Women Lead
May 18, 2021

Konsep ‘Mindfulness’ dalam Islam Ajarkan Kesetaraan, Kebermanfaatan Manusia

Islam juga mengajarkan konsep ‘mindfulness’ untuk kesetaraan dan kebermanfaatan manusia.

by Selma Kirana Haryadi
Lifestyle
Sufisme__Sufi_KarinaTungari
Share:

Prinsip mindfulness, atau kesadaran penuh, belakangan ini menjadi kata kunci isu kesehatan dan kesejahteraan individu, terutama dalam konteks untuk meningkatkan fokus, menghindari stres, dan menjaga kesehatan mental. Konsep ini tidak umum dikaitkan dengan ajaran Islam, padahal ritual-ritual seperti salat, zikir, dan puasa mengandung elemen-elemen mindfulness di dalamnya.

Muyassaratul Hafizoh, pengajar di Asrama Santri Bil Qolam Yogyakarta dan Pemimpin Redaksi FatayatDIY.com, mengatakan sebetulnya Islam mengajarkan konsep mindfulness atau kesadaran dan penerimaan diri dalam setiap hal yang kita lakukan dan/atau putuskan.

Hal itu bermula dari berserah diri kepada Tuhan, sehingga segala hal yang kita kerjakan semata-mata diniatkan untuk beriman kepada Tuhan, bukan untuk mendapatkan pujian ataupun iming-iming pahala semata, kata Muyassaratul, yang akrab dipanggil Muyas. Hal itu juga berlaku dalam niat, esensi, dan cara kita beribadah, ia menambahkan.

“Ketika kita hanya bersandar pada (imbalan) amal yang akan didapatkan, kita akan mudah putus asa kalau kegagalan menimpa kita. Makanya, setiap hal yang kita kerjakan itu harus mindful, hanya, dari, dan untuk Tuhan, agar kita tidak menuhankan apa yang bukan Tuhan. Dengan begitu, hati kita akan jadi tenang,” kata Muyas dalam Magdalene Learning Club Ramadan yang diselenggarakan Magdalene bekerja sama dengan Bank Mandiri pada (5/5).

Baca juga: Tak Pandang Gender dan Latar Belakang, Sufisme Sentuh Banyak Perempuan

Makna Mindfulness dalam Islam


Muyas mengatakan bahwa dalam Islam, konsep mindfulness ini mengacu pada muraqabah, zikir, dan ta’abbudi. Muraqabah adalah pengakuan diri manusia bahwa dia hanyalah hamba yang selalu butuh kepada Allah, sementara zikir adalah pengakuan diri manusia bahwa dia selalu ingat dirinya sebagai ciptaan atau hamba Allah. Sementara ta’abbudi adalah pengakuan diri manusia bahwa dia selalu menjalankan ibadah karena dia hanya hamba Allah.

Menurut Muyas, ada tiga hal yang harus manusia perhatikan untuk menerapkan konsep mindfulness dalam Islam di dalam hidupnya. Yang pertama adalah mengosongkan diri dari ikatan duniawi, yaitu bekerja dengan giat, tidak hanya berangan-angan tanpa melakukan apa pun, karena itu bisa mengotori jiwa dan menjauhkan manusia dari sifat-sifat mulia Tuhan.

Yang kedua adalah melakukan kebaikan-kebaikan yang bisa bermanfaat bagi sekitar dan selalu bersikap baik pada sesama manusia dan semua makhluk. Menurut Muyas, melalui nilai ini, Islam mengajarkan bahwa semua manusia itu setara, tanpa memandang jenis kelamin, status sosial, dan latar belakang lainnya dari hidup seorang manusia. 

Hal yang bermakna di mata Tuhan, kata Muyas, adalah sejauh mana manusia itu beriman, yang salah satunya diwujudkan dari bagaimana dia bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi sekitarnya. Karenanya, manusia tidak seharusnya menghakimi manusia lain atas alasan apa pun, tambah Muyas.

“Seharusnya yang kita utamakan adalah kebaikan apa yang sudah kita lakukan untuk orang lain. Kalau dia seorang laki-laki, bagaimana dia bisa menjadi suami dan ayah yang baik di keluarga. Kalau dia seorang pemimpin, bagaimana dia bisa menjadi pemimpin yang baik bagi karyawannya. Tidak ada yang merasa superior,” katanya.

“Jangan merasa kalau pakaian kita lebih tertutup, sedekah kita lebih banyak, berarti kita lebih baik dari orang lain. Kalau begitu, kesombongan diri yang nanti akan muncul.”

