June 11, 2020
Kalis Mardiasih Ajak Pandang Fenomena Hijrah Secara Utuh

Dalam memahami fenomena hijrah secara utuh, kita tidak bisa langsung memberi stigma kepada orang yang berhijrah.

by Siti Parhani, Reporter
Issues
Hijrah_Hijab_Islam_Millenial_SarahArifin
Share:

Gerakan hijrah yang secara masif dikampanyekan di berbagai kanal digital beberapa tahun terakhir sering disebut sebagai fenomena baru gerakan beragama. Menyampaikan syiar Islam dengan bahasa yang lebih populer, gerakan ini menyasar anak muda yang melek teknologi dan sedang mengalami krisis identitas untuk berhijrah dan memilih jalan hidup yang lebih Islami.

Namun alih-alih menjadi gerakan Islam moderat dan kontekstual, gerakan hijrah sekarang ini banyak menuai kritik karena dianggap kehilangan makna substansi asalnya. Hijrah hanya dipandang sebagai peralihan secara simbolik saja.

Aktivis perempuan dan penulis buku Muslimah yang Diperdebatkan, Kalis Mardiasih, melihat hijrah lebih dari sekadar fenomena. Baginya, hijrah tak seharusnya hanya diartikan sebagai ekspresi mengubah pakaian, gaya hidup, dan kepercayaan agama menjadi lebih kuat. Hijrah sepatutnya dipandang secara utuh sebagai gerakan perubahan sosial yang mampu menciptakan masyarakat yang lebih berkeadilan. Karenanya, sebelum seseorang memaknai hijrah, penting baginya untuk melihat secara historis bagaimana pergerakan Islam membawa perubahan sosial.

“Hijrah bagiku bukan sebuah ekspresi segolongan orang atau anak muda yang tiba-tiba mengubah penampilan atau mengekspresikan dorongan beragama yang kuat, termasuk melalui festival-festival solidaritas. Ketika melihat gerakan hijrah, akarnya itu ada secara politik dan sosial budaya,” ujar Kalis dalam webinar Magdalene Learning Club bertema “Menuju Hijrah yang Sesungguhnya” (21/5).

Akar hijrah secara historis

Pada masa Orde Baru, pergerakan Islam sempat mengalami pengekangan oleh Suharto. Baru pada tahun 1990-an ketika posisi Suharto mulai tejepit, kelompok Islam dilihatnya sebagai massa yang bisa menguatkan kembali posisinya. Suharto kemudian merangkul gerakan Islam. Berbagai peraturan dan kebijakan yang tadinya mengekang gerakan Islam seperti larangan berjilbab mulai dicabut. Ia pun mengganti blangkon yang sering digunakannya dengan peci hitam yang identik dengan simbol Islam. Di periode tersebut pula, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) terbentuk.

“Jilbab pada saat itu memang satu gerakan politik yang justru meng-empower perempuan, berbeda dengan maknanya hari ini,” kata Kalis.

Baca juga: Sakdiyah Ma'ruf dan Penyesalan Terlalu Cepat Hijrah

Dalam perkembangannya, gerakan Islam kemudian melahirkan dua kubu Islam ekstremis dan Islam liberal. Kemunculan Islam liberal ini menambah sudut pandang baru di mana mereka percaya bahwa Islam bisa dijadikan sebagai alat mobiliasasi perubahan sosial ke arah pemikiran modern. Pada tahun 2000 kemudian lahir Jaringan Islam Liberal (JIL) yang diprakarsai oleh Ulil Abshar Abdalla, Luthfi Assyaukanie, dan Nong Darol Mahmada.  JIL kerap mendatangkan kontroversi dan penolakan berat dari kelompok Islam ekstremis.

“Kalau kita simak beberapa kanal Islam di tahun tersebut, isinya banyak sekali penyesatan, pengafiran kepada tokoh-tokoh JIL. Jadi, fenomena menyalahkan kelompok tertentu sudah ada dari dulu,” jelas Kalis.

Kelompok Islam semakin mendapat kebebasan berekspresi di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika presiden Indonesia keenam tersebut membuat kebijakan luar negeri bernama One Thousand Friends, Zero Enemy. Pada periode pemerintahannya, organisasi masyarakat Islam seperti Hizbut Tahrir disahkan oleh Kemenkumham. Partai Islam masuk dalam kekuasaan.

