Environment Issues Opini

7 Kebijakan Energi yang Bisa Selamatkan 1 Miliar Nyawa di 2100

Kita bisa menerapkan kebijakan progresif, seperti konservasi energi, mendorong energi terbarukan, dan mengelola limbah karbon.

Avatar
  • December 26, 2023
  • 6 min read
  • 399 Views
7 Kebijakan Energi yang Bisa Selamatkan 1 Miliar Nyawa di 2100

Dalam ulasan terkini terhadap lebih dari 180 artikel yang telah melalui tinjauan sejawat—yang saya lakukan bersama rekan peneliti Richard Parncutt, kami menemukan terdapat konsensus ilmiah yang disebut 1,000-ton rule (aturan 1.000 ton).

Aturan 1.000 ton menyatakan ada seorang terbunuh setiap kali umat manusia membakar 1.000 ton karbon dari energi fosil.

 

 

Yang mengejutkan, kami menemukan kenaikan suhu sebesar 2°C setara dengan satu miliar orang yang meninggal secara prematur pada abad berikutnya. Mereka meninggal akibat berbagai kerusakan iklim imbas pemanasan global.

Temuan-temuan ini berasal dari tinjauan literatur iklim untuk mengukur kematian manusia pada masa depan berdasarkan berbagai mekanisme.

Jumlah korban ini yang sangat besar. Meskipun amat pahit, prediksi ini konsisten dengan beragam bukti dan argumen dari berbagai disiplin ilmu.

Saat para pemimpin dunia berkumpul untuk konferensi iklim COP28 di Dubai pada 30 November–12 Desember, sebaiknya kita ingat bahwa keputusan mereka akan bertanggung jawab langsung atas kematian ataupun penyelamatan nyawa manusia yang sebenarnya.

Baca juga: Dampak Sunyi Serangan Israel ke Palestina: Cemari Lingkungan dan Rusak Hutan

Perubahan Iklim Nyata

Perubahan iklim akibat ulah manusia telah—dan akan terus—membunuh banyak manusia akibat kerusakan yang ditimbulkannya. Kematian disebabkan oleh jaringan kompleks mekanisme langsung, menengah, dan tidak langsung dari gangguan iklim bumi.

Dampak mematikan langsung dari perubahan iklim termasuk gelombang panas, yang menyebabkan kematian ribuan orang karena kombinasi panas dan kelembapan. Gelombang panas bahkan mengancam bayi.

Penyebab kematian menengah antara lain adalah kegagalan panen, kekeringan, banjir, cuaca ekstrem, kebakaran hutan, dan naiknya permukaan air laut. Kegagalan panen, khususnya, dapat memperburuk kekurangan makanan dan kelaparan global.

Kekeringan yang lebih sering dan parah dapat menyebabkan lebih banyak kebakaran hutan yang juga menyebabkan kematian manusia. Situasi ini terjadi di Hawaii.

Kekeringan juga dapat membuat air terkontaminasi, lebih seringnya penyakit, dan kematian akibat dehidrasi.

Laporan Panel antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) 2022 memperkirakan bahwa kekeringan akan menyebabkan 700 juta orang di Afrika mengungsi pada 2030.

Di sisi lain, perubahan iklim juga dapat menyebabkan banjir (dan kegagalan panen karena terlalu banyak air), yang juga memicu kelaparan dan penyakit. Perubahan iklim mendorong kenaikan permukaan laut serta mengakibatkan tenggelamnya wilayah pesisir. Gelombang badai memperburuk risiko banjir, yang mengancam jiwa miliaran orang di kota-kota pesisir. Mereka menghadapi kemungkinan migrasi paksa.

Perubahan iklim turut meningkatkan kejadian cuaca ekstrem, yang mematikan dan menyebabkan kerusakan besar pada layanan penting seperti jaringan listrik dan fasilitas medis. Intrusi air laut juga mengancam pertanian pesisir, sehingga kian mengurangi pasokan makanan.

Terakhir, perubahan iklim juga secara tidak langsung meningkatkan kemungkinan konflik dan perang. Meskipun konsensus akademis mengenai perang akibat perubahan iklim masih jauh dari pasti, ada sedikit keraguan bahwa perubahan iklim memperbesar stres dan dapat menyebabkan konflik di tingkat lokal.

Ketika jumlah pengungsi akibat perubahan iklim meningkat, negara-negara yang terletak jauh dari garis khatulistiwa mungkin akan semakin menolak memberikan suaka.

Dalam skenario terburuk, keruntuhan sosial mungkin terjadi. Artikel dari jurnal Proceeding of the National Academy of Science melaporkan hal ini bisa sangat merusak masyarakat kita.

Baca juga: Pentingnya Pelibatan Perempuan dalam Isu Energi Terbarukan

Masih Ada Waktu

Kematian satu miliar orang merupakan prospek yang menakutkan, tapi tidak semuanya terjadi sekaligus. Faktanya, banyak orang sudah sekarat akibat perubahan iklim.

Namun, masih ada waktu untuk melindungi mereka yang tersisa dari dampak perubahan iklim dengan segera beralih ke sumber energi bersih.

