Women Lead
April 27, 2021

Tak Ada Hal yang Baik dari Memukul Anak

Banyak yang masih percaya memukul anak tidak apa-apa asalkan hanya pada bagian tubuh tertentu saja.

by Puput Putiandini
Safe Space
Share:

Baru-baru ini saya menanyakan kepada seorang teman yang berprofesi sebagai guru, apakah murid-murid di kelasnya bandel. Ia menjawab, “Bandel dan rewel. Mesti sabar, kalau enggak sudah aku tempeleng. Untungnya sih anak orang.” Maksudnya, untung anak orang lain, kalau tidak dia sudah main tangan.

Jawabannya membuat saya berpikir keras, apakah jika anak sendiri, kita berhak menggunakan kekerasan fisik terhadap anak?

Memukul anak untuk mendisiplinkan mereka sama seperti mengganjal perut lapar dengan Indomiecepat dan instan. Pukulan dianggap sebagai alternatif apabila kata-kata tidak mempan membuat anak disiplin.

Pukulan menjadi semacam metode, turun-temurun dijadikan sebagai cara instan untuk membuat anak-anak patuh. Sangat disayangkan, sebagian besar orang tua mempercayai bahwa cara ini terbukti ampuh mendisiplinkan anak mereka.

Banyak orang menormalisasi cara tersebut meski tahu bahwa memukul anak tergolong sebagai kekerasan. Terkadang apa yang disebut ilmu dan bukti studi tidak bisa mematahkan kebiasaan buruk yang telah mengakar di masyarakat. Masyarakat kita telah bertahun-bertahun melihat orang tua, kakek, nenek dan orang-orang di lingkungannya mempraktikkan metode tersebut. 

Orang-orang tua kita terkadang begitu murah mengangkat tangan mereka dengan dalil pendisiplinan. Para orang tua itu menganggap bahwa anak mereka adalah milik mereka. Sedangkan, pendisiplinan dengan cara apa—merupakan otoritas yang tidak boleh dicampuri oleh orang lain, tentu karena hal tersebut berhubungan dengan pride mereka sebagai orang tua.

Tak heran jika sebagian besar orang akan segan mengingatkan tetangga atau orang-orang di sekelilingnya ketika melihat mereka memukul anak sendiri, meski di mata siapa pun pemandangan itu menyayat hati.

Suatu hari adik saya yang masih duduk di kelas dua sekolah dasar datang dengan baju seragamnya yang kotor. Temannya melapor kepada Ibu saya bahwa adik saya baru saja mendapat perundungan oleh kakak kelasnya. Ibu saya yang kesal pergi ke sekolah untuk melaporkan kejadian itu kepada seorang wali kelas. Yang mengejutkan saya dan membuat saya merinding adalah reaksi wali kelas tersebut.

Diceritakan oleh ibu saya bahwa wali kelas tersebut telah menghukum anak-anak perundung itu dengan menampar, mencubit perut dan meludahi mereka persis di depan kelas, di depan anak-anak lain. Saya sama sekali tidak paham apa yang dipikirkan oleh guru tersebut. Sehingga sampai hati melakukan hal yang lebih mengerikan.

Perlu waktu untuk membuat masyarakat kita melihat fakta bahwa metode pendisiplinan dengan pukulan merupakan metode yang memiliki efek negatif jangka panjang dan sama sekali tidak mendidik. Bahwa metode ini bisa merusak psikososial anak-anak kita, bahkan beberapa peneliti mengategorikan metode ini sebagai pelecehan terhadap anak.

Baca juga:  Oh, Ibu dan Ayah, Putuskan Rantai Kekerasan terhadap Anak

Memukul Anak Boleh Asalkan Tidak di Bagian Vital?

Sebagian orang menganggap tidak apa-apa memukul anak mereka, asalkan tidak memukul bagian vital tubuh seperti kepala, perut, kemaluan, dan dada.

Sejak kecil saya sering melihat orang dewasa yang memukul kaki dan pantat anak mereka dengan cambuk, lidi, atau ikat pinggang. Bulu kuduk saya selalu merinding setiap kali menyaksikan kejadian itu. Saya pun bertanya pada Ibu, bukankah tidak baik memukul anak? Bagaimana jika pukulan itu membuat mereka trauma? Ibu saya lalu menjawab, “Tidak apa-apa memukul anak yang berulah di kaki atau betisnya.”

