January 10, 2017
Menjadi Perempuan di Kota Besar

Menjadi seorang perempuan di kota besar berarti rentan terhadap pelecehan seksual.

by Chiki Anwar
Issues // Gender and Sexuality
Share:
Menjadi perempuan di kota besar berarti siap dengan risiko pelecehan seksual. Di antara ramai jalanan dan gedung-gedung tinggi, tidak ada tempat bagi perempuan untuk merasa cukup nyaman dan aman.  Siulan dan godaan tiada henti mengintai setiap langkah. Bahkan hal-hal lebih buruk siap menunggu waktu untuk terjadi.

Setidaknya itulah yang saya rasakan selama 19 tahun hidup di Surabaya. Sejak kelas empat SD, siulan dan godaan adalah hal yang akrab saya terima ketika berjalan di luar rumah. Ibu menjadi orang pertama yang sangat marah ketika mengetahui saya menjawab sapaan iseng tersebut.

“Jangan direspon! Mau kamu dicap perempuan murahan?!” kata Ibu waktu itu. Itu adalah pelajaran pertama menghadapi catcall yang saya terima.

Namun apa yang saya alami setelah itu jauh lebih buruk. Suatu siang ketika saya bersepeda sepulang sekolah, seorang anak laki-laki menghalangi jalan dan membuat saya terpaksa memperlambat laju sepeda. Tanpa diduga, ia memegang payudara saya yang baru tumbuh. Ia tertawa lalu berlari menghilang di gang perkampungan. Saya sangat terkejut, marah dan hanya bisa menangis. Sambil kembali mengayuh sepeda, saya terus bertanya “Apa salahku?”

Pada waktu lain, seorang bapak menaiki motor menghentikan jalan saya. Di tepi jalan raya yang ramai, ia menanyakan sebuah alamat dengan ekspresi gugup yang aneh. Mencium gelagat ganjil, saya mengarahkan dengan asal dan berharap segera pergi. Benar saja kemudian, bapak itu berujar, “Dek, mau ngemut kontol saya nggak?” sembari meletakkan tangan di selakangannya. Darah saya berdesir dan seketika tubuh saya terasa panas. Tanpa pikir panjang lagi, saya cepat-cepat berbalik langkah menjauhinya.



Dua kejadian ini saya alami di sekitar rumah ketika masih duduk di bangku SD.

Beranjak besar, ancaman semakin berlipat. Saya bersekolah di sebuah SMA favorit di pusat kota Surabaya, satu kompleks dengan tiga SMA lain. Bagi para muridnya, sekolah adalah tempat untuk belajar dan bersosialisasi. Tapi bagi para pelaku pelecehan seksual, kompleks SMA kami adalah tempat yang menjanjikan untuk menyalurkan hasrat.

Kadang saya berpikir, jika saya adalah laki-laki, pasti saya tidak akan pernah ditawar oleh bapak-bapak bermobil ketika berdiri menunggu angkutan kota. Saya dapat melenggang, berlari dengan bebas, tanpa ada seorang pun yang kurang ajar memegang pantat saya lalu kabur dengan sepedanya. Saya tidak harus menyaksikan seseorang menyodorkan penisnya di tengah angkutan kota yang penuh dengan pelajar. Menjadi seorang perempuan di kota besar berarti rentan terhadap pelecehan seksual.

Saya tidak sendiri tentu saja. Ada banyak teman-teman perempuan saya yang mengalami kejadian serupa di kompleks sekolah kami. Pada suatu kesempatan reuni, kami saling berbagi pengalaman. Banyak dari kami pernah didekati oleh bapak-bapak ketika sedang menunggu jemputan di pinggir jalan. Beberapa lainnya pernah bertemu dengan eksibisionis. Saya dan dua orang teman bercerita bagaimana bingung, gugup, jijik dan marahnya kami ketika itu. Berbeda dengan saya yang langsung memilih pergi di tengah gemetar, seorang teman saya mengolok-olok si eksibisionis dengan lantang. Teman-teman kami tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita tersebut.

“Kalian bisa tertawa sekeras-kerasnya, tapi kalau ada di posisi seperti itu, kalian akan mual sampai seluruh tubuhmu terasa panas,” ujarnya menutup pembicaraan kami.

Semua hening dan mengiyakan, tersadar bahwa pelecehan seksual dapat terjadi pada setiap perempuan di kota ini, dan di mana saja.

Chiki Anwar adalah seorang dewasa muda yang gugup dan tengah berusaha untuk meraih gelar sarjana di Universitas Gadjah Mada. Ketika senggang ia menulis di chikianwar.blogspot.com