September 11, 2020

‘Ice Cream’ dan Bagaimana BLACKPINK Pantas Dapat yang Terbaik

Lagu ‘Ice Cream’ dari BLACKPINK adalah contoh terbaru bagaimana industri K-pop mengobjektifikasi dan menyia-nyiakan bakat idola perempuan.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Culture // Korean Wave
Share:

Grup idola Korea Selatan BLACKPINK—Jennie, Jisoo, Rosé, dan Lisa—akhirnya akan merilis album penuh pertama mereka The Album pada 2 Oktober mendatang, empat tahun sejak debut mereka 2016 silam. Pengumuman rilisnya album pertama itu dibarengi dengan lagu comeback “How You Like That” (HYLT) yang diluncurkan Juni lalu, memecah keheningan lama sejak rilisnya single dan EP Kill This Love pada April 2019. Selang tiga bulan diluncurkannya HYLT, BLACKPINK kembali dengan nomor kolaborasi dengan Selena Gomez bertajuk “Ice Cream”, menjadikannya lagu ketiga hasil kolaborasi dengan musisi lain, setelah “Kiss and Make Up” dengan Dua Lipa dan “Sour Candy” bersama Lady Gaga.

“Ice Cream” yang kini menduduki peringkat 13 dalam Billboard Hot 100 menerima respons beragam dari penggemarnya, Blink. Di satu sisi, mereka merasa senang disuguhkan lagu kolaborasi bersama bintang seperti Gomez, yang diimbuhi bagian rap dari Lisa yang tidak pernah mengecewakan. Namun, ada juga yang melayangkan kritik karena nadanya yang repetitif hingga lirik serta video yang sengaja menampilkan mereka tampak lebih muda, tetapi sangat diseksualisasi.

YouTuber Mandarin Mama, seorang ibu Asia Amerika, dalam video reaksi “BLACKPINK – ‘Ice Cream (with Selena Gomez)’ M/V Reaction” mengatakan ia tidak menyukai lagu tersebut bukan karena dia anti terhadap perempuan dan gerakan sex positivity. Tapi ia melihat bagaimana “Ice Cream” mengindikasikan kepemilikan laki-laki atas mereka dan kurangnya agensi diri.

Salah satu penulis lirik “Ice Cream”, Bekuh Boom mengatakan, berbagai elemen menginspirasi lagu tersebut. Mulai dari sosok rapper ikonik tahun 90-an Busta Rhymes dan Missy Elliot hingga lirik “Monalisa kinda Lisa” dari lukisan masyhur Leonardo Da Vinci. Boom ingin pendengar dinilai dan diperlakukan seperti karya seni, meskipun tidak bernama Lisa. Baginya sangat penting seorang perempuan melihat diri mereka seperti itu.

Namun semakin didengar, semakin terasa lagu itu yang sengaja dibentuk untuk menangkap male gaze laki-laki heteroseksual. Dalam musik video “Ice Cream”, BLACKPINK didandani seperti anak-anak, tetapi liriknya sarat innuendo seksual untuk memuaskan laki-laki (terutama yang punya fetish terhadap perempuan muda Asia) dalam liriknya. Berbeda dengan Selena Gomez yang juga didandani imut, tetapi lebih mengarah pada gaya perempuan Amerika tahun 40-an.

Baca juga: Red Velvet, MAMAMOO, dan ITZY: Idola K-Pop dan Bahasa Feminis Mereka

Terlebih jika menelisik lirik yang berbunyi “Look so good, yeah, look so sweet. Lookin’ good enough to eat. Coldest with the kiss, so he calls me ice cream,” menunjukkan perempuan adalah objek, es krim, untuk memuaskan laki-laki.

Produksi lagu tersebut tidak hanya melibatkan agensi BLACKPINK, YG Entertainment. Ada juga campur tangan dari Ariana Grande, Tommy Brown, dan Victoria Monet. Hal tersebut menunjukkan secara garis besar, industri musik global memang masih menilai perempuan sebagai objek pemuas laki-laki.

Padahal sebagai musisi, BLACKPINK memiliki banyak potensi yang sampai sekarang belum ditunjukkan secara keseluruhan. Sebelumnya, mereka sudah mengeluarkan lagu-lagu yang mengindikasikan adanya agensi diri dan sosok perempuan yang mengambil keputusan karena pilihannya, seperti “Kick It”, “Let’s Kill This Love”, dan “HYLT”. “Ice Cream” terasa sebagai langkah mundur dalam gerakan BLACKPINK menyuarakan daya dan rasa percaya diri perempuan.

