January 20, 2020
‘Bombshell’: Meja Redaksi jadi Sarang Predator Seksual

Film ‘Bombshell’ memperlihatkan kondisi kerja toxic di media yang turut melanggengkan budaya kekerasan seksual.

by Permata Adinda
Culture // Screen Raves
Share:

Dari Fox News, Vice, hingga NBC. Pelecehan seksual tak jarang terjadi di industri media, hingga rasanya hanya menunggu waktu sampai kasus lain terungkap ke publik. Hasil penelitian pun sepakat pelecehan dan kekerasan seksual paling banyak terjadi di industri ini. Menurut laporan “What #MeToo Means for Corporate America” oleh Center for Talent Innovation (CTI) pada 2018, 41 persen perempuan di industri media dan hiburan pernah dilecehkan oleh kolega atau atasannya.

Tak mengherankan, sebab jurnalisme sejatinya lahir dari budaya maskulin. Walaupun persentase perempuan yang bekerja di media telah cukup tinggi, tetapi posisi-posisi tinggi seperti editor, pemimpin redaksi, hingga CEO masih didominasi oleh laki-laki. Budaya “boys club” pun tak akan bisa mudah hilang, dan itulah yang membuat media seperti Vice—yang mencitrakan diri sebagai “woke” dan “edgy”—juga masih bisa terkena skandal kasus kekerasan seksual.

Bombshell (2019), film yang diadaptasi dari kisah nyata kasus pelecehan dan kekerasan seksual di Fox News, menggambarkan fenomena itu. Kisah film ini berputar pada tiga karakter utama perempuan: Megyn Kelly (Charlize Theron), Gretchen Carlson (Nicole Kidman), dan Kayla Pospisil (Margot Robbie). Ketiganya sama-sama pernah dilecehkan oleh atasan mereka, CEO Fox News saat itu, Roger Ailes (John Lithgow).

Tak hanya merekam aksi-aksi pelaku, Bombshell juga memperlihatkan kondisi kerja toxic yang turut melanggengkan budaya kekerasan seksual. Fox News yang berafiliasi politik ke Partai Republik terkenal kerap menyebarkan propaganda dan hoaks. Salah satu karakter film, Jess Carr (Kate McKinnon), mendeskripsikan Fox News sebagai media yang menjual ketakutan dan berita bombastis. “The world is a bad place. Minorities are criminals. Sex is sick but interesting,” katanya. Bombshell menunjukkan apa yang mereka jual ke publik mencerminkan budaya di dalam ruang kerja itu sendiri.

Antara di depan dan di balik Layar

To get ahead, you gotta give a little head,” kata salah satu korban pelecehan seksual, Gretchen Carlson (Nicole Kidman). Ia mengutip perkataan atasannya yang memintanya melakukan seks oral agar kariernya bisa naik.

Fox News butuh pegawai yang loyal dan kooperatif, kata para atasan kepada anak-anak buahnya. Bombshell menunjukkan ada implikasi berbahaya dari kata-kata tersebut. Kooperatif berarti tidak protes dan tidak mengelak ketika bos meletakkan tangannya di paha, meminta staf untuk mengangkat rok tinggi-tinggi, hingga melakukan aksi seksual. Loyal berarti bersumpah untuk mengunci mulut dan tak pernah menceritakan kasusnya ke siapa pun.

Baca juga: ‘Ratu Ilmu Hitam’: Santet Jadi Keadilan Terakhir Bagi Korban Kekerasan Seksual

Bombshell memperlihatkan red flag itu di mana-mana. Laki-laki bisa santainya mengomentari atau memuji tubuh perempuan di ruang kerja. Cara berpakaian, merias wajah, dan menata rambut diatur secara ketat: perempuan mesti memakai sepatu hak tinggi, tak boleh tampil di layar kaca tanpa riasan, tidak boleh memakai celana panjang, dan panjang gaun atau rok harus di atas lutut.

It’s a visual medium industry,” begitu dalih atasan mereka yang adalah predator seksual. Di depan layar, perempuan mesti tampil menggoda dengan potongan baju terbuka. Di balik layar, perempuan mesti patuh sepenuhnya pada perintah atasan, termasuk ketika permintaannya berbau seksual.