Sadarkah kita betapa berbahayanya persepsi tidak apa-apa memukul anak bandel asal di bagian tubuh tertentu. Beberapa orang mungkin akan mengatakan bahwa itu demi kebaikan si anak, tapi percayalah tidak ada alasan yang dapat dibenarkan atas pendisiplinan anak dengan kekerasan.

Masih lekat dalam ingatan saya, ketika Bapak menyabet betis saya menggunakan kerangka layang-layang, setelah saya berteriak dan marah ke adik saya yang curang bermain kelereng. Sabetan itu cukup untuk membuat beberapa goresan, yang bila disiram air perihnya bikin nangis bombai. Setelah mendapat sabetan itu, saya pergi mengunci diri di kamar mandi selama berjam-jam. Mata saya memanas tapi tidak mengeluarkan air mata—saya tidak bisa menangis. Yang saya ingat saat itu hati saya hancur dan mendendam. 

Sampai saat ini, saya masih tidak bisa memahami apa yang membuat saya pantas mendapat sabetan itu, selain fakta bahwa sebuah pukulan bisa saja melayang tanpa alasan yang jelas, lepas kendali mengikuti kekesalan sesaat.

Baca juga: Kekerasan Terhadap Anak Meningkat, Orang Tua Perlu Kontrol Diri

Dalam artikel How Spanking Affects Later Relationships yang dimuat di The Atlantic, dosen kebijakan kesehatan publik di AS, James Hamblin menekankan, berbagai penelitian telah membuktikan pendisiplinan dengan memukul anak di bagian tubuh mana pun tidak efektif dan berbahaya.  Yang mana ditegaskan pula pada konvensi PBB tahun 2007 bahwa segala bentuk kekerasan pada anak baik fisik mau pun mental tidak dapat dinormalisasi apa pun konteksnya.

Psikolog anak Alan Kadin dari Harvard University mengatakan bahwa memukul pantat anak seperti yang biasa dilakukan oleh orang tua kita dulu kepada kita berpotensi tinggi menyebabkan gangguan kesehatan kronis seperti penyakit jantung, kanker, dan pernapasan saat dewasa. Selain itu, pendisiplinan anak dengan kekerasan fisik juga dapat mengganggu kesehatan mental anak di masa pertumbuhannya. Dengan demikian, apabila tidak dikelola dengan baik, hal tersebut dapat menjadi pemicu perilaku agresif seperti perundungan dan kekerasan seksual.

Psikolog AS, Abraham Maslow, menemukan fakta unik pada suku Northern Blackfoot di Alberta, Kanada, bagaimana para orang tua di suku tersebut sangat jarang memberi hukuman fisik kepada anak-anak mereka. Suku tersebut percaya bahwa hukuman fisik pada anak merupakan kekejaman yang akan membawa pengaruh buruk terhadap perilaku anak.

Sebuah studi yang berjudul Childhood Corporal Punishment and Future Perpetration of Physical Dating Violence dalam The Jurnal of Pediatrics yang dilakukan oleh University of Texas mendapatkan hasil signifikan mengenai relasi sebab akibat antara hukuman fisik saat anak-anak dan kekerasan dalam hubungan asmara, baik itu dalam hubungan pacaran maupun suami istri. Artinya, mereka yang sering mendapatkan kekerasan fisik pada masa kanak-kanak memiliki kecenderungan melakukan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap pasangannya atau orang yang dianggapnya lebih inferior.

Warisan persepsi boleh memukul anak-anak yang berperilaku buruk asal di bagian tubuh tertentu yang diwariskan oleh orang-orang tua kita tidak bisa dibenarkan apa pun alasannya. Sehingga, mari mengedukasi diri dan orang-orang di sekitar kita untuk berhenti menggunakan kekerasan baik fisik maupun verbal sebagai alasan untuk mendisiplinkan anak. Karena jujur saja, saya tidak pernah melihat dampak positif dari metode tersebut pada keluarga dan teman-teman di sekitar saya yang selalu mendapatkan kekerasan fisik di masa kanak-kanak mereka.

Puput Putiandini adalah ibu dari enam belas anabul. Bercita-cita jadi penyair, puisinya bisa dibaca di [email protected] Senang menulis artikel seputar konsep kedirian, tubuh, isu gender, dan seksualitas.