June 15, 2020
Kampanye #PositifkanIstri Bukti Kebodohan Tak Bertepi

Kampanye untuk memiliki anak lebih banyak di tengah pandemi adalah sikap tak bertanggung jawab.

by Siti Parhani, Reporter
Issues
Melahirkan_Hamil_SarahArifin
Share:

Tak lama setelah kebijakan social distancing mulai diberlakukan, muncul sebuah kampanye yang sempat viral di media sosial dengan tagar #PositifkanIstri. Dengan ilustrasi perempuan berhijab pink memakai masker, poster kampanye itu bertuliskan ”Corona mengakibatkan ratusan kematian, sehingga harus dibalas dengan ribuan kelahiran.” Si pembuat kampanye ini menyerukan agar para suami membuat istrinya positif hamil, untuk keseimbangan populasi manusia menyusul banyaknya korban yang meninggal karena wabah virus corona (COVID-19).

Warganet mendua terhadap kampanye tersebut, ada yang menyayangkan dan berasumsi gerakan tersebut berasal dari komunitas keagamaan yang memanfaatkan situasi sulit seperti sekarang ini. Namun banyak juga yang merespons dengan guyonan seksis mengarah pada ajakan berhubungan seksual dengan pasangannya.

Akun-akun yang sering membagi poster kampanye #PositifkanIstri memang kerap mendorong narasi keagamaan, misalnya akun Instagram @memeikhwanakhwat. Lebih jauh lagi, akun ini membagikan tujuh poin faedah memperbanyak anak dalam Islam yang akan membuatmu tercengang! Faedahnya adalah memperbanyak anak membuat nabi senang; memperbanyak pejuang Islam di masa depan; doa anak dapat meringankan siksa kubur orang tuanya; ikhtiar memperbanyak anak adalah ibadah yang bernilai pahala, nikmat serta dapat menghilangkan stres; menghindari diri dari zina; tiap anak yang lahir dijamin rezekinya oleh Allah; dan mengembalikan populasi ketika banyak kematian. 

Tak kurang selebgram Felix Siauw yang sering berkhotbah menyerukan hal serupa, menyatakan dalam akunnya @felix.siauw bahwa tugas melestarikan spesies manusia selama krisis adalah tugas istri:

“Buat pasangan baru, selamat menikmati hidup baru yang mungkin tak mudah mudah tapi terasa bahagia sebab cinta. Buat yang masih miskin dan menular, harap sabar saja, Allah yang jamin hidup kita bukan selain Dia. Sabaaarrr. Buat para istri, anda semua adalah KUNCI, menghadapi krisis ini, sebab lelaki itu lemah, maka tugas melestarikan spesies manusia diserahkan pada anda semua yang punya rahim, kalau lelaki yang punya, manusia udah punah dari dulu. Maka yang kuat ya para istri, sebab para suami tergantung istrinya.

Walau unggahan ini telah disukai ribuan orang, namun belakangan Felix menghapusnya.

Tak bertanggung jawab

Hasil analisis yang dimuat The Conversation berdasarkan data dari Pew Research Center pada 2018 menunjukkan, 83 persen populasi di Indonesia berpendapat bahwa agama memiliki peran yang lebih besar saat ini dibanding 20 tahun yang lalu. Karenanya, para penggiat narasi keagamaan berperan penting untuk membantu meningkatkan kesadaran publik mengenai isu pandemi ini. Pesan-pesan untuk diam di rumah, menghindari kerumunan, isolasi mandiri, dan menjaga sanitasi akan lebih mudah dipahami oleh masyarakat di level akar rumput jika disampaikan oleh para penggiat agama. Sayangnya, alih-alih memberikan informasi yang mendorong masyarakat untuk membantu mengatasi pandemi dan mencegah penyebaran virus, tokoh agama dan akun dengan narasi keagamaan yang memiliki ribuan pengikut, justru ribut-ribut soal anak.

Cendekiawan muslim dan ahli yurisprudensi Islam, Siti Musdah Mulia mengatakan, kampanye yang mendorong orang untuk punya anak di tengah kesusahan karena wabah COVID-19 merupakan tindakan yang tidak punya empati kemanusiaan.

“Dalam situasi seperti sekarang ini, seharusnya manusia lebih banyak merenung, kontemplasi, bersyukur dan memperhatikan apa yang ada di sekitarnya,” ujar Musdah kepada Magdalene (22/4).

“Bukannya fokus bikin anak di rumah tapi bagaimana anak yang ada itu diperhatikan, karena enggak mudah,” ia menambahkan.

Baca juga: Wabah Corona Langgengkan KDRT, Hambat Penanganan Kasus

Ajaran Islam mengatakan bahwa anak adalah amanah Allah dan manusia tidak diperbolehkan meninggalkan anak atau generasi yang lemah, ujar Musdah.

“Lemah yang seperti apa? Lemah akalnya, lemah finansialnya, lemah pendidikannya, maupun lemah fisiknya. Pertimbangan untuk punya anak harus benar-benar dipikirkan secara matang. Kalau punya anak harus yakin kalau kita bisa mendidiknya dengan baik,” ujarnya.

Musdah juga menegaskan bahwa narasi mengenai nabi yang senang punya umat banyak maksudnya adalah umat yang berkualitas dan cerdas, bukan hanya masalah kuantitas untuk mengimbangi populasi seperti yang selama ini disebutkan.

Fokus pada kualitas keluarga

Psikolog Keluarga dari Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdatul Ulama, Alissa Wahid mengatakan, poin-poin yang dikampanyekan di media sosial itu tidak secara mutlak salah karena memiliki anak memang dianjurkan dalam Islam. Namun kampanye #PositifkanIstri, menurutnya, sama sekali tidak memberikan konteks sehingga ada kemungkinan salah persepsi bagi orang-orang yang mudah terpengaruh.

“Semuanya harus sesuai dengan konteks tidak bisa hanya dilihat secara literal dan dijadikan poin-poin mentah sepeti itu,” kata Alissa, yang juga putri sulung mantan Presiden Abdurrahman “Gus Dur” Wahid.

Narasi mengenai nabi yang senang punya umat banyak maksudnya adalah umat yang berkualitas dan cerdas, bukan hanya masalah kuantitas untuk mengimbangi populasi seperti yang selama ini disebutkan.

“Dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini, menambah anak bukan merupakan hal yang tepat. Apalagi tempat pelayanan kesehatan sekarang ini justru menjadi tempat yang paling rentan membawa virus,” ia menambahkan.

Menurut Alissa, akan ada kemungkinan anak yang lahir sekarang ini aad dalam kondisi penuh ketidakpastian karena akses kepada pelayanan ibu hamil akan berkurang, dan datang ke tempat pelayanan kesehatan adalah berisiko membahayakan dirinya dan anaknya.

“Ada konsep kemaslahatan loh dalam agama, jadi kalau kita bertindak tidak membawa kemaslahatan bagi diri sendiri maupun orang lain, itu juga dosa. Iya memang benar dalil yang dibawa, tapi tidak sesuai konteks dan tidak membawa kemaslahatan,” ujarnya.

Alissa mengatakan, yang terpenting sekarang ini adalah meningkatkan kualitas kehidupan keluarga di tengah keadaan yang serba sulit dan tidak pasti karena dampak COVID-19. Terlebih lagi orang tua yang mempunyai anak kecil, mereka harus fokus memikirkan finansial dan keamanan anak kedepannya karena tidak ada perkiraan konkret kapan pandemi ini akan berakhir, ujarnya.

Baca juga: Jika COVID-19 Terjadi 20 Tahun Lalu

Selain itu, dinamika hubungan dalam keluarga juga patut diperhatikan, kata Alissa. Apakah hubungan suami istri sudah adil dan memberdayakan? Nyatanya, kondisi pandemi ini meningkatkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) karena hubungan pernikahan belum memberdayakan satu sama lain atau belum adil.

Terkait hubungan orang tua dan anak, Alissa mengatakan, orang tua harus memastikan apakah anak-anak secara psikologis baik-baik saja, atau mungkin sekarang ini secara mental para orang tua justru yang sedang mengalami breakdown karena harus berhadapan dengan anak selama 24 jam. Begitu pun anak kepada orang tua, apakah hubungan yang tercipta sekarang ini adalah hubungan yang membuat keluarganya menjadi tentram?

 “Atau jangan-jangan selama pandemi COVID-19 ini berlangsung, orang (di rumah) stres, termasuk ibunya, ayahnya, anaknya semua stres, itu lebih penting untuk dipikirkan daripada punya anak lagi,” ujar Alissa.

Siti Parhani merupakan reporter Magdalene. Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.