August 13, 2019
Sebuah Penghargaan kepada Kakak Perempuan Saya

Kakak saya bukan perempuan patuh, dia membuktikan bahwa konstruksi sosial yang menyudutkan tidak perlu dituruti.

by Ali Achmad Zainuri
Issues // Relationship
Share:

Saya dibesarkan dengan banyak kontribusi perempuan yang hebat di dalamnya. Ada Ibu yang mengurus anak-anak setiap pagi sebelum kemudian bekerja di luar rumah. Ketika kecil, karena kedua orang tua saya sama-sama bekerja, saya dititipkan ke ibu tetangga untuk diasuh. Di sana, saya mendapatkan banyak pelajaran mengenai kesederhanaan dan kesadaran untuk tetap bersyukur dalam kondisi apa pun.

Guru sekolah formal pertama saya juga seorang perempuan, yang dengan sabar menghadapi para siswa yang sedang mengalami masa transisi dari dunia kanak-kanak yang penuh dengan permainan sepanjang hari dan tindakan sesuka hati, menuju ke dunia sekolah yang teratur dan mengikat. Tetapi, sosok yang paling berpengaruh dalam hidup saya barangkali adalah kakak perempuan saya.

Waktu kecil, saya tidak terlalu dekat dengan kakak. Dia memutuskan untuk bersekolah di SMA yang jauh dari rumah kami, berjarak sekitar 30 kilometer, dan mengharuskan dia untuk indekos. Saat itu saya masih kelas 3 SD, terlalu kecil untuk diajak berbicara mengenai hal dan dunianya. Setelah kakak lulus SMA, dia pun melanjutkan kuliah di lokasi yang lebih jauh, membuat kami semakin berjarak.

Tapi saya sudah mengaguminya sedari kecil. Saya mengenalnya, selain dari sedikit momen sebentar bersamanya, melalui cerita orang tua kami dan pujian dari para tetangga. Mengenai kepintarannya, mengenai wajahnya yang mirip dengan wajah Ibu di masa muda, mengenai kesopanannya, dan mengenai pribadinya yang menyenangkan.

Sewajarnya saudara, tentu ada persaingan tak kasat mata mengenai segala hal. Saya, sebagai anak bungsu untuk beberapa waktu, merasa harus menyaingi kehebatan Kakak. Saya mendapatkan banyak hal material yang lebih baik dari dia, yang mendorong saya untuk menggapai sesuatu yang lebih kompleks. Karena pencapaiannya di sekolah, dia yang pertama mengajarkan mengenai ambisi, memberikan gambaran bahwa lingkungan yang bagus akan memberikan output yang baik pula.

Baca juga: Hari Ibu dan Kakak Perempuan sebagai Mentor

Melalui jalan hidupnya, saya mengambil pelajaran yang saya maknai sendiri tanpa harus saya sampaikan ke dia. Sebagai perempuan, dia adalah representasi ketakutan banyak orang dewasa. “Jangan terlalu pintar, nanti banyak lelaki yang minder dan tidak mau denganmu”. Alih-alih menurut, dia malah membuktikan bahwa konstruksi sosial yang menyudutkan itu adalah hal yang tidak perlu dituruti.

Lepas SMP, dia menantang dirinya untuk bersekolah di salah satu sekolah terbaik provinsi nun jauh di sana. Saya yang masih kecil hanya mengenal sekolahnya sebagai sekolah yang jauh. Semua orang tampaknya sepakat untuk khawatir, karena Kakak berperawakan kecil, dan sudah dilepas untuk hidup secara mandiri. Namun, dia membuktikan bahwa dia bisa baik-baik saja.

Usai SMA, dia memutuskan untuk berkuliah di Fakultas Teknik, yang waktu itu menurutku merupakan institusi khusus laki-laki. Hal ini karena di keluarga kami, yang perempuan kebanyakan mengambil studi di bidang kesehatan dan yang laki-laki belajar teknik. Saya berterima kasih pada Kakak karena menyadarkan bahwa batasan itu sebenarnya tidak ada dan kita bebas memilih apa pun yang kita inginkan.

