September 24, 2020
Mimpi Buruk dalam ‘I’m Thinking of Ending Things’

‘I’m Thinking of Endng Things’ menunjukkan horor dalam bentuk lain yang terlalu nyata, dan itu terbukti efektif menyeramkan.

by Candra Aditya
Culture
Share:

Ini bukan review.

Sekali lagi saya mau tekankan bahwa ini bukan review.

Ini boleh jadi adalah curhatan apa yang saya rasakan setelah menonton film Charlie Kaufman yang terbaru, I’m Thinking of Ending Things.

Jujur saja, film ini aneh sekali. Dan bukan saya saja yang memberikan label ini. Di lini masa saya banyak sekali orang-orang yang komen bahwa film ini aneh. Ada yang memutuskan untuk melanjutkan keanehan yang ada tapi tidak sedikit juga yang memutuskan untuk menonton film lain. Kalau ada film yang tidak perlu mikir kenapa harus memaksa masuk ke dalam labirin?

Sejujurnya, memutuskan untuk menonton film Kaufman adalah memutuskan untuk masuk ke dalam sebuah teka-teki. Karya-karya Kaufman membuat film-film Christopher Nolan (yang dianggap banyak penggemar film sebagai pembuat teka-teki terbaik) seperti mainan bocah. Mungkin karena Kaufman, tidak seperti Nolan, sering tidak memberikan penjelasan yang jelas kepada penontonnya. Inception bisa diterima dengan mudah tanpa perlu usaha. Being John Malkovich, di sisi lain, membutuhkan konsentrasi ekstra.

Kenapa pengen jadi John Malkovich? Dan dari semua aktor veteran yang ada, kenapa harus dia? Kenapa bukan Clint Eastwood? Atau bahkan Meryl Streep? It must be great being Meryl Streep!”

Ah, saya ngelantur. Tapi mungkin ini karena saya mulai ketularan Lucy atau Louisa atau Lucia atau siapa pun yang dimainkan Jessie Buckley dalam I’m Thinking of Ending Things. Kaufman bahkan di kredit akhir menuliskan nama karakternya hanya sebagai “young woman”. Ini baru komitmen. Kalau mau aneh jangan setengah-setengah.

Baca juga: Sleeping Beauty: Bagaimana Tidur Jadi Komoditas Langka Saat Dewasa

Anyway, I’m Thinking of Ending Things diiklankan sebagai sebuah film horor. Mungkin karena novel aslinya yang ditulis oleh Iain Reid adalah thriller. Pertama kali saya menonton I’m Thinking of Ending Things yang saya rasakan bukanlah takut. Kebanyakan adalah bingung. Dicampur bosan. Karena jujur, saya tidak tahu ke mana arahnya film ini. Apa maunya Kaufman? Apakah membingungkan penonton membuat dia bergairah? Sepertinya penjelasannya tidak sesederhana itu.

Ada dua plot yang dijahit dalam film ini. Yang pertama adalah perjalanan si perempuan muda bersama Jake (Jesse Plemons) ke rumah orang tua Jake (Toni Collette dan David Thewlis). Yang kedua adalah seorang petugas kebersihan (Guy Boyd) yang menjalani kehidupan yang sangat membosankan di sebuah sekolah. Keduanya sama sekali tidak berhubungan sama sekali. Atau setidaknya itulah yang diinginkan Kaufman ketika penonton melihat film ini untuk pertama kalinya.

Horor bukan terbatas pada hantu yang jumpalitan di TV. Takut bukan terbatas pada monster yang muncul dan menyerang manusia. Takut adalah tahu bahwa kita akan menjadi tua dan lumpuh, atau ingatan kita pudar.

Ada berbagai macam film yang menyajikan rasa bosan. I’m Thinking of Ending Things memberikan nuansa kebosanan yang lain. Pertama kali menonton film ini, saya tidak berniat untuk mematikan Netflix dan menggantinya dengan film lain seperti apa pun yang dibuat oleh Michael Bay, misalnya. Setidaknya film dia tidak pernah membosankan karena setiap lima menit sekali ada ledakan. Tapi ada sesuatu dalam setiap obrolan Lucy atau si Young Woman dengan Jake. Ada sesuatu yang ganjil.

Kali kedua saya menonton I’m Thinking of Ending Things, saya memperhatikan hal baru. Pembicaraan kedua orang ini terlalu terstruktur. Lebih seperti orang yang berbicara kepada diri sendiri. Dan ya, karena ini film Kaufman, maka karakter-karakternya berbicara seperti mereka adalah orang paling intelek sedunia. Dan mereka memang intelek. Mereka menonton musikal dan bisa mengucapkan puisi entah dari siapa yang saya baru tahu namanya dengan lancar tanpa kesulitan.

Tapi tetap saja. Sampai kedua kali saya menonton I’m Thinking of Ending Things saya masih belum tahu di mana horornya.

Baca juga: BTS dan Bagaimana Idola Membantu Kesehatan Mental

Hidup adalah horor

Subuh tadi, setelah sakit kepala panjang yang tidak ada habisnya, saya memutuskan untuk menonton film ini untuk ketiga kalinya. Di tengah penderitaan sakit kepala, kesunyian dini hari dan kenyataan bahwa saya akan mengalami hari yang sama di hari-hari berikutnya, saya tersadar di mana horornya film ini.

Ini yang saya simpulkan: Hidup adalah penderitaan lalu kamu mati.

Kita bisa saja mengisi hidup dengan berbagai macam hal yang kita suka (musik, teater, film) tapi pada akhirnya kita akan mati sendirian. Kesepian. Semua hal-hal yang kita suka atau kita idolakan atau kita jadikan altar pemujaan tidak akan membantu kita untuk mengenyahkan fakta bahwa kita akan mati sendirian dan kesepian. BTS tidak akan membantumu untuk menjadi less lonely. Begitu juga BLACKPINK atau bahkan Phoebe Waller-Bridge. Dialog-dialog Friends tidak akan membantumu untuk tidak menderita.

I’m Thinking of Ending Things mungkin tidak akan menjadi sedahsyat ini efeknya terhadap saya kalau saya menontonnya katakanlah dalam keadaan normal. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan pandemi ini ternyata justru memberikan efek 3D yang membuat I’m Thinking of Ending Things menjadi lebih seram. Horor bukan terbatas pada hantu yang jumpalitan di TV. Takut bukan terbatas pada monster yang muncul dan menyerang manusia. Takut adalah tahu bahwa kita akan menjadi tua dan lumpuh seperti orang tua Jake dan tidak ada yang bisa menghindarkan kita dari itu. Horor adalah harus memasang semua pengingat di setiap ruangan yang setiap jengkalnya kita kenal hanya karena ingatan kita mulai pudar karena kita pada akhirnya akan kehilangan itu semua.

Baca juga: Mari Acungkan Jari Tengah pada Tahun 2020

Ngeri adalah menciptakan karakter baru dalam kepala kita sendiri karena kita tidak punya tempat lain untuk berdialog. Dan ya, I’m Thinking of Ending Things adalah sebuah film horor.

Dalam wawancaranya di IndieWire, Kaufman mengatakan bahwa dia mendesain film ini agar penonton menyaksikan film ini hingga akhir kredit. Ketika saya melakukan ini tadi, saya paham sekali maksudnya. Bahkan ketika kita nanti akhirnya pergi dan menghilang, hidup tetap berjalan. Salju tetap turun dan waktu akan terus berputar. Mungkin akan ada yang bersedih tapi semua orang pada akhirnya akan move on.

Ketika akhirnya I’m Thinking of Ending Things benar-benar sudah habis, saya membasuh muka saya kemudian membangunkan kucing saya dengan paksa dan memeluknya. Saya menolak untuk merasa takut dan sedih karena Kaufman. Walaupun harus saya akui, dia sangat berhasil melakukan itu. Tidak seperti Jake, saya punya kucing. Mungkin I’m Thinking of Ending Things akan menjadi film yang benar-benar berbeda jika Jake punya kucing.

I’m Thinking of Ending Things dapat disaksikan di Netflix

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.