Objektifikasi seksual idola perempuan

Industri K-Pop sudah lama dikritik karena menampilkan idola perempuan seperti anak kecil kebingungan dan membutuhkan laki-laki untuk menyelesaikan masalahnya. Industri ini juga dikenal memiliki standar ganda, seksisme, dan selalu mengobjektifikasi idola perempuan. Agensi hiburan mendandani idola dengan pakaian minim dan meminta mereka memeragakan koreografi seksual. Gayoung, anggota grup musik Stellar (2011-2018), pada wawancara dengan Insight akhir 2018 lalu mengungkapkan bagaimana agensi Top Class Entertainment mengeksploitasi mereka.

Debut mereka ditandai dengan berbagai konsep, mulai dari yang imut hingga aneh seperti alien. Tetapi, setelah merilis lagu dan video klip “Marionette” yang dianggap kontroversial pada 2014, Top Class Entertainment menggunakan seksualitas sebagai taktik pemasaran untuk menggaet penggemar. Gayoung juga mengatakan, para anggota Stellar tidak mengetahui bahwa video musik itu akan bersifat provokatif. Salah satu adegan di video itu bahkan membuat anggota Stellar mengalami trauma.

Baca juga: Tolak Terlibat ‘Fanwar’ dan ‘Call Out’ Idola Tak Membuatmu Jadi ‘Fake Fans'

Objektifikasi tersebut juga ditekankan oleh acara musik televisi, seperti Inkigayo dan Music Core. Artikel “Juvenile Protection and Sexual Objectification: Analysis of the Performance Frame in the Korean Music Television Broadcast” yang ditulis akademisi C.T. Saeji dalam jurnal Acta Koreana, menyebut bagaiaman acara televisi berkontribusi dengan cara kamera menonjolkan bagian tubuh yang diseksualisasi. Hal ini membuat perempuan sebagai objek seksual untuk memuaskan laki-laki, melemahkan posisi perempuan, dan secara bersamaan menekankan standar kecantikan fana.

Representasi perempuan di industri K-pop juga sangat problematik karena dari tuntutan masyarakat patriarkal dan konservatif agar perempuan menjadi submisif, serta tidak menunjukkan terlalu banyak kulit, tetapi pada saat yang sama diobjektifikasi secara seksual.

Baca juga: Industri K-Pop Memang Toksik, Tapi Kritik Terhadapnya Suka Salah Sasaran

Idola laki-laki dan perempuan sebetulnya sama-sama dieksploitasi, tetapi masyarakat maupun penggemar K-Pop sendiri selalu meletakkan idola laki-laki dalam posisi yang lebih tinggi karena bias gender. Idola laki-laki yang memperlihatkan perut kotak-kotak dipuja bukti maskulinitas lelaki perkasa. Lain halnya ketika idola perempuan yang tampil seksi karena keinginannya.  

Respons bias juga terjadi ketika muncul “skandal” kencan antar sesama idola K-Pop. Para penggemar toksik dari idola laki-laki akan menyerbu dan meninggalkan komentar negatif kepada idola perempuan sebagai bentuk rasa marah merebut idola kesayangannya.

Girl crush dan bakat yang disia-siakan

Sebelum menjadi BLACKPINK, grup idola ini dikenal sebagai PINK PUNK yang mulanya memiliki sembilan personel, yaitu Kim Eunbi, Miyeon (anggota grup (G)-Idle), Kim Euna, Jang Hanna, Jinny (personil grup Secret Number), Jennie Kim, Kim Jisoo, Roseanne Park (Park Chaeyoung), dan Lalisa Manoban.

YG Entertainment perlahan-lahan membangun antisipasi lahirnya grup musik perempuan kedua mereka setelah 2NE1. Para anggotanya mulai diperkenalkan melalui video “Future 2NE1” dan “WHO’S THAT GIRL?” serta proyek musik yang melibatkan senior mereka G-Dragon dari Big Bang. Meskipun begitu, satu per satu anggotanya mulai pergi dan tersisa empat anggota terakhir yang akhirnya melakukan debut dengan nama BLACKPINK.

BLACKPINK sebagai perempuan dan musisi harus dibiarkan untuk menciptakan karya sesuai dengan identitas mereka. Karya musik yang memberikan rasa percaya diri dan empowerment untuk perempuan.

Tidak jauh berbeda dengan 2NE1, BLACKPINK juga membawa konsep girl crush yang kemudian mengantarkan mereka ke gelar Monster Rookie, ketika menerima penghargaan Best Music Video untuk lagu “Whistle” dan Best New Artist pada Mnet Asia Music Awards (MAMA) 2016, serta Best New Artist untuk Melon Music Award.

Sisi “black” atau girl crush adalah yang paling sering diidentikkan dengan BLACKPINK. Sulit mendefinisikan makna konsep girl crush secara tepat, namun bisa diartikan sebagai perempuan yang percaya diri, menjunjung tinggi girl power, dan cenderung mengarah untuk female gaze. Pengertian itu bisa diidentifikasi melalui koleksi musik BLACKPINK, seperti “Ddu-Du-Ddu-Du (DDDD)”, “Whistle”, “Kill This Love”, “Kick It”, “See U Later”, dan “How You Like That”.

Secara historis, konsep girl crush ini dimulai dari grup K-Pop generasi pertama, Baby V.O.X, yang kaya akan pengaruh hip hop. Konsep itu tersebut kemudian diadaptasi dan sedikit dimodifikasi oleh 2NE1 yang nantinya menjadi acuan BLACKPINK.

Sementara itu, terdapat juga sisi “pink” yang secara musikalitas serta visual lebih ceria dan imut-imut, misalnya lewat  “As If It’s Your Last”, “Forever Young”, dan tentu saja “Ice Cream”. Meskipun begitu, konsep imut oleh grup idola perempuan tidak selalu ditujukan untuk male gaze, misalnya Power Up dan Red Flavor dari Red Velvet yang menjadi lagu musim panas.

Lagi pula idola perempuan tidak memerlukan male gaze untuk membuktikan kesuksesan lagu mereka. BLACKPINK dengan “DDDD” menjadi grup K-Pop pertama yang mencapai 1 miliar penonton di YouTube. Selain itu, “Into The New World (ITNW)” dari Girls Generation juga menjadi lagu kebangsaan untuk komunitas LGBT+ Korea Selatan yang dilantunkan ketika Pride Parade dan gerakan perempuan dari protes damai oleh mahasiswa Ewha Womans University pada 2016 lalu.

Selain itu, ada isu soal produksi dan pemasaran album. Untuk BLACKPINK, YG Entertainment jarang merilis musik baru dengan alasan lebih mementingkan kualitas dibandingkan kuantitas. Proses produksi musik pun harus selalu ada campur tangan produser bintang YG Entertainment, Teddy. Selain itu, muncul spekulasi bahwa BLACKPINK yang mampu menghasilkan profit hanya dengan beberapa lagu, bukannya satu album penuh, sengaja dimanfaatkan oleh manajemen untuk meraup keuntungan yang lebih banyak.

Blinks mulai tidak sabar, terlebih lagi karena banyak janji proyek musik yang tidak pernah ditepati agensi. Sebelum kabar akan dirilisnya album penuh pertama BLACKPINK muncul, Blinks mengirimkan papan digital ke kantor manajemen YG Entertainment meminta agar mereka merilis album penuh pada 2019.

Baca juga: BTS dan ARMY: Bongkar Hegemoni Industri Musik Hingga Stereotip ‘Fangirl’ Obsesif

Selain itu, ada juga janji proyek solo yang belum dibuktikan, seperti lagu solo dari Rosé. Setelah Jennie merilis single bertajuk “SOLO” pada 2018, Blinks meminta agar semua anggota meluncurkan proyek solo masing-masing. Juni lalu, YG Entertainment mengatakan lagu solo untuk Rosé telah selesai dan bisa rilis 1 September. Namun sampai saat ini, lagu tersebut belum diluncurkan. Kemungkinan terbesar proyek solo dari Rose, Lisa, dan Jisoo baru akan hadir setelah The Album rilis Oktober mendatang. 

Anggota BLACKPINK sering kali meminta para penggemar untuk bersabar ketika mereka tidak memiliki proyek musik. Pernah juga grup ini meminta agar CEO YG membiarkan mereka melakukan comeback dua kali setahun. Tapi alasan agensi yang katanya ingin mempertimbangkan kualitas daripada kuantitas lama kelamaan seperti alasan untuk tidak mengurus BLACKPINK dalam bermusik.

Padahal keempat perempuan muda ini sangat berbakat dan karismatik. Selain sisi musikalitas, para personelnya menjadi duta untuk merek high fashion, seperti Chanel, Dior, Yves Saint Laurent, dan Celine. Pengabaian yang dilakukan oleh manajemen sama saja dengan menyia-nyiakan talenta mereka.

YG Entertainment telah diminta untuk membiarkan BLACKPINK sebagai musisi dan perempuan yang memiliki agensi serta kebebasan atas musik yang mereka rilis. BLACKPINK berada di tahun keempat karier musik mereka, sudah saatnya mereka memegang kendali lebih banyak dalam proses produksi musik.

Masih banyak waktu untuk mengembangkan keahlian musik, dan salah satu cara paling tepat adalah membiarkan BLACKPINK sebagai perempuan dan musisi untuk menciptakan karya sesuai dengan identitas mereka. Karya musik yang memberikan rasa percaya diri dan empowerment untuk perempuan.

Saat ini BLACKPINK sudah menyampaikan pesan bahwa perempuan muda bisa mengambil kendali akan hidup mereka. Dengan membiarkan BLACKPINK terlibat lebih jauh dalam proses produksi musik, suara dan kekuatan perempuan tersebut bisa disampaikan dua kali lipat. Ketika saat itu tiba, Blinks bisa menyaksikan BLACKPINK dengan segala kekuatannya memperkaya definisi womanhood.

Ilustrasi oleh Karina Tungari.

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.