Women Lead
June 23, 2021

Riset di AS: Ada Alasan Anak-Anak Muda Sekarang Mulai Menolak Kapitalisme

Ada alasan mengapa banyak anak muda di AS mulai menolak sistem ekonomi kapitalis yang lama bertahan di sana.

by Joseph Blasi dan Douglas L. Kruse
Issues // Politics and Society
Share:

Anak muda zaman sekarang punya kecenderungan makin tidak menyukai cara pemimpin mereka bekerja. Ini tampak dari peristiwa baru-baru ini, ketika ribuan anak muda melakukan demonstrasi di Amerika Serikat pada 24 Maret lalu. Demo tersebut dilakukan untuk menuntut kebijakan pengontrolan senjata, hampir sebulan setelah sebagian teman mereka tertembak dan terbunuh di sebuah SMA di Parkland, Florida.

Terlepas dari kejadian tersebut, ada bukti yang semakin menguatkan bahwa anak muda zaman sekarang, yang berusia antara 18 sampai 29 tahun, memiliki ketidakpuasan yang kuat terhadap aspek mendasar sistem ekonomi dan politik kita. Secara khusus, semakin banyak yang menolak kapitalisme.

Hal ini mendorong kami–seorang sosiolog dan ekonom–bertanya-tanya bagaimana anak muda mendesain kembali sistem ekonomi jika mereka diberi kesempatan. Berdasarkan survei terkini, jawaban mereka seharusnya membuat para politisi pendukung status quo untuk berpikir ulang tentang kebijakan ekonomi mereka.

Kecenderungan Menolak Kapitalisme

Awalnya, kami ingin lebih memahami bagaimana perasaan anak muda terhadap sistem ekonomi saat ini. Jadi, kami mulai dengan mengamati sebuah survei dari Harvard University di tahun 2016 yang menemukan bahwa 51 persen anak muda Amerika yang berusia 18 sampai 29 tahun tidak lagi mendukung kapitalisme. Hanya 42 persen yang mengatakan mereka mendukungnya, sementara hanya 19 persen yang mau menyebut diri mereka kapitalis.

Meskipun kenyataan bahwa anak muda dari generasi mana pun memiliki kecenderungan untuk memberikan sedikit dukungan pada sistem ekonomi dan politik yang berkuasa mungkin saja benar, dan kondisi akan berubah ketika mereka bertambah umur, survei terakhir mengenai topik ini menunjukkan bahwa ada sebuah fenomana baru yang dirasakan anak muda zaman sekarang.

Sebuah survei pada 2010 menunjukkan bahwa hanya 38 persen dari anak muda yang memiliki pandangan negatif terhadap kapitalisme–dan hasil ini muncul tepat setelah krisis finansial dan ekonomi terburuk setelah Era Depresi Besar, yang menimpa anak-anak muda cukup parah.

Lalu bagaimana kita memahami ini semua? Apa itu berarti mereka lebih memilih sistem sosialisme, ketika pemerintah secara aktif mengatur dan mencampuri kegiatan ekonomi dan membatasi pilihan individu?

Sejauh ini tidak jelas. Penelitian dari Harvard menunjukkan hanya 33 persen yang mengatakan mereka memilih sosialisme. Sebuah survei terpisah pada 2015 yang dilakukan oleh kelompok konservatif Reason-Rupe menemukan bahwa generasi muda dengan umur antara 18 sampai 24 tahun memiliki pandangan lebih mendukung sosialisme ketimbang kapitalisme.

Pandangan mereka bertentangan dengan pandangan generasi orang tua, yang secara konsisten mengatakan bahwa mereka memilih kapitalisme di survei-survei dengan suara marjin yang cukup besar–dan semakin bertambah jumlahnya ketika umur mereka bertambah. Namun, jumlah yang mempertanyakan prinsip kapitalisme tetap saja paling tinggi, setidaknya dalam 80 tahun semenjak survei untuk topik semacam ini dilakukan.

Untuk memastikan, pertanyaan dalam survei tersebut berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya, dan ukuran sampel tidak selalu cukup besar untuk membuat kesimpulan.

Hasilnya tetap sama: Generasi  muda adalah bagian dari barisan depan rakyat Amerika yang mulai kehilangan keyakinannya terhadap kapitalisme dan bersiap untuk menyambut sesuatu yang baru.

Jadi Apa yang Mereka Inginkan?

Jika anak muda semakin menolak kapitalisme sedangkan mereka tidak yakin terhadap sosialime, apa yang mereka inginkan? Untuk menjawab ini, kami perlu menelusuri apa yang tidak memuaskan dari sistem kapitalisme

Sebuah diskusi yang menindaklanjuti penelitian Harvard menyimpulkan bahwa banyak dari anak muda ini yang merasakan bahwa “kapitalisme tidak adil dan tidak melibatkan banyak orang meskipun mereka bekerja keras”. Sementara, sebuah survei pada 2012 oleh Pew Research Center menemukan bahwa 71 persen dari mereka yang berusia 18 sampai 34 tahun merasa adanya konflik yang kuat antara yang miskin dan yang kaya pada masyarakat Amerika.

Sebagian besar anak muda mengatakan mereka percaya bahwa ada orang yang mendapatkan sesuatu lantaran mereka berprivilese, entah karena “mereka kenal seseorang atau mereka terlahir dari orang tua yang kaya.”

Baca juga: Uang Indikator Feminisme?

Pandangan terhadap ketidaksetaraan ini tertanam di dalam sistem ekonomi Amerika milik orang partai Republik atau Demokrat, Independen atau golongan konservatif, moderat dan liberal.

Bagi kami, hal ini menunjukkan alasan penting mengapa anak muda kehilangan keyakinannya terhadap kapitalisme adalah karena sistem tersebut telah kehilangan kemampuannya untuk bersikap adil. Namun, mereka tampaknya tidak berpikir bahwa sebuah sistem alternatif lainnya seperti sosialisme bisa menyelesaikan masalah.

Kita bisa memulai memikirkan apa yang mungkin saja berhasil di pikiran mereka dengan mengamati survei tahun 2015 oleh Public Policy Polling, yang menanyakan pada narasumbernya pandangan mereka terhadap perusahaan yang dimiliki karyawan dan campur tangan pemerintah untuk mendorong keberadaan perusahaan dengan kepemilikan semacam itu.

Survei tersebut menemukan bahwa 75 persen dari responden yang berusia 18 sampai 29 tahun mendukung ini, lebih dari kelompok usia yang lain. Sementara itu, 83 persen mengatakan konsep perusahaan yang dimiliki karyawan adalah konsep yang sangat Amerika sama seperti pai Apel, hot dog dan baseball.

Jadi, survei-survei ini menunjukkan bahwa anak muda bukannya tidak menginginkan berkurangnya kapitalisme, mereka bahkan menginginkannya lebih. Mereka hanya ingin memastikan kalau kesempatan untuk berbagi menjadi lebih luas, seperti misalnya dengan membuat kita lebih mudah menjadi kapitalis dan kemudian membagi kekayaannya yang kita sama-sama bangun.

Baca juga: 4 Cara Kapitalisme Diuntungkan oleh Kerja Domestik Perempuan

Ketika kami bertemu generasi zaman sekarang dalam ruang kelas, kami dikejutkan oleh kuatnya dukungan atas konsep ini di dalam kelas ekonomi dan tata kelola pemerintahan.

Survei lainnya yang menunjukkan keinginan untuk bentuk yang lebih inklusif dari kapitalisme semakin banyak ditemui. Sebuah survei tentang tempat bekerja di Amerika pada tahun 2016 menemukan bahwa 40 persen pekerja Amerika akan meninggalkan perusahaan mereka untuk bekerja di perusahaan lain yang menerapkan sistem berbagi keuntungan dengan pekerjanya.

Akhir-akhir ini menjadi lebih mudah untuk bekerja di perusahaan-perusahaan semacam itu karena semakin banyak perusahaan di Amerika yang mengakui keberhasilan kepemilikan saham perusahaan oleh karyawan, dikarenakan oleh kemampuannya untuk mengurangi keluar masuknya pegawai (turnover) dan meningkatkan kinerja ekonomi. Dan baru tahun lalu, sebuah perusahaan di Silicon Valley menawarkan sertifikat bagi perusahaan yang dimiliki oleh karyawan untuk membangun “ekonomi yang dimiliki oleh karyawan”.

Apa yang orang lihat pada tanggal 24 Maret adalah sebuah kekuatan politik yang energik, dinamis dan kuat di Amerika.

Saat ini, gerakan tersebut berfokus pada kontrol kepemilikan senjata. Dan kekuatan ini mungkin akan berpaling selanjutnya pada struktur perusahaan dan sistem ekonomi yang telah mengakibatkan melebarnya ketimpangan.

Sama seperti anggota parlemen mungkin ingin memikirkan ulang pandangan mereka terhadap hak-hak atas kepemilikan senjata, mereka juga mungkin akan menengok kembali pemahaman mereka mengenai seperti apa kapitalisme itu.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Joseph Blasi adalah J. Robert Beyster Distinguished Professor, Director of the Institute for the Study of Employee Ownership and Profit Sharing, School of Management and Labor Relations, and Senior Fellow, The Aspen Institute, Rutgers University. Douglas L. Kruse adalah Distinguished Professor and Associate Dean for Academic Affairs, Rutgers University.