“Di periode SBY, wajah Islam yang punya potensi menjadi alat mobilisasi massa untuk perubahan sosial ini mulai terlihat kuat,” tambah Kalis.

Narasi Islami dalam budaya populer

Setelah gerakan Islam berkembang pada masa kepemimpinan SBY, narasi keislaman mulai memasuki budaya populer dan gaya hidup. Tren busana muslim yang kian marak di pasaran menjadikan wacana keislaman juga berkelindan dengan kapitalisme.

Profesor Sosiologi Ariel Heryanto, dalam bukunya Identitas dan Kenikmatan, menyoroti bagaimana kapitalis merespons dan memanfaatkan pasar yang menyambut baik gaya hidup Islami yang sedang tumbuh masyarakat Indonesia.

“Jadi temuan Professor Ariel Heryanto ini menarik karena sebelumnya dunia kapitalisme selalu diperlawankan dengan Islam. Wacana yang berkembang di masyarakat tentang gerakan Islam itu selalu yang idealis dan normatif. Sekarang ini saat ada gerakan hijrah, kapitalisme menyediakan fasilitasnya dan kemudian umat Islam menemukan kenikmatan dalam menjalani ketaatan yang syarat akan dunia kapitalis industrial ini,” ujar Kalis.

Ariel Heryanto sendiri mendefinisikan fenomena Islamisasi sebagai proses rumit dengan arah beragam, melibatkan berbagai kelompok muslim yang berbeda dan belum tentu saling setuju dalam banyak hal, tanpa ada satu pihak pun yang mengendalikan secara penuh proses tersebut.

“Saya menemukan relevansi dari definisi Islamisasi ketika acara 212 pada tahun lalu. Mereka kelompoknya banyak, secara nilai dan ideologi berbeda dan belum tentu saling setuju dalam banyak hal, tapi tidak ada satu pihak pun yang mengendalikan secara penuh. Mereka bersepakat untuk bertemu dan berkumpul untuk gerakan politik,” ujar Kalis.

Tidak hanya industri pakaian yang menunjang gaya hidup Islami, periode ini juga ditandai dengan kemunculan industri film bertema Islami. Pada 2008, Ayat-ayat Cinta yang diadaptasi dari novel karya Habiburrahman el Shirazy mendulang sukses sebagai debut film bertema Islami di Indonesia.

Baca juga: Bagiku, Jilbab Bukan Pakaian Takwa

Film ini menghadirkan citra laki-laki saleh baru yang disematkan pada karakter sang tokoh utama Fahri, seorang religius yang hafal Al-Quran serta merupakan lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir. Sedangkan sosok istrinya, Aisyah digambarkan sebagai perempuan kaya dengan balutan busana tertututp plus cadar.

“Yang menarik di sini jadi timbul anggapan bahwa laki-laki saleh itu ya kuliahnya di Timur Tengah atau di Mesir. Ini berbeda dengan laki-laki saleh mazhab Gus Dur atau Syafi’i Maarif yang kebanyakan menempuh pendidikan ke negara Barat,” tambah Kalis.

Secara tidak langsung, kesuksesan film ini mendorong perubahan yang menjadikan orang seolah berlomba menjadi sesaleh Fahri, sementara para perempuan terdorong untuk memakai jilbab dan bercadar seperti karakter Aisyah yang diperankan oleh Rianti Cartwright pada saat itu.

Kesuksesan besar film Ayat-ayat Cinta juga membuat genre Islami makin digandrungi para pembuat film. Bebagai novel Habiburrahman el Shirazy lainnya banyak diadaptasi ke dalam film, salah satunya Ketika Cinta Bertasbih yang dibintangi Okky Setiana Dewi. Di sisi lain, muncul juga penulis bertema Islami seperti Hanum Rais dengan film 99 Cahaya di Langit Eropa dan Bulan Terbelah di Amerika.

Proporsi muslim di Indonesia. Sumber: Indonesia Moslem Report 2019, Alvara Strategic.

Kini, kampanye gaya hidup Islami masuk ke jangkauan yang lebih luas yaitu platform digital. Namun sayangnya, gerakan hijrah sekarang ini banyak diiringi dengan narasi keislaman yang hanya membahas fikih dan hukum-hukum, bukan lagi persoalan perubahan sosial. Hal tersebut terlihat dari banyaknya situs Islami yang hanya memandang hitam putih kebenaran dan halal-haram atau boleh tidaknya sesuatu.

“Sedang permasalahan-permasalahan sosial yang lebih relate di masa sekarang, misalnya keadilan secara universal, equality, persamaan hak dan macem-macem itu seolah luput dari bahasan mereka,” kata Kalis.

Tantangan terbesar justru muncul ketika gerakan hijrah ini sudah menciptakan eksklusivitas atau  sikap menganggap satu kelompok saja yang paling benar.

Gerakan hijrah sekarang ini juga ditandai dengan bangkitnya otoritas Islam baru. Tokoh Islam tidak  lagi didominasi oleh ulama-ulama di pesantren atau intelektual Islam, tetapi oleh ustaz baru yang lebih populer di media sosial serta televisi.

Ini menjadi ironi, contohnya ketika orang yang punya basis keilmuan seperti Profesor Quraish Shihab, satu-satunya orang Indonesia yang punya lisensi yang diakui oleh Al-Azhar untuk menulis tafsir Al-Quran, justru dituduh beraliran Syiah.

“Orang-orang bisa jadi lebih mendengarkan ustaz Felix Sauw ketimbang Profesor Quraish Shihab,” tambah Kalis.

Data popularitas tokoh agama Islam.
Sumber: Indonesia Moslem Report 2019, Alvara Strategic.

Melihat fenomena hijrah secara utuh

Dalam memahami fenomena hijrah secara utuh, kita tidak bisa langsung memberi stigma kepada orang yang berhijrah. Ada banyak kalangan yang tergabung dalam komunitas hijrah.

Pertama, ada kelompok elit tertentu yang memanfaatkan situasi pada gerakan ini. Mereka biasanya memainkan sentimen-sentimen keagamaan. Kedua, ada kalangan pesohor dengan jutaan pengikut. Ketiga, ada kelompok masyarakat awam dan keempat, kalangan anak muda. Tidak jarang kelompok masyarakat awam atau anak muda dicibir ketika berhijrah dan dorongan religius yang membuat mereka demikian dinilai tidak baik.

Baca juga: Gerakan Hijrah Semakin ‘Ngepop’

“Dorongan religius yang membawa kepada ekspresi kebaikan misalnya saling tolong menolong, menghormati perempuan itu kan baik. Kita enggak bisa menyamarakatan. Prosesnya enggak bisa kita salahkan juga,” ujar Kalis.

Tantangan terbesar justru muncul ketika gerakan hijrah ini sudah menciptakan eksklusivitas atau  sikap menganggap satu kelompok saja yang paling benar. Biasanya, sikap semacam ini diikuti dengan tindakan menarik diri dari kelompok lainnya.

“Kelompok beragama yang eksklusif belum tentu ekstrem, tapi punya potensi menjadi ekstrem. Bayangin kalau semuanya dieksklusifin, misal bikin perumahaan Islami, daycare-nya Islami, sekolahnya Islami. Akhirnya, dia enggak terbiasa pada keberagaman, padahal naturenya dunia ini beragam,” papar Kalis.

Data peringkat public pigure. Sumber: Indonesia Moslem Report 2019, Alvara Strategic.

Menurut Kalis, sekarang ini pekerjaan rumah yang harus dilakukan bersama adalah menciptakan civil Islam, yaitu Islam yang mampu berdialog secara mendalam dan terbuka dengan nilai-nilai modernitas, demokrasi, pluralisme, kesetaraan gender, dan hak asasi manusia.

“Secara ketokohan sudah ada contoh Gus Dur, Syafi’i Maarif. 98 persen orang Indonesia percaya pada agama, enggak cuma Islam aja. Kalau ada wacana-wacana tentang apa pun, misalnya politik, ekonomi, sosial, budaya tanpa melibatkan wacana-wacana keagamaan itu akan sulit. Seperti yang Glen Fredly pernah bilang, kalau mau bikin perubahan di Indonesia, bikin perubahan di Islam,” kata Kalis.

Siti Parhani merupakan reporter Magdalene. Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.