February 12, 2020
‘Little Women’: Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta

‘Little Women’ membahas cinta, karier, dan uang sebagai persoalan yang tak terpisahkan.

by Permata Adinda
Culture // Screen Raves
Emma Watson, Saoirse Ronan, Florence Pugh, and Eliza Scanlen in Little Women (2019)_IMDB
Share:

Seseorang teman pernah berkata bagaimana ia mengagumi Diana (Gal Gadot) dalam Wonder Woman (2017) besutan Patty Jenkins. “Kalau bicara tentang strong female lead, itu semua terwakili oleh Wonder Woman,” katanya kira-kira saat itu. Diana memang digambarkan begitu kuat. Ia tak terkalahkan, tak pernah merasa putus asa, tak pernah takut.

Namun, sulit untuk merasa terwakili oleh Wonder Woman. Diana terasa berjarak justru karena ia selalu terlihat serba bisa. Padahal perempuan juga bisa diliputi keraguan, rasa takut, dan lelah. Perempuan pun bisa punya niat picik dan mendendam. Wonder Woman yang setengah dewa jadi memang lebih mirip dewa yang serba maha ketimbang manusia.


Jika Wonder Woman menggambarkan karakter perempuan yang serba sempurna, Little Women (2019) justru sengaja memperlihatkan perempuan dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Little Women, seperti perkataan penulis novel Dea Anugrah, sepakat bahwa perempuan bukanlah sekadar konsep.

Meg (Emma Watson), Jo (Saoirse Ronan), Amy (Florence Pugh), dan Beth (Eliza Scanlen) adalah karakter-karakter yang diadaptasi dari novel Little Women karya Louisa May Alcott. Lebih dari 150 tahun telah berlalu sejak novel tersebut terbit, tetapi Greta Gerwig selaku sutradara tak hanya menceritakan ulang kisah Alcott—tetapi juga mengembuskan napas segar ke dalamnya.

Perempuan tidak baik-baik saja

Jo, seperti Wonder Woman, menolak menjadi perempuan pasif. Ia ingin meniti karier setinggi-tingginya. Ia menentang pernikahan. Ia juga berharap dapat bergabung dengan ayahnya di medan perang. Namun tak seperti Wonder Woman, Jo bukan tanpa kelemahan. Sebagai seseorang yang paling “laki-laki” dibandingkan saudara-saudara perempuannya, ia juga bisa menangis tersedu-sedu. Penyebabnya penting tidak penting: ia menyesal telah memangkas pendek rambutnya demi uang.

Jo yang tidak ingin menikah juga mengakui dirinya kesepian dan ingin dicintai laki-laki. “I’m sick of being told that love is all a woman is fit for. But… I am so lonely,” kata Jo kepada ibunya, Marmee (Laura Dern, yang baru meraih Piala Oscar untuk aktingnya dalam Marriage Story).

Baca juga: ‘Bombshell’: Meja Redaksi jadi Sarang Predator Seksual

Walaupun Jo sedang menggapai mimpinya dengan merantau ke New York, fase hidup itu diperlihatkan sepi, dingin, dan hening—berbeda 180 derajat dengan masa-masa ketika ia masih berkumpul bersama saudara-saudaranya.

Jo March sedang melawan sistem yang membuat perempuan mesti memilih antara karier atau cinta. Di tengah perlawanan itu, ia juga bisa merasa lelah. Jo adalah manusia biasa, tak mengherankan ia tidak sempurna.

Karakter-karakter perempuan lain dalam Little Women juga punya ambisi dan keresahan masing-masing. Marmee, misalnya, bisa jadi tak banyak bicara, lebih banyak tersenyum, dan lebih banyak hadir untuk jadi pendengar anak-anaknya.

Penggambaran Marmee tak ubahnya penggambaran karakter ibu dalam film-film keluarga pada umumnya. Di Indonesia, sebutlah Emak (Nirina Zubir) dalam Keluarga Cemara (2019) dan Ajeng (Susan Bachtiar) dalam Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2019). Karakter ibu sering kali kalah dominan dari bapak atau suami, ada sekadar untuk memberikan nasihat kepada anak-anaknya, dan tak punya aspirasi apa-apa--seolah kehadirannya hanya berfungsi untuk melengkapi gambaran keluarga ideal.

Tapi Little Women menunjukkan bahwa Marmee tidak baik-baik saja. Ada rasa frustrasi yang tersimpan di balik sikap “keibuan” itu. Marmee mengaku bahwa ia merasa marah setiap hari, ia hanya belajar untuk tidak melampiaskannya. Lewat percakapannya dengan Jo, Marmee pun berharap tak semua perempuan mesti menjadi seperti dirinya.

Dalam Little Women, keputusan masing-masing karakter untuk tidak menikah, menikahi orang yang dicintai, atau menikahi kekayaan bukanlah soal baik dan buruk. Film ini memberikan agensi pada karakter-karakternya untuk memilih.

Pernikahan = Economic Proposition

Kita memang tak pernah tahu pasti apa sumber amarah Marmee. Namun, penyebab rasa frustrasi karakter-karakter perempuan dalam Little Women diketahui jelas tak jauh-jauh dari patriarki dan persoalan finansial.

Jika Jo menganggap pernikahan sama dengan mengorbankan cita-cita, Amy justru punya ambisi untuk menikahi orang kaya agar keluar dari kemiskinan. Amy dengan obsesinya untuk menjadi cantik, punya kekasih kaya, dan senang dengan benda-benda mewah membuatnya kerap dipersepsikan sebagai anak manja. Namun Little Women arahan Gerwig memanusiakan karakter Amy.

Amy belajar dari keluarganya yang tak bergelimang harta dan kerap dibantu bibi mereka, Aunt March (Meryl Streep). Di sisi lain, ia merasa dirinya tak akan pernah sehebat kakaknya, Jo, dan paham bahwa tak mudah bagi seorang perempuan untuk bisa mandiri secara finansial. Pernikahan, menurutnya, adalah jalan keluar satu-satunya.

"As a woman, there’s no way for me to make my own money. Not enough to earn a living, or to support my family. And if I had my own money, which I don’t, that money would belong to my husband the moment we got married. So don’t sit there and tell me that marriage isn’t an economic proposition, because it is," kata Amy kepada Laurie (Timothee Chalamet), tetangga dan teman dekatnya.

Little Women membahas cinta, karier, dan uang sebagai persoalan yang tak terpisahkan. Uang berpengaruh signifikan terhadap keputusan-keputusan yang mereka ambil beserta konsekuensinya.

Baca juga: ‘Imperfect’ Ingin Sebarkan Citra Tubuh Positif

Masih banyak kisah dalam film Indonesia yang memisahkan persoalan itu. Seseorang bisa fokus menulis novel purnawaktu tanpa ada kekhawatiran finansial, seperti Tiana (Ayushita) dalam The Gift (2018). Seseorang juga bisa berkali-kali travelling keluar kota dan negeri seolah punya bujet tak terhingga, seperti Trinity (Maudy Ayunda) dalam Trinity, The Nekad Traveler (2017) dan Trinity Traveler (2019). Cara-cara untuk mendapatkan uang memang kerap tak terlihat. Tetapi, saking tak terlihatnya, film-film ini seolah menganggap hidup selalu seindah feed Instagram.

Dalam Little Women, keputusan masing-masing karakter untuk tidak menikah, menikahi orang yang dicintai, atau menikahi kekayaan bukanlah soal baik dan buruk. Little Women memberikan agensi pada karakter-karakternya untuk memilih. Namun, dengan menambahkan faktor ekonomi, film ini juga melontarkan pertanyaan: Apakah mereka mampu untuk memilih?

Film ini juga tak punya sosok jahat yang patut dimusuhi, sebab musuh itu lebih berupa sistem ketimbang individu. Sistem itu pula yang membuat perempuan-perempuan dalam Little Women frustrasi. Film ini terasa dekat, sebab—sebagaimana seorang teman pernah berkata—perempuan mana yang tidak pernah merasa frustrasi? Dari ungkapan kekecewaan Jo lahir sebagai perempuan hingga pesan Aunt March untuk menikahi kekayaan, keresahan-keresahan itu terselip di balik gaun yang anggun, rambut yang dikepang rapi, dan pesta dansa yang meriah.

Foto diambil dari IMDB.

Permata Adinda adalah penulis di Asumsi.co. Tulisannya juga bisa ditemukan di Jurnal Ruang dan Cinema Poetica. Pernah jadi partisipan workshop kelas kritik Festival Film Dokumenter dan Yamaga International Film Festival.