October 11, 2019
Pledge United: Menolak Kekerasan terhadap Perempuan dengan Sepak Bola

Sebuah program pelatihan sepak bola mengedukasi anak laki-laki untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan.

by Shafira Amalia, Reporter
Lifestyle
Share:

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia menunjukkan bahwa satu dari tiga perempuan di Indonesia mengalami kekerasan di dalam hidupnya. Data ini mengkhawatirkan banyak pihak, termasuk Inspire Indonesia, sebuah organisasi yang ingin mendorong perubahan sosial melalui sepak bola.

Kekhawatiran ini kemudian mendorong Inspire untuk membuat Pledge United, sebuah program pelatihan sepak bola sekaligus untuk mengedukasi dan mengajak anak laki-laki untuk lebih sadar terhadap kekerasan dan seksisme yang terjadi di Indonesia.

“Kekerasan basis gender bukanlah masalah perempuan saja, ini adalah sebuah masalah laki-laki juga. Dari generasi ke generasi, laki-laki selalu melecehkan perempuan dan sudah waktunya kita mengakhiri ini,” kata Jonathan Hamilton, pendiri dan juga pemimpin tim nasional Inspire, pada acara peluncuran kerja samanya dengan Kedutaan Belanda di Jakarta Selatan (25/9).

“Perempuan-perempuan ini bukanlah sebuah angka di selembar kertas, mereka adalah perempuan yang kita kenal, yang memiliki banyak potensi dan yang kita sayangi. Kita harus berani percaya bahwa harus ada Indonesia yang lebih baik dan masyarakat yang setara. Bukan cuma untuk mereka tetapi juga untuk kita semua,” lanjutnya.

Sejak 2017, Pledge United melatih sepak bola dan juga mengedukasi anak laki-laki di 14 kota Indonesia tentang hak-hak perempuan, bagaimana mengelola emosi (anger management), serta mendorong mereka untuk berbicara tentang hak-hak perempuan di lingkungannya.

“Kita memilih sepak bola karena ini adalah subkultur terbesar dan salah satu olahraga terfavorit di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan ini, kita dapat menjangkau banyak laki-laki muda,” kata Hamilton.

Baca juga: Sepak Bola Perempuan Semakin Diminati, Namun Disparitas Tetap Ada

“Kita dapat mengajarkan mereka tipe maskulinitas yang beda, yaitu maskulinitas yang tidak akan diam jika melihat kekerasan terhadap perempuan dan akan terus berjuang untuk kesetaraan gender,” lanjutnya.

Selain itu, menurut fisioterapis pertama untuk Tim Nasional Indonesia Matias Ibo, sepak bola efektif untuk perubahan sosial karena mereka bisa mengedukasi dalam situasi yang santai dan juga menyenangkan.

“Karena di dalam situasi di mana mereka memang sedang semangat untuk belajar bola dan juga semangat untuk belajar in general, mereka jadi lebih terbuka untuk membahas topik-topik seperti ini,” kata Matias.

Menurutnya juga program seperti ini dapat membantu memperbaiki mindset yang masih mengobjektifikasi atau meremehkan perempuan di dalam dunia sepak bola.

“Banyak pelatih yang tidak menyadari potensi atlet-atlet perempuan. Perempuan juga terus menjadi topik obrolan di antara atlet laki-laki (locker room talk). Ini sangat menyedihkan dan saya harap dapat berubah dengan program-program seperti ini,” lanjutnya.

Pledge United telah bekerja sama dengan banyak pihak seperti Kedutaan Australia dan juga Kedutaan Amerika Serikat untuk menjangkau lebih banyak lagi anak laki-laki di Indonesia. Kini mereka juga berkolaborasi dengan KNVB WorldCoaches dari belanda untuk membantu melatih pelatih. Kerja sama lain juga dilakukan dengan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), dan Kalyana Shira Foundation.

Baca juga: Mengapa Laki-laki Marah Ketika Merasa Malu?

Dengan kerja samanya ini, mereka berhasil menjangkau lebih dari 263 pelatih yang dilatih dengan perspektif gender dan juga hampir 3000 anak laki-laki yang berjanji untuk terus menghormati perempuan dan menolak kekerasan terhadap perempuan. Visi mereka adalah untuk meningkatkan angka-angka ini menjadi 10.,000 anak laki-laki sebelum 2020.

Menurut Komisioner Komnas Perempuan Indriyati Suparno, inisiatif ini sangat penting untuk membantu melawan kekerasan terhadap perempuan.

“Kekerasan terhadap perempuan tidak eksklusif terhadap aktivis atau orang-orang yang terlibat langsung dengan korban, tindakan preventif juga sangat penting,” kata Indriyati yang juga hadir di acara tersebut.

“Angka kekerasan terhadap perempuan tidak pernah turun dan jenis-jenis kekerasan yang dialaminya semakin kompleks,” lanjutnya.

Menurut Indriyati, Indonesia memang memiliki banyak undang-undang atau regulasi khusus untuk mengatur beberapa jenis kekerasan yang spesifik, tetapi kini banyak kekerasan terhadap perempuan di mana kondisi, situasi dan kasusnya kini terus berubah dan bervariasi. Karena kasusnya yang semakin kompleks, semakin sulit kita mengacu kepada undang-undang kita, ujarnya.

“Gerakan untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan itu selalu diharapkan kepada perempuan saja, padahal laki-laki juga memiliki peran yang strategis untuk mencegah terjadinya kekerasan ini,” katanya.

Maka dari itu, Indriyati berpendapat bahwa inisiatif Pledge United ini dapat membantu dalam proses pencegahan ini.

“Program ini dapat mencegah kekerasan seawal mungkin dengan intervensi seperti ini,” ujarnya.

Shafira Amalia merupakan lulusan Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Demi memenuhi hasrat dan kegemarannya dalam menulis, Shafira mengalihkan mimpinya dari menjadi diplomat ke menjadi reporter. Menurut Shafira, berjuang menghancurkan patriarki tak kalah menariknya dengan cita-cita dia bertemu dengan Billie Eilish.

Follow Instagram Shafira di @sapphire.dust.