Safe Space

Dear Gen Z, Kamu Enggak Tambah Keren Saat Lontarkan ‘Rape Jokes’

Belajar dari kasus Ivan Gunawan, ‘rape jokes’ tak bikin kamu jadi semakin lucu. Sebaliknya, itu justru berdampak buruk buat korban.

Avatar
  • April 26, 2024
  • 4 min read
  • 985 Views
Dear Gen Z, Kamu Enggak Tambah Keren Saat Lontarkan ‘Rape Jokes’

Dua hari selang Idulfitri, TikTok dihebohkan oleh potongan video yang menampilkan bagi-bagi Tunjangan Hari Raya (THR) desainer Ivan Gunawan. Video yang dibagikan akun @extraj0z itu  viral lantaran memuat lelucon enggak pantas oleh warganet. Dalam video tersebut, Ivan Gunawan memegang beberapa uang pecahan Rp100 ribu sambil bertanya ke teman-temannya, “Siapa artis yang pernah kena kasus pencabulan?” 

Merespons hal tersebut, semua orang di ruangan kompak menyerukan satu nama: “Saipul Jamil, Saipul Jamil!” 

 

 

Kondisi semakin ramai ketika pihak yang sedang dibicarakan muncul dan mendekati kerumunan. Ia pun langsung berseloroh sambil tertawa, “Bukan pencabulan, tapi penghisapan.” 

Sebagai informasi, Saipul Jamil merupakan mantan narapidana pencabulan anak di bawah umur pada 2016 silam. Usai lima tahun mendekam di balik jeruji Cipinang, Jakarta Timur, Saipul dibebaskan. Kini wajahnya sesekali mulai mondar-mandir di layar kaca. 

Baca juga : Dengan Kompromi, Kita Melestarikan Budaya Pemerkosaan

Lelucon yang Sama Sekali Enggak Lucu 

Video yang saat ini sudah dihapus dari TikTok tersebut sebelumnya telah ditonton dan dibagikan oleh ribuan orang di berbagai media sosial. Enggak sedikit publik figur ikut berkomentar. 

Nothing will prepare you for the ending of this video,” ungkap Ernest Prakasa, aktor dan komika di X pada (12/4) saat merespons video berdurasi 59 detik itu.  

Suara sumbang dari sejumlah warganet menunjukkan bahwa yang disampaikan Ivan dan Saipul tak bisa dibenarkan. Tindakan mereka mencerminkan bagaimana budaya pemerkosaan (rape culture) masih dinormalisasi melalui rape jokes (candaan terkait pemerkosaan). 

Di Indonesia sendiri, rape jokes masih sering ditemukan pada konten-konten media sosial, terutama pada konten bernuansa komedi. Salah satu kasus viral terkait dengan rape jokes juga pernah terjadi pada 2021 silam. Saat itu, salah satu TikToker @hagamars2 dirujak netizen karena kontennya yang bermuatan mesum saat memparodikan persalinan perempuan yang dibantu dokter. Haga akhirnya meminta maaf dan menghapus konten ini. 

Jyni Verma, penulis feminisindia.com dalam artikelnya “Rape Jokes in Popular Culture” (2021) memberi penjelasan soal ini. Kata dia, rape jokes adalah tindakan (yang dianggap candaan) merendahkan, melecehkan, dan enggak sepantasnya dianggap lucu. Lagipula apa yang bisa dianggap lucu dari pengalaman serius dan traumatis korban pemerkosaan? 

Baca juga: Perempuan Korban Kecelakaan Diperkosa, Bukti Kuatnya ‘Rape Culture’ Kita

Candaan dengan nada viktimisasi ini justru berkontribusi pada pelanggengan budaya pemerkosaan di mana publik menormalisasi kekerasan seksual dalam keseharian. Pada piramida rape culture yang dipopulerkan Jaime Chandra & Cervix (2018), rape jokes menduduki posisi paling bawah dan sejajar dengan perilaku catcall dan seksisme. 

Selain melanggengkan kekerasan, rape jokes berpotensi mengecilkan tingkat keparahan  pemerkosaan melalui pembiasaan perilaku kriminal dalam candaan-candaannya. Seperti yang dikatakan Christopher Anderson (2018) dalam “Rape Jokes: Comedians, Please Stop Using My Trauma for Your Material”, lelucon yang tidak lucu ini sangatlah berbahaya bagi trauma korban.  

Apa yang dilakukan oleh Ivan Gunawan dan Saipul Jamil pun bisa memantik trauma korban yang bisa saja masih tersimpan. Sebagai konsekuensi lain, korban juga bisa mengalami reviktimisasi dan sulit melanjutkan hidup. Jika dibiarkan, orang-orang akan terus melanggengkan gagasan bahwa korbanlah yang harus disalahkan atas pelecehan yang mereka alami (victim blaming). 

Ke depannya, pengalaman kekerasan penyintas akan lebih sulit untuk dipercaya dan dianggap serius. Terlebih jika korbannya adalah lelaki yang dalam relasi kuasa lebih rendah dibanding pelakunya. Dengan adanya rape jokes, gagasan bahwa korban bisa saja menikmati bakal dianggap lumrah dan terinternalisasi di tengah masyarakat. 

Baca Juga: Apa Itu Piramida ‘Rape Culture’ Alias Budaya Perkosaan?

Setop Normalisasi Rape Jokes 

Menyadari rape jokes dapat berkontribusi pada normalisasi tindak pemerkosaan merupakan hal pertama yang harus dilakukan. Berkaca pada kasus Ivan Gunawan, respons masyarakat yang cenderung geram hingga membuat dia minta maaf perlu dilihat sebagai optimisme betapa banyak orang punya kesadaran mendasar ini. Ekspresi marah mayoritas warganet menggambarkan banyak yang sudah peka terhadap isu kekerasan seksual.  

Dalam “The Dangerous Effects of Rape Humor” (2013), Katie Mccrudden bilang, mempromosikan empati dapat jadi salah satu cara mencegah munculnya rape jokes. Hal ini dapat dimulai dengan menanamkan pemahaman di masyarakat, rape jokes adalah tindakan yang berbahaya dan merugikan banyak pihak. 

Memilih untuk berpihak pada korban bisa juga jadi tindakan yang tepat untuk mencegah normalisasi kekerasan seksual. Dengan begitu, kita bisa terus menyuarakan dan mendorong banyak orang untuk tidak bersikap atau bergurau dengan nuansa victim blaming seperti yang dilakukan pada rape jokes.  


Avatar
About Author

Syifa Maulida

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *