June 19, 2020
Ketika Pacar Ancam Bunuh Diri Saat Hubungan Diakhiri

Tindakan pacar yang mengancam akan bunuh diri saat hubungan diakhiri adalah bentuk kekerasan emosional.

by Siti Parhani, Reporter
Lifestyle
Share:

Bukan sekali dua pacar “Lala” mengancam akan bunuh diri setiap Lala mengatakan ingin mengakhiri hubungan mereka yang sudah terjalin lebih dari tiga tahun itu. Bukan sekali dua kali ancaman itu muncul, Lala bingung dan takut, serta langsung membujuk pasangannya agar mereka tidak jadi putus.

“Waktu pertama kali dia bilang begitu, aku kaget. Begitu muncul lagi ancamannya, aku coba ngomong baik-baik kalau itu toksik dan enggak sehat buat hubungan kita. Tapi tetep aja begitu, jadinya bingung,” ujar perempuan berusia 24 tahun itu kepada Magdalene.

Situasi yang sama dihadapi “Bram”, 29, namun dalam level yang lebih ekstra: Ia mendapati mantan pacarnya menenggak sejumlah pil tak lama setelah dirinya mengatakan ingin putus. Bram bertambah panik karena sang mantan tiba-tiba kabur dari rumah, dan saat dihubungi omongannya sudah meracau.

“Dia bilang mau pulang kalau enggak jadi putus. Gue bujuk-bujuk, pokoknya nyuruh dia pulang dulu. Enggak lama dia balik, gue nangis karena shock waktu tahu dia bawa pil 40 butir,” ujar Bram.

Ia kemudian berkonsultasi dengan temannya yang memahami dan juga pernah menghadapi situasi rumit tersebut. Menurut sang teman, tindakan mantan pacarnya yang tidak memberikan ancaman terlebih dulu tapi langsung merusak dirinya adalah jamak terjadi di dalam hubungan yang manipulatif.

“Kata temen gue sih semacam suicidal trap gitu, jadi setelah gue telusuri itu obat enggak begitu bahaya, ternyata yang ada bikin nge-fly. Dia tahu gue enggak ngerti masalah obat-obatan. Sampai akhirnya mantan gue sadar gue enggak bisa lagi dikibulin begitu akhirnya berhasil lepas,” ujar Bram.

Baca juga: Kekerasan dalam Pacaran: Bukan Tanggung Jawab Kita untuk Perbaiki Pasangan

Selain pasangan yang manipulatif, kondisi kesehatan mental pasangan yang tidak stabil juga memunculkan adanya tekanan bunuh diri ketika mendengar bahwa ia akan ditinggalkan. Hal ini terjadi pada “Hardini” yang harus berhadapan dengan mantan pacarnya yang didiagnosis depresi. Perlu waktu enam bulan baginya sampai benar-benar bisa lepas dari mantan pacarnya itu.

“Dia sering bilang, ‘Kamu enggak tahu aku depresi? Masa kamu ninggalin aku? Kalau gitu aku bunuh diri aja’. Tapi juga dia sering mutusin duluan dan bilang kita putus aja soalnya aku disebut enggak ngertiin dia dan ujung-ujungnya bilang mending mati aja,” ujar Hardini, 20.

Meski sadar hubungannya sudah tidak sehat dan perlahan merusak mentalnya, Hardini tetap mencoba berusaha bertahan karena takut mantannya waktu itu benar-benar mengakhiri hidupnya, mengingat dia ada riwayat percobaan bunuh diri.

Emang harus perlahan buat lepas, enggak bisa langsung,” ujarnya.

Bentuk emotional abuse

Psikolog Klinis dari Universitas Indonesia, Mellia Christia mengatakan, sebuah relasi mendalam menyatukan ide dan emosi dua orang sehingga ketika diakhiri ada rasa kehilangan besar, entah itu kehilangan intimasi atau kehilangan teman berbagi. Ancaman lalu menjadi jalan pintas untuk menghindari itu, ujarnya.

“Situasi itu tidak menyenangkan dan kemudian terjadi bargaining (tawar menawar) yang justru negatif dan merugikan. Misalnya dengan ancaman bunuh diri, atau bisa ke arah kekerasan seksual dengan ancaman menyebar foto-foto intim saat masih berhubungan dengan pasangan,” ujarnya kepada Magdalene.

Baca juga: Mengapa Orang Bertahan dalam Hubungan Merugikan

“Itu sebenarnya sebuah cara untuk mempertahankan hubungan, tetapi termasuk dalam possessiveness,” kata Mellia.

Ketika hubungan bertahan karena didasari ancaman, hubungan tersebut sudah tidak lagi sehat karena ada pihak yang berada dalam posisi tidak berdaya, sementara pihak lain mendapatkan power dengan mengeluarkan ancaman.

“Pihak yang powerless itu tadi berada dalam situasi yang submisif atau di bawah, dan dia jadi enggak bisa berkutik untuk melakukan apa-apa karena ada ancaman itu tadi yang membuatnya ketakutan,” tambah Mellia.

Menurutnya, konsep possessiveness itu sudah termasuk konteks kekerasan dalam berpacaran karena itu wujud psychological abuse atau emotional abuse, karena ketakutan kita secara emosional dimainkan demi tujuan tertentu. Padahal dalam sebuah hubungan, pasangan sudah seharusnya memiliki hak untuk berpisah ketika relasi keduanya dirasa sudah tidak baik atau sudah tidak ada lagi kecocokan.

Harus ada pihak ketiga

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika ingin keluar dari hubungan seperti ini, menurut Mellia. Pertama, selesaikan dulu ancaman tersebut dan pahami bahwa tindakan tersebut adalah cara pasangan untuk menarik perhatian. Kita bisa membuka dialog kondisi tenang dan tidak sedang diliputi emosi, sehingga pasangan tahu kalau kita tetap peduli dengannya, ujar Mellia.

Baca juga: Komnas Perempuan: Angka Kekerasan Seksual terhadap Perempuan oleh Pacar Tertinggi

Kedua, karena sudah ada ancaman atau pernyataan bunuh diri, berarti itu sudah jadi persoalan serius. Penting untuk melibatkan orang ketiga yang punya ikatan emosional dengan pasangan yang mengancam bunuh diri, seperti kakak, saudara, atau teman dekat.

“Orang ketiga ini harus orang yang mengerti posisi hubungan kita ya, jangan asal comot orang lain yang enggak ngerti konteks. Di sisi lain ketika kita sudah beneran lepas kita tetap bisa memastikan bahwa dia baik-baik saja dengan orang ketiga tersebut,” ujar Mellia.

Pentingnya bantuan orang ketiga juga turut dirasakan Bram apalagi saat mantan pasangannya sering mengintimidasi. Ia memilih teman dekatnya yang lebih mengerti persoalan hubungannya untuk menjadi pihak netral yang mendukung alasan kuatnya untuk mengakhiri hubungan.

“Pas ngobrol sebisa mungkin posisinya jangan berhadap-hadapan, apalagi kalau lu tipikal yang gampang terintimidasi dan termanipulasi, nantinya tetap aja enggak tega,” ujar Bram.

Ketiga, menurut Mellia, pahami bahwa kita selalu punya hak dan kebebasan untuk mengakhiri hubungan yang dirasa sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Alasan kuat untuk berpisah bisa jadi pertahanan kita untuk keluar. Jangan terus menuruti apa yang dia mau. Permintaan keluar dari hubungan itu bisa jadi akibat dari proses panjang karena secara emosional dirasa sudah merisak.

“Apa pun ancaman yang dikeluarkan kita enggak seharusnya jadi nurut begitu saja, kemudian terjebak dalam hubungan yang bertahan dari ancaman. Cari bantuan, banyak orang yang mau bantu apalagi kalau sudah ada pernyataan bunuh diri,” kata Mellia.

Siti Parhani merupakan reporter Magdalene. Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.