May 04, 2020
Kisah Perawat COVID-19: 30 Tahun Bekerja, Hadapi Ketakutan yang Berbeda

Rasa takut ketika berhadapan dengan pasien itu ada, tetapi kami tetap tidak ingin mengingkari sumpah kami sebagai perawat.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle // Health and Beauty
Share:

Nama saya Ganang Agus. Selama tiga dasawarsa saya berprofesi sebagai perawat, pengalaman menangani pasien COVID-19 adalah salah satu pengalaman “berbeda” yang pernah saya rasakan. Mulai dari persiapan yang harus dilakukan sebelum berhadapan dengan pasien hingga ritual membersihkan diri dan membatasi kontak dengan keluarga merupakan hal-hal yang tak lazim saya lakukan sebelumnya.

Perasaan khawatir akan tertular virus corona pun menghinggapi, tetapi saya dan rekan-rekan sejawat tak ingin mengingkari sumpah kami sebagai perawat. Kami hanya mampu berdoa dan saling menguatkan satu sama lain agar tetap solid dan dapat mengesampingkan rasa khawatir tadi.

Sejak 1996 hingga sekarang, saya bertugas di RS Bethesda, Yogyakarta. Setelah COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), satuan tugas (satgas) khusus COVID-19 dibentuk di sini. Ada yang melayani pasien dalam pengawasan (PDP), ada yang bertugas menangani orang dalam pemantauan (ODP), ada juga yang khusus berhadapan dengan pasien anak baik yang PDP maupun ODP.  Saya sendiri tergabung dalam satgas ini dan ditempatkan di ruang rawat inap dewasa pasien COVID-19 terhitung mulai 20 Maret 2020.

Baca juga: Kisah Perawat COVID-19: Terpisah dari Keluarga, Jadi Teman Curhat Pasien

Tidak banyak perubahan dalam sistem kerja kami: Shift tetap terbagi tiga dengan durasi delapan jam dan empat sampai lima personel untuk setiap shift. Setelah tiga hari bekerja, kami berhak mendapatkan libur selama dua hari.

Perubahan paling menonjol terletak pada perlengkapan yang kami pakai. Sebagaimana di rumah-rumah sakit lain, kami diharuskan mengenakan alat pelindung diri (APD). Namun, mengingat terbatasnya stok perlengkapan ini, APD lengkap hanya kami kenakan maksimal dua jam ketika bertugas mendatangi ruangan-ruangan pasien, selebihnya kami memakai APD standar.

Kami sadar, ada kemungkinan pasien tanpa gejala, tidak menyadari, atau bahkan tidak jujur saat melaporkan kondisinya kepada kami. Karena itu, kebijakan untuk tetap mengenakan APD—meskipun yang standar—diterapkan untuk mencegah kami tertular virus dari pasien.

Selama saya berhadapan dengan pasien COVID-19, saya kerap menyayangkan ketika mendapati para lansia terpapar virus ini. Mereka tidak punya riwayat ke luar negeri maupun berkontak dengan orang-orang yang dinyatakan positif mengidap COVID-19. Kemungkinan terbesarnya adalah mereka terpapar dari anak-anaknya yang datang berkunjung atau pulang kampung dan tidak sadar bahwa dirinya membawa virus ke rumah para lansia tersebut.

Baca juga: 5 Pekerjaan Paling Rentan Selama Krisis Corona

Tantangan dari keluarga

Saya akui, mengenakan APD membuat gerakan saya tak seleluasa biasanya, ditambah rasa gerah yang harus ditahan selama berjam-jam. Kami pun harus bolak-balik mandi setiap habis melakukan tindakan di ruangan pasien.

Di samping kewajiban mengenakan APD, tantangan lain yang kami temui selama menangani pasien COVID-19 datang dari pihak keluarga dan orang sekitar. Banyak dari kami yang menghadapi keluarga yang tidak terima kami bekerja merawat pasien COVID-19. Istri dan anak saya pun sempat demikian, , tetapi setelah berupaya menjelaskan, perlahan keluarga saya memahami dan menerima.

Jika biasanya sepulang kerja saya bisa bersantai dan berkomunikasi secara dekat dengan keluarga, kini saya mesti membersihkan diri dulu sebelum mengobrol seperti biasa. Itu pun dengan tetap menjaga jarak dengan anak dan istri saya. Tidak ada kontak fisik yang saya lakukan kepada mereka.

Sementara dari sisi lingkungan sekitar, kecurigaan sedikit muncul dari orang-orang di dekat rumah saya. Saya maklum mengingat betapa menular dan berbahayanya COVID-19 serta besarnya kemungkinan saya terpapar. Pihak RT/RW juga sempat menanyai apakah saya merawat pasien corona. Untuk meredam kekhawatiran mereka, saya sampai menyertakan surat keterangan sehat yang dikeluarkan dari laboratorium rumah sakit. Edukasi pun saya berikan kepada orang-orang yang menanyai saya, kalau terbukti tidak sehat, saya otomatis akan dikarantina.  

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop