October 05, 2020
Kursi Kosong 'Mata Najwa' dan Suara Keras Perempuan Agar Didengar

Kritik terhadap Najwa Shihab dan aksi kursi kosong dalam acara ‘Mata Najwa’ menunjukkan bias masyarakat terhadap perempuan.

by Retno Daru Dewi G. S. Putri
Issues
Share:

Saya bukan penggemar Mata Najwa atau acara-acara sejenis lainnya yang menampilkan isu terkini di negeri ini. Namun kehebohan terkait kursi kosong di Mata Najwa, yang saya dapatkan lewat unggahan teman-teman di media sosial, mencuri perhatian saya. Kursi tersebut seharusnya adalah tempat Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto duduk dan berbincang dengan jurnalis Najwa Shihab.

Lazim apabila Najwa memiliki keinginan untuk bertemu dengan Terawan di tengah kondisi pandemi seperti ini. Sebagai menteri, Terawan diharapkan masyarakat untuk tahu persis apa yang akan terjadi, apa yang harus dilakukan, dan sampai kapan kita harus hidup bersama COVID-19. Namun, undangan yang telah diberikan berkali-kali tidak direspons dengan kehadiran. Hal ini dapat dimaklumi apabila beliau sering kali muncul di hadapan publik sembari memberikan informasi dan arahan kepada masyarakat. Namun, saya dan penduduk Indonesia lainnya rasanya sangat jarang melihat Terawan memberikan penjelasan ke publik soal pandemi.

Tibalah Najwa dengan idenya untuk mewawancarai sebuah kursi kosong. Enam pertanyaan utama, dengan pertanyaan-pertanyaan turunan lainnya, dilayangkan kepada kursi yang seharusnya diduduki oleh Terawan. Episode “Menanti Terawan” yang disiarkan Senin, 28 September 2020, kemudian menjadi viral dan menimbulkan opini, kritik, sekaligus pujian. Dua dari berbagai kritik yang paling sering dilayangkan pada Najwa adalah usahanya dalam menaikkan rating dan mencari sensasi.

Baca juga: ‘Buzzer’ dan Merawat Ruang Publik Kita

Untuk pernyataan warganet mengenai rating dan sensasi awalnya tidak terlalu saya ambil pusing. Namun, setelah dipikir-pikir, tampaknya publik memiliki pandangan yang bias terhadap Najwa. Pertama, menaikkan rating adalah hal yang sangat wajar dilakukan untuk menghasilkan keuntungan bagi mereka yang terlibat di industri penyiaran. Sangat lazim apabila Mata Najwa ingin peringkat acaranya naik demi bisa meneruskan informasi kepada publik dan mempertahankan pekerjaan tim yang sudah mendukung acara tersebut selama ini. Berkualitas atau tidaknya metode penyampaian informasi yang dilakukan, ini masalah penilaian yang mungkin bisa diperdebatkan. Lalu kenapa cara Najwa yang berbeda disandingkan dengan tujuan menaikkan rating yang terdengar negatif? Apa yang membuat Mata Najwa berbeda dengan acara-acara televisi lainnya?

Kedua, perihal mencari sensasi. Setahu saya, mereka yang memanjat tangga sosial akan melakukan segala sesuatu dengan cara yang instan. Najwa sudah meniti kariernya sebagai reporter Metro TV sejak tahun 2001. Delapan tahun kemudian dia memulai Mata Najwa hingga tahun 2017 sebelum seri kedua acara tersebut pindah tayang ke TRANS7. Belum lagi pendidikan yang dia lalui di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Melbourne Law School.

Baca juga: Menjual Perempuan dalam Berita Olahraga

Tidak ada yang instan dari apa yang dilakukan Najwa hingga saat ini. Dia memiliki kapasitas yang mumpuni dalam meniti karier yang jauh dari sensasi. Selain itu, pada episode kursi kosong yang viral tersebut, Najwa menutup wawancara satu arahnya dengan menyatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang dilayangkan merupakan kumpulan dari aspirasi masyarakat. Tidak semata-mata rekaan dia dan timnya semata layaknya pencari sensasi. Lalu saya bertanya-tanya apakah ada jurnalis-jurnalis lain yang mengalami tuduhan yang serupa? Apa yang membuat Najwa berbeda?

Bias misoginis

Kemudian saya melihat opini para warganet lainnya terhadap Najwa. Apa yang mereka lontarkan di media sosial memperlihatkan bias masyarakat terhadap perempuan itu, yang berhasil membawa nama Mata Najwa meraih penghargaan Indonesian Choice Award for TV Program of the Year pada tahun 2016, 2017, dan 2018, serta Panasonic Gobel Award for Favorite News Talkshow Program pada tahun 2019.

Di akun Facebook KataKita, dari berbagai macam unggahan yang mengkritik Najwa, ada tulisan dari seseorang bernama Budhius Ma'ruff. Ia menyatakan bahwa Najwa sebaiknya belajar dari Larry King dan “kembali dulu saja menjadi istri yg baik di rmh, dan menjadi ibu yg sempurna bagi anak-anak kau, penuh waktu”. Opini ini kemudian saya temukan diunggah ulang pada akun-akun milik pengguna Facebook lainnya yang menyepakati pemikiran tersebut.

Harapan bahwa Najwa Shihab setenang ayahnya menunjukkan pembatasan lain bagi ekspresi perempuan, yang tidak boleh berbicara lantang dalam menyuarakan aspirasinya.

Ketika menonton rekaman “Menanti Terawan” di kanal YouTube resmi Mata Najwa, ada komentar-komentar yang menyayangkan sikap Najwa yang jauh berbeda dari sang ayah, cendekiawan Islam Quraish Shihab. Harapan mereka, Najwa dapat menunjukkan ketenangan dan kesantunan dalam mengekspresikan dirinya seperti sang ayah.

Saya paham apa yang sedang terjadi. Sebagai perempuan, masih banyak yang ingin “merumahkan” Najwa. Norma gender yang menetapkan peran perempuan sebagai istri dan ibu rumah tangga ternyata masih kuat. Mereka yang menjadi korban pola pikir yang usang masih memiliki konsep bahwa perempuan dapat ikut memajukan Indonesia dengan berkutat di urusan domestik saja. Figur seperti Najwa tentu menjadi ancaman yang menakutkan bagi kaum patriarki yang takut tersaingi.

Selain itu, disebutnya nama Larry King sangat tidak relevan. King, sebagai pria kulit putih di Amerika Serikat, memiliki akses yang terbuka luas untuk berekspresi dan bekerja. Perjuangannya tidak sekuat Oprah atau mereka yang mempertahankan acara bincang-bincang The View yang sudah dibawakan oleh 22 perempuan dari berbagai latar belakang etnis di Amerika Serikat selama 24 musim lamanya. Apa daya, kelompok misoginis yang beropini hanya paham Larry King saja. Najwa diarahkan hanya untuk belajar padanya.

Baca juga: MadgeTalk: Pemberitaan Media Makin Tak Bermakna, Kita Harus Bagaimana?

Lalu harapan bahwa Najwa akan memiliki sifat yang sama dengan sang ayah menunjukkan pembatasan lain bagi ekspresi perempuan. Perempuan dianggap ideal apabila tidak berbicara dengan lantang terutama dalam menyuarakan aspirasinya. Para misoginis yang berkomentar tentu tidak paham apabila perempuan berbicara dengan halus layaknya Quraish Shihab, maka kami tidak akan didengar. Kami harus berteriak lebih keras agar bisa bersaing di berbagai bidang. Jika tidak, kami akan selalu tertindas dan dikembalikan ke ranah domestik lalu “dirumahkan”.

Mereka yang bias dan merasa tidak seksis mungkin mengarahkan opini mereka ke usaha Najwa menaikkan rating dan mencari sensasi. Namun apakah mereka yakin opini tersebut tidak lahir dari gangguan yang mereka alami karena melihat perempuan yang berbeda dan berprestasi?

Seperti yang disampaikan oleh Eudoria Vernet Holmes, ibu dari Enola Holmes, “You have to make some noise if you want to be heard”. Maju terus dan tetap bersuara, Najwa!

Daru adalah pengajar bahasa Inggris di Lembaga Bahasa Internasional, Universitas Indonesia. Topik-topik yang diminati Daru adalah isu gender, kesehatan mental, filsafat, bahasa dan sastra.