October 30, 2020

Konsekuensi Buruk Stereotip Perempuan Lebih Jago Multitasking

Stereotip perempuan lebih jago multitasking mendatangkan konsekuensi buruk bagi kesehatan mental perempuan.

by Leah Ruppanner
Lifestyle
Share:

Dalam masyarakat, kerap kita mendengar stereotip perempuan lebih cakap dalam hal mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan (multitasking) dibanding laki-laki. Anggapan ini tidak jarang membuat sejumlah pemberi kerja lebih suka merekrut perempuan untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu. Selain itu di rumah, perempuan juga sering kali diharapkan menunaikan tugas domestik yang banyak dengan lebih baik, mulai dari menyiapkan makan siang anak-anak, membereskan pekerjaan rumah, ditambah bersosialisasi dengan orang lain, seiring dengan anggapan macam ini.

Namun studi terbaru yang terbit di jurnal ilmiah PLOS One, menunjukkan bahwa perempuan tidak lebih baik daripada laki-laki dalam urusan melakukan tugas berbeda dalam waktu yang bersamaan.

Studi ini menguji apakah perempuan lebih baik dalam beralih dari satu tugas ke tugas lainnya dan mengerjakan banyak tugas secara bersamaan. Hasilnya menunjukkan bahwa kerja otak para perempuan tidak lebih efisien dalam kedua kegiatan ini dibandingkan dengan laki-laki.

Menggunakan data yang kuat untuk menentang mitos semacam ini menjadi penting, mengingat perempuan terus dibombardir dengan pekerjaan, keluarga, dan tugas-tugas rumah tangga.

Tidak ada yang baik dalam tugas ganda

Multitasking adalah kegiatan melakukan beberapa tugas berbeda dalam waktu yang singkat. Dibandingkan dengan menyelesaikan beberapa tugas secara berurutan, tugas ganda membutuhkan peralihan perhatian secara cepat dan acap dari satu tugas ke tugas lainnya, dan meningkatkan tuntutan kognitif.

Studi ini didasari oleh suatu penelitian yang telah ada. Hasilnya adalah otak manusia tidak dapat mengatur beberapa aktivitas sekaligus. Khususnya untuk dua tugas yang serupa, keduanya akan bersaing untuk menggunakan bagian otak yang sama, sehingga melaksanakan tugas ganda menjadi lebih sulit.

Namun, otak manusia pandai dalam beralih dari satu kegiatan ke kegiatan lain secara cepat, sehingga membuat orang berpikir seolah sedang melakukan tugas ganda. Meskipun sebenarnya otak kita mengerjakan satu aktivitas dalam satu waktu.

Baca juga: 5 Cara Dobrak Stereotip Peran Gender dalam Keluarga

Dalam studi ini, peneliti asal Jerman membandingkan kemampuan 48 laki-laki dan 48 perempuan dalam seberapa baik mereka mengidentifikasi huruf dan angka. Dalam beberapa percobaan, para partisipan diminta untuk memperhatikan dua tugas sekaligus (disebut tugas ganda yang dilakukan bersamaan), sedangkan yang lainnya diminta untuk mengalihkan perhatiannya dari satu tugas ke tugas lain (disebut tugas ganda yang dilakukan terpisah).

Para peneliti mengukur waktu reaksi dan ketepatan percobaan tugas ganda terhadap kondisi terkontrol (melakukan hanya satu tugas). Mereka menemukan bahwa tugas ganda pada dasarnya mempengaruhi kecepatan dan ketepatan dalam menyelesaikan tugas, baik perempuan maupun laki-laki. Tidak ada perbedaan di antara keduanya.

Tugas-tugas domestik

Saya dan kolega saya baru-baru ini memecahkan mitos yang serupaꟷbahwa perempuan lebih baik dalam melihat keadaan yang berantakan dibandingkan laki-laki. Kami menemukan bahwa perempuan dan laki-laki sama-sama dapat menilai seberapa berantakan suatu ruangan. Alasan mengapa laki-laki lebih jarang membersihkan berantakan dibandingkan perempuan mungkin terletak pada fakta bahwa perempuan memiliki penilaian lebih tinggi terhadap kebersihan, daripada “ketidakpedulian laki-laki akan kebersihan”.

Sebuah data baru-baru ini menunjukkan bahwa laki-laki Australia menghabiskan waktu lebih banyak untuk mengerjakan pekerjaan domestik dibandingkan sebelumnya. Meski demikian, perempuan masih melakukan sebagian besar pekerjaan rumah.

