June 14, 2017
Perisakan Anak Betul-betul Merusak

Tindakan perisakan harus ditentang keras karena tidak semua anak yang dirisak dapat pulih.

by Tobias Kawatu
Issues // Politics and Society
Share:

Serial 13 Reasons Why di Netflix mengisahkan tentang bullying atau perisakan yang terjadi di SMA. Sesuai dengan judulnya, seorang gadis yang bunuh diri menceritakan 13 alasan mengapa ia melakukan hal itu. Meski dengan aktris pendatang baru sebagai pemeran utamanya, serial ini mendapatkan ulasan yang bagus, dan untuk saya pribadi,  serial ini menyentuh saya secara personal.

Saya pertama kali menghadapi perisakan saat masih di bangku taman kanak-kanak, yang mungkin menjadi masa yang menyenangkan bagi banyak orang, tapi tidak  sama sekali untuk saya. Rambut saya sering dijambak oleh beberapa teman sekelas hanya karena mereka ingin. Saya menjadi target mungkin karena saya terlihat lemah dan tidak punya teman. Beberapa teman mulai menjambak rambut saya secara bergantian kemudian mereka mengajak teman-teman lainnya. Akhirnya, semakin banyak anak yang menjambak rambut saya.

Mereka melakukan hal itu saat pelajaran di kelas. Saya tidak tahu apakah guru saya melihatnya karena sepanjang proses dijambak itu, saya selalu menunduk. Namun yang saya ingat, mereka menjambak tanpa alasan dan tidak ada guru yang menghentikannya.

Rambut saya terus dijambak secara bergantian oleh teman-teman dan hal itu berlanjut hingga kami semua masuk sekolah dasar. Namun saat itu bukan akhir bagi masa perisakan saya karena saya mulai mengalaminya kembali. Teman-teman laki-laki menghina saya banci dan bencong karena mereka merasa suara saya seperti perempuan.

Hinaan itu semakin meluas sampai anak-anak dari kelas lain pun turut merisak saya secara verbal. Cemoohan bencong dan banci berubah menjadi beni, atau bencong masa kini. Saya ingat dengan jelas bagaimana guru saya mendengar ketika saya dikata-katai tapi ia diam saja. Bahkan, beberapa guru pun turut mencemooh saya di depan kelas sehingga teman-teman saya menertawai saya.

Perisakan verbal kemudian meningkat menjadi kekerasan fisik. Teman-teman laki-laki mulai memukul saya tanpa alasan. Saya ditampar dan juga ditendang. Ibu saya pernah bertanya mengapa pipi saya merah dan saya mulai mengarang alasan. Saya tidak berani menceritakan perisakan yang saya alami.

Delapan tahun mengalami perisakan membuat saya gentar memasuki sekolah menengah pertama karena takut akan mengalami hal serupa. Saya menjadi seseorang yang menutup diri dan aneh. Setiap hari saya berdoa agar tidak mengalami perisakan lagi.

Saya sangat bersyukur perisakan itu berakhir di saat saya tidak perlu lagi mengenakan seragam celana pendek berwarna merah. Saya mengalami masa-masa sekolah yang menyenangkan saat SMP hingga SMA. Saya baru merasakan bagaimana mempunyai guru-guru yang baik.

Namun, masa-masa ketika dirisak tetap memengaruhi saya secara pribadi. Saya mengalami kesulitan membangun relasi pertemanan. Saya takut ketika naik kelas karena akan ada teman-teman sekelas yang baru lagi. Memulihkan diri dari segala cemoohan dan tindakan kekerasan selama itu tidaklah mudah. Saya mempunyai emosi yang sangat labil. Ketika saya mengingat peristiwa bagaimana saya dirisak, saya menangis. Di waktu yang lain, saya dapat marah dan merasakan dendam yang begitu besar.

Tidak tahan dengan kondisi emosi seperti itu, saya pun memilih untuk menceritakan perisakan yang saya alami kepada sahabat saya di SMP. Dari sana, saya mulai mengalami pemulihan secara perlahan. Saya merasa bahwa saya tidak lagi sendiri dan masa-masa mengalami perisakan itu telah berlalu.

Saat pemulihan diri dimulai, saya dihadapkan pada pilihan untuk mengampuni. Saya dipertemukan dengan teman TK yang mengajak teman-teman untuk menjambak rambut saya dulu. Namun, saat bertemu, saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda. Saya mengatakan kepadanya tentang apa yang ia perbuat dulu. Saya mengampuninya dan ia pun meminta maaf kepada saya.

Dulu, saya merasa ingin membalas semua perbuatan orang-orang yang telah merisak saya, dari mulai teman TK, SD hingga guru-guru saya. Kini, semua keinginan itu tidak ada lagi. Proses pemulihan yang saya alami membuat saya menjadi pribadi yang mempunyai rasa empati tinggi terhadap orang lain. Saya juga berusaha menempatkan diri saya ke posisi orang lain.

Bagi yang pernah atau sedang mengalami dirisak oleh orang lain, kita harus kuat karena perisakan dialami oleh mereka yang dianggap lemah. Kini, perisakan pun dapat terjadi tanpa batasan waktu. Dulu saya mengalaminya di sekolah, namun saat pulang ke rumah, saya merasa aman. Sekarang, perisakan dapat terjadi melalui dunia maya atau cyberbullying. Mereka yang dirisak tidak akan merasa tenang meski telah berada di rumah.

Apabila perisakan dialami pada masa sekolah, orangtua perlu mengambil tindakan aktif dan melihat bagaimana kondisi anak sepulang sekolah. Jika kondisi anak dirasa janggal, seperti pipi saya yang merah akibat ditampar, orangtua sebaiknya tidak hanya bertanya tapi mencari tahu tentang apa yang terjadi, karena anak-anak yang dirisak jarang untuk mampu menceritakan apa yang terjadi pada mereka.

Yang saya tahu, semua hal yang terjadi pasti ada alasannya. Perisakan yang saya alami membentuk pribadi saya menjadi lebih baik. Namun, saya juga sangat menentang tindakan perisakan karena tidak semua anak yang dirisak dapat pulih. Bisa saja mereka yang dirisak memilih jalan seperti Hannah dalam 13 Reasons Why yang mengakhiri hidupnya.

Tobias Kawatu kini menjalani hari-harinya tanpa dirisak dengan bekerja sebagai pegawai humas di sebuah perusahaan kontraktor.