April 18, 2019
5 Cara Dobrak Stereotip Peran Gender dalam Keluarga

Stereotip peran gender yang mengakar di masyarakat tidak hanya membahayakan perempuan, tapi juga laki-laki.

by Shafira Amalia, Reporter
Issues // Gender and Sexuality
Share:

“JM”, 21, mengingat bagaimana ia hampir tidak dapat kuliah di Telkom University Bandung tempat ia sekarang menimba ilmu, karena ayahnya hanya mengalokasikan biaya kuliah untuk abang dan adik laki-lakinya.

“Kami memang bukan keluarga yang berada, sehingga biaya kuliah untuk anak sangat terbatas. Selain itu, menurut Ayah, perempuan tidak perlu menuntut ilmu karena pada akhirnya hanya akan melayani suaminya kelak,” ujarnya kepada Magdalene.

Dengan usahanya sendiri, JM kemudian berhasil mendapat beasiswa untuk jurusan Seni Murni di Telkom.

JM hanya satu contoh bagaimana banyak orang terpaksa harus memenuhi tuntutan keluarga berdasarkan stereotip peran gender tertentu. Stereotip peran gender ini masih mengakar kuat di dalam masyarakat Indonesia yang masih konservatif, padahal penekanan pada stereotip gender ini bisa berdampak negatif sampai berujung pada kekerasan.

Jane L. Pietra, psikolog dari Yayasan Pulih, mengatakan bahwa peran gender sendiri sebenarnya adalah konstruksi sosial yang seharusnya bersifat cair, dapat berubah, dipersilangkan ataupun dipertukarkan.

“Seharusnya tidak ada pembagian kaku antara peran gender laki-laki dan perempuan. Namun budaya patriarki melahirkan nilai-nilai yang menempatkan posisi laki-laki sebagai pemimpin dan perempuan sebagai subordinasi laki-laki,” ujarnya kepada Magdalene.

“Nilai ini diturunkan dari generasi ke generasi sehingga diyakini sebagai sebuah kebenaran dan norma masyarakat. Ini yang menjadi alasan kenapa orang tua mengajarkan anak-anaknya untuk berperilaku sesuai dengan norma tersebut dan sesuai dengan gender mereka.”

Peran gender yang kaku dan mengakar ini berdampak antara lain pada tuntutan perempuan untuk selalu lembut dan menjadi subordinat laki-laki, membuat perempuan terpapar pada kekerasan.

“Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perempuan, tetapi juga laki-laki. Misalnya saja tuntutan laki-laki untuk selalu menampilkan sikap maskulinnya dengan tidak menangis dan tidak boleh curhat maka akan juga berdampak secara psikologis terhadap laki-laki. Belum lagi ketika ada laki-laki yang tidak bisa memenuhi harapan peran gendernya, karena tidak semua laki-laki dapat memenuhi tuntutan tersebut,” ujar Jane.

Menurutnya, orang tua memang memiliki peran penting dalam mendobrak stereotip peran gender dalam keluarga, namun siapa pun juga dapat berperan untuk menghapus dampak stereotip gender tersebut. Berikut adalah tips dari Jane dalam mendobrak stereotip peran gender.

  1. Kurangi ekspektasi kepada seseorang berdasarkan stereotip peran gender

Langkah pertama adalah mempelajari soal gender, peran gender, dan ekspektasi masyarakat terhadap peran seseorang berdasarkan gender. Kita harus mulai menyadari bahwa gender bukanlah sesuatu yang kaku dan perilaku seseorang tidak harus sesuai dengan apa yang sudah diterima oleh masyarakat, menurut Jane.

Langkah paling mudah adalah dengan mengubah sedikit kebiasaan yang secara tidak langsung membeda-bedakan perempuan dan laki-laki dalam keluarga. Misalnya, jangan membatasi mainan anak di mana laki-laki harus bermain mobil atau robot, sementara perempuan harus main dengan boneka. Atau mungkin membersihkan piring sendiri setelah makan tanpa berpikir bahwa itu adalah tugas perempuan.

Dengan memulai dari diri sendiri, kita bisa mendobrak stereotip peran gender yang sudah diturunkan dari generasi ke generasi.

2. Berhati-hatilah dengan kata-kata

Mungkin kita tidak disengaja atau tidak menyadarinya, tetapi komentar-komentar yang kita lontarkan kepada orang lain memiliki dampak yang besar di kemudian hari. Komentar seperti, “Cowok itu harus tangguh dan tidak boleh menangis” atau “Perempuan itu harus patuh sama suami” itu secara tidak langsung membenarkan stereotip peran gender yang terbentuk dari budaya patriarki.

