waktu. Selain itu, hingga kini, ia melarang sang istri pergi bersama laki-laki lain, walaupun hanya seorang teman. Ini bertolak belakang dengan keinginan Dinda yang berharap memiliki relasi pernikahan setara.

“Dia ingin punya istri penurut, melayani, cantik di rumah, enggak menunjukkan kalau capek, pokoknya tipikal laki-laki patriarki lah,” katanya. Sementara Dinda adalah pribadi yang tidak memiliki kepercayaan, lantaran ayahnya adalah sosok muslim fanatik yang memprioritaskan komunitas agamanya dibandingkan keluarga.

Selain itu, ia mulai malas berkomunikasi dengan sang suami dan menilai kehadirannya tidak berguna, karena merasa mampu melakukan semuanya sendirian.

“Selama ini aku terbiasa hidup sendiri, toh aku juga bekerja, makanya merasa kok keberadaan suami ini enggak membantu. Kayaknya apa-apa aku yang mengerjakan,” ceritanya.  Keduanya memendam perasaan masing-masing, tanpa pernah mengutarakan.

Lama kelamaan, Dinda tidak tahan dengan situasi rumah tangganya, karena ia merasa tidak dapat menikmati hidup dan terlalu sering pura-pura bahagia, terutama di depan putrinya. Meskipun awalnya takut menerima stigma sebagai janda, kondisi itu membuat Dinda yakin untuk bercerai.

Namun, Adi enggan melakukannya. Dari situ mereka mulai memperbaiki komunikasi, diawali dengan merokok bareng. “Kami ngobrol jadi lebih santai, enggak ada intervensi, dan bisa menyampaikan apa pun. Kalau kata anak zaman sekarang, istilahnya deep talk,” ujarnya.

Meskipun perkenalan seharusnya terjadi di awal hubungan, obrolan tersebut membuat mereka mengenal satu sama lain, termasuk beberapa kesamaan berpikir dan hal-hal yang digemari.

“Ternyata kami sama-sama enggak suka menghamburkan uang, jalan-jalan berlebihan, dan pamer. Dia juga ingin menikmati hidup, enggak perlu terlalu ambisius, sama sepertiku. Soal selera makan, cara bercanda, dan gibahan kami nyambung, jadi cocok-cocok aja untuk teman hidup,” ucapnya.

Kini mereka menjadikan diskusi sebagai quality time, dan sudah tidak ada keinginan bercerai dalam diri Dinda.

“Kalau kami merasa punya permasalahan, langsung diungkapkan, enggak usah ditahan, supaya saling ngerti keinginan satu sama lain, tapi kalau solusinya belum ketemu, ya udah dibiarkan dulu. Kan enggak harus langsung ketemu penyelesaiannya,” jelas Dinda.

Alhasil, keterbukaan komunikasi itu membuat hubungan mereka sebagai suami istri jadi lebih sehat. Adi tidak memaksakan keinginan agar Dinda menjadi istri salihah, sedangkan Dinda merasa cukup dengan yang dimilikinya.

“Aku enggak menuntut dia selalu jatuh cinta denganku, soalnya aku bukan ekspektasi dia. Lagipula, masalah cinta enggak cinta, terlalu dangkal untuk dijadikan alasan bercerai. Bisa memantaskan satu sama lain untuk terus nyaman dalam hubungan ini, udah cukup menurutku,” ucapnya. 

Absennya Peran Suami dalam Merawat Anak

Meskipun Adi mengajak menikah saat mengetahui kehamilannya, bukan berarti keterlibatan peran sebagai suami dan ayah dapat dirasakan olehnya.

Dinda bercerita, seluruh aktivitas merawat anak dilakukan olehnya, tanpa bantuan Adi.

“Suamiku tuh benar-benar enggak membantu apa pun. Dari menyusui, memandikan, mencuci botol susu, sampai anakku menangis malam-malam juga aku yang menenangkan. Ya aku capek enggak dibantu,” katanya.

Absennya peran Adi dalam merawat anak bukan karena disengaja, melainkan kurangnya komunikasi mereka sebagai pasangan. Dinda menjelaskan, Adi bukan sosok yang sensitif, sehingga tidak menangkap apa yang disampaikannya lewat kode, tapi harus disampaikan langsung dengan jelas.

“Komunikasi kami selama empat tahun pertama pernikahan memang enggak lancar. Aku pun enggak bisa mengomunikasikan keinginan dengan baik, sedikit-sedikit emosi dan berharapnya dia mengerti,” terangnya.

“Sementara dia orangnya harus menerima instruksi jelas, misalnya ‘tolong ya anaknya dijaga sebentar, aku mau mandi.’ Nah, perlu spesifik banget kayak begitu.”

Dinda berujar, meskipun absen dalam merawat, Adi tetap meluangkan waktu untuk bermain dengan sang anak, sehingga hubungan keduanya baik-baik saja.

“Dia cuma enggak bantu aku aja,” jelasnya.

Jika diibaratkan gunung es, renggangnya relasi antara Dinda dan sang suami dalam mengurus anak hanyalah bagian puncak. Namun, dalam urusan mendidik anak, kini keduanya mudah mencapai kesepakatan.

“Untungnya sekarang satu visi misi dalam mendidik anak, dan dia sudah mau mengurus tanpa diminta. Paling yang masih diperdebatkan masalah memilih SD karena ada perbedaan pertimbangan. Cuma untuk kebaikan anak ya harus satu suara lah, yang penting memberikan terbaik aja dan mendukung keinginan anak,” ujar Dinda.

Menemukan Jati Dirinya Kembali

Selama kehilangan jati diri dalam 1,5 tahun pascamelahirkan, Dinda berusaha mengenal dirinya kembali. Ia mengobrol dengan seorang ibu di kantor dengan pengalaman serupa. Dari situ ia mengerti perasaannya valid dan wajar dialami.

Menurutnya, ia merasa tidak bahagia di rentang waktu tersebut, lantaran sang anak 100 persen bergantung padanya.

“Setelah dia bisa jalan dan makan sendiri, aku merasa lebih ringan. Sementara sebelumnya kan aku banyak berkorban, harus memikirkan makanan bergizi karena dia minum ASI, berhenti minum dan merokok, makanya jadi stres,” katanya.

Dinda pun mencoba berbagai cara untuk beradaptasi dengan perannya sebagai ibu, maupun memperbaiki hubungan dengan Adi. Ia memutuskan pergi ke psikolog pada akhir 2019. Namun, ia merasa tidak mendapatkan jawaban atas permasalahannya.

“Habis pergi ke psikolog, aku justru sering berhubungan dengan laki-laki lain, karena merasa enggak mendapatkan jawaban. Selingkuhanku itu tempat ceritaku, dia tahu semua masalahku. Hubungan kami enggak ketahuan, sih, tapi aku berpikir, mau sampai kapan?” ujarnya.

Dari situ, ia menyadari ada banyak hal mengganggu pikirannya. Salah satunya ialah asumsi buruk terhadap laki-laki, lantaran hubungannya dengan sang ayah yang tidak baik.

“Dulu aku berasumsi enggak ada laki-laki yang benar, karena melihat kelakuan bapakku. Aku tanyakan ke suami dan mantan-mantanku, soalnya berpikir mereka cuma ingin menyakiti. Ternyata itu salah, mereka enggak membenciku dan hubungan kami baik-baik saja,” tuturnya.

Terlepas dari penyesalannya untuk menikah dan kesulitan yang dihadapi, Dinda tidak menyesal telah mempertahankan kehamilan, mengingat kondisinya saat itu sudah cukup secara finansial.

“Secara sosial aku santai saja, enggak mempedulikan perkataan orang. Aku cuma kasihan kalau anakku enggak punya bapak. Intinya, enggak ada alasan untuk enggak mempertahankan,” katanya.

Kini, ia lebih bahagia melihat putrinya yang berusia 6 tahun. Menurut Dinda, ia tidak pernah menyulitkan orang tuanya, jarang tantrum, penurut, dan mau belajar.

“Anakku mengerti orang tuanya dan enggak merepotkan. Melihat dia seperti itu aja sudah bikin senang, dan sebagai ibu, aku enggak pernah menaruh ekspektasi apa pun,” tutupnya.

Proyek jurnalistik ini didukung oleh International Media Support.

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.