Women Lead Pendidikan Seks
August 06, 2022

'OK Boomer', Kenapa Orang Dewasa Suka Julid ke Anak-anak Muda?

Padahal sebagaimana generasi 'boomer', kita anak muda juga mau dimengerti.

by Jasmine Floretta V.D., Reporter
Lifestyle
Share:

Pada (15/7), akun Twitter @kata_atina jadi sorotan warganet Indonesia. Semua bermula dari responsnya terhadap anak Sekolah Menengah Atas (SMA) yang baru lulus dan berhasil lolos ujian tertulis di tiga universitas ternama di Indonesia, Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, dan Institut Teknologi Bandung. Alih-alih mengucapkan selamat, perempuan ini justru berkomentar pedas.

Ia membuat utas panjang yang isinya memojokkan dan memberi pesan bahwa anak-anak zaman now sangat egois atau self-centered. Ia beralasan dengan mengikuti banyak ujian tertulis mandiri universitas negeri, maka dia telah merampas hak orang lain yang sebenarnya sangat ingin turut serta.

Sebuah alasan yang enggak mashok dan salah sasaran dalam hemat saya. Bukankah dari dahulu beginilah strategi pada pencari universitas negeri mengamankan kursi mereka? 

Yang bikin geleng-geleng kepala, tindakan julid ini ia lakukan terus menerus bahkan setelah si anak mengirimkan direct message soal betapa sakit hatinya ia. Si anak pun sampai harus menutup akunnya.

Baca Juga: ‘OK Boomer’: TikTok Meme and The Rise of Gen Z Political Consciousness

Sudah Terjadi Sejak Lama

Apa yang dilakukan oleh perempuan itu sebenarnya bukan hal yang langka. Baik di media sosial, ruang rapat, tempat umum, atau rumah kita sendiri, kita kerap melihat bagaimana orang dewasa suka mengomentari anak-anak muda. Umumnya isi kejulidan itu enggak jauh-jauh dari anak muda punya mental tempe, manja, hingga foya-foya sampai enggak bisa beli rumah. Anak zaman sekarang pun jadi frasa berkonotasi negatif karenanya. 

Namun, apakah aksi nyinyirin anak muda adalah hal baru? Peter O’Connor, profesor manajemen di Queensland Institute of Technology, Australia dalam wawancaranya bersama BBC Work Life mengatakan, kecenderungan orang dewasa untuk meremehkan karakter anak muda telah terjadi selama berabad-abad. Bahkan faktanya memandang rendah generasi yang datang setelah kita bisa jadi merupakan sifat kuno manusia.

Pertama kita bisa melihatnya dalam teks-teks Yunani Kuno. Jason Feifer, pemimpin redaksi majalah Entrepreneur dan pembawa acara Podcast Problem Solvers menuliskan dalam artikelnya. Bahwa, pada abad pertama Masehi, teks-teks Yunani kuno telah menampilkan penghakiman dan penilaian bias terhadap generasi muda. Seneca the Elder, retorikawan dan penulis Romawi bilang, pemuda memiliki pertumbuhan yang lamban. Bakat mereka dibiarkan menganggur, dan tidak ada satu pun pekerjaan terhormat yang akan mereka lakukan.

Sementara, Plautus, penulis drama Romawi yang meninggal pada 185 SM ternyata juga sering kali menggambarkan kekecewaan orang dewasa terhadap generasi muda.

 “Dalam drama, versi sitkom kuno, ada perdebatan tentang apakah ayah harus tegas atau bersabar terhadap kegagalan moral anak-anak mereka,” tulis Richard Saller, profesor sejarah dan klasik di Universitas Stanford dikutip dalam artikel Jason.

Dari teks-teks Yunani ini pun, Jason kemudian berbincang dengan banyak cendekiawan sejarah Eropa, Afrika, Cina, dan Jepang. Mereka memberitahunya, teks berisi kebencian terhadap kaum muda memang sejak lama ada dan bersifat universal.

Kita tinggal memilih waktu dan tempatnya saja. Niscaya kebencian itu akan kita temukan di mana saja. Mulai dari penulis Renaisans yang mengeluhkan pemuda gaduh yang menyanyikan lagu-lagu mesum di lingkungan sosial yang tidak pantas. Di Afrika pra kolonial, pemuda tidak akan dianggap atau tidak sepenuhnya dihormati sampai mereka menjadi orang tua. Mao Zedong bahkan sampai repot-repot meluncurkan Revolusi Kebudayaan.

“Dia (Mao Zedong) takut generasi muda, yang tidak memiliki pengalaman generasi revolusioner yang lebih tua, akan terlalu 'lunak’” kata Mark Elliott, profesor sejarah Cina dan Asia Dalam di Universitas Harvard pada Jason.

Tendensi meragukan, menghakimi, dan melihat generasi muda kerap disusul dengan pandangan, generasi mudalah yang membawa kesialan. Bahwa hal baik yang terjadi dulu hingga sekarang akan hancur di tangan generasi berikutnya.

Dilansir dari Forbes, pada 1948, penyair T. S. Eliot menyatakan bagaimana masa di mana ia hidup saat itu telah mengalami kemunduran. Standar budaya lebih rendah daripada lima puluh tahun yang lalu dan bukti penurunan ini terlihat di setiap lini kehidupan.

Kini ramalan malapetaka seperti itu terbukti tidak beralasan. Sebab, hari ini kita merayakan pencapaian budaya dan teknologi yang tak terhitung jumlahnya.