Kita perlu menerapkan kebijakan energi yang agresif saat ini untuk menghilangkan emisi karbon. Kita bisa menerapkan konservasi energi, mendorong energi terbarukan, dan mengelola limbah karbon.

Kita sudah melakukan banyak hal. Kita hanya perlu melakukannya lebih cepat.

Dekarbonisasi bertahap tidak dapat diterima jika mengorbankan banyak nyawa manusia. Masing-masing usulan di atas pada awalnya tampak mengejutkan. Namun, jika kita bertanya pada diri sendiri, “apakah saya akan menerima kebijakan ini untuk menyelamatkan satu miliar nyawa manusia?” maka saya merasa jawabannya menjadi lebih jelas.

Kita harus bertindak untuk mencegah kematian jutaan umat manusia.

Baca juga: 5 Perempuan Inspiratif di Bidang Energi dan Pertambangan

Enggak Terlalu Radikal

  1. Kita harus mewajibkan semua rencana konstruksi baru menjadi bangunan net zero atau bangunan berenergi positif. Dari kewajiban ini, pemilik berpeluang meraup bonus berupa pengembalian investasi yang positif dan bahkan mungkin untuk membuatnya tanpa biaya tambahan.
  2. Mengharuskan pembelian teknologi konservasi energi atau energi terbarukan secara massal dan menjadikannya tersedia secara gratis bagi semua orang dengan pinjaman tanpa bunga yang mudah dibayar kembali melalui penghematan energi. Misalnya, pemerintah dapat membangun pabrik baru untuk menyediakan insulasi atau panel surya gratis bagi siapa saja yang mau menggunakannya. Sebagai bonusnya, tenaga surya akan menghemat ongkos listrik pemilik rumah serta melakukan penghematan besar dalam langkah-langkah konservasi energi selama masa pakainya.
  3. Segera mengakhiri penjualan kendaraan berbahan bakar fosil yang akan menghemat banyak karbon dan uang karena kendaraan listrik memiliki lifetime cost yang lebih rendah daripada kendaraan BBM).
  4. Mencabut akta pendirian perusahaan bahan bakar fosil dan membubarkan aset mereka jika sebuah perusahaan atau industri bertanggung jawab atas kematian lebih banyak orang akibat emisi dibandingkan dengan jumlah pekerja mereka. Ada fakta yang menyedihkan bahwa industri batu bara di Amerika Serikat telah membunuh lebih banyak orang per tahun akibat polusi udara daripada jumlah pekerjanya. Angka tersebut pun belum termasuk kematian akibat perubahan iklim.
  5. Segera berhenti berinvestasi pada lebih banyak bahan bakar fosil dan penerapan pajak besar terhadap semua investasi terkait bahan bakar fosil, dan/atau menahan penghasil emisi serta investor yang bertanggung jawab secara ekonomi atas kerugian yang disebabkan oleh emisi karbon di masa depan.
  6. Melatih kembali pekerja bahan bakar fosil secara massal untuk pekerjaan di bidang energi terbarukan yang akan membantu masyarakat dan pekerja yang rata-rata bisa mendapatkan kenaikan gaji sebesar 7 persen untuk industri tenaga surya.
  7. Segera melarang ekstraksi bahan bakar fosil dengan pemberlakuan moratorium.

Masing-masing dari tujuh kebijakan ini akan mencegah peningkatan jumlah karbon memasuki atmosfer, mencegah perubahan iklim yang terjadi bersamaan, dan miliaran kematian dini yang disebabkan oleh status quo.

Baca juga: Rambu Dai Mami, Pemimpin Perempuan dari Tanah Sumba

Bergerak ke Depan

Kebijakan-kebijakan di atas dapat dicapai dengan menargetkan tiga tindakan pertama yang juga selaras dengan penghematan perekonomian. Seiring dengan semakin besarnya skala teknologi pengganti, kebutuhan akan investasi bahan bakar fosil akan terus menurun. Walhasil, dorongan untuk penurunan tersebut lebih akan jauh akan lebih menguntungkan secara politik.

Ketika hal ini terjadi, maka masuk akal untuk melindungi pekerja bahan bakar fosil dengan melatih kembali mereka. Harapannya, para pekerja dapat membantu mempercepat transisi hingga semua sumber daya fosil yang mengeluarkan karbon penggunaan bahan bakar dihentikan untuk menciptakan iklim yang stabil.

Hal ini jelas tidak akan mudah, tapi saya percaya bahwa sebagian besar umat manusia adalah orang-orang baik yang akan menerima ketidaknyamanan sementara dalam transisi ke sistem energi yang akan mencegah satu miliar kematian dini.

Perlindungan dan bukannya pengorbanan kehidupan sepatutnya menjadi hasil dari COP 28 untuk menunjukkan kepemimpinan yang nyata.

Joshua M. Pearce, John M. Thompson Chair in Information Technology and Innovation and Professor, Western University.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Ilustrasi oleh Karina Tungari


Avatar
About Author

Joshua M. Pearce