February 23, 2024
Culture Prose & Poem

Kita yang Hidup dari Kata-kata

Hari-hari riuh semakin jauh. Kaki-kaki kecil meniup lepuh.

Avatar
  • January 31, 2023
  • 5 min read
  • 958 Views
Kita yang Hidup dari Kata-kata

Banyak cerita tentangmu yang seharusnya kuceritakan pada dunia saat kita masih bersama, tapi kini matamu redup, tak ada riak lintas, terlalu dalam pada cerita yang kita pendam. Pagi itu aku mengulur lidahku di ujung jendela, tidak terasa semanis biasanya. Semburat merah jingga, biru memutih, tidak lagi menenangkan aku yang terbangun di pagi buta untuk sekadar menghisap satu-dua batang rokok pada kota yang tidak pernah hiruk pikuk. Pikiranku terlempar jauh pada deru mobil, polusi udara, asap yang mematikan, dan teriakan perlawanan yang terlentang di jalan.

Baca juga: Air Mata untuk Arcana

 

 

“Terlalu sepi”, ujarku dalam sebuah percakapan dini hari. Banyak cerita yang aku lewatkan, sepersekian detik keberadaanku disini seperti melayang, ada resah yang membayang. Dan wajahmu, aku membayangkan kelelahan menghinggapi perasaan-perasaan yang juga tidak bisa kamu jelaskan. Hari-hari riuh semakin jauh. Kaki-kaki kecil meniup lepuh. Luruh mencipta riak, mencipta ombak, menjelma terjal, merupa kanal. Aku takut kamu sendiri akan mati tenggelam.

Tiap malam kita disibukkan dengan denging telinga akan hening yang sungguh sudah sangat keterlaluan. Maka, aku diam-diam menutup danau yang kau galidi belakang rumah. Tanganmu penuh lumpur dan luka sibuk berebut tempatnya. Kau sibuk menggali ingatan, aku sibuk menutup erat pintu-pintu yang sudah lama dikerat rayap.

Aku ingin mencari alasan untuk berhenti dan lari sejenak. Namun, kakiku berhenti terseret berat hela napas dalam tiap jeda yang kutinggalkan saat mengintip kembali lembar-lembar wajahmu yang kusimpan. Dalam perlombaan kita melahap habis makanan, dalam perlombaan kita melempar candaan, perdebatan dalam kancing baju berbentuk beruang, atau dalam perdebatan kita mengenai detik jam yang bergerak terlalu tergesa. Hanya saja, kamu lebih cepat bergerak dibandingkan bayangan, lebih cepat beranjak dibandingkan temaram. Tidak ada lagi napas sisa yang bisa kutangkap dengan rongga.

“Kota ini mati,” ujarku pada segelas teh hangat tanpa gula. Aku teringat wajahmu mengernyit setiap kali aku katakan padamu. Jarang-jarang kamu mengamini dalam diam, namun aku mengerti bagaimana bunyi itu bekerja: ia tumpah ruah dalam kekalutan, tidak mampu menerjang gelap.

Aku mendengar suaramu gemetar di ujung telepon bertahun lalu, membayangkan rasa yang berkecamuk dalam pikirmu yang luasnya tak terbatas. Kamu seakan berteriak namun berbisik, menahan luap amarah dan tangis agar tak meledakkan gendang telinga, menutupnya dalam untaian kata-kata manis yang aku tidak tahu lagi apa maknanya. Mual melingkupiku, semua kenangan menyentakku seakan ingin membawamu kembali kepadaku.

Baca juga:  Meneguk Air Mata

“Sini, kusembuhkan luka-lukamu, kulindungi dirimu, bahkan dari luka-luka yang kusebabkan sendiri,” gumamku.

Aliran tulisanmu senada air mataku yang tak pernah redam. Aku memanggilmu dengan sesuatu yang lebih parau dari lolongan. “Aku rindu keributan,” kataku.

Kamu hanya tertawa mendengarkan aku yang masih harus gegas menenggelamkan diri dalam ruang dimana semua orang saling bicara dan bukan saling berkasih-kasihan. Cinta hanya milik burung gereja yang belum diusir dari taman-taman peradaban. Daun-daun kuning yang berguguran dalam perjalanan sepeda mengelilingi kota seharusnya menjadi cerita yang kubawa pulang.