Bombshell paham budaya itu begitu mendarah daging hingga menghasilkan dua problem besar. Pertama, perempuan begitu terbiasa dilecehkan hingga tak merasa perlu mempermasalahkannya. Kedua, budaya itu berakhir menghasilkan predator-predator seksual baru.

Poin satu terlihat dari percakapan antara Pospisil dan Carr. Keduanya sedang membicarakan atasannya, Bill O’Reilly (Kevin Dorff), yang kerap menelepon kolega perempuannya dan masturbasi. Perilaku itu tentu sudah dapat diklasifikasikan sebagai bentuk kekerasan seksual. Namun, kedua perempuan itu malah tertawa-tawa seolah mereka sedang bergosip hal enteng perihal cinta monyet di kantor.

Korban membela pelaku

Ada bahaya dari menganggap enteng kekerasan seksual: korban berakhir tak menganggap serius pelecehan yang mereka alami. Mereka menganggapnya sebagai bentuk kasih sayang, atau sebagai kegiatan transaksional yang memungkinkan mereka untuk naik jabatan.

Jadi tak mengagetkan ketika pengakuan korban tak dipercaya dan didukung oleh kolega-koleganya sendiri. Kekerasan seksual dianggap tak mungkin terjadi di antara orang-orang yang berlaku ramah ke satu sama lain. Istilah “kekerasan seksual” juga seolah terdengar terlalu brutal untuk bisa terjadi di lingkungan kantor.

Baca juga: Perempuan dan LGBT di Media Online: Direndahkan dan Dilecehkan Demi Konten

Korban juga masih bisa mencoba membela pelaku. Walaupun Kelly pernah dilecehkan Ailes, ia mencari seribu alasan untuk membelanya. Kisahnya turut menjatuhkan kenyataan pahit: korban mempertanyakan pengalamannya sendiri, merasa tak etis untuk mencoreng nama baik pelaku, sementara mereka akan selalu dihantui trauma dan menyalahkan diri sendiri.

Bombshell pun menggambarkan poin kedua secara ironis. Di satu sisi, Fox News tidak kekurangan karyawan perempuan. Meja-meja redaksi mereka penuh dengan perempuan. Begitu pula pembawa acara atau news anchor mereka yang kebanyakan perempuan. Bombshell memperlihatkan representasi perempuan jadi tak berarti banyak ketika pemegang kuasanya masih didominasi oleh laki-laki kulit putih yang misoginis.

Setelah Roger Ailes turun, masih banyak Ailes-ailes lainnya berkeliaran. Bill O’Reilly, misalnya, masih bertahan di Fox News setelah kasus Ailes terungkap. Begitu pula pengganti O’Reilly, Bill Shine, yang pernah menutup tirai ruang kantornya untuk bisa berbicara secara privat dengan Popsilis—hanya untuk kemudian mengelus pahanya.

Kisah Bombshell tak hanya merepresentasikan budaya Fox News, tetapi juga menekankan budaya penyalahan korban dan penyalahgunaan kekuasaan sebagai fondasi utama kekerasan seksual. Bahwa ini bukan hanya tentang seks, tetapi juga sikap menaklukkan dan merenggut kekuasaan orang lain atas tubuh mereka. Sebagaimana hasil penelitian CTI, kebanyakan pelaku kekerasan seksual di meja redaksi adalah atasan atau orang yang punya posisi lebih tinggi dari korban.

Maka, walaupun kasus si ketiga karakter utama film ini menemukan titik terang, Bombshell sadar masih banyak permasalahan di meja redaksi yang perlu dibenahi. Menangkap atau mengeluarkan pelaku memang langkah yang adil, tetapi tidak cukup untuk mencegah tindak kekerasan seksual baru terjadi di kantor.

Bill Shine yang ditunjuk sebagai pengganti Roger Aisles jadi pertanda bahwa seksisme, penyelewengan kuasa, dan budaya victim blaming sedang tidak pergi ke mana-mana. Jika sistem ini tak segera dibongkar, akan selalu muncul pelaku-pelaku baru, korban-korban baru, bahkan korban yang memilih untuk membela pelaku.

Permata Adinda adalah penulis di Asumsi.co. Tulisannya juga bisa ditemukan di Jurnal Ruang dan Cinema Poetica. Pernah jadi partisipan workshop kelas kritik Festival Film Dokumenter dan Yamaga International Film Festival.