Di kampusnya, dia terlibat di beberapa organisasi kampus dan kepanitiaan, serta menjadi asisten laboratorium di kampusnya. Yang paling saya soroti dari perjalanan kuliahnya adalah bagaimana dia berkesempatan mempresentasikan hasil penelitiannya di Thailand, suatu negeri yang dulu cuma saya kenal dengan gajah. Lebih mengagumkan, dia berhasil lulus kuliah dengan menyabet IPK tertinggi di angkatannya.

Hal lain yang sangat aku apresiasi darinya adalah bagaimana dia mengontrol emosinya. Seingat saya, terakhir saya mendengarnya menangis adalah pada tahun 2013, ketika nenek kami meninggal. Sepanjang perjalanan hidup saya, saya jarang menemukan dia menangis, baik di dalam argumen sengit dengan orang tua kami, pertengkaran dengan saudaranya, maupun dalam perkelahian bersama teman-temannya.

Saya pernah tanpa sengaja membaca pesan di ponselnya, yang berisikan percakapan antara dia dengan bawahannya yang dipecat karena masalah kinerja. Pegawai tersebut memberikan umpatan kepada kakakku, dan saya kaget karena Kakak hanya memberikan doa baik kepada bawahannya tersebut tanpa merespons umpatannya. Sesuatu yang tidak mungkin saya lakukan.

Baca juga: Kartini Sebagai Kakak Perempuan Panutan

Hal lain yang saya pelajari darinya adalah bagaimana dia bersikap dengan hidupnya. Kakak sekarang berusia 29 tahun. Sejak usianya menginjak 25, dia telah didesak Ibu untuk segera menikah. Beberapa tahun sesudahnya, Ibu mengirimkan pesan yang intinya beliau lelah ditanya terus kapan putrinya menikah. Alih-alih menurut, Kakak memutuskan untuk menjelajah Indonesia dalam cuti-cuti singkatnya. Dia juga sempat terbang ke Korea, sekadar menikmati hasil kerjanya dan menikmati hidupnya. Saya tidak tahu apa yang ada di benaknya, tapi dari caranya bersikap, saya mendapatkan gambaran mengenai bagaimana menikmati hidup: tetap mengejar apa yang dia inginkan sambil sesekali menikmati perjalanannya.

Pengalamannya-lah yang mendorong saya untuk berani lebih menantang diri sendiri. Saya mengikuti jejaknya untuk bersekolah jauh dari rumah, sebuah pengalaman yang amat saya syukuri. Saya mengikuti beragam kesempatan yang mampir, seperti menjajal kepanitiaan, mengikuti organisasi, hingga konferensi pemuda yang menambah wawasan pribadi saya.

Saya kemudian menyadari bahwa apa yang dia capai bukan hal yang mudah, melalui banyak perjuangan dan pengorbanan.

Terima kasih untuk Kakak dan sejumlah perempuan lain yang turut membesarkan saya. Berkat mereka, saya merasa perempuan itu keren. Perempuan memiliki kebebasan yang sama, pilihan yang sama dalam membawa hidupnya, dan memberikan pembuktian bahwa apa yang benar-benar mendefinisikanmu adalah bagaimana kamu membawa hidupmu, bukan jenis kelamin atau gendermu.

Terima kasih terkhusus untuk kakak perempuanku. Terima kasih sudah menjadi rival yang baik dalam banyak hal, terutama pendidikan. Terima kasih sudah memberikan standar yang tinggi bagi adik-adiknya, yang jelas tidak tercapai oleh saya. Terima kasih sudah menjadi contoh bagaimana seharusnya seseorang menjadi manusia. Terima kasih sudah menjadi seseorang yang suportif dalam setiap hal. Jangan pernah lelah menikmati hidup, Kak.

Ali Achmad Zainuri adalah gemar mengamati hal-hal yang terjadi dalam hidupnya dan mencoba memaknainya. Sedang menjalani tahun terakhir perkuliahan. Tengah berusaha untuk mewujudkan mimpi-mimpi masa kecilnya satu per satu.