Perempuan Australia yang bekerja telah melihat bagaimana total waktu mereka meningkat dari waktu ke waktu untuk pekerjaan dan urusan keluarga. Istri yang bekerja menghabiskan empat jam lebih banyak terhadap kegiatan-kegiatan ini dibandingkan para suami yang bekerja. Ini berarti para ibu mengemban beban ganda sebagai perempuan dengan bekerja melakukan semuanya mulai dari merencanakan rencana pesta ulang tahun, mengantar ke penitipan anak, dan kursus balet di atas pekerjaan reguler mereka.

Baca juga: Laki-laki Lakukan Kerja Domestik Tak Istimewa, Berhenti Merayakannya

Konsekuensi dari mitos

Jika otak perempuan terganggu dengan tugas ganda, mengapa kita tetap meminta mereka untuk melakukan ini? Dan, yang lebih penting, apa saja konsekuensinya?

Studi kami baru-baru ini menunjukkan bahwa para istri lebih banyak tertekan dan memiliki kondisi kesehatan mental yang lebih buruk dibandingkan para suami. Kami menemukan bahwa kelahiran seorang anak meningkatkan laporan orang tua mengenai perasaan tergesa-gesa atau terdesak waktu. Hal ini dirasakan dua kali lebih besar oleh sang ibu dibandingkan para ayah. Anak kedua akan menggandakan tekanan waktu untuk para ibu, sebagai konsekuensinya, menyebabkan penurunan kesehatan mental mereka.

Perempuan juga cenderung untuk berhenti dari pekerjaannya ketika anaknya lahir dan tuntutan keluarga menjadi intens. Mereka menopang beban mental yang lebih besar untuk mengatur kebutuhan keluarga—menyediakan kaus kaki bersih, antar-jemput anak sekolah, membeli makanan untuk makan siang.

Semua pekerjaan ini membuat perempuan mengorbankan waktu untuk mengejar karier, kenaikan jabatan, dan lainnya. Perempuan juga dituntut melakukan tugas ganda pada malam hari. Anak-anak cenderung mengganggu tidur ibunya daripada ayahnya.

Meski peran gender kian berubah dan laki-laki semakin memiliki porsi yang besar dalam pekerjaan rumah tangga dan perawatan anak daripada sebelumnya, kesenjangan gender tetap ada di banyak bidang pekerjaan dan kehidupan berkeluarga. Ini termasuk porsi mengasuh anak, pembagian pekerjaan rumah, kesenjangan upah, dan konsentrasi perempuan di posisi teratas.

Baca juga: Ibu Rumah Tangga: Pekerjaan yang Selalu WFH

Menentang stereotip

Pendapat publik tetap menyatakan bahwa perempuan memiliki keunggulan biologis sebagai pekerja tugas ganda yang efisien. Namun, seperti yang ditunjukkan pada studi ini, mitos tersebut tidak didukung oleh sebuah bukti.

Di dalam keluarga, pekerjaan-pekerjaan rumah tangga perlu dikategorikan, dibahas, dan kemudian dibagi secara merata. Dibandingkan sebelumnya, laki-laki saat ini semakin mempedulikan kesetaraan gender, pembagian kerja yang setara, dan pengasuhan bersama.

Seperti halnya di rumah, kita perlu memecahkan mitos-mitos ini di tempat kerja. Pemikiran bahwa perempuan lebih baik dalam tugas ganda dapat mempengaruhi alokasi tugas-tugas administratif. Tugas-tugas seperti mengatur jadwal dan menyusun pertemuan tidak boleh dialokasikan berdasarkan jenis kelamin.

Pada akhirnya, pemerintah perlu memecahkan mitos-mitos ini dalam kebijakan mereka. Anak-anak menambahkan pekerjaan yang tidak bisa dilakukan bersamaan. Perempuan membutuhkan penitipan anak yang terjangkau, berkualitas tinggi, dan tersedia secara luas.

Laki-laki juga membutuhkan akses menuju pekerjaan yang fleksibel, izin cuti ketika pasangannya melahirkan, dan izin mengasuh anak agar dapat berbagi pekerjaan ini dengan perempuan. Selain itu, dibutuhkan pula perlindungan untuk memastikan mereka tidak dihukum karena mengambil waktu untuk hal ini.

Membantah mitos-mitos yang mengharapkan perempuan menjadi pahlawan super adalah hal yang baik, tapi kita perlu melangkah lebih jauh dan menciptakan kebijakan yang berlandaskan kesetaraan gender.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Leah Ruppanner adalah Associate Professor bidang Sosiologi dan Co-Director di The Policy Lab, University of Melbourne, Australia.