Mulailah untuk menyadari bahwa gender adalah sesuatu yang tidak kaku dan bahkan dapat berubah. Jangan membedakan perilaku sesuai dengan gender, sadari bahwa laki-laki juga bebas untuk menunjukkan perasaannya dan perempuan tidak harus lembut setiap saat. Hal ini sangat berpengaruh kepada kepribadian seseorang ke depannya.

  1. Adil dalam pembagian tugas rumah tangga

Berhenti berpikir bahwa semua pekerjaan peran domestik hanya cocok untuk perempuan. Ingatkan keluargamu bahwa membersihkan rumah bisa dilakukan oleh semua orang, bukan hanya perempuan.

Hasil riset program kampanye Yayasan Pulih, #KitaMulaiSekarang, menunjukkan banyaknya keuntungan untuk keluarga jika laki-laki lebih berperan dalam mengelola rumah tangga:

Perempuan

Laki-laki

Keluarga dan komunitas

- Lebih berdaya dan memiliki akses pekerjaan serta pendidikan yang setara dengan laki-laki

- Fungsi agensi perempuan juga semakin tinggi dalam ranah pembuat keputusan di level domestik, komunitas, institusi, dan kebijakan.

- Meningkatkan akses perempuan terhadap sumber daya (misalnya kepemilikan tanah, akses finansial, akses terhadap lembaga layanan kesehatan.

- Meningkatkan hubungan yang lebih baik dengan istri, anak, dan keluarga besar

- Memiliki kualitas hidup yang lebih baik ketika ada pandangan baru mengenai maskulinitas (positif maskulinitas)

- Meningkatkan kemampuan laki-laki untuk dapat mengakses layanan kesehatan serta mengurangi perilaku berisiko yang diakibatkan oleh konstruksi maskulinitas yang kaku.

- Lebih inklusif, memiliki proses pengambilan keputusan yang setara dan adil gender di rumah, komunitas, institusi, sampai kepada pemegang kebijakan.

- Terjadinya pemberdayaan ekonomi dalam ranah domestik, sehingga meningkatkan stabilitas ekonomi akibat semakin banyaknya akses terhadap sumber daya dan meningkatnya kemampuan SDM

- Memiliki resiliensi yang baik terhadap konflik.

  1. Peraturan yang adil antara laki-laki dan perempuan

Dalam keluarga, biasanya anak perempuan menghadapi peraturan yang lebih ketat, seperti tidak boleh pulang malam. Ini adalah suatu stereotip gender yang harus didobrak dalam keluarga karena peraturan antara keluarga seharusnya adil dan tidak memandang gender. Risiko dan bahaya berkegiatan di malam hari dialami oleh semua orang, tidak hanya perempuan. Jika perempuan dalam keluarga hanya dibolehkan untuk pulang tidak lebih jam sembilan malam, maka seharusnya peraturan yang sama berlaku untuk laki-laki di dalam keluarga. Ini juga berhubungan dengan poin selanjutnya yaitu:

  1. Memberi dukungan dan kesempatan yang sama tanpa memandang gender

Alasan berkegiatan hingga malam hari sering kali adalah tugas kuliah atau pekerjaan. Jika kita membatasi waktu untuk perempuan berkegiatan, mereka tidak akan mendapatkan kesempatan yang sama dengan anggota keluarga yang laki-laki.

Kita harus mendukung cita-cita semua orang terlepas dari gendernya, dan salah satu cara mendukung yang paling gampang adalah dengan memberikan mereka kesempatan yang adil dan cukup.

Saat ini JM sedang menempuh semester akhir di Telkom, dan tidak sekalipun menyesal telah memilih untuk memperjuangkan cita-citanya di dalam dunia seni.

“Aku sebagai perempuan ingin berpendidikan tinggi supaya anak-anak aku nanti menyadari bahwa mencapai mimpi-mimpinya adalah sesuatu yang mungkin terjadi,” kata JM.

“Aku tidak mau ada perempuan-perempuan lain di luar sana yang cita-citanya dirampas begitu saja dan mereka mengalah. Apalagi jika yang menjatuhkan mereka adalah keluarganya sendiri.”

Artikel ini adalah bagian dari kampanye 1001 Cara Bicara, hasil kerja sama Magdalene dan SKATA, sebuah inisitiaf digital yang membantu pemerintah Indonesia dalam membangun keluarga melalui perencanaan yang lebih baik.

Ilustrasi oleh Sarah Arifin

Shafira Amalia is an International Relations graduate from Parahyangan Catholic University in Bandung. Too tempted by her passion for writing, she declined the dreams of her young self to become a diplomat to be a reporter. Her dreams is to meet Billie Eilish but destroying patriarchy would be cool too.

Follow her on Instagram at @sapphire.dust where she's normally active.