March 19, 2020
5 Pekerjaan Paling Rentan Selama Krisis Corona

Ada orang-orang dengan pekerjaan-pekerjaan yang sangat berisiko selama krisis Corona, dan perlu ada mekanisme untuk membantu mereka.

by Siti Parhani, Reporter
Lifestyle
Share:

Ketika Istana Kepresidenan mengumumkan Sabtu (14/3) lalu bahwa Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi dinyatakan positif terinfeksi virus Corona (COVID-19), kepanikan melanda sebuah grup WhatsApp jurnalis yang saya ikuti. Pasalnya, beberapa dari rekan wartawan beberapa waktu lalu sebelumnya sempat mewawancarai Menhub Budi.

Saya pun turut merasa panik karena disebutkan bahwa Menhub sempat berada di daerah yang sama di Sulawesi Selatan, tempat saya meliput minggu lalu. Pikiran saya mulai kalang kabut. Meski tidak berhubungan secara langsung, pikiran negatif tetap melanda saya, rasa takut tertular virus yang tak kasat mata persebarannya itu terus menggelayut.

Hal tersebut diperparah dengan kabar bahwa beberapa jurnalis yang ditempatkan di Istana dan sering berhubungan langsung dengan para menteri dan pejabat negara, diharuskan melakukan tes untuk memastikan apakah mereka negatif atau positif. Bahkan ada teman sejawat saya yang juga bertugas meliput di Istana jatuh sakit sampai dijemput oleh ambulans karena gejalanya mirip dengan virus COVID-19, sehingga ia termasuk yang dicurigai.

Jurnalis merupakan satu dari sekian banyak profesi yang rentan ketika krisis Corona seperti sekarang ini terjadi. Selain risiko tertular karena pekerjaan yang mengharuskan berkomunikasi dengan banyak orang, kerentanan juga bisa terlihat dari dampak kebijakan untuk menyikapi krisis Corona ini membuat ragam profesi terancam kehilangan sumber penghasilannya.

Kebijakan social distancing atau pembatasan interaksi sosial demi mencegah virus menyebar seolah menjadi pisau bermata dua: Dibutuhkan untuk mencegah penularan yang makin tidak terkontrol, tapi di sisi lain juga berdampak buruk karena dapat mematikan pekerjaan-pekerjaan yang bergantung pada interaksi sosial.

Ketua Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI), Ellena Ekarahendy mengatakan, selain jurnalis, ada beberapa pekerjaan yang sangat rentan serta memiliki risiko tinggi dan pemerintah perlu memikirkan bantuan untuk mereka. Pekerjaan seperti saja itu?

  1. Pekerja di bidang kesehatan publik

Media The New York Times beberapa waktu lalu mengeluarkan data pekerjaan paling berisiko selama krisis Corona, dan perawat serta tenaga medis menempati urusan teratas. Penanganan pasien mengharuskan mereka menghadapi penyakit dan infeksi setiap hari dan biasanya bekerja berdekatan satu sama lain dengan pasien mereka. Banyak yang sudah dikarantina karena terpapar virus. Badan Kesehatan Dunia (WHO) ada sekitar 1.760 pekerja kesehatan di Cina yang positif COVID-19. Untuk menghindari penularan virus antara pasien dengan pekerja kesehatan, WHO menerapkan standar peralatan perlindungan pribadi (Personal Protection Equipment, PPE) dalam menghadapi keadaan pandemi, seperti kelengkapan penutup mata dan hidung, penutup kepala, masker N95, sepatu bot, baju sekali buang, serta sarung tangan yang biasanya dipakai untuk operasi. Semua kelengkapan itu patutnya dipenuhi sebelum akibatnya fatal.

“Ya kalau pekerja di rumah sakit sudah tentu risikonya langsung sama virus. Jadi sebaiknya pemerintah menyediakan mekanisme dan akses perlindungan yang jelas,” ujar Ellena.

Baca juga: Saya Demam 38 Derajat Celsius, Apa yang Harus Saya Lakukan?

  1. Para pekerja sektor informal

Sektor informal di sini merupakan bentuk dari usaha yang biasanya dikelola oleh seseorang  dengan modal yang minim, dibangun masyarakat kelas ekonomi bawah dan tidak memerlukan pendidikan khusus. Mereka membangun usaha semata-mata demi alasan bertahan hidup. Pemberlakuan pembatasan sosial membuat penghasilan harian mereka amat merosot. Di sisi lain, para pedagang kecil belum tentu memiliki tabungan maupun bekal cukup untuk bertahan sampai krisis Corona ini reda. Tidak seperti kelompok menengah ke atas yang memiliki porsi disposable income, pekerja dan pengusaha sektor informal ini hidup dari penghasilan ke penghasilan.

“Misalnya para pelaku UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) yang buka warung kecil-kecilan, tukang tambal ban, pedagang kopi keliling, atau tukang pijat. Kesannya mereka ini self-employed padahal pendapatannya sangat bergantung pada jumlah pelanggan yang datang ke mereka per harinya. Sekarang kalau orang pada menghindari keluar rumah mereka dapat uang dari mana,” ujar Ellena pada Magdalene (17/3).

  1. Pekerja di bidang jasa

Para pekerja di bidang jasa, seperti jasa transportasi, jasa antar barang, hingga jasa keahlian seperti salon, menjadi sangat rentan. Transportasi umum seperti angkot, TransJakarta, Commuter Line, hingga ojek online menjadi tempat yang paling berisiko untuk tersebarnya virus COVID-19.

Andik Sutrisno, 45, yang sudah bekerja sebagai sopir ojek daring sejak 2016 mengatakan ia kelimpungan menghadapi krisis Corona. Penghasilannya merosot lebih dari setengahnya. Jika ia biasanya mengangkut 20 penumpang sehari, kini delapan sampai sembilan orang sehari pun sudah bagus.

“Dulu dalam situasi normal, saya dapat Rp300.000 per hari, tapi sekarang dapat Rp150.000 saja sudah syukur,” ujarnya.

Andik juga mengatakan bahwa sebenarnya ia waswas karena harus tetap mencari penumpang ke berbagai daerah yang sudah diperingati sebagai zona merah kasus positif COVID-19. Ia menyiasatinya dengan cara lebih waspada saat berhubungan dengan penumpang, dan segera pulang saat merasa badannya sakit. Ia juga menyiasati permasalahan keuangannya dengan menekan pengeluaran.

Selain bidang jasa, para pekerja di frontliner juga tak kalah rentan, menurut Ellena. 

“Bagian frontliner itu misalnya kasir, pegawai bank, pekerja bandara, sampai bagian administrasi lain itu sangat rentan karena berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal secara terus-menerus,” ujarnya.

Baca juga: Krisis Corona, Warga Penjara Butuh Perhatian Mendesak

  1. Buruh-buruh produksi

Sejak ada imbauan pembatasan sosial, sejumlah perusahaan mengganti kegiatan kerja dari kantor dengan kerja dari rumah (work from home, WFH). Namun tentunya kebijakan perusahaan macam begitu tidak berlaku bagi para buruh pabrik bagian produksi. Mereka yang mengandalkan keterampilan fisik harus rela bekerja dengan ratusan orang dalam satu ruangan. Pengamanan yang dilakukan perusahaan pun biasanya hanya ala kadarnya.

Menurut Ellena, belum banyak pabrik yang benar-benar memperhatikan aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) secara serius, padahal buruh tak jarang dibebani pemotongan gaji dan hubungan kerja secara sepihak (PHK) jika tidak hadir ke pabrik.

“Buruh-buruh pabrik itu enggak bisa work from home. Ibaratnya sama seperti kita sedang naik transportasi publik yang penuh dan berdesakan, semuanya berpotensi menularkan virus tanpa kita sadar. Ada beberapa teman yang bilang kalau beberapa perusahaan sudah menyediakan hand sanitizer, tapi apa iya itu sudah cukup menjamin keamanan mereka? Ya belum,” ujar Ellena.

  1. Pekerja lepas waktu (freelancer)

Sebagai pekerjaan dengan penghasilan tidak tetap, beban yang ditanggung freelancer  menjadi berlipat ganda dengan adanya krisis Corona ini. Hampir semua acara yang membuat banyak orang berkumpul dalam satu tempat dibatalkan sampai waktu yang tidak ditentukan, mulai dari konser musik, pemeran seni, seminar, acara olahraga, hingga kompetisi olahraga nasional. Padahal banyak freelancer sangat bergantung pada acara-acara tersebut.

Fotografer Adrian Mulya, 45, misalnya harus rela kehilangan beberapa proyek  yang semestinya ia garap akhir Maret nanti. Tawaran pekerjaan pun menurun drastis semenjak Corona, bahkan sampai mencapai angka nihil. Tak ayal ia pun harus memutar otak untuk mencari uang tambahan agar bisa bertahan hidup.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Aliansyah Caniago, 33, yang merupakan seorang seniman seni pertunjukan. Ditiadakannya pameran sampai waktu yang tidak diketahui membuat penghasilan utamanya harus hilang. Ia pun harus bertahan dengan tabungan seadanya sampai krisis Corona ini mereda.

Ellena mengatakan bahwa kerentanan keuangan hampir terjadi pada para freelancer dalam bidang apa pun, kecuali bidang-bidang yang bisa dikerjakan lewat digital seperti ilustrasi, atau desainer grafis.

“Apalagi freelancer yang kerjanya mengharuskan kehadiran fisik, misalnya kru panggung di acara musik, atau cameraman dan videografer. Nah, itu jadi rentan banget karena sehari-harinya mereka mensyaratkan kehadiran fisik dan harus ada interaksi secara fisik dengan orang lain untuk memproduksi pekerjaan-pekerjaan tersebut,” kata Ellena.

Menurut Ellena, sebelum pemerintah memikirkan tentang lockdown di berbagai daerah demi mencegah penyebaran virus, pemerintah harusnya terlebih dahulu memikirkan semacam jaring pengaman agar masyarakat bisa melakukan social distancing tanpa harus kehilangan penghidupan utamanya.

“Karena sekarang ya tujuannya social distancing mungkin yang punya uang akan menyetok makanan, tapi yang enggak punya duit ya mereka akan tetap hidup seperti biasa. Mereka juga enggak bisa mengakses atau menimbun bahan makanan maupun tabungan,” ujar Ellena.

Siti Parhani merupakan reporter Magdalene. Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.