April 29, 2020
Kisah Perawat COVID-19: Terpisah dari Keluarga, Jadi Teman Curhat Pasien

Seorang pasienku menangis saat kami meninggalkan ruangannya karena ia sangat kesepian.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Issues
Share:

Bulan Ramadan kali ini terasa berat bagiku. Aku mesti tinggal terpisah dengan keluarga selama bertugas menjadi perawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta Utara.

Namaku Widia Astuti. Telah sebelas tahun aku mengabdi sebagai tenaga medis di RSPI. Enam tahun terakhir ini, aku ditempatkan di ruang isolasi ketat. Sejak pertengahan Januari, ketika virus corona menyebar di Wuhan sedang gencar diberitakan, kami sudah bersiaga untuk menangani pasien dengan indikasi terjangkit COVID-19. Ketika itu, sudah ada pasien berstatus dalam pengawasan (PDP) yang memang punya riwayat bepergian ke luar negeri dan menunjukkan beberapa gejala sehingga harus diisolasi di ruangan tempatku bertugas. Kemudian setelah COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi, RSPI mengkhususkan diri merawat pasien yang terindikasi virus corona saja.

Sepanjang hari-hari kerja, aku menginap di hotel yang telah dipersiapkan bagi tenaga medis yang mengurus pasien COVID-19 seperti kami.

Selama menangani pasien COVID-19, aku bersyukur karena kebutuhan alat pelindung diri (APD) untuk tenaga medis di RSPI masih tercukupi kendati persediaannya kian minim. Di rumah sakit lain, terlebih di daerah-daerah, banyak tenaga medis yang kesulitan mengakses APD, bahkan masker N-95 pun sullit mereka dapatkan. Itu sebabnya aku berharap, masyarakat benar-benar mematuhi aturan pembatasan sosial supaya risiko penularan termasuk kepada tenaga medis bisa diminimalisasi.

Untuk mengakali keterbatasan APD, kami menerapkan sistem kerja khusus selama berkontak dengan pasien pada setiap shift—yang berlangsung sekitar delapan jam. Di instalasi gawat darurat misalnya, teman-temanku bekerja dalam dua gelombang. Pada setiap gelombang, empat perawat diturunkan untuk berkontak langsung dengan pasien selama empat jam. Cara ini diterapkan untuk memberi waktu istirahat bagi tenaga medis, entah untuk makan atau pergi ke kamar kecil. 

Sementara, aku dan teman-teman yang berjaga di ruang isolasi ketat menggeser cara kerja kami yang awalnya bisa langsung datang ke beberapa ruangan pasien dalam satu waktu, menjadi satu pasien per satu waktu. Segala perawatan yang dibutuhkan seorang pasien COVID-19 seperti pemberian obat sampai makanannya tidak boleh tersela oleh perawatan kepada pasien lain, sekalipun itu artinya kami harus menetap di ruangannya selama berjam-jam.

Baca juga: Impitan Peran Gender Sangat Pengaruhi Karier Tenaga Kesehatan Perempuan

Selepas mengurus pasien yang satu, kami harus melepas APD dan mandi terlebih dahulu sebelum masuk ke ruangan pasien yang lain. Teman-teman yang bertugas di intensive care unit (ICU) pun demikian, malah lebih sering berganti APD sampai lima kali per shift.

Tak seperti pasien non-COVID-19, pasien-pasien yang kami temui di ruang isolasi sangat menantikan kedatangan kami. Jenuh dan kesepian sudah tentu mereka rasakan selagi menunggu hasil tes swab negatif keluar. Karena itu, melihat ada orang lain yang masuk ke ruangan mereka terasa sangat menyenangkan. Banyak pasien COVID-19 yang bercerita kepada kami soal keluarga, bahkan hobinya.

Pernah suatu kali, sebelum pasien 01 masuk, kami merawat seorang warga Australia usia 84 tahun yang berstatus PDP. Karena dia senang bernyanyi, kami pun ikut bernyanyi dengannya di ruangan ketika waktunya kami melakukan tindakan. Begitu selesai dan kami hendak keluar, ia menangis karena tidak ada lagi yang menemaninya.

Kedekatan dengan para pasien yang terjalin selama mereka berada di ruang isolasi ini menciptakan kesan tersendiri bagiku. Begitu mereka dinyatakan sembuh dan dapat pulang, juga saat mereka memberi kartu ucapan terima kasih kepada para tenaga medis yang merawatnya, aku merasa sangat senang dan haru. Sesederhana itu, tapi rupanya bisa menghilangkan rasa lelahku setelah bertugas.

Terus ingat anak

Selama bertugas, aku terus memikirkan anak-anakku, yang duduk di kelas 6 dan 4 SD. Karena kesulitan mencari asisten rumah tangga, mau tak mau aku meninggalkan anak-anakku sendiri di rumah sementara suamiku juga bekerja. Di bulan Ramadan ini, suamiku menyiapkan makanan sahur dan berbuka selama aku tidak ada di rumah. Sedih juga bila mengingat keluarga lain bisa makan bersama di bulan puasa ini, sementara aku harus di rumah sakit.

Baca juga: 5 Pekerjaan Paling Rentan Selama Krisis Corona

Baru akhir pekan kemarin (25-26 April) aku akhirnya bertemu kembali dengan keluarga setelah tiga minggu bertugas. Ketika hasil medical check up-ku bagus dan tes swab menunjukkan negatif COVID-19, aku kembali ke rumah dan memanfaatkan waktu liburku yang hanya dua hari untuk berkumpul bersama keluarga dan menyetok bahan makanan untuk mereka selama aku bekerja.

Beruntung selama tiga tahun terakhir, anak-anakku telah terlatih untuk mandiri dan dapat menyiapkan makan dengan menu sederhana sendiri. Perkara belajar di rumah, karena suamiku hanya dapat mendampingi mereka pada malam hari, aku meminta permakluman pada guru anak-anakku bila mereka kerap telat mengumpulkan tugas.

Sebagian tenaga medis mendapat stigma masyarakat dan perlakuan diskriminatif bila ketahuan merawat pasien COVID-19. Temanku bahkan sampai diusir dari kosnya. Alhamdulillah, aku sendiri tidak mendapat stigma, malah lingkungan sekitar mendukungku menjalani profesi ini. Aku justru yang lebih khawatir bahwa sebenarnya mereka curiga atau takut aku membawa virus karena berurusan dengan pasien. Maka itu, kurasa lebih baik bila aku tetap bertahan di hotel saja selama hari kerjaku. Yang penting suamiku ada pada malam hari untuk menjaga anak-anak.

Bicara tentang kelelahan, mungkin sudah banyak gambar dan cerita dari tenaga medis yang merawat pasien COVID-19 yang beredar di mana-mana. Kami pun demikian. Kadang untuk sesaat saja sebelum menangani pasien berikutnya, kami berselonjor di selasar rumah sakit dengan masih mengenakan APD seraya bercanda dan saling menyemangati. Itulah cara kami untuk saling menjaga dan mendukung kesehatan mental satu sama lain selama kami merawat pasien. Kami juga ingat, banyak yang berharap pada tenaga kami sehingga motivasi kami untuk tetap sehat pun terpompa. 

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop