January 7, 2026
Culture Gender & Sexuality Issues Korean Wave

Lara KATSEYE Sampai Cocona XG: Di Balik Idol Coming Out dan Industri K-Pop yang Queerfobia

Selama 2025, sejumlah idol coming out sebagai LGBTQ+. Apakah K-Pop betul-betul makin inklusif?

  • January 6, 2026
  • 9 min read
  • 424 Views
Lara KATSEYE Sampai Cocona XG: Di Balik Idol Coming Out dan Industri K-Pop yang Queerfobia

Hong Seok-cheon selalu bermimpi menjadi entertainer. Di 1994 ia merantau jauh dari kampung halamannya, Cheongyang, untuk menjadi model lalu debut di layar kaca pada tahun 1994 sebagai reporter untuk Live TV Information Center. Cuma berselang setahun, kariernya melesat. Ia menyabet penghargaan di Festival Komedian KBS dan tampil dalam berbagai acara varietas, serta sitkom dan drama.

Namun di tengah puncak kesuksesannya, karier Hong runtuh dalam satu malam. Alasannya: ia coming out sebagai gay. Hong dipecat dari pekerjaannya sebagai pembawa acara dan aktor. Rekan-rekan kerja menjauh darinya, remaja laki-laki melontarkan hinaan padanya di jalanan, bahkan orang tuanya menyarankan agar keluarga melakukan bunuh diri massal karena merasa malu.

“Saya berpikir, ‘OK, saya berusia 30 tahun, ini abad baru, ini saat yang tepat untuk mengaku gay. Itu (coming out) adalah kesalahanku,” kata Hong kepada Los Angeles Times pada wawancara 2003 silam.

Langkah Hong diikuti oleh beberapa penghibur lain di tahun-tahun berikutnya, seperti Jiae (mantan anggota WA$$UP) dan Som He-vin (kontestan Idol School). Namun sama seperti Hong, sorotan tajam masyarakat dan kecaman yang bertubi-tubi juga membuat posisi serta karier mereka berada di ujung tanduk. Tembok konservatisme itu seolah tak tergoyahkan selama lebih dari satu dekade lamanya, hingga akhirnya di tahun 2025 ada kejutan besar terjadi di industri hiburan di Negeri Gingseng ini. 

Baca Juga: Refund Sisters: Grup Idola K-Pop ‘Badass’ Lintas Generasi 

Narasi Coming Out dan Queerness yang Mengguncang Panggung Idola

Tahun 2025 dibuka dengan serangkaian pengakuan yang tidak hanya mengejutkan, tetapi juga merayakan eksistensi individu. Dimulai pada Maret 2025, Lara Raj dari grup K-pop internasional KATSEYE mengumumkan dirinya sebagai queer melalui platform penggemar Weverse. Tidak berselang lama, tepaynya pada 22 April, Bain, vokalis utama dari JUST B, secara terbuka mengumumkan orientasi seksualnya sebagai gay di tengah konser tur dunia “Just Odd” di Los Angeles. 

Momen ini bersejarah karena Bain menjadi anggota boyband K-pop aktif pertama yang melakukannya secara eksplisit, sambil dengan bangga membawakan lagu “Born This Way” milik Lady Gaga, sebuah lagu yang walaupun banyak dikritisi karena masih tidak inklusif, masih banyak dipakai sebagai himne bagi berbagai individu LGBTQ+ di dunia.

Keberanian ini menular. Pada Juni, Megan dari KATSEYE coming out sebagai biseksual. Sebulan kemudian, Cherry atau Chae Ryujin, mantan anggota JWiiver, coming out sebagai transgender. Melalui siaran langsung di Instagram pada 19 Juli, ia memberikan pernyataan emosional.

Ini bukan hobi, ini hidup saya. Saya trans. Karena saya bukan orang biasa, saya tidak bisa mengungkapkan semuanya dari awal; tujuan saya adalah melakukannya secara perlahan.”

Menjelang akhir tahun, industri kembali dikejutkan oleh Cocona, anggota grup idola XG. Cocona melangkah lebih jauh dengan coming out sebagai transmaskulin nonbiner seraya membagikan foto yang menunjukkan bekas luka dari operasi pengangkatan payudara (top surgery). Ia menuliskan bahwa bagian tersulit dalam hidupnya adalah belajar untuk menerima dan mengakui dirinya sendiri.

“Saya harap pesan ini menjadi secercah cahaya bagi seseorang,” tulis Cocona dalam unggahan di akun resmi XG.

Momen coming out ini mendapat dukungan dari anggota, orang tua anggota, bahkan dari manajemen XG. Eksekutif produser Jakops menuliskan secara langsung bahwa mereka sangat menghormati Cocona atas keberaniannya membagikan isi hatinya kepada dunia. Mereka juga menjanjikan dukungan tidak hanya sebagai seorang artis, tetapi sebagai manusia yang layak mendapatkan rasa hormat.

Bukan cuma cerita coming out. Inklusivitas isu gender juga muncul dengan kelahiran grup dengan konsep genderless (tanpa gender) pertama, XLOV. Debut pada Januari 2025 di bawah naungan 257 Entertainment, grup ini terdiri dari Wumuti, Haru, Rui, dan Hyun. Mereka menolak batasan tradisional. Penampilan mereka adalah perpaduan androgini yang maskulin sekaligus feminin secara bersamaan dan rutinitas tarian menggabungkan gerakan maskulin dan feminin.

Dalam video musik dan lirik mereka, XLOV juga secara sengaja tidak menggunakan kata ganti (pronouns) yang spesifik. Para anggota menyatakan bahwa mereka nyaman dengan kata ganti apa pun, membiarkan penggemar memanggil mereka dengan he, she, atau they secara bergantian. Wumuti, dalam wawancaranya di One Mic September lalu, memberikan kutipan yang paling merepresentasikan visi mereka.

“Menjadi genderless bukan berarti kita harus memakai busana yang berlawanan dengan jenis kelamin kita. Pada dasarnya, genderless atau gender-free adalah tentang melakukan dan mengenakan apa yang menurut kita sesuai keinginan dan situasi kita sendiri alami,” jelasnya.

Selebrasi keberagaman ini mencapai momen akhirnya di 2025 di panggung SBS Gayo Daejeon–salah satu festival musik akhir tahun bergengsi di Korea Selatan. Dalam perhelatannya pada 25 Desember lalu, girl group K-Pop naungan Hybe, LE SSERAFIM tampil bersama para drag queen ternama seperti Nana Youngrong Kim, KYAM, dan RingRing. Dengan wig, heels, dan riasan mencolok ala drag queens, Nana, KYAM, dan RingRing menari bersama lima anggota LE SSERAFIM membawakan lagu SPAGHETTI

Kehadiran drag queens di stasiun televisi nasional yang biasanya sangat konvensional adalah sebuah langkah kreatif yang sangat menonjol dan berani, membuktikan bahwa ruang bagi keberagaman gender mulai meluas ke panggung-panggung paling bergengsi di Korea Selatan. Apalagi selama ini belum pernah ada festival akhir tahun bergengsi seperti SBS Gayo Daejeon yang berani menghadirkan drag queens di panggung hiburan mereka.

Baca Juga: Aroma Seksualisasi ‘NewJeans’, Grup ‘Idol’ K-Pop di Bawah Umur 

Queerness di Panggung K-Pop: Antara Selebrasi dan Stigma yang Tetap Melekat

Kemunculan identitas queer yang begitu masif di industri tahun ini dianggap sebagai sebuah perayaan atas keberagaman. Kritikus musik Lim Hee-yun, dalam wawancaranya bersama The K-Pop Herald, menyebut serangkaian peristiwa coming out dari idola khususnya seperti Lara dan Bain sebagai sesuatu yang “mengejutkan dan mendobrak” tatanan K-pop. 

Hee-yun menjelaskan bahwa sebenarnya konten K-pop telah lama diisi oleh ekspresi tidak langsung dari fluiditas gender dan identitas seksual. Fenomena fan fiction yang menggambarkan hubungan sesama jenis antar anggota grup telah ada sejak generasi pertama K-pop. Namun, ekspresi ini biasanya hanya dianggap sebagai konsumsi fantasi penggemar, bukan realitas artisnya. 

Seiring dengan penyebaran K-pop ke Barat, genre ini mendapatkan popularitas di kalangan komunitas LGBTQ+ global hingga mendapatkan julukan “gay pop“, sebut Hee-yun. Ini karena K-pop dianggap sebagai budaya “underdog” atau minoritas di panggung global, sebuah narasi yang sangat mudah dirasakan oleh para penggemar LGBTQ+ yang juga merasa sebagai minoritas di masyarakat mereka sendiri.

Walau demikian, selebrasi queerness di tahun 2025 tetap dihimpit realitas pahit yang sama. Satu hal yang menjadi perhatian kritis adalah pola di balik para idola yang berani coming out. Hee-yun menyebutkan dalam wawancara terpisah JUST B dan XG terutama menargetkan pasar global, dan tidak ada dari artis-artis ini yang berasal dari agensi besar Korea Selatan. 

Grup-grup kecil atau internasional sering beroperasi dengan lebih fleksibel, membuat pengungkapan identitas menjadi lebih mungkin. Dia menambahkan bahwa K-pop telah lama diterima oleh komunitas LGBTQ+, namun industri ini mempertahankan “dualisme yang aneh”.

“Ada kesamaran tentang seksualitas dan gender dalam beberapa hal, tetapi sangat kaku dalam hal lain,” sebutnya. Hal ini kemudian sebut Hee-yun membuat pengakuan dan penerimaan publik anggota grup teratas di agensi besar Korea Selatan tetap tidak mungkin tetap tidak mungkin. 

Senada dengan penjelasan Hee-yun, Kritikus budaya Jung Duk-hyun dalam wawancaranya bersama The Korea Times juga berpendapat penerimaan individu queer di lanskap hiburan Korean Selatan terutama K-Pop juga masih jauh. Ini sebutnya disebabkan oleh model bisnis K-pop telah lama berakar pada “fantasi yang diidealkan”. 

Industri hiburan Korea Selatan masih menerapkan standar konservatif yang sangat ketat terhadap perilaku dan citra para pelaku industri. Agensi-agensi di sana terutama agensi besar menerapkan kontrol citra hingga mengelola hubungan fandom dengan ketat.

“Ini terlihat dari bagaimana agensi sering kali melarang idola untuk berkencan, demi mempertahankan daya tarik tertentu bagi penggemar,” sebutnya. Dalam konteks ini, orientasi seksual yang mungkin berbenturan dengan nilai sosial konservatif tak ayal dianggap sebagai hal yang tabu atau “risiko bisnis”.

K-pop boleh saja secara kreatif sangat beragam dalam kontennya bahkan mengadopsi budaya queer atau intimasi queer dalam fanservice, tetapi tetap ada batasan yang tak terlihat namun sangat kuat bagi para idola untuk menunjukkan identitas asli mereka jika menyimpang dari norma heteronormatif. Identitas-identitas queer sering kali disembunyikan atau ditekan demi menjaga citra publik idola yang sempurna. 

Baca juga:  ‘Oppa’ dan ‘Unnie’ Boleh ‘Skinship’, tapi Korsel Masih Homofobik

Jalan Panjang Pengakuan Queer di Lanskap K-Pop

Pernyataan dari para kritikus pun mendapatkan cerminan realitanya dalam insiden penyensoran yang dilakukan oleh SBS. Meskipun penampilan para drag queen bersama LE SSERAFIM menjadi salah satu konten dengan jumlah penonton tertinggi, SBS secara sengaja memotong foto KYAM dalam thumbnail video yang seharusnya menampilkan momen ikonik “ending fairy”-nya bersama Hong Eun-chae.

Tindakan ini seolah mengirimkan pesan bahwa meski mereka bersedia menggunakan estetika keberagaman untuk meraih penonton, mereka belum benar-benar siap memberikan ruang pengakuan yang setara.

Pahitnya realitas ini juga dirasakan oleh Bain. Dalam siniar Hong Seok Cheon’s Jewel Box, Bain mengungkapkan beban mental yang ia tanggung setelah terbuka. Ia menceritakan bahwa meskipun sekitar 80 persen reaksi global sangat mendukung, reaksi di dalam negeri Korea Selatan justru sangat keras dan menyakitkan. 

“Di luar negeri, orang-orang mengatakan hal-hal seperti ‘Itu keren, bagus sekali,’ tapi di Korea, reaksinya sangat keras. Itu menyakitkan dan aku merasa bersalah. Sejenak, aku bertanya-tanya apakah aku melakukan sesuatu yang salah. Itulah saat kenyataan menghantamku,” tuturnya.

Tiga tahun sebelum Bain, Holland, penyanyi K-pop pertama yang sejak awal debut dengan identitas gay juga mengalami hal serupa. Holland telah lama menyuarakan tentang serangan digital yang ia terima sejak coming out pada 2018. Namun, yang paling mengerikan adalah serangan fisik yang ia alami di Itaewon pada Mei 2022. 

Holland dipukul oleh orang asing yang menyebutnya sebagai “dirty gay”. Holland dalam wawancaranya bersama Billboard bahwa ini jelas merupakan kejahatan kebencian. Ia lalu  menyebut bahwa “fakta bahwa orientasi seksualku sebagai gay diketahui publik seharusnya tidak membuatku rentan terhadap kekerasan semacam ini.”

Melihat kondisi tersebut, industri K-pop saat ini benar-benar berdiri di persimpangan jalan yang krusial. Jung menekankan bahwa perusahaan produksi K-pop harusnya segera beranjak dari pemasaran berbasis fantasi yang sempit menuju strategi yang lebih membumi dan sadar secara global. 

“Sudah waktunya untuk beralih ke model bisnis berbasis realitas. Tidak ada agensi saat ini yang mampu hanya menyasar penggemar domestik. Seiring dengan basis penggemar yang semakin mendunia, perspektif industri pun harus ikut berkembang,” ujar Jung. Baginya, fenomena tahun 2025 ini adalah sinyal pergeseran nyata dari pemuasan fantasi lokal menuju strategi global yang lebih matang.

Perubahan ini bukan sekadar urusan bisnis, melainkan tentang kemanusiaan dan harapan. Yi Ho-rim, aktivis dari Solidarity for LGBT Human Rights of Korea dalam The Korea Times menegaskan bahwa representasi inklusif sangat bermakna bagi banyak individu LGBTQ+ yang selama ini merasa tidak terlihat. “Ketika selebriti berani terbuka, hal itu memberikan harapan bagi orang biasa bahwa suatu hari mereka pun bisa membagikan kebenaran mereka, itu membantu mereka menyadari bahwa mereka tidak sendirian,” ungkap Yi. 

Mengingat penggemar LGBTQ+ bukan lah minoritas kecil dalam ekosistem K-pop, sudah sepatutnya industri yang sangat bergantung pada loyalitas penggemarnya ini berevolusi untuk menghargai setiap identitas di dalamnya secara utuh, bukan hanya sebagai komoditas, tetapi sebagai manusia yang berhak atas rasa aman.

About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.