‘Low-Maintenance Friendship’: Cara Berteman Sehat di Era Sibuk Tanpa Drama
Di era sekarang, sibuk sering dipandang sebagai “lencana kehormatan”—kalender terisi rapat, notifikasi berdentang terus, dan waktu senggang jadi sesuatu yang langka. Tuntutan hidup yang banyak—mulai dari kerjaan, kuliah, side hustle, urusan keluarga, sampai self-care—bikin banyak dari kita merasa waktu makin sempit. Alhasil, cara kita menjalin pertemanan pun berubah signifikan. Kalau dulu sering ketemu langsung atau ngobrol panjang jadi bukti kedekatan, sekarang keintiman pertemanan enggak selalu diukur dari itu lagi. Artikel di Kumparan Woman, Low-Maintenance Friendship, Sahabat yang Jarang Bertemu, Tapi Tetap Dekat, menjelaskan bahwa dalam kehidupan dewasa, intensitas komunikasi bukan lagi tolok ukur utama kedekatan persahabatan karena setiap orang punya ritme hidup dan tanggung jawabnya masing-masing.
Seiring bertambahnya tanggung jawab, banyak orang mulai sadar kalau energi sosial itu terbatas. Setelah seharian “hadir” untuk tuntutan hidup—seperti kerja atau kuliah—wajar saja kalau kita kadang merasa enggak punya cukup tenaga buat langsung balas chat atau nongkrong tiap minggu. Ini sebenarnya bukan tanda keacuhan, tapi lebih kepada pergeseran prioritas; fokus kita bergeser ke hal-hal penting yang memerlukan energi emosional lebih besar. Studi di Psychology Today dalam atikel The Importance of Friendship pun menekankan kalau persahabatan yang berkualitas adalah hubungan yang bisa mendukung kita secara emosional dan membuat hidup lebih bermakna, bukan sekadar banyaknya interaksi sehari-hari.
Dari konteks itulah istilah low-maintenance friendship semakin relevan. Masih dari Kumparan Woman, hubungan ini bukan berarti kurang berkualitas—justru sebaliknya—tapi bentuk adaptasi yang matang terhadap ritme hidup dewasa. Pertemanan seperti ini tidak diukur dari jumlah chat atau frekuensi pertemuan, melainkan dari rasa aman dan nyaman setiap kali kalian kembali terhubung, tanpa drama atau tekanan komunikasi yang terus-menerus.
Peran media sosial juga enggak bisa diabaikan. Di zaman digital, kita bisa “tampak hadir” lewat like, reaksi, atau pesan singkat, tanpa harus terlibat dalam obrolan panjang. Interaksi seperti itu, menurut sejumlah peneliti, membantu mempertahankan koneksi emosional sekaligus menghemat energi sosial—sesuatu yang jadi kebutuhan penting di tengah jadwal padat dan keterbatasan waktu. Interaksi yang lebih sederhana justru seringkali terasa lebih damai daripada komunikasi yang penuh tuntutan. Ini sesuai dengan temuan bahwa hubungan sosial tetap berdampak positif meskipun bentuknya berubah mengikuti cara kita berkomunikasi saat ini.
Intinya, fenomena low-maintenance friendship bukan pertanda hubungan melemah, melainkan bukti bahwa persahabatan berevolusi mengikuti pola hidup modern. Di era “sibuk terus” ini, hubungan yang paling bertahan adalah yang memahami batasan masing-masing—tetap hangat dan tulus, meski frekuensi interaksinya tidak seperti dulu. Sebagaimana dijelaskan dalam artikel The Importance of Friendship, kualitas hubungan lebih penting daripada kuantitasnya, karena itu yang benar-benar memberi dukungan emosional dalam perjalanan hidup kita.
Baca Juga: Pertemanan Kadaluarsa, Perlukah Dipertahankan?
Apa Itu Low-Maintenance Friendship?
Low-maintenance friendship adalah bentuk persahabatan yang enggak menuntut komunikasi terus-menerus atau perhatian intens di setiap saat. Intinya, kamu dan teman tetap merasa dekat tanpa perlu chat setiap hari atau buru-buru balas pesan karena memaklumi bahwa masing-masing punya kehidupan dan kesibukan sendiri. Ini bukan berarti kalian cuek, tapi lebih tentang saling percaya dan saling memahami ruang hidup masing-masing—sesuai dengan pengertian di artikel HelloSehat.com, Memahami Low-Maintenance Relationship dan Manfaatnya, tentang hubungan yang tetap hangat meski komunikasi dan intensitas perhatian enggak selalu tinggi.
Dalam tipe pertemanan ini, kedekatan diukur bukan dari seberapa sering kalian ngobrol, tapi dari kualitas hubungan itu sendiri. Kamu bisa jarang berinteraksi, tapi ketika akhirnya ketemu obrolannya tetap nyambung tanpa canggung—hal yang juga dibahas di Kumparan, Mengenal Arti Low Maintenance Friendship beserta Tanda-tandanya, bahwa low-maintenance friendship itu soal menjaga persahabatan di tengah kesibukan tanpa tekanan untuk selalu hadir.
Karakter Low-Maintenance Friendship
Pertemanan low-maintenance sering muncul sebagai hasil dari kedewasaan emosional. Saat kita tahu bahwa jarak dan kesibukan bukan tanda bahwa hubungan berkurang, memberi ruang justru jadi bentuk respek terhadap kehidupan masing-masing. Menurut artikel VOI.id, Mengenal Low Maintenance Friendship: Persahabatan yang Tulus Meski di Tengah Kesibukan yang Ada, hubungan seperti ini tetap hangat dan dukungan masih terasa meski kalian jarang bertukar kabar atau ketemu.
Meski begitu, ini bukan berarti minim kepedulian. Kepedulian dalam low-maintenance friendship justru muncul lewat dukungan di saat benar-benar dibutuhkan—misalnya saat salah satu lagi down atau perlu teman bicara. Dukungan semacam ini menunjukkan bahwa hubungan tetap kuat meskipun ritme komunikasi fleksibel.
Kenapa Low-Maintenance Friendship Penting?
Low-maintenance friendship sering jadi jawaban untuk menjalin hubungan yang sehat di tengah kesibukan hidup modern. Alih-alih memaksakan komunikasi setiap hari, hubungan ini memberi ruang untuk tumbuh secara individual tanpa merasa bersalah ketika tidak selalu hadir secara fisik atau digital.
Lebih dari itu, pendekatan seperti ini bahkan bisa mengurangi stres atau tekanan sosial yang timbul dari ekspektasi pertemanan “harus selalu on”. Artikel MediaPijar.com, Low Maintenance Friendship, Hubungan Persahabatan dengan Sejuta Keuntungan, menekankan bahwa low-maintenance friendship lebih mengutamakan kualitas momen ketimbang kuantitas interaksi, sehingga hubungan tetap hangat dan bermakna meski frekuensinya rendah.
Baca Juga: Kenalkan Teman ke Pasangan, Perlu Enggak Sih?
Cara Menjaga Low-Maintenance FriendshipTetap Sehat
Low-maintenance friendship memang terdengar santai dan minim tuntutan, tapi tetap butuh upaya kecil supaya hubungan ini tidak sekadar hilang begitu saja. Hubungan yang sehat memerlukan kesadaran, niat, dan komunikasi yang dewasa, bukan cuma mengandalkan “santai” doang. Menurut Alodokter.com dalam artikel Low Maintenance Relationship, Bukti Hubungan Minim Drama Bisa Tetap Hangat, hubungan low-maintenance juga butuh komunikasi sederhana yang konsisten agar ikatan emosional tetap kuat meski jarang interaksi.
Pertama, komunikasikan gaya pertemanan sejak awal. Enggak semua orang langsung paham konsep low-maintenance friendship, jadi penting buat jujur dari awal kalau kamu terbuka dengan komunikasi santai tapi tetap peduli, karena komunikasi yang jelas bisa mencegah salah paham di kemudian hari. Sesuai dengan artikel Friendship: Maintenance Required di Psychology Today, komunikasi yang terbuka dan jujur justru jadi dasar buat menjaga koneksi emosional meski intensitas interaksinya rendah.
Kedua, tetap hadir di momen-momen penting. Low-maintenance bukan berarti “hilang total”. Ketika teman benar-benar butuh dukungan—entah itu sekadar mendengarkan atau mengirim pesan dukungan—hadir secara emosional atau fisik bisa bikin hubungan makin kuat. Ini sejalan dengan panduan Halodoc.com yang menyebut bahwa dukungan, kepercayaan, dan kejujuran adalah kunci utama hubungan yang sehat.
Ketiga, utamakan kualitas daripada frekuensi. Daripada sering ngobrol tapi dangkal, lebih baik interaksi yang jarang tapi bermakna—hadir sepenuhnya dan merespons dengan empati. Artikel RRI.co.id, Low Maintenance Friendship, Menjalin Persahabatan Tanpa Beban, menjelaskan bahwa low-maintenance friendship artinya kedua pihak bisa tetap nyaman bahkan ketika komunikasi tidak intens, asalkan tetap saling menghargai ikatan emosional yang ada.
Keempat, jangan gengsi menyapa lebih dulu. Karena hubungan ini fleksibel, sering kali dua pihak sama-sama nunggu saling memulai. Menyapa lebih dulu lewat pesan sederhana bisa jadi tanda bahwa kamu masih peduli tanpa harus bikin tekanan komunikasi.
Kelima, hargai batas dan perubahan fase hidup. Setiap orang berkembang dan punya fase kesibukan masing-masing. Memaksa hubungan tetap di ritme lama justru bisa bikin hubungan terasa berat. Sebaliknya, menghargai perubahan dan memberi ruang saat dibutuhkan bisa membuat pertemanan lebih tahan lama—sesuatu yang juga diangkat oleh VOI.id ketika menjelaskan bahwa low-maintenance friendship membantu mengurangi konflik kecil dan justru membuat pertemuan lebih berarti ketika waktu itu tiba.
