Muyas menyinggung fenomena maraknya ekspresi beragama yang intoleran dan cenderung fanatik. Menurutnya, itu merupakan wujud sikap yang tidak mindful, karena bukan murni berniat untuk menjalankan perintah Tuhan, melainkan karena niat ingin memamerkan sesuatu kepada orang lain.

“Ada kasus membangunkan sahur pakai toa masjid yang sangat keras suaranya. Padahal di situ bukan hanya ada orang muslim. Apakah itu cara beribadah orang Islam? Enggak begitu. Beragama itu harus memikirkan manusia lain,” ujarnya.

“Ibadah itu tanggung jawab manusia dengan Tuhannya. Tidak perlu diberitahukan pada orang banyak. Kalau ada yang begitu, mungkin ada yang salah dari pemahaman agamanya,” ia menambahkan.

Dan hal ketiga yang bisa dilakukan untuk menerapkan konsep mindfulness dalam Islam ialah belajar memaknai perintah dan ajaran Tuhan sebagai bagian dari kehidupan kita, bukan semata paksaan atau kebiasaan, ujarnya.

“Ketika manusia sampai pada tahap ini, dia akan merasa bahagia ketika beribadah, kemudian akan konsisten melakukannya. Di sini, kita akan punya titik fokus dalam memandang hidup, yaitu bahwa hidup berpusat pada Tuhan,” kata Muyas.

“Ibadah jadi bukan sekadar ibadah, tapi jadi sarana untuk fokus dan mengenali diri dan Tuhan. Ketika dia paham, dia akan paham kenapa manusia harus mengaplikasikan sifat-sifat Tuhan yang baik, maha pengasih, kepada orang-orang di sekitarnya.”

Ekspresi beragama yang intoleran dan fanatik adalah wujud sikap yang tidak mindful, karena bukan murni berniat untuk menjalankan perintah Tuhan, melainkan karena niat ingin memamerkan sesuatu kepada orang lain.

Muyas menambahkan, dalam salat, Tuhan memerintahkan umat Islam untuk fokus atau khusyuk. Hal itu merupakan cerminan bagaimana Islam melatih umatnya untuk fokus pada apa yang dia kerjakan agar bisa mendapatkan esensi yang sebenarnya dari setiap hal yang dilakukan. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan fokus dalam salat ialah dengan memahami arti dari setiap surat dan bacaan salat, sembari dikontekstualisasikan dengan keseharian, tambahnya.

Mindfulness dalam Islam Ajarkan Bersyukur dan Mengenal Diri Sendiri


Muyas juga menyebut bahwa konsep mindfulness dalam Islam mengajarkan manusia untuk mengenali dan kemudian mencintai dirinya sendiri dengan berpikir positif kepada Tuhan dan kehidupan. Menurut Muyas, Islam mengajarkan mengenai pentingnya bersyukur agar manusia bisa berpikiran terbuka dan melihat sebuah hal dari banyak sisi lainnya.

“Dalam Islam itu dikatakan, ketika kita bersyukur, nikmatnya akan ditambah, dan dalam kesulitan itu ada kemudahan. Bukan susah dulu, baru ada kemudahan. Tapi sesulit apa pun keadaan, pasti ada jalan keluar. Ini mengajarkan kita untuk tidak putus asa,” jelasnya.

Baca juga: Muslimah Reformis: Memaknai Islam yang Penuh Kesetaraan

Ada pula nilai yang mengajarkan manusia untuk mencintai dirinya sendiri sebagai bentuk bersyukur kepada Tuhan, kata Muyas, karena pada dasarnya manusia pasti memiliki kekurangan. Tapi kekurangan ini seharusnya digunakan untuk mengintrospeksi diri alih-alih jadi menyerah, tidak produktif bekerja dan mengembangkan diri, apalagi membanding-bandingkan diri dengan orang lain, ujar Muyas.

“Kalau membanding-bandingkan terus, nanti jatuhnya kan kita berkaca ke orang lain. Berkacanya itu ke diri kita sendiri. Misalnya, diriku yang hari ini itu sudah lebih baik dari diriku yang kemarin. Dulu aku belum bisa bantu orang tua, sekarang aku bisa.”

Selma adalah penyuka waktu sendiri yang masih berharap konsepsi tentang normalitas sebagai hasil kedangkalan pemikiran manusia akan hilang dari muka bumi.