Lantas, mengapa generasi yang lebih tua, para orang dewasa selalu melihat generasi muda dalam lensa negatif? Mengapa orang dewasa lebih mudah menghakimi dan menuduh generasi muda lebih buruk?

Baca Juga: ‘OK Boomers’: Mengenalkan Kesetaraan Gender pada Ayah

Memori Bias, Perbandingan, dan Ketakutan

John Protzko dan Jonathan W. Schooler, peneliti dari Departemen Ilmu Psikologi & Otak, Universitas  California pada 2019 mempublikasikan penelitian terkait bertajuk Kids these days: Why the youth of today seem lacking. Protzko dan Schooler bilang, memori otak kita tidak bekerja seperti kaset video yang bisa memutar ulang peristiwa, persis seperti apa yang terjadi di masa lalu.

Sebaliknya, ketika kita berusaha mengingat memori, kita harus menyatukannya kembali dari potongan-potongan informasi yang berbeda dalam pikiran. Beberapa adalah kebenaran, tapi faktanya otak kita juga “malas” memilah informasi berat dan susah. Maka dalam merekonstruksi ingatan, otak kita sering mengambil sedikit informasi yang paling mudah untuk diingat. Karena ini pula, manusia cenderung menggunakan informasi sekarang tentang diri, untuk menilai banyak hal, termasuk orang lain.

Hal inilah yang akhirnya menelurkan istilah bias memori (presentism). Mengacu pada bias memori ini, Protzko dan Schooler kemudian menyurvei 3.458 orang dewasa yang berusia 33 hingga 51 tahun. Hasilnya menunjukkan, semakin tua, semakin besar kemungkinan merendahkan anak-anak muda. Simpelnya, jika orang dewasa A menilai dirinya gemar membaca dan pintar, maka orang dewasa A akan cenderung mengatakan anak-anak zaman sekarang tidak gemar membaca dan lebih bodoh dari mereka.

Presentism ini kemudian diperparah dengan kecenderungan orang-orang dewasa untuk membandingkan “pencapaian” generasinya dahulu dengan generasi sekarang. Hal yang sebenarnya tak bisa dibandingkan karena setiap zaman memiliki problemnya masing-masing, juga kondisi sosial politik ekonomi yang berbeda. Dalam BBC Worklife dijelaskan bagaimana para boomes ingat bagaimana cara mereka berhemat dan menabung untuk membeli rumah pertama mereka. Mereka percaya anak-anak muda tak mampu melakukan hal yang sama.

Apa yang mereka lakukan ini jelas mengabaikan masalah struktural. Mulai dari meroketnya harga rumah, stagnasi upah, inflasi di mana-mana, dan konflik yang terus bermunculan di berbagai belahan dunia yang semakin membuat kondisi sosial politik ekonomi generasi ini tak menentu.

“Kenyataannya, Gen Z semakin dewasa menghadapi berbagai tantangan yang belum pernah dihadapi generasi lain pada tahap kehidupan yang sama. Pandemi Covid-19 dan tekanan media sosial contohnya,” kata Jason Dorsey, presiden Center for Generational Kinetics pada BBC. Maka jelas generasi ini telah masuk dalam periode kesepian dan ketidakamanan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dan ini jelas bukanlah hal yang sedari awal bisa dibandingkan.

Terakhir, nyinyiran terhadap generasi muda juga datang dari rasa takut. Andrew Rabin, profesor bahasa Inggris di Universitas Louisville dengan spesialisasi dalam hukum dan sastra abad pertengahan awal dalam wawancaranya bersama GEN medium menjelaskan, rasa takut orang dewasa pada anak muda dan hubungannya dengan warisan sosial budaya yang tercipta dari legalitas kepemilikan tanah di Abad Pertengahan.

Dari perspektif hukum, tujuan utama dari unit keluarga adalah untuk memastikan keturunan yang tepat untuk mewariskan tanah. Namun, dalam banyak kasus, orang tua tidak mau mewariskan tanah mereka, karena itu berarti juga mewariskan kekuasaan dan status sosial mereka. Mereka khawatir nantinya mereka menjadi seorang yang “bukan siapa-siapa” lagi, yang namanya tak dikenal lagi.

Baca Juga: Generasi Z: Rumah Tak Terbeli Bukan karena Kebanyakan ‘Ngopi’

“Ketika kita mengatakan mereka tidak memenuhi standar generasi yang lebih tua, sebagian dari apa yang kita katakan adalah, 'Anak ini tidak dapat menggantikan saya. Anak ini tidak cukup baik untuk menggantikan saya. Saya, dalam beberapa hal, tak tergantikan,” jelas Rabin.

Itu sebabnya generasi lebih tua mengatakan anak-anak muda itu tidak lebih baik dari mereka bahkan lebih buruk. Semua ini dilakukan semata-mata karena generasi lebih tua tak bisa menerima bahwa hidup terus berjalan tanpa mereka. Alih-alih menerimanya, generasi lebih tua menyalahkan seluruh keadaan di generasi berikutnya.

Untuk menghakimi generasi muda, perlu ada dialog antargenerasi. Seperti apa yang diungkapkan Jason Dorsey, “Ketimbang menghakimi dan membuat lelucon terhadap generasi muda, mulai bangun kesadaran, kita semua adalah manusia yang perlu dimengerti.”

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.