September 03, 2019
Masa, Rasa, Asa

Puisi yang mengandaikan perempuan setara dan tak pernah disangkarkan atau disingkirkan.

by N. Anggraeni
Culture // Prose & Poem
Share:

Hari ini kita berkisah banyak hal. Tentang masa, rasa, dan asa.
Kita merisau pada suatu perkara, yang kini dan nanti.

Tentang masa yang tak pernah lelah lari meninggalkan diri,
lalu kita harus mengejarnya seperempat mati.
Tentang masa yang menempa, menjadikan kita begini ada.

Tentang rasa?
Mungkin saja sama. Tidak terlalu jauh berbeda.
Bukan kita gagal tentang rasa.
Hanya saja kita terlalu mudah menjadi hangat
kepada siapa saja atau menjadi dingin seketika.
Kutukan? Bukan.
Karena tentang rasa sejatinya bukan saling menekan.





Lalu kita berceloteh pula tentang asa.
Asa yang kemudian mengapung ke permukaan
setelah kita menggeluti dunia yang sama pasca perkuliahan.
Tak melulu lagi kita bicara uang,
kita sepakat bukan itu esensi dari suatu pengabdian. 
Tentang asa yang belum lagi rampung disemai
namun tanah sudah dipenuhi gulma,
menjadikan pekerjaan rumah kita tidak sedikit, kawan.

Ah, rupanya berkisah tentang masa, rasa,
dan asa saja tidak pernah cukup.
Sebagai perempuan kita pun mengandai-andai.
Mengandai untuk setara ketika di mimbar
atau sekedar duduk santai di bangku.
Mengandai agar tak pernah disingkirkan dan disangkarkan
atau sekedar dicabuti bulu-bulu sayapnya hingga kita berhenti mengudara.
Mengandai-andai tentang masa, rasa, dan asa.

Ilustrasi oleh Adhitya Pattisahusiwa

N. Anggraeni adalah mahasiswi yang tinggal di Edinburgh. Ia senang berjalan kaki keliling kota dan mencoba resep-resep baru di waktu luangnya. Dia bisa ditemukan di Twitter @naggrn.