Aku tidak mengingat kapan terakhir kali aku bersandar pada harap sejauh ini. Kamu tidak memabukkan, kecuali dalam tatap lama malu yang kamu pendam. Kamu selalu ingin tahu cara membahagiakan, meski irisan luka kamu simpan sendiri. Aku berlari bagai kereta cepat, tapi kamu selalu tiba di tujuan terlebih dahulu, dan kamu selalu berlomba menemani. Tapi, langkahku begitu kecil serupa semut yang kehilangan barisan. Bunga-bunga yang kemarin ditanam sudah sibuk merawat dirinya sendiri. 

“Aku tidak bisa tidur nyenyak,” ujarku pada lampu yang kubiarkan nyala semalaman. Waktu menunjukkan pukul empat pagi, waktu aku membuka mata dari tidur yang juga tidak lelap. Kata-kata kubaca sembari berjalan, sembari menggumam, sembari berkejaran dengan waktu-waktu sepi dimana aku hanya bisa merenungi harga makanan yang tidak bisa kubeli.

Namamu gema dalam lintas karena kamu mampu mengolah rasa meski terlalu hati-hati. Membacamu seperti menggenggam sebuah mimpi. Kamu tunduk penuh pada cinta, yang mengawal seluruh keputusanmu. Aku bahagia pernah dicintai olehmu dengan sepenuh, berpuluh ribu kali, beratus ratus kali lipat. Tapi cinta juga yang meremukkanmu sampai jadi belulang, dan kamu tak tahu lagi kemana harus menggumam.

“Sakitkah, sayangku? Bisakah aku mohon pada semesta untuk mengambil jarak, agar tak remuk bayanganku akan dirimu yang menjelma danau?,” desahku pada meja kayu lapuk.

Sudah berapa kali kita memutar lagu? Tentang harap atau tentang pupusnya harap itu. Atau terlalu sering, tak terhitung waktu, ketika aku terbangun dari tidur tengah hari, hanya untuk merindu.

“Kamu di mana?” mataku mencari bayanganmu di sudut-sudut lukisan.

Aku memimpikan waktu dimana kita dapat bercinta, seperti waktu-waktu lainnya saat kita berjumpa. Aku bisa merasakan tubuhku dalam keindahan yang nyata ketika jarimu menjelajah. Lidahmu yang lembut mengitari wajahku, putingku, dan berakhir memberiku desah. Kita berkasih-mesra di ranjang, berpeluh, berpeluk. Setelahnya, kamu selalu menghilang. Aku bersusah payah mengumpulkan bentukmu dengan jari-jariku yang terlalu mungil.

Aku harus menunggu. Dan tidak menghubungimu. Dan tidak terlihat mengenalmu. Dan tidak berbicara denganmu. Dan tidak menatapmu. Katamu, kamu ingin pergi meninggalkanku. Kamu butuh kesempatan untuk melakukan itu. Kamu butuh tidak mengingatku.

Baca juga:  Hilangnya Sono

Di waktu yang lain, aku tahu kita ditakdirkan bersama. Kita bertatap lama. Kamu akan merapatkan tubuhmu ke dekatku, sehingga aku dapat merasakan napasmu menggelitik kulitku. Lidahmu yang lembut mengitari putingku yang mengeras. Kau akan menggigitnya, dan aku akan meringis.

Pada wajahmu aku menemukan kesungguhan jelma dalam gurat senyum tipismu, di balik lensa kameramu, di setiap kata yang kamu sampaikan langsung padaku. Kamu seperti peri, hidup dengan mewujudkan mimpi orang-orang yang kamu sayangi. Sayangnya, setiap kali aku melihatmu, kamu seperti tidak lagi mengenalku. Jarak yang membentang itu terpaksa kau ciptakan. Bagaimanapun, aku tahu aku masih menjadi cerita yang kamu kenang diam-diam.

Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar.Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar.

Memori akan percakapan yang tidak pernah kita lakukan mulai mengisi kepalaku. Kamu adalah sebuah sosok tanpa nama, dan tanpa jelma. Angin menampar-nampar pipiku yang bulat untuk menciptakan kembali sempurnanya wujudmu. Namun, hanya sisa air mata yang deras mengalir mengisi danau.

Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar. Berputar.

Ber… apa tadi?

Sayangku, berapa nomer teleponmu?


Avatar
About Author

Ferena Debineva

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *